Doa Seorang Buruh Purnawaktu

Bapakkanlah aku, suamikanlah aku, tapi tetap pelihara muda dan liarku seawet mungkin. Karena dengan demikianlah jiwaku bisa terus memggeliat di bawah matahari dan bersiasat di bawah bintang yang menari-nari.
 
Jadikanlah kerjaku sebagai kerja manusia. Yang membuatku meniadakan kepentingan diri sendiri dan hanya bertujuan untuk kebahagiaan orang lain, terutama keluarga, dan orang-orang tercinta. Karena dengan demikianlah bagiku hakikat menjadi manusia.
 
Berikanlah iman, iman kemanusiaan. Yang tak dibatasi oleh sekat kedaerahan, negara, agama, atau madzhab dan dogma-dogma kepatuhan yang memicikkan dan mengerdilkan. Karena dengan demikianlah sujudku menjadi kemaslahatan dan ketenangan bagi tetangga dan seluruh umat manusia.
 
Jagalah kekanak-kanakan di dalam diri ini secara proporsional dan kontekstual: bisa bercanda dan serius di saat yang tepat. Ajarkanlah cara bersenda gurau yang tepat saat berdoa. Dan jauhkanlah aku dari perbuatan yang didasari oleh ketakutan dan hitung-hitungan. Kalau marah, marahku marah angin, berlalu sekilas waktu. Kalau kerja, kerjaku kerja air, biar dipandang rendah tetapi istiqomah mengaliri kehidupan dan menumbuhkan harapan. Kalau sabar, sabarku sabar tanah, diinjak-injak tapi tetap menumbuhkan pohon, bunga, juga buah-buahan.
 
Semoga makna lebih besar dari nama. Semoga tindak lebih besar dari tanduk. Semoga cinta lebih luas dari tinta. Semoga kasih lebih panjang dari kisah. Semoga doa sudah mencebur dalam kerja. Atas nama pribadi, segala yang kuperbuat adalah adalah atasnamaku pribadi, maka tak usah tanya agamaku apa, orangtuaku siapa, asalku dari mana, dsb., dst.
 
Tapi aku tahu, Engkau Tuhan Mahasegalanya; padaMu, aku bahkan lebih kecil dibanding debu jalanan. Maka aku pasrah pada segala takdir kehidupan. Aku ridho pada segala yang Engkau niscayakan. Maka doa ini, tak perlu dikabulkan–sebab segala yang Kau tetapkan, bagiku, itulah yang terbaik bagi kehidupan.
Advertisements