Mapan Dulu atau Nikah Dulu

Ada orang yang berjuang untuk menikah. Ada orang yang menikah untuk berjuang. Semua soal prinsip, bukan soal benar dan salah. Kalau secara pribadi, saya lebih memilih prinsip yang kedua, karena, pertama, tak semua orang berani menempuh jalan itu. Secara perbandingan, kuantitas orang yang menempuh prinsip kedua jauh lebih sedikit. Karena risikonya lebih besar, dan secara umum “menyimpang” dari common sense hierarki dan pola perjalanan hidup manusia: sekolah—kerja—menikah—punya turunan—tua—mati. Orang yang menempuh prinsip kedua tidak mengikuti pola yang demikian, ia menentang, melanggar, dan menciptakan jalannya sendiri. Dan itu, menurut saya, membuat hidup lebih berasa hidup.

Kedua, menurut saya ada kegetiran dan kobaran-kobaran perasaan tertentu yang tidak didapatkan dalam prinsip yang pertama. Orang yang menikah setelah mapan tidak pernah merasakan betapa indahnya kegilaan saat uang habis di tengah jalan sedangkan ada nyawa yang harus dihidupkan. Orang yang menikah setelah mapan tidak punya daya kreasi mengolah sumber daya yang ada menjadi penyambung hidup banyak kepala. Orang yang menikah setelah mapan tidak merasakan senangnya melihat anak bisa menikmati sesuatu yang mereka sukai meski untuk mendapatkan itu (orangtua) harus terlebih dulu berpeluh-peluh membanting tulang di jalan-jalan.

Ketiga, orang yang berjuang setelah menikah lebih memiliki banyak dinamika di dalam kehidupan. Lebih banyak gejolak emosi yang dirasakan. Dan kematangan mengolah masalahnya lebih teruji. Karena fokus pencapaiannya banyak. Bukan hanya kebutuhan makan-minum yang harus dipenuhi. Tapi kebutuhan istri, dapur, rumah (kost/kontrakan) pun harus juga dipenuhi. Faktanya, orang yang menikah meski belum mapan itu lebih ditempa oleh berbagai persoalan. Dan pengalaman itu langka—dan tidak bisa didapatkan lewat teori-teori di bangku kuliah. (Tapi bukannya memang pernikahan itu tidak ada teorinya?) Memang, semua orang mencari kebahagiaan, termasuk dalam hal pernikahan. Tapi sebagaimana kata Leo Tolstoy di dalam Anna Karenina, “Semua keluarga yang bahagia itu (bahagianya) sama. Tapi keluarga yang tidak bahagia, (mereka) tidak bahagia dengan caranya sendiri-sendiri.”

Maka silakan memilih, mau mapan dulu baru menikah atau menikah dulu baru mapan. Semua soal pilihan, sekali lagi, tak ada hubungannya dengan benar dan salah. Tapi Tan Malaka pernah berkata, “Nilai sebuah kemenangan itu terletak pada perjuangannya, bukan pada hasilnya.” Maka saya cuma bilang: apa kita nggak malu sama burung yang kawin lebih dulu baru buat sarang di pepohonan kemudian (baca: mapan)?

Ingat pepatah lama: Berakit ke hulu berenang ke tepian. Bersakit dahulu bersenang kemudian.

Advertisements