Mapan Dulu atau Nikah Dulu

Ada orang yang berjuang untuk menikah. Ada orang yang menikah untuk berjuang. Semua soal prinsip, bukan soal benar dan salah. Kalau secara pribadi, saya lebih memilih prinsip yang kedua, karena, pertama, tak semua orang berani menempuh jalan itu. Secara perbandingan, kuantitas orang yang menempuh prinsip kedua jauh lebih sedikit. Karena risikonya lebih besar, dan secara umum “menyimpang” dari common sense hierarki dan pola perjalanan hidup manusia: sekolah—kerja—menikah—punya turunan—tua—mati. Orang yang menempuh prinsip kedua tidak mengikuti pola yang demikian, ia menentang, melanggar, dan menciptakan jalannya sendiri. Dan itu, menurut saya, membuat hidup lebih berasa hidup.

Kedua, menurut saya ada kegetiran dan kobaran-kobaran perasaan tertentu yang tidak didapatkan dalam prinsip yang pertama. Orang yang menikah setelah mapan tidak pernah merasakan betapa indahnya kegilaan saat uang habis di tengah jalan sedangkan ada nyawa yang harus dihidupkan. Orang yang menikah setelah mapan tidak punya daya kreasi mengolah sumber daya yang ada menjadi penyambung hidup banyak kepala. Orang yang menikah setelah mapan tidak merasakan senangnya melihat anak bisa menikmati sesuatu yang mereka sukai meski untuk mendapatkan itu (orangtua) harus terlebih dulu berpeluh-peluh membanting tulang di jalan-jalan.

Ketiga, orang yang berjuang setelah menikah lebih memiliki banyak dinamika di dalam kehidupan. Lebih banyak gejolak emosi yang dirasakan. Dan kematangan mengolah masalahnya lebih teruji. Karena fokus pencapaiannya banyak. Bukan hanya kebutuhan makan-minum yang harus dipenuhi. Tapi kebutuhan istri, dapur, rumah (kost/kontrakan) pun harus juga dipenuhi. Faktanya, orang yang menikah meski belum mapan itu lebih ditempa oleh berbagai persoalan. Dan pengalaman itu langka—dan tidak bisa didapatkan lewat teori-teori di bangku kuliah. (Tapi bukannya memang pernikahan itu tidak ada teorinya?) Memang, semua orang mencari kebahagiaan, termasuk dalam hal pernikahan. Tapi sebagaimana kata Leo Tolstoy di dalam Anna Karenina, “Semua keluarga yang bahagia itu (bahagianya) sama. Tapi keluarga yang tidak bahagia, (mereka) tidak bahagia dengan caranya sendiri-sendiri.”

Maka silakan memilih, mau mapan dulu baru menikah atau menikah dulu baru mapan. Semua soal pilihan, sekali lagi, tak ada hubungannya dengan benar dan salah. Tapi Tan Malaka pernah berkata, “Nilai sebuah kemenangan itu terletak pada perjuangannya, bukan pada hasilnya.” Maka saya cuma bilang: apa kita nggak malu sama burung yang kawin lebih dulu baru buat sarang di pepohonan kemudian (baca: mapan)?

Ingat pepatah lama: Berakit ke hulu berenang ke tepian. Bersakit dahulu bersenang kemudian.

Anomali Isi Televisi

Tak jarang setiap berhadapan dengan televisi saya ngedumel tiada henti. Sampah. Kata itulah yang sering saya ucapkan dalam hati. Televisi beserta isi-isinya hampir sebagian besar menggiring kita ke jurang kebodohan–dan tak disangkal menjadikan kita sebagai pemuja kepalsuan.

Contoh konkretnya, ponakan saya sendiri yang berusia dua tahun, sering saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri, sekonyong-konyong meninggalkan aktivitas nenen dari mamanya–meski lapar dan haus setengah mati–berlari ke depan televisi karena mendengar dan ingin menonton sampai habis iklan kampanye salah satu partai politik yang ketuanya pemilik banyak stasiun televisi. Partai Lapindo, eh Perindo maksudnya. Ampuuuun, kataku dalam hati.

Suatu ketika saya ingin menginisiasi gerakan anti televisi. Menyebarkan pamflet yang isinya tentang bahaya laten dari televisi. “Menonton Televisi Membunuhmu”, begitulah kalimat di sisi paling bawah pada pamflet tersebut.

Televisi termasuk pelanggar HAM terbesar di muka bumi ini. Membunuh hak manusia untuk menjadi diri sendiri dan berpikir jernih.

Tapi … mmm … tapi setelah saya pikir-pikir lebih dalam lagi. Astaga! Kalau sampai televisi benar-benar ditiadakan dari muka bumi, bukankah akan menjadi lebih mengerikan dunia ini? Semua pabrik televisi tutup. Stasiun televisi, rumah-rumah produksi, sanggar-sanggar akting, dan lain sebagainya gulung tikar. Pengangguran semakin membludak. Buruh, crew, broadcaster, sutradara, editor, penulis naskah, beserta seluruh jajarannya, cleaning service, satpam, tukang parkir, dan lain-lain kehilangan sumber penghidupan. Pengangguran akan semakin menyesaki jalan-jalan, tingkat kemiskinan bertambah, dan kalau sudah begitu: perbuatan kriminal pun akan semakin mengancam. Sebab kelaparan semakin bertambah. Kadar gula pada diri sebagian besar orang semakin berkurang. Emosi menjadi sangat tidak stabil, mudah marah-marah, hilang akal sehat, betindak kalap, dan kalau sudah demikian, penipuan, pencurian, pembunuhan, dll., adalah sebuah keniscayaan.

Maka alih-alih menginisiasi gerakan anti-televisi, saya sadari bahwa ada banyak orang yang butuh hidup dari pekerjaan di dalam domain televisi tersebut. Ada banyak jiwa yang nasib hidupnya berlangsung dari kerja televisi, hiburan, berita, sinetron, dsb, dst.

Ya, akhirnya saya sadari. Beginilah kehidupan. Mengandung paradoks di dalam dirinya sendiri. Menyimpan anomali dalam setiap pro-kontra yang ada. Kita menyukai sesuatu, tapi sesuatu itu memunyai sisi bahaya buat kita. Kita membenci sesuatu, tapi sesuatu itu mengandung roda kehidupan yang harus terus berputar. []

Komunisme dan Kerancuan Sejarah Orba

Tanpa tedeng aling-aling langsung saja saya katakan bahwa orang yang bilang cinta terhadap Indonesia tetapi anti terhadap komunisme itu bagai menantu yang mencintai istri/suami tetapi durhaka terhadap mertuanya.

Indonesia itu salah satu unsur pembentuknya adalah ideologi komunisme. Jadi jangan salah sangka, jangan amnesia, buta sejarah, apalagi tolol. Sebab tanpa memelajarai komunisme, mustahil para founding father bisa merumuskan pancasila.

Lho, Bung Karno sang proklamator yang kita puja-puji dan kita bangga-banggakan itu adalah seorang komunis tulen. Kalau tidak percaya silakan pelajari pemikiran-pemikirannya, baca buku-bukunya. Bahkan tokoh besar komunisme, Karl Marx, yang dibahasakan oleh Bung Karno sebagai datuknya kaum miskin yang berpenampilan koyak-koyak itu diperingati hari kematiannya lewat sebuah tulisan di “Fikiran Ra’jat”tahun 1933 yang berjudul “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx”.

Dari situ bisa kita maknai bahwa betapa hormatnya Bung Karno terhadap Karl Marx, dan betapa berpengaruhnya Karl Marx terhadap pemikiran Bung Karno. Dan dari (teori-teori) Karl Marx-lah Bung Karno menghasilkan buah pemikiran tentang Marhaenisme, yang menurut Bung Karno adalah Marxisme/komunisme yang di-Indonesia-kan. Komunisme yang sesuai dengan kebudayaan nusantara, yang sesuai dengan jati diri kita, begitu kata Bung Karno.

Dan menyikapi fenomena komunismefobia yang tak surut-surut sampai hari ini, sejak dulu sudah ia terangkan bahwa komunisme itu ideologi, bukan teologi. Komunisme bukan-lah atheisme, komunisme itu ideologi perjuangan. Bajingan Orba sajalah yang mengaburkan makna dan sejarahnya. Silakan kroscek sendiri pidato Bung Karno pada peringatan HUT kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1960, pidato Bung Karno di HUT PERWARI 1965,  Amanat Presiden Bung Karno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 1965, pidato Bung Karno di Sidang Paripurna Kabinet Dwikora, di Istana Bogor, 6 November 1965, Amanat Presiden Sukarno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 196,  Amanat Presiden Sukarno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 1965, pidato Bung Karno di hadapan peserta Sapta Warsa Gerakan Siswa Nasional Indonesia/GSNI, di Istora Senayan, Jakarta, 28 Februari 1966, dan masih banyak lagi pidato-pidato lainnya yang isinya secara gamblang Bung Karno mengaku diri sebagai komunis.

Maka membenci komunisme sama dengan membenci Indonesia, founding father (terutama Bung Karno), dan sejarah kebangsaan kita. Bahkan konsep negara Republik Indonesia itu ditulis oleh seorang maniak komunisme: Ibrahim Datuk Tan Malaka. Kalau kebebalan dan kesalah-kaprahan kebenaran sejarah ini kita (tetap) pelihara maka lebih baik kita bubarkan saja negara ini. Wong kita sudah berkhianat, kok. 

Yang jelas, kita sudah nyata-nyata durhaka terhadap founding father  jika masih anti terhadap komunisme. Tapi dengan melihat kondisi yang ada dan mempertimbangkan segala kemungkinannya maka sepertinya kedurhakaan kita ini akan tetap kita pertahankan. Soal ini, Bung Karno sudah men-twit-kannya hampir seratus tahun yang lalu: “Orang tak akan gampang-gampang melepaskan bakul-nasinya, jika pelepasan bakul itu mendatangkan matinya!”

Ssst … soal komunisme dan segala persoalannya ini kalau mau diluruskan sebenarnya gampang saja. Sekadar informasi: saat ini banyak aktivis “kiri” yang duduk di tampuk kekuasaan–khususnya di parlemen. Tak usahlah saya sebutkan nama-nama mereka yang jelas mereka cerdas, militan, dan revolusioner (reformisioner). Tapi berhubung karena dengan mengungkapkan kebenaran akan “mendatangkan matinya” maka lebih baik sami’na wa atho’na.  Kami dengar kami taat. Diam dan nikmati nyamannya kursi kekuasaan.

Kita boleh bilang Orba sebagai bajingan, kawan. Tapi orang-orang seperti mereka jauh lebih bajingan lagi karena mereka mendiamkan kesalahan (baca: kerancuan sejarah). Ingat kata Soe Hok Gie: “Mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.”

Masih tidak percaya? Coba cek sampai hari ini anasir-anasir Orba hampir semuanya masih dipakai, termasuk peringatan hari SUPERSEMAR yang jatuh pada hari ini. Dan cek, adakah aparatur negara-pemerintahan wabilkhusus anggota DPR yang sekarang ini menjabat berani menyatakan secara terang-terangan bahwa sejarah SUPERSEMAR itu murni rekayasa alias kebohongan yang dibuat oleh Soeharto?

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi,” tegas Tan Malaka.

Piye kabare, iseh penak jamanku tho?” kata Soeharto sambil melambaikan tangan.

Yo penak. Dulu Soeharto cuma satu; sekarang Soeharto di mana-mana. Semua berlaku seperti Soeharto,” celetuk Gus Dur selow dengan gaya khasnya.

Sang Orator Baru

toaa

JUMAT, 9 Desember 2011. Siang itu sang surya begitu perkasa menancapkan sinarnya di bumi kota Makassar, bisa sengatannya bisa membuat kulit manusia berubah menjadi gosong, atau kemerah-merahan seperti udang yang dipanggang di perapian, kondisi seperti ini umumnya membuat banyak orang khususnya para gadis, ibu-ibu, dan kaum lelaki klimis pecinta salon yang berhobi merawat diri untuk lebih memilih berteduh di pepohonan kampus dan sekolah, rumah tinggal, mall-mall atau bagi kaum pekerja kantoran berdiam di dalam ruang-ruang ber-ac dan gedung yang menjulang tinggi sampai tiba waktunya sang jingga menyingkapkan warnanya di ufuk barat: sore.

Meski terik sedemikian ganas dan banyak orang bersembunyi dari panas, ada sekurumunan mahasiswa yang lebih memilih keluar menantang sengatan sang surya untuk melakukan aksi demonstrasi di jalan raya, tak perduli dengan kulit-kulit mereka yang semakin menghitam dipanggang mentari; bagi mereka terik mentari adalah penyulut api semangat revolusi, sekaligus ajang untuk menunjukkan taring kepada para birokratis rakus bahwa mereka akan selalu ada pada barisan perlawanan ketika hak rakyat dirampas oleh maling-maling berdasi.

Meski berada pada medan yang sangat curam sekalipun suara perlawanan tetap dikobarkan. Kami ada dan berlipat ganda! Seru massa aksi mengutip larik lagu Fajar Merah, anak Wiji Thukul.

Siang itu, Azfar sebagai salah seorang demonstran yang turun ke jalan dengan perkasa melangkahkan kaki bersama kawan-kawannya menuju gedung Kejaksaan Tinggi—sasaran pertama aksi demonstrasi karena yang paling dekat dengan kampusnya, ia begitu semangat namun juga sangat geram menyaksikan semakin banyaknya kasus korupsi yang kian hari kian marak dilakukan oleh para wakil-wakil rakyat dan beberapa pejabat menteri. Ia semakin geram lagi ketika isu-isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) menyeruak dengan gesit seperti mengejar rating berita menutupi kasus korupsi yang mengindikasikan keterlibatan pejabat-pejabat besar di negara ini.

Setibanya di depan kantor Kejaksaan Tinggi—titik pertama Azfar dan kawanannya melakukan aksi—terlihat barisan polisi dengan seragam dan tangan-tangan mereka—yang kekar sudah berdiri sigap untuk menjaga aksi demonstrasi para mahasiswa—memegang perisai, polisi mengamat-amati dan mengantisipasi kalau-kalau Azfar dan teman-temannya akan melakukan aksi vandalis. Selain polisi, ada juga beberapa awak media yang sudah antusias memegang kamera dan sekali-sekali men-jepret kerumanan massa mahasiswa yang sudah berada di depan gedung Kejaksaan Tinggi.

*

SATU hari sebelum mereka melakukan aksi, sepulang dari rapat konsolidasi persiapan aksi, Azfar sudah berlatih berorasi, menyemburkan kalimat-kalimat pamungkasnya yang dia harapkan bisa menyiutkan nyali para maling berdasi dan bisa menyulutkan api semangat para mahasiswa yang mendengarnya.

Di depan cermin, dengan memegang botol deodoran ia berlagak seolah-olah sedang—berdiri di depan orang banyak—memegang megaphone sambil mengangkat jari telunjuk tangan kanannya mengarah ke atas seperti mengutuk plafon kamarnya yang sering kebocoran kalau hujan, lalu mulai mengeluarkan suaranya yang membuat telinga siapa pun yang mendengarnya menjadi sakit.

“Ketika penindasan terjadi di mana-mana, ketika virus-virus korupsi mewabah di mana-mana, ketika pejabat negara bertindak semena-mena, dan ketika hukum berpihak kepada uang dan penguasa maka hanya ada satu kata: LAWAN!”

Begitulah ia bersuara dengan lantang di depan cermin. Suara lantang itu tidak hanya dihamburkan di depan cermin tetapi juga di kamar mandi sebelum menyemburkan air ke tubuhnya yang kurus.

Semangat yang berapi-api itu minimal disebabkan oleh dua hal: pertama, karena kebenciannya kepada pejabat-pejabat yang doyan merampas uang rakyat; sering membuat kebijakan yang (sama sekali) tak bijak; dan hanya semakin menambah kemiskinan dan kesengsaraan bagi rakyatnya. Dan kedua, ia ingin menampilkan dirinya yang gagah memegang megaphone di depan khalayak ramai dengan harapan bisa diliput oleh awak media khususnya media televisi agar dapat dilihat oleh teman-temannya yang kuliah di kota-kota lain, dan juga orangtuanya di kampung, meski ia tahu orangtuanya di kampung belum bisa mengakses siaran televisi karena saking terpelosoknya letak kampungnya berada (padahal dunia sudah sangat canggih!).

Sebab yang pertama bisa dikatakan adalah cermin dari aktivis sejati, sementara sebab yang kedua adalah cermin dari aktivis kerdil yang haus popularitas, krisis eksistensi serta narsis dan gila pujian. Kalau dibandingkan keduanya, Azfar lebih cenderung termotivasi oleh sebab yang kedua. Maklum, di zaman sekarang ini bukan hanya Azfar, tapi sebagian besar umat manusia memang menghamba pada perkara-perkara tersebut.

*

TEPAT di depan gerbang kantor Kejaksaan Tinggi, massa aksi sudah berbaris rapi membuat border dan sebagian lainnya mengangkat bendera merah-putih sebagai simbol perlawanan. Seseorang yang memakai kopiah dengan memiringkannya menyerupai gaya khas Sukarno namun berwarna sedikit kemerah-merahan—agak luntur karena mungkin termakan usia—bertindak sebagai koordinator lapangan (koorlap), dengan megaphone di tangannya, ia mengomandoi massa aksi agar tertib dan merapatkan barisan.

“Berapa jumlah kita, kawan-kawan?” Si Koorlap membuka orasinya.

“Satu!” jawab massa aksi serempak.

“Baik, kawan-kawan. Rapatkan barisan, kawan-kawan. Kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mahasiswa tidak buta. Bahwa kita adalah benar-benar rakyat yang ingin merdeka. Merdeka!”

Begitulah sampai seterusnya Si Koorlap berorasi dengan mengutip-kutip kalimat-kalimat dari Sukarno, Bung Tomo, WS Rendra, Wiji Thukul, dan lain-lain agar menambah sangar isi orasinya. Bahkan tak hanya itu, ia pun menyemburkan kalimat-kalimat kutukan, cacian, dan hasutan melalui megaphone agar menambah panas suasana siang itu. Setelah menutup orasinya, ia disambut meriah dengan riakan-riakan yang keras dari massa aksi. Ia pun menyudahi orasinya dengan mengajak seluruh massa aksi menyanyikan lagu Buruh Tani dan Darah Juang.

Melihat Si Koorlap begitu sangar berorasi di atas podium—dan lihai mengkobarkan semangat massa aksi di atas podium, Azfar merasa tertantang dan tidak mau kalah. Mulutnya mulai gatal ingin sesegera mungkin mempertunjukkan kemahirannya berorasi—yang menurutnya tidak beda jauh dengan Si Koorlap bahkan mungkin bisa lebih bagus lagi. Apalagi melihat mata-mata kamera para awak media banyak mengarah kepada Si Koorlap tadi, membuat Azfar semakin tak sabar ingin tampil memperagakan hasil latihannya di depan cermin dan kamar mandi secara intens selama ini.

Namun sampai satu jam berlalu, megaphone belum bergilir ke tangannya.

*

            TITIK pertama, Kejaksaan Tinggi, telah usai, kini massa aksi menuju ke titik berikutnya, di bawah jembatan Fly Over yang juga tidak jauh dari gedung Kejaksaan Tinggi. Di sana sudah ada barisan-barisan mahasiswa lain yang juga sedang menyuarakan dan menyerukan hal yang sama seperti kelompok Azfar. Hari itu, memang banyak kelompok-kelompok mahasiswa yang turun ke jalan melakukan aksi. Hal ini sudah menjadi tradisi ketika hari-hari besar atau ketika ada wacana-wacana kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Sebagaimana siang itu banyak mahasiswa yang turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi.

Sembari melangkahkan kaki menuju ke fly Over, orasi-orasi yang keluar dari corong megaphone terus dikobarkan, menuntun semangat mereka menuju ke fly Over, semangat mereka semakin berkobar, semakin terik matahari semakin perjuangan berapi-api, apalagi menyaksikan kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi di bawah fly over serta sebuah mini bus yang terkapar di tengah jalan—yang kemudian dijadikan sebagai podium mahasiswa dalam menghamburkan orasinya. Dan tepat di bawah fly over inilah, kelompok-kelompok mahasiswa dari berbagai organisasi dan kampus-kampus bersatu untuk semakin memasifkan pergerakan mereka. Sebagian melakukan aksi bakar-bakar ban, sebagian terus mengibarkan bendera dan meneriakkan yel-yel perlawanan. Dan ada pula yang membakar foto-foto pejabat negara yang terindikasi melakukan tindak pidana korupsi berikut me-milox di jalan dan tembok-embok jembatan nama-nama proyek yang tersangkut mega skandal korupsi yang sudah bertahun-tahun oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum diselesaikan.

Kelompok Azfar disambut meriah oleh kelompok mahasiswa lainnya yang sudah berada lebih dulu di bawah fly Over.  Si Koorlap langsung dipersilakan untuk mengambil podium. Harus diakui bahwa di antara kelompok Azfar, Si Koorlap itu adalah demonstran yang paling senior dan yang paling disegani karena ialah yang paling berpengalaman dan paling tajam orasi-orasinya.

Si Koorlap pun kembali menyemburkan kalimat-kalimat dahsyatnya lewat corong megaphone. Situasi semakin memanas. “Jika kata tak mampu menggugah. Diplomasi tak mampu mengubah. Maka pemberontakan adalah solusi kaum muda!” pekik Si Koorlap sampai bermuncratan air-air dari dalam mulutnya. Bukan hanya kelompok Azfar, semburan orasi Si Koorlap juga disambut antusias oleh semua massa aksi yang semakin banyak jumlahnya itu. Ia terus mengutip kalimat tokoh-tokoh untuk memainkan gelombang massa.

Tak ada lagi perbedaan ketika itu, antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain terlihat bersatu padu dalam barisan yang sama, yakni barisan perlawanan. Tidak ada lagi ego-ego antar organisasi dan antar fakultas. Semua bersatu dalam satu tujuan yang sama: “Ganyang koruptor. Tangkap koruptor. Bongkar skandal mega-proyek anu dan itu.”

“Baiklah, kawan-kawan. Berikutnya kita dengarkan orasi yang akan disampaikan oleh Bung Azfar dari Fakultas Teknik Bisulwa.” Momen itu akhirnya tiba juga. Si Koorlap memberi isyarat kepada Azfar untuk segera naik ke atas podium.

Dengan tegang dan degupan jantung yang berdebar kencang seperti genderang perang, Azfar melangkahkan kaki naik ke atas podium. Keyakinan yang kokoh mulai runtuh, ia mulai ragu apakah ia bisa sehebat dan segagah Si Koorlap—apalagi ia menyadari bahwa dirinya sama sekali belum pernah memegang megaphone untuk berorasi sebelum-sebelumnya. Ia bingung bagaimana cara memulainya. Semua hafalan dan latihan yang ia simulasikan di hadapan cermin dan di dalam kamar mandi hilang seketika. Rasa sesal mulai menghampirinya. Kalau tahu begini, saya tidak akan memberi kode kepada Si Koorlap agar memberi podium kepada saya, katanya dalam hati.

Semua mata seakan tertuju padanya, begitu pula mata-mata kamera awak media semua seolah-olah terpusat ke arahnya, tepat ke biji matanya. Barisan polisi bahkan bersiap-siap mengambil posisi mengantasipasi kalau-kalau orasi Azfar bisa menimbulkan hasutan yang bermuara kepada chaos dan tindakan vandalistik. Secara penampilan, Azfar mirip dengan Wiji Tukul, kurus berantakan, memakai jaket kusam dan lusuh, dan rambutnya sedikit gondrong tak disisir, mungkin itulah sebabnya polisi memberi kesigapan lebih dibanding orasi-orasi sebelumnya, takut kalau-kalau hasutannya menyerupai Wiji Tukul: kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan.

Langkah berat azfar disambut dengan yel-yel perlawanan dari mahasiswa yang semakin menggema menyerukan pemberantasan korupsi, kepulan asap yang semakin pekat melumuri jalanan turut mendramatisir langkah berat azfar ke atas podium. Selain itu, antrean panjang kendaraan yang tersandung macet turut pula menyaksikan langkah kaki sang orator baru itu.

Dengan tubuh gemetar ia mendaki mini bus menuju ke puncak podium, bersiap-siap mengukir sejarah baru, minimal untuk dirinya sendiri.

“Huuuuummmmmmm,” suara itu keluar dari corong megaphone yang dipegang Azfar. Intensitas dengungan itu semakin tinggi dan membuat gendang telinga siapa pun yang mendengarnya menjadi sakit.

Satu sama lain antar-massa aksi saling melirik bertanya-tanya dalam hati. Mungkin megaphone-nya rusak, pikir banyak orang. Sementara mata-mata kamera tak memalingkan arahnya, tetap saja tertuju pada sang orator baru itu, Azfar. Beberapa kali bunyi yang tidak enak itu terdengar lagi, hingga kemudian Si Koorlap mengambil kembali megaphone yang digenggam Azfar untuk mencoba memastikan apa ada masalah dengan megaphone tersebut. Tapi nyatanya tak ada yang bermasalah, di tangan Si Koorlap, suara megaphone tak mengeluarkan dengungan sebagaimana yang tadi dipegang oleh Azfar.

Setelah dipastikan sehat-sehat saja, megaphone itu diserahkan kembali ke tangan Azfar. Namun di tangan Azfar, dengungan itu terdengar lagi, bahkan lebih berdenging, “Huuuuuuuuuummmmmmmmmmm…” Suara itu terdengar berulang-ulang selama di tangan Azfar. Lirik-melirik penuh tanda tanya disertai dengan senyum-senyum tipis seakan mengolok semakin ramai sesama mahasiswa dan semua yang turut menyaksikan kejadian itu, termasuk para polisi yang tadinya tegang dan pedagang asongan yang menjajakan dagangannya di perempatan jalan. Sementara itu, para awak media tak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke atas podium (entah apa benar disorot kamera atau perasaan Azfar saja yang merasa disorot kamera?), tempat Azfar dan Si Koorlap berdiri. Menyaksikan kejadian itu, seorang mahasiswa dari barisan massa aksi yang sebelumnya dari kelompok lain menyodorkan megaphone-nya yang dianggapnya lebih baik daripada megaphone milik kelompok azfar, harap-harap suara aneh itu tidak terdengar lagi.

“Huuuuuuuuuummmmmmmmmmm…” tak ada perubahan, masih sama seperti semula, di tangan azfar, megaphone seakan tidak sehat, sementara di tangan Si Koorlap, megaphone-nya tidak ada kendala dan bermasalah sama sekali. Akhirnya semua bersepakat bahwa yang bermasalah bukan megaphonenya tetapi Azfar-lah yang bermasalah. Dengan langkah berat dan dengan kemaluan yang besar, maksudnya perasaan malu yang besar ia pun turun dari atas podium sambil berharap-harap peristiwa memalukan ini tidak dimuat dan disiarkan di televisi. Sebab sangat memalukan rasanya bila kejadian semacam ini disaksikan oleh seluruh penduduk negeri, apalagi kalau ditonton oleh teman-teman yang kuliah di kota lain.

Dan sesaat setelah turun dari podium, kalimat “ketika penindasan terjadi di mana-mana, ketika virus-virus korupsi mewabah di mana-mana, ketika pejabat negara bertindak semena-mena, dan ketika hukum berpihak kepada uang dan penguasa maka hanya ada satu kata: LAWAN!” yang tadi menghilang dan tak bisa diingat sekejap muncul kembali di dalam memori Azfar tanpa satu huruf pun yang luput dari ingatan.[]

Dahlan, lahir di Buton, Sulawesi Tenggara. Alumni Universitas Bosowa, Makassar. Pegiat literasi, suka membaca dan menulis.

Diri Tanpa Arti

bagikan tanpa pikiran
bermusuhan tanpa pengetahuan
ikut-ikutan tanpa pemahaman
benci tanpa mengerti
caci tanpa sadari
diri tanpa arti

kata-kata semakin gas
mudah menguap dan terbakar
warning! jauhi dari pikiran bersumbu pendek
mudah meledak dan ambyar

jangan berlayar kalau takut tenggelam
jangan bercinta kalau takut sengsara
jangan mendengar kalau takut terbakar
jangan melihat kalau takut dijilat
jangan hidup kalau takut mati
diri tanpa arti

palu punya bapak
arit punya ibu
dapur punya kakak
beras punya mejikjer
nasi punya aku

aku makan nasi tapi anti mejikjer
karena mejikjer dibuat oleh manusia bermata sipit bertanduk iblis berambut pirang bernadi yahudi tinggal di amerika dan membuat facebook
tapi aku kemudian abaikan fakta itu
karena aku butuh nasi

harus dibedakan mana tidur
mana ngelindur
meski sama-sama di atas kasur
diri tanpa arti

menyiram diri sendiri dengan bensin
membakar kepala dengan amarah
menjadi penemu bukan di bidang iptek
tapi penemu di bidang aib saudara sendiri
lidah semakin panjang
menjadi papan seluncur kebencian

kapan ingat ibrahim kalau anak-cucu ishaq dan ismail lupa?
kapan renung kalau sendiri saja susah?
kapan isi waktu kalau pada kapan saja angkuh?
kapan jadi paku kalau sibuk jadi palu?
diri tanpa arti

burung kakatua
hinggap di jendela
rumah siapa
kalau nenek
sudah tak ada?

diri
tanpa
arti.

Glosarium Kebahagiaan

 

Banyak kepala yang tak mengandung pikiran di dalamnya. Banyak orang yang sudah hilang martabat hidupnya. Mereka ini setiap saat diseret-seret oleh pemberitaan dan isu-isu rendahan.

Mereka memang tak punya pikiran, kepala mereka tak lebih berharga dari kelapa. Bahkan kelapa jauh lebih bernilai karena kandungan berbagai vitamin dan mineral di dalamnya. Sedangkan mereka, kepala mereka hanya berisi berita sampah tanpa makna, tak memberi dampak apa-apa selain mengobarkan amarah dan memantik kebencian yang kian membara.

Hargailah pikiranmu dengan tidak mengikuti pikiran orang lain. Jadilah diri sendiri dengan tidak menjadi orang lain. Sebab orang lain sudah menjadi orang lain.

Maka daripada menyibukkan diri mengomentari apa saja yang berseliweran di televisi, koran, dan media sosial, lebih baik fokus kerja mencapai cita-cita. Atau minimal belajar membedakan mana berita banal dan mana berita yang substansial. Mana yang kelihatannya kecil tetapi memiliki risiko yang besar bila didiamkan; dan mana yang kelihatannya besar, wah, dan penuh riuh-rendah namun isinya kosong, tidak substantif, tidak berkaitan dengan inti kehidupan: kemanusiaan, hak untuk hidup, keamanaan, dan kesejahteraan.

Mengurus masalah negara itu tidak ada habisnya. Negara makin ke sini makin tak bekerja untuk menyelesaikan masalah rakyatnya, malah justru menimbulkan masalahnya sendiri untuk dipro-kontrai oleh sesama rakyatnya. Diributkan, dipertentangkan, dan diperselisihkan.

Maka seyogianya sebagai rakyat, perlu kepandaian untuk memilih dan memilah mana persoalan yang patut direspons dan mana persoalan yang ditanggapi sewajarnya saja, bahkan kadang ada berita yang didiamkan pun akan hilang dengan sendirinya.

Tapi semua tergantung kita. Kalau memang dengan berkerumun dalam permusuhan dan saling menghardik membuat kita menjadi bahagia, ya apa boleh buat. Monggo.

Cuma heran saja, kualitas kebahagiaannya kok serendah itu?

Dada Puisi Arohi

(buat ahmad)

aku berjalan di dadanya yang terbakar
kata-kata telah ia hapus dari kertas
puisi yang tadinya kompas
kini menggelembung jadi asap

ia tak mengajarkanku membaca puisi
melainkan menjadi puisi
“manunggaling kawula lan puisi,” begitulah
sukmanya bertajali dengan sukmaku

kadang ia gandhi
kadang ia ruhani
kadang ia nyawiji
kadang ia si sederhana ahmadi

dadanya hutan belantara
tempatku singgah meminum api
melepas mimpi
dan kembali beranjak pergi

kini ia kusebut arohi di dalam hati
bukan karena tumhiho menenggelamkan pedih
melainkan karena akronim ahmad rohani
dan isyarat dari ar-rahim

aku berjalan di dadanya yang terbakar
dada yang hutan belantara
dada yang menghapus puisi
dengan airmata tanpa kata-kata.

Balikpapan, 4 Maret 2017