Kulman Kana

Pengalaman mengajarkan saya bahwa dalam hidup ini jangankan orang yang berbeda agama, berbeda alam pun harus dijadikan teman. Sebab, kalau yang berbeda dianggap musuh maka bersiaplah atas konsekuensi dimusuhi. “Misi suci” kita menjadi tak ada guna lagi.

Dalam sejarah dan realitas hidupnya kita tahu sendiri bahwa, duh, orang yang tak mau memusuhi dan ingin menciptakan kedamaian untuk semua orang saja bisa dimusuhi, apalagi yang jelas-jelas bersikap memusuhi? Bisa jadi jumlah musuhnya menjadi kuadrat dibanding yang jelas-jelas tidak mau memusuhi (memunyai musuh) tadi.

Dalam konsep yang lebih ilahiah, mencintai itu seluruh. Tak hanya kepada yang kepentingannya sama, tapi juga kepada semua yang mencakup ciptaanNya. Maka jangankan kepada manusia yang berbeda agama, madzhab, ideologi, jenis kelamin, orientasi seksual; kepada demit, suanggi, banaspati, genderuwo, paniki, kambing, anjing, sampah, selokan, toilet, dan lain-lain pun—semuanya harus kita jadikan karib.

Menurut saya, jika kita menanamkan pinsip mencintai yang demikian, sikap yang muncul dan lahir pada atau dari diri kita adalah sikap mencintai, menyayangi, peduli, mengayomi, dsb, dst…

*

Saya lebih peduli pada kebahagiaan orang lain ketimbang diri sendiri. Karena bagi saya kebahagiaan adalah membahagiakan. Kebahagiaan untuk diri sendiri bagi saya tidak ada; itu cuma kesenangan, sifatnya pribadi. Saya tak suka memikirkan diri sendiri, apalagi sampai mengasihani diri sendiri. Itu terlalu rendahan.

Tapi kalau dengan saya menulis begini lantas orang menyangka dan percaya bahwa semua benar adanya maka jelas itu sebuah kekeliruan. Bisa jadi saya cuma mempublikasikan kebohongan; sesuatu yang sebenarnya tak sesuai dengan karakter asli saya. Sebab kita semua tahu, bukan, bahwa semua yang tertulis belum tentu menceritakan si penulisnya. Apalagi kalau si penulisnya mendeskripsikan citra baik yang ada pada dirinya sedang di saat bersamaan menutupi rapat-rapat dan menyembunyikan rapih-rapih segala keburukan yang ada pada dirinya. Jelas, jangan dipercaya!

Untuk mengakhiri tulisan ini saya mengutip Fyodor Dostoyevski, “Sebuah otobiografi sejati adalah tidak mungkin, tidak mungkin ada. Sebab manusia cenderung hanya mewartakan yang baik-baik dari dirinya dan menutup yang buruk-buruk di dalam dirinya.”

Advertisements