Kematian Akal

Ekonomi dan propaganda uang dalam arus simbol dan konsumsi gaya mengakibatkan hilangnya logika sederhana untuk menyanggah keanehan ideologi politik warna warni yang mengusungkan diri sendiri menjadi pahlawan kesiangan Zoro yang berkuda membela rakyat kecil.

Dan media penyambung hidup ditemui dalam transportasi massal yang disesaki oleh manusia-manusia yang berdesak dan saling menghimpit tanpa partisi sehingga setiap kulit saling bersentuhan mengirim impuls seks menjadi libido tanpa dominasi akal sehat, yang kemudian berakhir pada pelecehan seksual dan dikriminalisasi oleh berita televisi menjadikan pengguna transportasi umum sebagai kambing hitam dari segala sisi.

Substansi kemenangan terletak di dengkul kapitalisme yang terpampang di etalase dengan harga ratusan dolar. Melihat industri menjadi pergolakan seni dan berpihak, seperti peniruan besar dalam definisi pencipta, Francis Fukuyama yang hebat membuat dongeng ilmiah sebagai acuan wajib para pemikir konspiratif. Dan makna adalah seribu asumsi manusia yang menjelma lewat wacana hermeneutika dan interpretasi permainan kata dan angka.

Konspirasi gelap dalam balutan media massa yang berhasil menghegemoni massa yang putus asa karna kekeringan tak kunjung basah sebab jasa adalah komersialisasi tahta dan kuasa.

Mendengar gumam pemberontakan dalam bungkusan sajak suara seperti ocehan Adolf Hitler di depan meja parlementeria, yang ceriah, menyimak kuliah, dan menstimulus perjuangan di suriah.

Kesadaran adalah embrio revolusi…
Kesadaran adalah embrio revolusi…
Kesadaran adalah embrio revolusi…

Advertisements

Sepatah Latah

Sadar Tapi Sebenarnya Tak Sadar

“Kenyataan hanyalah kefanaan yang tak disadari.”

Denis Malhotra

Ketika egosentris dan cinta bersenyawa dalam tubuh tanpa rasionalitas maka pernyataan yang terdengar dari masing-masing kelompok dan tiap-tiap orang adalah “Kamilah yang menang, kalian kalah… Akulah yang benar, kamu salah….”

Kalau sudah begitu maka jangan kau tanya mana yang benar mana yang salah, mana menang mana kalah sebab itu bukanlah kebenaran. Kebenaran tak se-egois dan se-non-bijaksana itu. Mungkin itu (hanya) informasi atau opini sesat tanpa landasan obyektif-rasionalitatif. dan jika itu hanya sebatas informasi-opini-mainstream publik maka itu bukanlah kebenaran, ia (informasi) harus diolah menjadi kearifan setelah didapat pola hubungannya terlebih dahulu–tanpa mengabaikan prinsip dasar sistem.

“Tak ada fakta, tak ada fakta! yang ada hanya interpretasi!” begitulah kata Nietzsche. Ya, dunia post-modern, dunia tanpa fakta, subyektifitas menjadi panglima kekitaan, virtualitas mengungguli realitas, dan dunia hari ini hanyalah iklan sabun dan pembalut yang ditayangkan milyaran kali di televisi.

Maka jangan kau katakan duniamu nyata sebab kita juga saat ini bagian dari iklan yang ditonton oleh sesuatu. Ya, bisa saja saat ini kita sedang berada di televisi dan ditonton oleh sesuatu yang bukan kita. Dan dengan santai ia berkata, “Hmm … manusia-manusia itu menganggap dunianya nyata, padahal tidak, nyatanya manusia adalah fana jua.”


“Hati-hati! yang di cermin kadang lebih dekat dari yang tampak!”

-Jean Baudrillard