Indonesia yang Kami Cintai

 

Kami mencintai Indonesia; bukan Indonesia sebagai negara atau republik, tapi Indonesia sebagai hamparan negeri yang sudah dari sananya menjadi tempat kami lahir, tumbuh, dan menjalani hidup.

Kami mencintai Indonesia, bukan karena pejabat negaranya yang cuma bisa bikin masalah, apalagi politisinya yang cuma tukang dusta sampai berbusa-busa, tapi karena Indonesia menjadi takdir tempat kami menumpang hidup, mencari nafkah, menemukan makna, memetik hikmah, dan meraup berkah.

Kami mencintai Indonesia, dengan rasa yang ada begitu saja. Mungkin karena kami masih memunyai kesadaran untuk bersyukur dan mengenal kata terima kasih.

Kami mencintai Indonesia sebagai pemberian Tuhan, bukan sebagai organisasi politik-kekuasaan yang diperebutkan oleh satu dua orang. Kami akan selalu mencintai Indonesia, meski pejabat negaranya tak mencintai kami. Meski harapan kami sering dikhianati. Meski hati kami selalu dilukai.

Karena rasa cinta kami lebih besar dari rasa sakit hati kami.

Meski kelak Indonesia sebagai negara sudah tak ada, rasa cinta kami kepada Indonesia akan selalu abadi di dalam dada. Karena Indonesia, bagi kami, bukan sekadar negara, organisasi sosial, perusahaan, partai politik, atau lembaga penyambung lidah rakyat, tapi Indonesia adalah sejarah dan tanah tumpah darah yang kaya akan keberagaman budaya dan keasrian alamnya. Indonesia adalah ibu kehidupan, tempat putus pusar yang dari sanalah kami bergantung hingga hari ini proses berkehidupan kami terus berlangsung.

Karena kami mencintai Indonesia, maka Indonesia adalah rasa cinta itu sendiri. Maka, menghapus rasa cinta kepada Indonesia sama dengan menghapus rasa cinta itu sendiri. Dan di dalam hidup ini, mustahil, bukan, ada manusia yang tak memunyai rasa cinta barang sedikit pun?

Bahkan jika sekalipun oleh Tuhan kami ditakdirkan untuk memiliki rasa cinta yang cuma seujung kuku, bisa dipastikan, seluruh cinta itu kami persembahkan seutuhnya hanya kepadamu, Indonesia.

Advertisements

Kemerdekaan Kontemporer: Pseudo-Kemerdekaan

Kemerdekaan adalah semua orang sibuk mendefiniskan kemerdekaannya masing-masing hingga pada akhirnya kemerdekaan antara satu dengan yang lainnya saling berbenturan dan mengakibatkan hubungan antarmereka menjadi kacau dan berantakan.

Kemerdekaan hanya akan bermakna sebagai kemerdekaan minimal dan individual. Outputnya jelas: antarmereka (akan) saling menegasi dan saling menganggap yang lain sebagai Yang Lain, bukan sebagai bagian dari dirinya, bukan sebagai sesuatu yang include dalam kedirian dan kepentingan kemanusiaannya.

Kemerdekaan, akhirnya, cuma menjadi perebutan klaim dan pertaruhan kekuasaan. Yang paling merdeka adalah mereka yang memunyai spektrum kebebasan paling luas dan kapasitas kekuasaan paling besar. Sedangkan mereka yang miskin-papa, hanya bisa menyenangkan hatinya dengan mendefinisikan kemerdekaan sebisa-bisanya dan seada-adanya–sesuai kondisi faktualnya yang menyedihkan; yang kian hari kian memprihatinkan. Toh, kemerdekaan pada akhirnya hanya akan disadari juga sebagai kemerdekaan semu; pseudo-kemerdekaan. Kemerdekaan ilutif.

Maka sebagai manusia yang berkesadaran sosial, masih etiskah mendefinisikan kemerdekaan sesuai kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan aspirasi dan kehendak berkemerdekaan orang lain? Sebab, kalau tujuan akhir sebuah kemerdekaan adalah untuk privatisasi; diri-sendiri-oriented atau diri-sendiri-sentris, maka kiranya proklamasi kemerdekaan perlu dibacakan ulang oleh setiap orang dan atas nama pribadi, bukan atas nama bangsa.

Kesaksian Cinta yang Disuling Airmata

Dalam sepasang tubuh yang renta tak ada lagi cinta yang menganga. Kalaupun dibilang cinta, itu hanyalah komitmen janji setia atau obsesi saling berpunya.

Cinta sudah mati. Cinta sudah selesai menyemburkan apinya. Kelanggengan sebuah hubungan bekerja bukan karena cinta sebagai pelumasnya melainkan gengsi dan harga diri sebagai taruhannya.

Pada erat sebuah ikatan, belum tentu talinya adalah cinta. Cinta mungkin tetap ada, tapi ia sudah berpindah ke diri yang lain. Ia mungkin masih berupa ikatan, tapi bukan sepasang kekasih sebagai pengeratnya. Sebagaimana Isa yang berganti rupa sesaat sebelum disalib di tiang gantungan.

Muhammad kepada ummati bukanlah sebuah kisah cinta sejati. Itu adalah manifestasi misi suci yang diemban seorang nabi di bumi. Jangan salah kaprah. Sebab cinta itu tak punya arah.

Cinta itu ketidakmasukakalan yang paling indah. Cinta itu kembang api. Cinta itu letupan-letupan perasaan yang paling gila. Hingga kata-kata meledak di tangan seorang penyair, cinta tetap takkan menjadi benda padat dan atau benda cair.

Dengarlah tetapi jangan kalian percayai. Sebelum matahari tenggelam di kepalaku, aku tak bisa menciptakan cinta. Cintalah yang mengadakan aku. Mustahil kudefinisikan ia secara sempurna sebagaimana tata surya yang bekerja sesuai orbitnya. Setiap orang, termasuk aku, hanya merasakan biasnya dan hanya sedikit menjelaskan vibrasi dan frekuensi kekuatannya.

Manusia belum sampai Tuhan. Manusia masih menenteng badan. Manusia masih sebatas pancaran layar flatron. Manusia masih selaksa kata-kata dan sesekali mempersonifikasi abstraksi perasaannya lewat emotikon. Manusia tak bisa mengurai dirinya dalam skala kumparan neutron, proton, dan elektron.

Dengarlah, seorang filsuf sedang menziarahi jasadnya di dalam sunyi. Ia yang sudah mati berkali-kali dan hanya hidup sebagai ari-ari. Tapi jangan percayai, sebab setiap kata-kata selalu mengandung banyak makna di dalam dirinya sendiri.

Sebelum fajar menelurkan ayam. Sebelum hujan menulis kembali ingatan. Kenanglah dirimu sendiri yang diterpa duka dan lara, luka dan nanah, dan fana dan maya. Lihatlah, kita sudah hampir berkokok di rahim kehidupan. Nelayan menuju pulang ke darat, petani bersiap kembali memanen keringatnya di sawah, dan penyair tetaplah seorang miskin dan papa yang saking tak punya apa-apa ia hanya bisa menggali-gali perasaannya yang paling dalam.

O, kita semua adalah anak-cucu dari Ibrahim. Kita semua adalah jism dari Yang Rahman dan Yang Rahim. Kalau benci, bencilah sewajarnya saja. Kalau cinta, cintailah sewajarnya saja–meski tak ada yang wajar di dalam cinta. Asalkan jangan lupa membahagiakan keluarga dan tetangga. Agar kelak jika tak ada lagi air di muka bumi, setidaknya jenazahmu masih bisa dimandikan dengan tanah dan airmata.

Yang Mengerikan dari Kesendirian

Yang paling mengerikan dari kesendirian adalah hilangnya pikiran dan perasaan yang bisa untuk dituliskan. Kehilangan pikiran adalah kebodohan. Sedangkan kehilangan perasaan adalah kejahatan. Kalau sampai itu terjadi, neraka tak perlu diputuskan setelah mati. Bahkan mati pun tak perlu menunggu mati.

Tanpa pikiran dan perasaan, hidup adalah mati. Sebab kematian, seperti kata Haruki Murakami, bukanlah lawan dari kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan. Bahwa tak semua yang hidup itu benar-benar hidup. Bahwa di dalam hidup itu terdapat berlapis-lapis kematian. Bisa kematian akal, nurani, bisa kematian kebersamaan, kepedulian, kasih sayang dan sebagainya, dan seterusnya. Bisa saja kita hidup secara badaniyah, tapi mati secara ilahiyah. Perasaan kita tak ada, pikiran kita entah ke mana. Segalanya hampa.

Yang paling mengerikan dari kesendirian adalah mendalamnya kehampaan. Hampa segalanya: hampa pikiran, hampa perasaan, hampa tujuan, hampa kemauan, hampa kerinduan, hampa cinta, hampa segala hampa.

Kata-kata telah menguap ke udara. Segala yang menggenang hanya kenang. Segala yang terngiang hanya kesedihan. Di dalam kesendirian, yang terdengar hanyalah bunyi di dalam sunyi. Sungai-sungai mengalir membentuk anak-anaknya. Merantau dan berpetualang ke lautan. Melebur ke dalam samudera. Menjadi airmata yang turun dari langit. Menjadi cakrawala yang tak pernah merasa sempit. Melampaui manusia yang tak merasa dihimpit.

Mulanya, rumah dibuat untuk perlindungan diri, bukan untuk membuat manusia menjadi sendiri-sendiri. Rumah dibuat sebagai penegas ruang privasi, tapi bukan untuk memutus rantai sosialisasi. Rumah adalah cerminan keberagaman, bukan untuk saling menunjukkan keunggulan yang cenderung mempertajam perbedaan. Sebab yang menjadi tujuan hidup manusia bukanlah membangun rumah, melainkan untuk apa, menjadi apa, dan akan bagaimana setelah rumah dibangun.

Yang paling mengerikan dari kesendirian adalah kengawuran yang datang perlahan-lahan dan kegilaan yang timbul pelan-pelan. Seperti tulisan ini, saya bahkan tak mengerti apa yang sebenarnya saya maksudkan. Saya serahkan sepenuhnya kepada setiap yang membaca untuk mengartikan. Saya hanya ingin memejamkan mata sebentar, menyatu dalam “Speak Softly Love” Andy Williams.

Batang Kuis, Deli Serdang, 8 Desember 2016

Setiap Orang adalah Setiap Orang

Memiliki hanya tepat jika peruntukannya adalah memiliki barang, bukan orang. Sebab setiap orang bukan untuk dimiliki. Sebab setiap orang punya pikiran, punya kehendaknya sendiri. Rasa memiliki atas orang hanya akan menimbulkan (potensi) kekecewaan karena orang bisa pergi, berkhianat, dan melakukan apa saja sesuai kemauannya sendiri.

Klaim kepemilikan orangtua atas anak, misalnya, itu adalah konsep pemikiran yang keliru. Karena anak bukan barang. Ia, pada saatnya nanti, harus kita relakan untuk pergi menjadi dirinya sendiri. Ia punya kehendak, punya hak, punya pikiran dan perasaan yang senantiasa bergolak.

“Anakmu bukanlah anakmu,” kata Kahlil Gibran, “mereka sekadar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu … karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.” Kita sebagai orangtua saja yang otoriter mengharuskan mereka menuruti pikiran kita. Padahal faktanya, mereka ada dan tidaknya bukan karena kemauan mereka. Tapi karena (hasil dari) keinginan kita sebagai laki-laki dan perempuan.

Begitupun dalam ranah suami-istri. Dipaksakan dengan cara apa pun, suami dan istri tetaplah dua subjek yang berbeda. Mereka bisa bersatu, tapi tak bisa menyatu. Bersatu berarti bergabung untuk suatu tujuan atau alasan. Sedangkan menyatu berarti meninggalkan subjek lama untuk menjadi suatu zat baru. Menyatu berarti suami dan istri menjadi satu subjek. Dan itu nyaris mustahil terjadi. Sebab suami dan istri itu adalah dua subjek yang berada pada dua tubuh yang berbeda.

Maka kepemilikian itu tak tepat dalam klaim “istri adalah milik suami”, “suami milik istri”, “anak milik orangtua”, dan sebagainya, dan seterusnya.

Sebab manusia tidak bisa saling memiliki. Meski raganya ter/dikerangkeng, pikirannya, sukmanya, jiwanya, tak bisa dipenjarakan. Maka memaksakan orang lain untuk menjadi apa yang kita inginkan sama dengan praktik totalitarianisme. Itu melanggar hak azasi manusia. Menyalahi kodrat manusia.

Maka sebagai manusia harusnya kita tahu diri. Kenyataan tak harus melulu sesuai dengan yang kita ingini, tapi itulah kenyataannya. Tidak ada istri durhaka, suami durhaka, anak durhaka, dan lain-lain. Yang ada adalah kegagalanmu sebagai manusia dalam menyikapi kenyataan. Mau dijungkir-balikkan bagaimanapun kau tetap kau dan orang lain adalah orang lain.

Pencarian terpanjang dalam perjalanan kehidupan manusia adalah menemukan dan menjadi diri sendiri. Tapi paradoksnya, menjadi diri sendiri bisa berarti menjadi orang lain. Sebab orang lain (dan setiap orang pada umumnya) juga ingin menjadi dirinya sendiri. Betul ka tra?

Aih, jang pusing. Mampir dolo di Lapo Mamre.

MEMOAR KEMATIAN: MIMPI

 

(Saya terkadang bingung sendiri menemukan-membaca tulisan-tulisan lawas saya yang konyol dan gila. Salah satunya ini. Apa saya memerlukan seorang psikolog?)

TADI malam saya bermimpi membunuh orang. Namanya mimpi maka saya tak ingat detail kronologi pembunuhannya. Yang jelas dalam ingatan saya, ada seseorang yang saya penggal kepalanya. Entah siapa dia. Saya memotong lehernya hingga terpisah dari badannya. Saya pun bingung untuk membuang mayatnya di mana. Saya takut ketahuan. Saya putuskan untuk pertama-tama memasukkan badannya ke dalam karung. Tapi setelah saya masukkan badannya ke dalam karung. Kepalanya, yang tadi ada di samping saya, menghilang. Entah ke mana. Saya pun panik dan mulai mencurigai ada orang yang sempat melihat tindakan saya saat memasukkan badan mayat ke karung dan mengambil kepala mayat tersebut.

Saya mencari-cari, mencari-cari, tetapi tak ketemu. Saya semakin gelisah. Saya takut ketahuan orang banyak kalau saya telah melakukan pembunuhan. Saya takut. Dalam ketakutan dan kegelisahan yang mendalam, saya mencoba untuk memungkiri kenyataan tersebut. Dalam hati saya berkata: ini tidak nyata! Ini hanya mimpi! Yakin! Ini hanya mimpi! Saya harus bangun! Saya harus sadar! Sadar!

Dan akhirnya: saya pun terbangun. Dan beberapa jam setelah terbangun, saya menuliskan mimpi ini.

***

SEMUA itu hanya mimpi. Mimpi yang saya tuliskan kembali dalam bentuk yang berbeda. Saya menukar subjek-subjek di dalam mimpi itu, mengubah diri saya sebagai pelaku. Dan perasaan yang terhasilkan adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Meski demikian, perasaan saat saya menjadi subjek yang dibunuh pun tak kalah menyakitkan. Bahkan seumur hidup, tak ada perasaan sesakit dibunuh, dipenggal kepalanya dengan cara diiris-iris lehernya menggunakan golok tua yang agak tumpul. Sakit, o sakit sekali!

Meski mimpi, perasaan yang saya alami sungguh sangat nyata. Saya bahkan merasa jangan-jangan saat ini saya benar-benar sudah mati dan menjadi arwah yang bergentayangan. Atau saya mati suri. Atau saya sedang dan sudah menjalani hidup yang baru; hidup setelah mati.

Ah, perasaan sungguh sangat abstrak. Saya benar-benar bingung dan pusing.

Tapi tunggu dulu. Kenapa sampai bisa terjadi mimpi. Orang-orang mengatakan bahwa mimpi adalah bunga tidur. Tapi bukankah bunga yang tumbuh dan mekar di dalam tidur adalah bibit kembang yang kita tanam di saat terjaga? Contohnya kita bermimpi dikejar satpam, bukankah mimpi itu tidak sekonyong-konyong muncul tanpa sebab-sebab yang memadai, seperti misalnya saat terjaga di siang tadi kita sedang membully atau mengejek-ejek seorang satpam? Atau melakukan hal-hal yang berkaitan dengan satpam, kejar-kejaran, atau mungkin saat kita tidur terjadi kejadian kejar-kejaran antara satpam dengan sekelompok orang di sekitar tempat kita sedang tidur?

Saya pusing dan bingung. Mimpi terkadang membangkitkan harapan namun tak jarang malah mempersuram keadaan.

***

TADI malam saya bermimpi dibunuh orang. Namanya mimpi maka saya tak ingat detail kronologi pembunuhannya. Yang jelas dalam ingatan saya, ada seseorang yang memenggal kepalaku. Entah siapa dia. Dia memotong leherku hingga terpisah dari badanku. Dia tampak kebingungan akan dibuang ke mana mayatku. Dia tampak ketakutan. Dia akhirnya memutuskan untuk pertama-tama memasukkan badanku ke dalam karung. Tapi setelah dia masukkan badanku ke dalam karung. Kepalaku, yang tadi ada di sampingnya, menghilang. Entah ke mana. Sebenarnya saya tak merasa bahwa kepala saya telah ke mana atau telah hilang. Saya merasa kepala saya tidak ke mana-mana, tepat di sampingnya, di sisi kanan kakinya yang sedang berlutut. Saya merasa sedang melihatnya dari sudut pandang yang sama sedari tadi. Namun tampak kepanikan dari air muka dan bahasa kacau tubuhnya. Dia mulai mencurigai ada orang yang sempat melihat tindakannya saat  memasukan badanku ke karung dan mengambil kepalaku. Dia mencari-cari, mencari-cari, tetapi tak ketemu. Dia semakin gelisah. Dia seperti ketakutan kalau-kalau tindakannya diketahui orang banyak. Tapi saya tak terlalu peduli padanya. Saya sendiri pun masih merasakan sakit yang teramat sangat. Dalam kesakitan dan keperihan yang mendalam, saya mencoba untuk memungkiri kenyataan tersebut. Dalam hati saya berkata: ini tidak nyata! Ini hanya mimpi! Yakin! Ini hanya mimpi! Saya harus bangun! Saya harus sadar! Sadar!

Dan akhirnya: saya pun terbangun. Dan beberapa jam setelah terbangun, saya menuliskan mimpi ini.

***

SAYA terbangun dan banyak-banyak mengucap syukur karena pertama, semuanya ternyata hanya mimpi. Dan kedua, saya bisa mengetahui dan merasakan bagaimana pedihnya mati dengan cara dibunuh. Sakitnya bukan main. Seumur hidup saya berani bersumpah: tak ada sakit sesakit kematian. Apalagi mati dibunuh.

O, mimpi ini adalah mimpi yang memberi pengetahuan dan kesadaran dalam hidupku. Jenis mimpi seperti ini bagi saya terbilang sangat jarang. Saya memang bukan kali ini saja mendapat pengetahuan dari mimpi. Pengetahuan yang datang melalui mimpi sudah pernah saya alami sebelumnya. Meski jumlahnya masih bisa dihitung menggunakan jari. Tapi menurut saya mimpi kali ini sungguh sangat mencekam dan mungkin akan mengubah banyak hal terkait cara dan sikap saya menjalani hidup.

Tapi tunggu. Apa betul ini adalah bentuk kesadaran saya setelah terbangun? Apa betul saya saat ini sedang terjaga setelah mimpi buruk yang baru saja kualami?

Sabar. Sepertinya ada yang kurang beres. Saya saat ini sedang terjaga, duduk di sisi luar ranjang, sambil menuliskan kembali mimpi saya di buku nota kecil, buku catatan utangku tepat di meja–tempat biasa saya menulis dan membaca. Ini fakta dan sangat nyata. Tapi. Tapi … di belakang saya, di tengah ranjang yang saya duduki ini, terbaring tubuhku, jasadku, fisik badaniahku. Dengan mata tertutup dan mulut setengah ternganga. Shit!

Ini mimpi atau bukan?

***

GELAP. Pandanganku gelap. Keluh-kesahku gelap. Peluh-resahku gelap. Pikiranku gelap. Perasaanku gelap. Segalanya gelap. Saya memeluk diriku sendiri. Mendekap panas dan dingin tubuhku.

Saya melirik kembali istri pamanku yang tertidur. Saya meraba kembali tubuhnya yang sedikit terbuka. Menggerayanginya dan merayakan kemenangan hasratku.

Namun saya takut. Takut dia terbangun, mengetahui kebejatanku, dan berteriak sejadi-jadinya. Kalau sampai itu terjadi, saya sudah siap melibas lehernya dengan golok yang digantung di pintu kamar saya dan istri pamanku ini berada.

Di sisi lain, saya pun takut kalau-kalau kebejatanku ini diketahui oleh pamanku. Kalau itu terjadi, dia bisa saja dengan sigap melibas leherku dengan golok yang digantung di pintu kamar di mana saya dan istri pamanku ini sedang berada.

Gelap. Pandanganku gelap. Keluh-kesahku gelap. Peluh-resahku gelap. Pikiranku gelap. Perasaanku gelap. Segalanya gelap. Saya memeluk diriku sendiri. Mendekap panas dan dingin tubuhku.

Sudah tiada lagi kata-kata. Saya harus berani mengambil sikap untuk segera bertemu Tuhan dengan cara apa. Dengan memerkosa istri pamanku dan kemudian sejurus waktu ia menyukai dan menikmatinya; atau dengan cara dibunuh oleh pamanku sendiri karena mengetahui istrinya mau (atau telah) diperkosa oleh saya (ponakannya sendiri). Kalau terjadi kematian, maka setiap subjek yang mati mengalami kematian dengan cara dibacok, ditikam, atau digorok.

Persetan! Pada berahi yang memuncak, kematian tak bisa lagi menggertak. (*)

 

 

 

Perubahan adalah Hasil Pengetahuan

(Ini tulisan lama saya di tahun 2014. Pernah dimuat di portal online mana–saya sudah lupa. Saya menerbitkan kembali di dalam blog ini dengan harapan jiwa muda saya bisa terpelihara. Hehehe …)

“Cita-cita hidup manusia beragam, tapi satu hal yang harus kita sepakati adalah bahwa tugas hidup manusia adalah mengurangi ketidak-tahuan kita setiap hari.”

–Budiman Sudjatmiko

Mengatakan hidup sebagai hidup tanpa memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kehidupan, itu sama dengan menistakan kehidupan ke dalam jurang kebodohan. Setiap manusia wajib mengetahui, apapun harus diketahui. Dengan mengetahui, seseorang bisa dikatakan mempunyai pikiran. Sebab, pengetahuan adalah produk dari aktifitas pikiran.

Homo Kepoctus, Manusia adalah makhluk yang ingin mengetahui. Mungkin Charles Darwin kalau masih hidup sampai saat ini maka dia akan menyebutnya demikian.

Dunia berkembang dan maju adalah hasil dari ketat dan dalamnya pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Maka, wajah dunia hari ini adalah cerminan dari betapa canggih dan jenius manusia-manusia di dalamnya.

Kampus adalah tempat paling utama dalam menjalarkan ilmu pengetahuan ke otak mahasiswa, seharusnya, sebab di kampus, segala obyektifitas dan nilai intelektual bercokol. Mahasiswa tinggal memetik dan memakan buahnya.

Namun hari ini, faktanya, kampus malah menjadi tempat hedonisme berwabah. Jaring konsumerisme bersarang di berbagai tempat dan ruang mahasiswa. Kampus mengalami disfungsi, Intelektual tak lagi bereaksi.

Kaum intelektual adalah orang yang mempunyai fungsi sosial, itulah gambaran sederhana oleh Antonio Gramsci terhadap makna kaum intelektual yang ideal. Jika tak ada fungsi sosial maka tak ada pula intelektual.

Kampus adalah mesin pencetak intelek-intelek baru setiap tahun. Masyarakat sebagai obyek perjuangan kaum intelek harusnya mampu mengatualisasikan nilai-nilai intelektual itu untuk mengabdi kepada masyarakat, sebagaimana juga yang terpatri dalam tri darma perguruan tinggi.

Semangat mahasiswa sebagai entitas perubahan dan tonggak pengabdian itulah yang harus dihidupkan kembali, kampus sebagai tempat mahasiswa ber-kuliah harusnya dijadikan sebagai laboraturium kemajuan peradaban dunia. Mahasiswa yang dipredikati agen of change penting untuk dihidupkan dalam wilayah praksis-implementatif.

Pengetahuan dikembangkan, peran difungsikan, dan tujuan diutamakan. Itulah syarat agar mahasiswa Indonesia bisa maju.

Tugas mahasiswa saat ini adalah menghidupkan kembali ruh kemahasiswaannya; dengan cara membaca buku, melakukan kajian-kajian kebangsaan-kenegaraan, dan turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan untuk memekakan jiwa gotong-royong yang notabene adalah karakteristik bangsa Indonesia.

Jika saran di atas terlalu normatif, maka berpikirlah tentang hal gila yang lebih menggugah dan mampu mengubah. Asalkan kita telah mengetahui banyak tentang siapa diri kita dan siapa musuh kita. Ya, menambah dan terus menambah pengetahuan sebelum membuat perubahan.