Pasca Kenangan

Hubungan percintaan yang dibina delapan tahun akhirnya bubar di tengah jalan. Pertentangan dari masing-masing keluarga dan ketidakjelasan masa depan si lelaki membuat mereka pasrah pada takdir: berpisah. Ini tak kalah menyakitkan dari hubungan beda agama. Padahal dengan usia yang begitu lama, dihitung-dihitung sudah bisa dipakai untuk melunasi kredit rumah dan cicilan motor, minimal, tiga unit.

Sekarang mereka sudah memiliki kehidupannya sendiri-sendiri; pasangan, rumah tangga, keluarga, mainan, dan kesibukan masing-masing. Tapi, karena hubungan yang kelewat lama dan sekaligus dalam, maka masing-masing dari mereka tak pernah utuh menghilangkan bayangan mantan dalam pikirannya. Setiap sudut kota, setiap café dan restoran mewah, hingga setiap gaya bercinta, selalu membuat mereka saling teringat. Bahkan di saat asyik bersanggama, mereka tak jarang sering salah menyebutkan nama, tapi syukurnya hanya disebutkan dalam hati, sehingga tak ketahuan oleh pasangan masing-masing.

Mereka, baik si lelaki baik si wanita, selalu berusaha berlari meninggalkan bayangan-bayangan masa lalunya itu, namun tetap saja, mereka tak bisa berlari dari dirinya sendiri. Sudah mencoba berbagai cara, tetap saja tak bisa. Tak bisa. Hingga suatu ketika, seiring menderasnya waktu, masing-masing dari mereka menyadari dengan sendirinya bahwa kenyataan perasaan ini bukan untuk disangkal melainkan harus diakui keadaannya. “Lari dari kenyataan bukanlah cara yang tepat untuk mengubah kenyataan. Menyangkali kenyataan hanya akan membuat kenyataan itu menjadi semakin terasa nyata,” kata sebuah ilham yang secara bersamaan menyusup ke dalam mimpi mereka suatu malam.

Paginya, sadar tak sadar, ilham yang menyusup ke dalam mimpi mereka itu memberi pengaruh terhadap banyak hal di dalam pikiran dan perasaan mereka. Mereka dengan penuh cinta menyapa, mendekap, mengecup pasangan mereka masing-masing. “Cara terbaik mengubah kenyataan adalah dengan menerima kenyataan itu apa adanya,” sesuatu membisik ke telinga mereka. Mereka hanya tersenyum dan saling membayangkan di waktu yang bersamaan dan dari tempat yang berbeda. Si lelaki membayangkan wajah mantan wanitanya dan sebaliknya si wanita membayangkan wajah mantan lelakinya meski kini saling tidak tahu keberadaan masing-masing.

Sejak pagi itulah, kehidupan mereka menjadi lebih baik. Mereka mengakui, meski tak pernah lagi bertemu sejak empat tahun yang lalu (sudah empat tahun pasca berpisah, masing-masing mereka menikah, membangun rumah tangganya sendiri-sendiri), perasaan sayang itu masih tetap ada. Namun dengan melihat kenyataan yang ada, mustahil mereka harus menghancurkan kehidupannya yang sekarang; pasangan, rumah tangga, keluarga, mainan, dan kesibukan yang ada hanya untuk mengikuti keegoisan masing-masing.

“Mencintai tak harus saling memiliki. Bahagia tak harus bisa bersama. Kenanglah namaku di sudut hatimu.” begitulah bahasa klise yang sering tertulis di toilet-toilet umum. Setiap membaca corat-coret itu aku menjadi merasa semakin mules dan buang air besarku (BAB) menjadi semakin lancar. Tak sadar, sudah hampir sejam aku di dalam toilet umum karena terlalu asyik mengingat-ingat kembali kisah percintaan teman-temanku itu. Ya, yang aku ceritakan di atas itu adalah kisah dari temanku, baik si lelaki baik si wanita kedua-duanya adalah teman-temanku. Teman-temanku yang mungkin juga tekandung dalam kisah pribadi hidupku sendiri. Entahlah, perutku mules lagi.

Advertisements