Lara Tagore

 

“Perjalanan demi perjalanan dari mati ke mati. Kau lambaikan isyarat pada peziarah kebebasan.”

DAN KINI dalam kesendiriannya yang tidak sepenuhnya sendiri karena ditemani Lara Fabian dan nocturno, ia terus berjalan. Dalam hatinya ia berkata, aku harus tetap melanjutkan hidup.

Je t’aime! Tagore terus berjalan dan berjalan. Dengan tongkat kayu di tangan kanannya dan remah roti di tangan kirinya. Tagore harus berjalan, ujarnya dalam hati.

Nocturno menguat pada diri di luarnya–maupun di dalam dirinya. Tagore baru sadar, duka membuat pikiran seseorang lebih terbuka. Dan pada perenungan yang dalam, ia menemukan banyak hal di dalam dirinya–pun pada diri manusia pada umumnya, bahwa pada setiap diri terdiri dari banyak diri. Bahwa di setiap aku terkandung banyak-banyak aku. Dan pengambilan kebijakan terbaik ialah kebijakan yang dimusyawarahkan dan dirumuskan oleh, dan melibatkan, semua elemen aku (yang) di dalam diri.

Tagore terus berjalan sambil menggumam dengan bahasa yang manusia umumnya tak mengerti, dan sesekali bersiul melantunkan nada yang mungkin akan sangat asing di telinga manusia pada umumnya.

“Kejujuran itu ada dalam hati dan hanya bisa dimengerti oleh hati. Jika ia diterjemahkan dalam bahasa kata-kata maka ia akan sukar dipahami secara leksikal, maupun literal,” begitu Tagore berkata keras-keras pada dirinya. Tak peduli malam mendengarnya; tak peduli hewan jalanan mendengarnya.

Kemudian terdengar di belakangnya gerak kaki berjejak mengikutinya, tapi suaranya aneh. Ritme langkahnya tak seperti manusia pada umunya, tak pula seperti hewan pada umumnya. Ya, batinnya, pada kenyataan hidup perorangan, segalanya adalah khusus; tak ada yang bisa diumumkan!

“Aku binatang jalang. Aku binatang jalang. Aku binatang jalan.” Suara itu seperti membisik di belakangnya, terdengar sayup-sayup dan penuh desah. “Dari kumpulannya yang terbuang. Dari kumpulannya yang terbuang. Dari kumpulannya yang terbuang.” Tagore seperti sangat familiar dengan kata-kata itu dan sejurus kemudian ingatannya tertuju pada Chairil Anwar, kawan imajinernya. “Ya, Charil!” panggilnya setelah berhasil mengingat pemilik mantra tersebut, sambil menoleh ke belakang dan mencari-cari sosoknya. “Charil, di mana kau? Itu Chairil atau hanya suara usil? Chairil! Jawab aku!”

Tapi tak terdengar jawaban. Lamat-lamat suara itu makin menguat. Makin lama makin menguat. Semakin keras terdengar, semakin deras tersiar.

“Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari. Hingga hilang pedih perih.” Dan kata-kata itu terulang-ulang terus di telinga Tagore. Iapun ketakutan dan berlari, berlari … dengan maksud menghilangkan pedih perih.

Tagore kini berlari. Ia berlari sekencang-kencangnya, menabrak kegelapan, memecah ketakutan, memasuki hutan dan kebon belakang, tapi hutan dan kebon belakang perlahan perlahan-lahan lahan-lahan perlahanan meniada. “Hutan sedang menuju ketiadaannya,” kata Tagore sembari tetap berlari. “Dan kehancuran tinggal menunggu kesempurnaannya,” lanjutnya sambil semakin berlari.

Tagore lebih berlari, dan semakin berlari. Tak peduli apa yang di hadapannya. Dan tiba-tiba, Broken Vow! Ia terjatuh dalam jurang Lara Fabian, yakni jurang dirinya sendiri. Dari dalam jurang itu, terdengar suara wanita bersenandung:

I’ll let you go

I’ll let you fly

Why do I keep asking why

I’ll let you go

Now that I found

A way to keep somehow

More than a broken vow

Tell me the words I never said

Show me the tears you never shed

Give me the touch

That one you promised to be mine

Or has it vanished for all time

 

I close my eyes

And dream of you and I

And then I realize

There’s more to life than only bitterness and lies

I close my eyes

I’d give away my soul

To hold you once again

And never let this promise end.

 

Aforisme Anarkisme kepada Negara

Aforisme ini bukan bikinan seseorang, bukan desakan, apalagi paksaan. Ia hanyalah ampas-ampas pikiran yang terbuang dari gesekan-gesekan keadaan. Sejarah sudah tak memunyai kredibilitas. Teori-teori lama sudah usang ditelan zaman. Dari praktik ke praktik, yang ada hanyalah penumpukan keuntungan dan kekuasaan di satu sisi, dan ketimpangan, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, pengisapan, dan penindasan di sisi lainnya.

Boleh jadi, anarkisme adalah orde terakhir dari jalan panjang perjuangan manusia dalam menemukan kembali sebuah role model peradaban umat manusia. Adalah babak terakhir corak sejarah manusia. Tanpa negara. Dunia kembali ke penelanjangan entitas.

Dan kepada negara. Inilah kami apa adanya.

Kami akan baik-baik saja tanpa peranmu. Hingga pada akhirnya kami merasa bahwa kami tak memerlukan adamu lagi. Ada dan tiadamu pun kami mampu survive, kau ada dan tidak ada pun bagi kami tak ada pengaruh apa-apa.

Kau menyebut dirimu negara, tapi dalam praksisnya tak kami temui karakter kenegaraan pada dirimu. Kau bahkan menjelma dengan sorban keagamaan hanya untuk meniduri kekuasaan. Kau susupi ideologi binatangmu ke dalam kurikulum pendidikan untuk menciptakan makhluk-makhluk mekanis yang siap–dan bahkan meminta–diperkosa.

Bahwa faktanya negara hanyalah kepura-puraan belaka, (drama) kesejahteraan hanya berlaku di saat pentas politik praktis: pemilu; pilpres, pileg, pilkada, pilkadal, pilkabe, bla-bla-bla … tapi setelah itu, kau lupa. Tidak ada makna apa-apa, semua berjalan seperti sedia kala.

Kau ciptakan kebebasan pers untuk membenturkan paradigma kami yang lugu dengan sederetan propaganda kapitalisme-mu yang lucu. Tapi kami tahu, yang merah di bibir itu cuma gincu. Anarkisme, radikalisme, pemberontakan, dsb. hari ini dimaknai sebagai sesuatu yang buruk padahal secara bahasa dan sejarah tidak demikian. Masyarakat menjadi korban re-pemaknaan penguasa negara, media, dan pemilik kapital dan pilar-pilar hegemoni lainnya. Tapi kami adalah kehendak untuk bebas, merdeka, dan berdaulat atas diri kami sendiri. Bebas, merdeka, dan berdaulat atas kemanusiaan yang kita kandung sendiri.

Produk demokrasimu adalah dongeng yang dimodernisasi, lagu lama yang cuma dipakaikan cover baru. Tapi kami tak bodoh untuk menelanmu mentah-mentah. Maka dengan ini kami katakan bahwa kami adalah hasilmu yang gagal, yang menolak tunduk terhadap program kapitalistik-mu. Kami lolos dari lubang jarum eksploitasimu yang membodohkan dan mencoba membuat kami menjadi manusia satu dimensi; manusia yang dogmatis terhadap segala titahmu.

Sikap kami jelas: meyakini kedaulatan di tangan negara adalah musyrik. Adalah takhayul cukardeleng. Maka anarkisme-lah jalan keluarnya. Bukan sebagai solusi tetapi sebagai kehendak sejarah, sebagai hasil pergulatan keadaan.

Semua akan kacau pada waktunya. dan anarkisme bukan paksaan untuk diminta ada.

 

INGATLAH

jika kelak penulis sajak ini mati
ingatlah kata-kata tak mati-mati

jika kelak pembaca sajak ini menjadi tua dan letih
ingatlah kata-kata lebih kokoh dari belati

jika kelak sajak ini kalah gagah dari barang-barang industri
ingatlah kata-kata lebih megah dari candi

jika kelak sajak ini abai dan dilupai
ingatlah kata-kata adalah manifestasi ilahi

ingatlah kata-kata yang mengadakan sesuatu
bahkan sebelum ada disebut ada!

Hompimpa Manusia Indonesia

“Kekuatan terbesar manusia adalah keingintahuan,” tulis Niccolo Machiavelli 7 abad yang lalu. Tanpa keingintahuan, manusia hanyalah–sekadar benda mati.

Spirit kemanusiaan lahir dari penjajahan semesta yang overload; di antara tumpukan kepelikan-kepelikan yang bahkan akal sehat pun keletihan untuk menjangkaunya.

Hari ini, dalam ketaksadaran manusia, hidup sebuah peradaban yang di dalamnya tidak ada pengetahuan. Kalaupun ada, maka pengetahuan itu adalah instrumen kekuasaan. Ingat kata Michel Foucault: “Pengetahuan memiliki relasi yang sangat erat dengan kekuasaan. Dan tak ada pengetahuan yang bebas nilai dari kepentingan.”

Di Indonesia, manusia dibentuk menjadi makhluk-makhluk, meminjam istilah Herbert Marcuse, yakni makhluk satu dimensi. Manusia yang dalam kelesuhannya menanggung beban nominal dan kebutuhan tentang hasrat diri sendiri dan tuntutan moral komunal.

Dulu di abad 19, Charles Baudelaire sudah mengatakan: “Di antara manusia; hanya penyair, pendeta, dan prajuritlah yang agung. Lainnya hanya pantas untuk dicambuk.” Sayang, Baudelaire tidak hidup saat ini. Sebab kemungkinan besar dia akan merevisi kembali pernyataannya tersebut.

Manusia Indonesia hidup dalam satu wajah yang sama. Wajah-wajah kehilangan sejarah yang dijajah oleh hukum universal. Atas nama perserikatan bangsa-bangsa, adikuasa bebas memangsa. Indonesia hilang makna; hilang kedaulatan.

Tapi, manusia Indonesia tetap santai menjalani hidup. Baginya semua baik-baik saja. Padahal, mengutip Rendra, “Mereka berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan.”

Manusia Indonesia tidak merdeka. “Dan bangsa yang tidak merdeka adalah bangsa yang mati,” kata Manuel Quezon dikutip Bung Karno dalam Di Bawah Bendera Revolusi.

Manusia Indonesia tidak menjadi dirinya sendiri; mereka menjadi budak konsumerisme budaya barat. Manusia Indonesia tidak berdiri di atas kakinya sendiri; mereka berdiri di atas kaleng utang dan undang-undang negara majikan.

Maka, apalah arti negara tanpa kedaulatan? Apalah arti bangsa tanpa kemerdekaan?

Apabila jawaban tak kunjung kau temukan; berpuisilah! Meski puisi tak memerdekakan raga, minimal ia memerdekakan sukma.

Demikian tulisan ini saya buat tanpa maksud untuk dibenarkan atau disalahkan. Sebab sejalan dengan perkataan Slavoj Zizek, filsuf terbesar zaman ini, bahwa, “Manusia itu dialektis, benar atau tidaknya seseorang ditentukan oleh kekuatan …” Entah kekuatan ideologi, agama, budaya, atau apapun yang melatar-belakangi nalar akal budi setiap orang. Setiap manusia.

Wallahu a’lam bisshawab ….

Cikasa (Cinta, Kata, Rasa)

coffeelove

Hidup adalah membahasakan bahasa,
Merasakan rasa,
Mengatakan kata.

Hidup adalah cinta.
Cinta adalah hidup.

Tanpa cinta, hidup adalah hampa.
Tanpa hidup, cinta adalah redup.

Cinta membahasakan rasa,
Membahasakan kata.

Rasa, cinta, dan kata tak butuh mata untuk menjadikannya nyata.

Apabila kau mampu mengatakan rasa,
Seharusnya kau pun mampu merasakan kata,

Karena,
Di situlah cinta bersemayam.
Di situlah cinta membayang.
Dalam kata dan rasa.
Dalam bahasa.

Tepi jalan Lenteng Agung, 09 Oktober 2014, pukul 15:45 PM

Sajak Diam dan Pemberontakan

3

derai hujan, derai air mata
kita diam, dan mereka bicara
kita menangis, dan mereka bicara,
kita berteduh, dan di mana-mana adalah beriak

perjuangan dan seleksifitas alam adalah suatu tanda pengasahan jiwa dan pembentukan karakter,
selama ini penyesalan mengiringi langkah kaki,
selama ini kekecewaan menghantui setiap kita yang berkecil hati,
tetapi, semakin keras tekanan ini, semakin besar pula muncratan pemberontakan terhadap segala kejanggalan hidup.

kita keluar, kita melihat, dan ternyata kekeluaran ini begitu indah.
kita berdiri, kita berbicara aktualisasi dan realisasi yang sebenarnya hanyalah fatamorgana di kala senja menerpa jalan.
kita diam, dan kita akan kembali bicara di saat alam memaksa eksistensi sebagai kesakralan hidup.

kita konsumsi, kita konsumsi, dan perbudakan menjadi reinkarnasi yang begitu sempurna di dunia purna-milenium ini.
kita akan kembali diam, dan mereka menari,
kita tetap diam dan mereka terpingkal,
kita diam dan mereka menjadi kutu.

diamku bukan diam,
diamku bukan sembunyi,
diamku bukan hipokrasi,
tapi diamku adalah berontak,
diamku pemberontakan.

Jakarta, 02 juli 2013

Memoar

“Harmoni itu baik, tapi selaras lebih baik.” -Victor Hugo

Kebahagiaan sejati adalah keselarasan antara pengembaraan menuju jiwa buana (cita-cita) dengan tanggung jawab (amanat sosial-komunal), begitulah kesimpulanku untuk novel Sang Alkemis, karya Paulo Coelho.

Kesuksesan tidak diukur oleh pundi materi yang didapatkan, bukan pula pupularitas duniawi yang diraih, tetapi kesuksesan terletak pada sekokoh apa harga diri seseorang berhasil menyerap realitas empirik menjadi inti ke-aku-an sejati.

Ke-aku-an sejati adalah penemuan jati dan diri tanpa mengebiri kepercayaan orang-orang yang mencintai dan menyayangi kita, yang (mungkin) telah mereka letakkan dengan penuh harapan di pundak kita sebagai bekal perjuangan.

Apakah aku telah menemukanku?
Belum! proses peng-akuan manusia takkan final hingga ruh terlepas dari tubuh menuju Tuhannya, dan tubuh melebur dengan tanahnya.

Aku adalah dinamitnya Nietzsche, atau mercusuarnya Bung karno, apalah itu hanya sebatas metafor, yang jelas penilaian murni tentangku hanya ada pada kamu, kamu, kamu, dan kamu.

Jakarta 13 Agustus 2014