Ramadan Kontemporer

rabads

ramadan ialah sirup marjan yang gencar diiklankan
kain sarung yang laris di pasaran
dan promag yang ditawarkan
sebagai obat kuat penahan lapar
dan suplemen penunda kematian

ramadan ialah konversi iman ke dalam penampilan
festival religiusitas di panggung hiburan
dan pertaruhan ayat tuhan lewat lomba dan kompetisi saling mengalahkan

ramadan ialah pameran kesucian
perputaran ekonomi di dalam roda ketuhanan
pemerataan rezeki kepada yang berkepentingan
dan investigasi ruang pribadi sebagai tontonan menjelang buka

ramadan ialah jalan sunyi yang ditutupi asap industri
menahan diri dari kepungan mesin produksi
menyalakan api di atas luapan akumulasi nilai lebih
menjadi buih di tengah gelombang bunuh diri
dan menjemput mati di dalam zaman yang bergerak tanpa kaki

dan materialisme menjelma surgawi
dan pahala sebagai yang paling ilahi
ramadan menjadi ruang vip
ruang di mana orang-orang menjadi barang-barang
dan barang ditransaksikan menjadi kebaikan
sebagai jalan menuju kemuliaan.

Balikpapan, 2017

Dada Puisi Arohi

(buat ahmad)

aku berjalan di dadanya yang terbakar
kata-kata telah ia hapus dari kertas
puisi yang tadinya kompas
kini menggelembung jadi asap

ia tak mengajarkanku membaca puisi
melainkan menjadi puisi
“manunggaling kawula lan puisi,” begitulah
sukmanya bertajali dengan sukmaku

kadang ia gandhi
kadang ia ruhani
kadang ia nyawiji
kadang ia si sederhana ahmadi

dadanya hutan belantara
tempatku singgah meminum api
melepas mimpi
dan kembali beranjak pergi

kini ia kusebut arohi di dalam hati
bukan karena tumhiho menenggelamkan pedih
melainkan karena akronim ahmad rohani
dan isyarat dari ar-rahim

aku berjalan di dadanya yang terbakar
dada yang hutan belantara
dada yang menghapus puisi
dengan airmata tanpa kata-kata.

Balikpapan, 4 Maret 2017

Muak

Persetan dengan kertas-kertas itu,
Persetan dengan lembaran-lembaran munafik di dalam rumah-rumah itu,
Kenapa seluruh manusia selalu memuja kebohongan abadi disana?
Di saat mereka pergi dan semua kembali membunuh nyawa-nyawa anak kecil dari langit yang membawa pesan..

Pergilah kalian!
Bawa kembali ibuku yang telah hilang diantara air mata penantian,
Bersembunyi di balik bayangan malam tanpa langit di kaki gunung,
Bersembunyi di antara rasa yang tak berujung,
Dan kami hanya bisa duduk dan termenung..

Oh tidak!
Kami punya gumam,
Kami punya tanya,
Bagaimana bisa kau tercipta untuk diberi perintah?
Karna tanya ini akan menggelisahkan jiwa pendusta nurani,
Gumam ini akan menghantui malam dan siangmu,
Sehingga spiones akan menjadi pembangkangan yang sempurna..

Penalaran absurdum mengguncang damai persimpangan,
Tindak nista mengundang lahirnya pemberontakan,
Kau, kau, kau, dan semesta menyaksi,
Kami, kami, kami, yang punya aksi,
Tutur tak mampu meluntur,
Hingga alam menjadi sebab turunnya guntur,
Dan pinta kami adalah kau harus jujur!

Malaikat dari timur, malaikat dari barat,
Malaikat dari utara dan selatan,
Mari berkumpul dan saksikan para wayang adat itu menari,
Bergoyang bersama irama yang monoton,
Sepi tak bernada,
Kau tak mencipta hati, tak pula mencipta akal,
Bagaimana bisa kami merasa dan berpikir rasional?
Kau tak mencipta lisan, tak pula mencipta tangan,
Bagaimana bisa kami bicara diatas tinta kebenaran?
Kau tak mencipta jujur, tak pula mencipta nurani,
Bagaimana bisa kami berkata jujur sesuai hati nurani?

Hahaha..
Lihat diri kita, lihat siapa kita?
Lihat, ayooo lihaat!
Kenapa kita bertanya di saat orang lain diam?
Dan kenapa kita bicara di saat orang lain tak mendengar?

Yaa kekasih,
Apakah engkau masih disana?
Kemarilah!
Kemarilah dan aku ingin membisikkan sesuatu padamu,
Menyatakan perasaanku yang sangat ingin kunyatakan kepadamu, cintaku,
Aku, aku ingin membunuhmu!

Anakku

Aku buat sajak ini di bulan bualan, di saat politik lidah-lidah mencengkram akal sehat kemanusiaan,
Anakku, wajahmu malam ini membiru,
Entah mengapa aku tak menangis, pun tak tertawa,
Bagiku, kau hadirkan persamaan yang baru yang tak bisa kucari mana bedanya,
Antara tangis dan tawa, senyum dan sedih, suka dan duka dan segala kosa kata antonim melebur dalam ekstase abstrak kehidupan,

Sudah hilang semua semantik,
Sudah hilang semua keindahan berkata,
Bahkan aku pun hampir tak mampu mengukir indah sajak ini,
Aku tidak menuliskan jutaan doa di nadimu,
Tak pula kubisikkan puluh-ratusan ayat-ayat Tuhan di telingamu,
Sebab kutahu, karena kepercayaanNyalah kau Dia titipkan untukku,

Aku akan membesarkanmu bukan untuk menjadi aku,
Aku akan merawatmu bukan untuk memuaskan kehendakku,
Aku akan mendidikmu bukan untuk patuh terhadap segala perintahku,
Sebab kutahu, kau Dia titipkan bukan untuk tunduk pada keterbatasan absolut ragawiah,

Jadilah manusia, manusia yang bermanusia,
Manusia yang senantiasa setiap saat menuju zat keilahiaanNya,
Kau punya Tuhan, bukan milikku,
Aku menghidupkanmu untuk menghidupkanku,
Aku diamanahkan untuk mengamanahkanmu menuju Maha keamanahan,
Itulah kamu, manusia sejati.

Aku akan membantumu menujuMu,
Dengan segala keterbatasan,
Dengan susah-senang yang aku dan ibumu saat ini lalui,
Dengan duka-suka yang terlebur dalam perjuangan,
Dengan semangat pemberontakan yang hingga sajak ini dibuat masih menjadi dinamit yang utuh dan semakin matang dalam jiwaku, entah kapan ia akan meledak,

Anakku, jadilah manusia sebelum kelak kau berdunia,
Selamat datang dalam skenario jagat raya,
Kun fayakun,
Semua yang terjadi kelak itulah yang terbaik untukmu, untuk kita..

Depok, 21 Juni 2014