Anomali Isi Televisi

Tak jarang setiap berhadapan dengan televisi saya ngedumel tiada henti. Sampah. Kata itulah yang sering saya ucapkan dalam hati. Televisi beserta isi-isinya hampir sebagian besar menggiring kita ke jurang kebodohan–dan tak disangkal menjadikan kita sebagai pemuja kepalsuan.

Contoh konkretnya, ponakan saya sendiri yang berusia dua tahun, sering saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri, sekonyong-konyong meninggalkan aktivitas nenen dari mamanya–meski lapar dan haus setengah mati–berlari ke depan televisi karena mendengar dan ingin menonton sampai habis iklan kampanye salah satu partai politik yang ketuanya pemilik banyak stasiun televisi. Partai Lapindo, eh Perindo maksudnya. Ampuuuun, kataku dalam hati.

Suatu ketika saya ingin menginisiasi gerakan anti televisi. Menyebarkan pamflet yang isinya tentang bahaya laten dari televisi. “Menonton Televisi Membunuhmu”, begitulah kalimat di sisi paling bawah pada pamflet tersebut.

Televisi termasuk pelanggar HAM terbesar di muka bumi ini. Membunuh hak manusia untuk menjadi diri sendiri dan berpikir jernih.

Tapi … mmm … tapi setelah saya pikir-pikir lebih dalam lagi. Astaga! Kalau sampai televisi benar-benar ditiadakan dari muka bumi, bukankah akan menjadi lebih mengerikan dunia ini? Semua pabrik televisi tutup. Stasiun televisi, rumah-rumah produksi, sanggar-sanggar akting, dan lain sebagainya gulung tikar. Pengangguran semakin membludak. Buruh, crew, broadcaster, sutradara, editor, penulis naskah, beserta seluruh jajarannya, cleaning service, satpam, tukang parkir, dan lain-lain kehilangan sumber penghidupan. Pengangguran akan semakin menyesaki jalan-jalan, tingkat kemiskinan bertambah, dan kalau sudah begitu: perbuatan kriminal pun akan semakin mengancam. Sebab kelaparan semakin bertambah. Kadar gula pada diri sebagian besar orang semakin berkurang. Emosi menjadi sangat tidak stabil, mudah marah-marah, hilang akal sehat, betindak kalap, dan kalau sudah demikian, penipuan, pencurian, pembunuhan, dll., adalah sebuah keniscayaan.

Maka alih-alih menginisiasi gerakan anti-televisi, saya sadari bahwa ada banyak orang yang butuh hidup dari pekerjaan di dalam domain televisi tersebut. Ada banyak jiwa yang nasib hidupnya berlangsung dari kerja televisi, hiburan, berita, sinetron, dsb, dst.

Ya, akhirnya saya sadari. Beginilah kehidupan. Mengandung paradoks di dalam dirinya sendiri. Menyimpan anomali dalam setiap pro-kontra yang ada. Kita menyukai sesuatu, tapi sesuatu itu memunyai sisi bahaya buat kita. Kita membenci sesuatu, tapi sesuatu itu mengandung roda kehidupan yang harus terus berputar. []

Advertisements