Wasya, Ah, Wasya

Oleh WS Rendra

WASYA, yang baik!

Sekarang saya menulis surat lagi padamu. Mudah-mudahan kau tidak melupakan aku, seperti aku juga tidak melupakan kau.

Saya telah merasa beruntung bisa mengenalmu, dan meskipun kita hanya berteman selama beberapa hari, tapi persahabatan kita sangat mengesankan di hatiku.

Pada suatu hari ketika aku naik kereta api Trans Siberia, dari Optur menuju Moskwa, saya merasa tidak enak badan, sedikit jatuh sakit. Ketika dokter bertanya, bagian apakah dari badan saya yang terasa sakit, saya menjawab bahwa semua terasa sakit. Dokter memeriksa sekujur badanku, dan mengangkat bahunya. Dokter itu dokter Irina. Kau tahu dia sangat pandai dan banyak pengalamannya. Tapi dia merasa kesal terhadapku. Saya tak mau membantunya. Sebagai pasien, saya bersikap non kooperatip. Saya Cuma senang kalau tangannya yang halus itu memeriksa tubuhku, tapi saya tak suka menelan obat-obat yang diberikan olehnya, dan tak suka pula menceritakan perubahan-perubahanyang telah terjadi pada diriku. Sementara itu kotoran saya buruk. Apabila kereta api berhenti di kota-kota besar seperti Novobirsk atau Irkutsk, berlompatlah tiga empat orang dokter yang lain ke atas kereta api untuk memeriksa saya dan mementukan apa penyakitku.

Bermacam-macamlah yang dilakukan mereka terhadapku. Memeriksa telapuk mata, lidah, memompa perut, dan lain sebagainya. Dan selalu mereka mengangkat bahu mereka. Sebenarnya waktu mereka tengah membalik-balik badanku itu, saya merasa sehat tak kekurangan sesuatu apa. Saya hanya merasa luruh dan lesu. Dan saya senang melihat orang melakukan kesibukan-kesibukan yang lucu.

Pada permulaan saya berada di gerbong orang sakit itu, tengah saya terlentang dengan lesu yang bukan disebabkan oleh sakit  tapi oleh sesuatu yang waktu itu kurang kusadari, datanglah seorang pelayan dari gerbong restoran mengantar makanan. Orang itu gagah dan berwajah bersih. Sebelum masuk, orang itu mengetuk tiga kali dengan penuh irama yang bergaya. Ketika saya persilakan masuk, pintu dibuka, dan muncullah wajah yang bersih dengan senyumnya. Orang itu melangkah maju dengan penuh gaya, sambil memegang talam berisi makanan di tangannya dengan cara yang manis. Kemudian orang itu berkata dalam bahasa Indonesia:

“Rendra makam.”

“Makan,” kata saya membetulkan.

“Ah yes, makan.”

“Terima kasih.”

And also—er—selamat pagi.”

“Selamat pagi.”

I am sorry, selamat pagi.”

What is your name?tanya saya.

“Wasya.”

Itulah perkenalan saya pertama dengan kau. Kunjungan-kunjunganmu sangat mengesan dan setiap kali saya menanti saat makan sama gairahanya dengan menanti kedatanganmu. Selama saya sakit tentu saja senantiasa berwajah murung, tetapi selalu kau berusaha menghibur saya, dan selamanya kau berhasil. Kesukaran satu-satunya dalam pergaulan kita ialah bahasa. Kau tahu bahasa Indonesia tak lebih dari tujuh patah kata, sedang bahasa Inggrismu juga hanya tahu kata-kata teguran atau beberapa kata untuk bersapa saja. Untung selama di Tiongkok saya sudah mulai belajar bahasa Rusia. Bahasa Rusiaku patah-patah, kacau, dan bersifat nekat-nekatan. Tapi toh bisa saya pergunakan untuk melahirkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaanku, meskipun juga terbatas. Jadi selama itu kita pun menggunakan bahasa Rusia.

Dengan patah-patah saya bisa menangkap keteranganmu bahwa kau mengaku, kau seorang penari ballet dulunya. Saya tak percaya di dalam hati, tapi kau saya biarkan, sebab saya tahu bahwa kau cuma bermaksud untuk menghiburku. Kemudian kau mendongeng banyak tentang Bolshoi Theater.

Apabila kau tak berada di sampingku, saya merasa sepi. Tiga buah novel (Ivan) Turgenev sudah selesai kubaca. Akan membaca yang lain sudah merasa malas. Biasanya lalu memandang ke luar jendela sambil mendengarkan bunyi roda kereta api membuat irama di atas rel. Di luar bisa saya lihat padang-padang yang luas dengan bunga-bunga liar yang bersebaran. Kadang-kadang pula hutan-hutan yang lebat dengan lumut-lumut yang indah. Tetapi saya tak kuat memandang semuanya itu sebab pikiran saya lalu melayang, dan pasti lalu rindu. Kalau rindu saya pada tanah air sudah sedemikian kuatnya, biasanya saya lalu bertambah murung dan kesal.

Pada suatu hari kau membawakan makanan yang kurang banyak dari biasanya, saya lalu marah-marah. Kau menerangkan bahwa itu semua perintah dari dokter. Dokter mengatakan bahwa perut saya harus dijaga. Saya mengatakan bahwa dokter itu hanya beromong-kosong saja. Perutku cukup sehat dan ia tak tahu apa-apa tentang perut saya itu. Dan saya lalu menepuki perut saya.

“Yang sakit bukan yang luar, tapi yang dalam. Percayalah, dokter lebih mengetahui,” demikian kau menerangkan pada saya dalam bahasa Rusia yang jelas dan pelan.

“Rendra tidak sakit—sehat—harus makan banyak—kalau makan sedikit, sakit,” kataku dalam bahasa Rusia yang patah-patah.

“Wasya hanya menurut perintah dokter. Apalagi karena Wasya ingin melihat Rendra lekas sembuh dari sakitnya.”

“Rendra sudah sembuh—dokter itu sakit—Rendra makan banyak—harus.”

“Rendra, ah, Rendra. Rendra sangat marah, tetapi keliru, sekarang Wasya bersedih hati,”—katamu dengan melipat kedua lenganmu ke dada, serta menggeleng-gelengkan kepala.

Wasya,

Sebenarnya saat itu saya memang sedang suka tergoda untuk marah-marah. Penyakit saya sebenarnya ialah kesal dan marah. Objeknya ialah keadaan. Saya tahu bahwa orang yang suka memberengsek terhadap keadaan ialah orang yang lemah semangat. Ia tak bisa menguasai dirinya dan keadaan kelilingnya. Nyatanya memang demikianlah keadaanku waktu itu. Kekesalan saya itu terutama karena saya kecewa terhadap diri saya sendiri. Pada suatu kali ketika seorang mahasiswa dari Australia yang menjadi teman seperjalanan kami menanyakan kepada saya siapakah menteri keuangan Indonesia? Saya tak bisa menjawabnya.

Saya masih mentah waktu itu, dan saya tak suka baca koran. Saya hanya memunyai satu dunia yang terpencil saja, yaitu dunia kesusasteraan dan kesenian. Di luar dunia itu saya menjadi linglung dan kaku, bahkan boleh dikatakan seorang yang tak berguna. Dan juga ketika para teman-teman berdiskusi tentang masalah Aljazair, saya tak tahu masalah apakah itu sebenarnya. Belakangan baru saya tahu bahwa Aljazair itu tanah jajahan Perancis. Dan juga waktu itu  saya tak tahu siapakah Bulganin atau Khruscov. Akhirnya beberapa teman menjadi kesal karena ketololanku itu, sehingga salah seorang bertanya kepada saya:

“Lalu apakah saja yang kau ketaui?”

“Bukankah saya tahu siapa Dante, siapa Mozart, dan juga siapa Stanislavsky?”

Sejak itu saya merasa jadi terasing dari teman-teman. Saya merasa kesal dan lalu timbullah tempramen yang buruk pada saya. Sejak itulah saya merasa ingin sakit saja. Dengan mudah keinginan itu terlaksana.

Dan sementara “sakit” saya itu, kaulah merupakan obat yang mujarab bagi saya. saya tahu bahwa ada beberapa polisi keamanan rahasia di dalam kereta api itu, saya tahu pula ada beberapa komisaris polisi yang selalu saya ganggu, tetapi kau saya anggap tidak masuk golongan mereka. Kau saya anggap orang yang “murni” dan datang menghibur saya secara spontan, karena memang telah menjadi karaktermu untuk bertingkah begitu. Kau telah membantu meriangkan hati saya, dan dengan demikian menaikkan semangat saya. Serta akhirnya membantu memberi ketenangan pada jiwa saya. Demikianlah dengan pelan-pelan saya bisa mencapai kesabaran dan ketenangan lagi. Akhirnya saya bisa meninjau kembali segala masalah dengan objektif. Saya menimbang-nimbannya dan mempelajarinya. Saya mendapat kesempatan untuk merenung dengan penuh istirahat dan kenikmatan. Kemudian saya bisa menentukan langkah-langkah apa yang akan saya ambil selanjutnya. Semuanya ini sangat berarti bagiku. Untuk itu saya sangat berterima kasih padamu.

Dengan jelas masih kuingat cara-caramu melucu. Pada suatu hari kau berkata:

“Rendra, sebenarnya kulitmu dulu putih juga seperti saya.”

Saya memandangmu dengan mata bertanya. Tapi dengan tersenyum segera kau melanjutkan:

“Tentu saja. Kemarin kau telah bercerita bagaimana keadaan tanah airmu, kepulauan Indonesia itu. Sekarang saya berpikir begini. Pada mulanya ketika kau masih baby kau berkulit putih juga seperti bayi-bayi Eropa yang lain, kemudian setelah kau besar kau menjadi nakal. Kau suka berlari-lari di sepanjang pantai, memanjat pohon-pohon kelapa dan mandi-mandi di laut. Nah, waktu itu matahari yang bersinar sepanjang tahun di tanah airmu itu mulai membakar kulitmu. Dengan demikian dari hari ke hari kulitmu berubah menjadi coklat.”

Saya tertawa dan berkata menjawabmu:

“Kulit Rendra masak. Kulit Wasya tidak.”

Teringat pula oleh saya bagaimana kau mengajar saya kata-kata benda dalam bahasa Rusia. Kau menunjuk lada dan menyebut namanya dalam bahasa Rusia. Seperti seorang bapak kau mengajar saya:

“Itu pohon—itu beruang—itu perahu—itu penjaga hutan—itu radar—itu telegrap—itu bulan—bulan itu bagus—bulan itu tersenyum kepada Rendra—dan bulan itu berkata, ‘Selamat malam, selamat tidur,’—sekarang Rendra harus tidur—Rendra harus sehat, supaya tiap orang senang karenanya. Dan ibu Rendra juga pasti ikut gembira.”

Wasya,

Saya ingin membuat cerita yang bagus tentang kau, tetapi saya tidak bisa. Saya harap saya cukup dalam melahirkan terima kasih saya dengan surat ini. Saya tahu bahwa saya bukannya orang yang kau istimewakan, artinya kau berbuat demikian tidak hanya kepada saya saja. Maka saya pun yakin mereka, orang (lain), yang telah kau perlakukan seperti ketika kau memperlakukan saya akan berterima kasih pula padamu. []

MAUKAH KAU MENGHAPUS BEKAS BIBIRNYA DI BIBIRKU DENGAN BIBIRMU?

1350258

Berikut saya sajikan salah satu cerpen Hamsad Rangkuti. Silakan dibaca ….

Seorang wanita muda dalam sikap mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang tali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada diantara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia sambil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak denganya, sehingga tegur sapa  diantara kami bisa terdengar:

“Tolong ceritakan sebab apa kau ingin bunuh diri?” kataku memancing perhatiannya.

Dia tak beralih dari menatap ke jauhan laut. Di sana ada sebuah pulau. Mungkin impiannya yang telah retak menjadi pecah dan sudah tidak bisa lagi untuk direkat.

“Tolong ceritankan penyebab segalanya. Biar ada bahan untuk kutulis.”

Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermainkan ujung lengan bajunya. Dan tampak kalau dia  telah berketetapan hati untuk mengambil sebuah keputusan yang nekat. Tiba-tiba dia  melepas sepatunya, menjulurkan ke laut.

“Ini dari dia,” katanya, dan melepas cincin itu.

“Semua yang ada padaku, yang berasal darinya, akan kubuang ke laut. Sengaja hari ini kupakai semua yang pernah dia berikan kepadaku untuk kubuka dan kubuang satu persatu ke laut. Tak satu pun benda-benda itu kuizinkan melekat ditubuhku saat aku telah menjadi mayat di dasar laut. Biarkan aku tanpa bekas sedikitpun darinya. Inilah saat yang tepat membuang segalanya ke laut, dari atas kapal yang pernah membuat sejarah pertemuan kami.”

Wanita muda itu mulai melepas kancing-kancing bajunya, melepas pakaiannya, dan membuang satu persatu ke laut. Upacara pelepasan benda yang melekat ditubuhnya dia akhiri dengan melepas penutup bagian akhir tubuhnya. Membuangnya ke laut.

“Apapun yang berasal darinya, tidak boleh ada yang melekat pada jasadku, saat aku sudah menjadi mayat, di dasar laut. Biarkan laut membungkus jasadku seperti kain pembungkus mayat. Biarkan asin airnya menggarami tubuhku tanpa sehelai benang penyekat.”

Wanita yang telanjang itu mengangkat sebelah kakinya melampaui terali, bersiap-siap membuang dirinya ke laut. Kamera kubidik ke arahnya. Di dalam lensa terhampar pemandangan yang fantastis! Wanita muda, dalam ketelanjangannya, berdiri di tepi geladak dengan latar ombak dan burung camar. Sebuah pulau berbentuk bercak hitam di kejauhan samudera terlukis di sampingnya dalam bingkai lensa. Sebelum melompat dia menoleh ke arahku. Seperti ada yang terbesit di benaknya yang hendak dia sampaikan kepadaku, sebelum dia melompat mengakhiri ombak.

“Ternyata tidak segampang itu membuang segalanya,” katanya. “Ada sesuatu yang tak bisa dibuang begitu saja.” Dia diam sejenak, memandang bercak hitam di kejauhan samudera. Dipandangnya lekung langit agak lama, lalu bergumam: “Bekas bibirnya. Bekas bibirnya tak bisa kubuang begitu saja.” Dia berpaling ke arahku. Tatapannya lembut menyejukkan. Lama, dan agak lama mata itu memandang dalam tatapan yang mengambang.”Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?” katanya dalam nada ragu.

Aku tersentak mendengar permintaan itu. Sangat mengejutkan, dan rasanya tak masuk akal diucapkan olehnya. Permintaan itu terasa datang dari orang yang sedang putus asa. Kucermati wajahnya dalam lensa kamera yang mendekat. Pemulas bibir berwarna merah tembaga dengan sentuhan berwarna emas, memoles bibirnya, menyiratkan gaya aksi untuk kecantikan seulas bibir.

“Tidak akan aku biarkan bekas itu terbawa ke dasar laut. Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu ? Tolonglah. Tolonglah aku melenyapkan segalanya.”

Orang-orang yang terpaku di pintu lantai geladak berteriak kepadaku.

“Lakukanlah! Lakukanlah!”

Seorang muncul di pintu geladak membawa selimut terurai, siap menutup tubuh wanita yang telanjang itu.

“Tolonglah. Tolonglah aku menghapus segalanya. Jangan biarkan bekas itu tetap melekat di bibirku dalam kematian didasar laut. Tolonglah.”

“Lakukanlah! Lakukanlah!”

Teriak orang-orang yang menyaksikan dari pintu lantai geladak.

Aku hampiri wanita itu. Orang yang membawa selimut berlari ke arah kami, menyelimuti kami dengan kain yang terurai itu. Di dalam selimut kucari telinga wanita itu.

“Masih adakah bekas darinya di bagian lain tubuhmu yang harus kuhapus dengan bibirku?” bisikku.

***

“SAYA Chenchen, Pak,” kata wanita itu memperkenalkan dirinya begitu aku selesai menyampaikan cerpen lisan itu dan berada kembali di antara penonton. “Saya menggemari cerpen-cerpen Bapak. Saya mahasiswi fakultas sastra semester tujuh. Saya senang sekali bisa bertemu dengan Bapak, pengarang dari cerpen-cerpen yang telah banyak saya baca.”

“Terima kasih. Namamu Chenchen? Tidak nama seorang Minang.”

“Bagaimana kelanjutan cerpen lisan itu?”

“Kau harus melanjutkannya. Kalian para pendengarnya.”

Sejak itu kami akrab. Aku seperti muda kembali. Berdua ke mana-mana di dalam kampus Kayutanam maupun ke danau Singkarak, Desa Belimbing, Batusangkar, Danau Maninjau, Ngalau Indah, Lubang jepang, Ngarai Sianok, Lembah Anai dan Istana Pagaruyung.

Besok adalah hari terakhir aku di Kayutanan. Aku harus kembali ke kehidupan rutin di Jakarta. Perpisahan itu kami habiskan di kawasan wisata luar kota Padang panjang. Sebuah kawasan semacam taman, berisi rumah gadang dari berbagai daerah di Minangkabau. Kawasan itu bersebelah dengan lokasi Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau. Tempat itu sejuk diliputi kabut, terkenal sebagai kota hujan. Sebentar-sebentar kabut tebal melintas menutup kawasan itu. Kami mencari tempat kosong di salah satu bangunan berbentuk payung dengan meja bulat dan kursi sandar melingkar, yang disediakan untuk para pengunjung duduk-duduk memendang puncak gunung Merapi. Kemi berkeliling mencari tempat kosong, tetapi semua bangunan-bangunan kecil itu telah dihuni pasangan-pasangan remaja. Mereka duduk memandang lembah dan lereng gunung yang terus menerus diselimuti kabut yang datang seperti asap hutan terbakar.

Kami akhirnya duduk di hamparan rumput berbukit, di antara rumah gadang pajangan dalam ukuran yang sebenarnya.

“Selama lima hari, siang dan malam tak pernah berpisah. Malam kita duduk berdekatan di warung-warung membiarkan kopi dingin sambil kita berpandangan. Aku mendengar proses kreatifmu sedang kau mendengarkan riwayat dan asal usul tempat-tempat yang akan kita kunjungi besok pagi. Kita tidak menghiraukan mata-mata yang memandang kita. Kita biarkan percakapan-percakapan tentang kita. Tanganku kau pegang dan aku merebahkan kepala ke bahumu dalam udara dingin Kayutanam. Semua itu akan menjadi kenangan. Besok kau akan pulang dan aku akan kembali ke kampus.

”Kita pergi ke Lubang Jepara. Masuk ke dalam kegelapan gua. Berdua kita di dalam kegelapan tanpa seorang pengunjung pun mengawasi kita. Aku berbisik, seolah kita masuk ke dalam kamar pengantin dan kau meminta lampu dipadamkan. Kita duduk di puncak pendakian di Lembah Harau. Kita duduk berdua memandang kebawah mengikuti arah air terjun. Lembah kita lihat dari ketinggian dan tempat itu sangat sunyi. Kita biarkan kera-kera mendekat dan kita tidak merasa terganggu. Kita biarkan pedagang kelapa muda itu meletakan sebutir kelapa dengan dua penyedot di lubang tempurungnya. Kita tidak hiraukan dia turun meninggalkan kita dan membiarkan kita berdua menikmati kelapa muda yang kau pesan.  Kita benar-benar berdua di tempat sunyi itu. Kita menyedot air kelapa muda itu dengan dua alat sedotan dari lubang tempurung yang sama. Aku satu dan kau satu. Terkadang kening kita bersentuhan pada saat menyedot air kelapa muda itu. Kita pun lupa, mana milikku dan mana milikmu pada saat kita mengulang  menyedot air kelapa muda itu. Kita sudah tidak menghiraukannya. Sesekali kedua penghisap air kelapa itu kita gunakan keduanya sekaligus, bergantian, sambil kau menatap tepat ke mataku dan aku menatap tepat ke matamu. Aku yakin, hal itu kita lakukan semacam isyarat yang tak berani kita ucapkan.

“Kelapa itu kita belah. Kau sebelah dan aku sebelah. Alangkah indahnya semua itu.”

“Kenangan itu akan kubawa pulang.”

“Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?” aku mendekat kepadanya. Kabut tebal datang kepada kami. Begitu tebal kabut itu, seolah kami terbungkus di dalam selimut yang basah. Tak tampak sesuatupun dalam jarak dua meter. Kelambu kabut itu menutup kami dari pandangan dunia. Kami berguling-guling diatas rumput dalam kepompong kabut.

***

“Masih adakah bekas yang lain di bagian tubuhmu yang harus kuhapus dengan bagian tubuhku?” bisikku.

Dia menggeliat di dalam kabut. Dicarinya telingaku.

“Tak ada bekas yang lain, yang perlu dihapus, sayang.” Bisikinya.

Serpihan kabut menyapu wajah kami bagaikan serbuk embun di percikan.

“Apakah kita akan keluar dari kepompong kabut ini sebagai sepasang kupu-kupu?”

“Bekas ini akan kubawa pulang dan akan ada yang menghapusnya. Bagaimana denganmu?”

“Akan kutunggu bekas yang baru di bekas yang lama, darimu.”

“Apakah itu mungkin?”

“Mungkin”

“Aku lima empat dan kau dua dua. Itu tidak mungkin.”

“Mungkin.”

“Aku Datuk Maringgih dan kau Siti Nurbaya, dalam usia. Apa yang memaksamu?”

“Entahlah. Akupun tak tahu.”

Kami turun dari puncak bukit itu berpegangan tangan. Dia memegang erat jari-jariku. Dan aku memegang erat jari-jarinya. Seolah ada lem perekat di antara jari-jari kami.***

KUASANYA KERONGKONGAN

KUASANYA KERONGKONGAN

(Disalin dari “Di Bawah Bendera Revolusi”)

Dengan kepala tulisan yang bunyinya seperti ini, dulu pernah saya menulis sebuah rencana di surat-kabar “Pemandangan”. Di dalam ren­cana itu saya gambarkan, betapa Adolf Hitler dapat merampas seluruh dunia Jerman dengan ia punya kerongkongan. Dan Adolf Hitler-lah datangnya perkataan: “Gobloklah orang yang mengatakan: sedikit bicara banjak bekerja. Goblok! Orang yang demikian itu tak pernah menin­jau ke dalam sejarah dunia. Semboyan kita harus: banyak bicara, banyak bekerja!”

Belum selang berapa lama ini terbitlah sebuah buku anti-Hitler yang sangat menarik, yang namanya: “Propaganda als Waffe”, -“Propaganda sebagai senjata”. Penulisnya adalah musuh Hitlerianisme yang terkenal Will Miinzenberg. Di dalam buku ini dikupasnyalah aktiviteit-Hitlerian­isme dengan kerongkongan itu.

Will Miinzenberg sendiri adalah seorang ahli pergerakan. Ia adalah salah seorang pemimpin kaum buruh, yang pergerakannya dibinasakan oleh Adolf Hitler itu. Ia sendiri mengakui pentingnya propaganda, dan mengakui pula bahwa salah satu sebab kekalahan kaum buruh terhadap kepada kaum Nazi ialah karena kalah memakai kerongkongan. Ia sendiri adalah seorang propagandis yang ulung. Tapi ia mengakui, bahwa sistimatiknya kaum Nazi di dalam mereka punja kerja-kerongkongan adalah lebih teratur.

Sebagai saya terangkan, ini buku pada satu fihak adalah satu pengakuan akan pentingnya propaganda dan kekalahan kaum buruh Jerman antara lain-lain karena kalah propaganda, tapi di lain fihak buku ini me­ngupas habis-habisan palsunya propaganda kaum Nazi itu. Miinzenberg adalah pro propaganda, tetapi hendaklah propaganda itu disandarkan kepada kebenaran, kepada barang-yang-tidak-bohong. Hanya propaganda yang begitulah dapat membangunkan keyakinan yang kekal. Hanya pro­paganda yang demikian itulah dapat menjadi satu pendidikan. Tapi pro­paganda kaum Nazi adalah propaganda yang mempropagandakan barang yang bohong. Propaganda kaum Nazi tidak mendidik, tidak menanam keyakinan melainkan hanyalah memabokkan, menyilaukan.

Memang ditunjukkan oleh Miinzenberg, bahwa propaganda kaum Nazi itu tidak terutama sekali ditujukan kepada akal, tidak diarahkan kepada pikiran, tetapi ialah satu “Appell ans Gefiihr, memanggil kepada rasa sahaja, memanggil kepada sentimen sahaja. Propaganda yang sejati adalah menuju kepada rasa dan akal, kepada kalbu dan otak, kepada perasaan dan pikiran. Tetapi apakah yang mitsalnya diajarkan oleh Hitler? Hitler berkata: “Kita samasekali tidak boleh obyektif, sebab nanti rakyat-jelata yang selalu goyang-pikiran itu lantas memajukan pertanyaan, apakah benar semua musuh kita itu tidak benar, dan hanya bangsa sendiri sahaja atau pergerakan sendiri sahaja yang benar.” Begitu pula Goebbels. Waktu di dalam bulan September 1932 partai Nazi kena krisis yang haibat, maka Goebbels berkata: “Man muB jetzt wieder an die primitivsten Masseninstinkte appellieren.” Artinya: “Sekarang kita musti coba bangunkan lagi perasaan-perasaan yang paling rendah dari rakyat-jelata.”

Di dalam bagian ini kritik Miinzenberg tidak ada ampun lagi. Dibuktikannya, bahwa maksud kaum Nazi dengan propaganda itu bukanlah menyebarkan kebenaran atau keyakinan, melainkan sebagai Hitler sendiri berkata, hanyalah “moglichst groBe Massen zu gewinnen”, – “mencari pengikut rakyat-jelata yang sebanyak mungkin”. Sebab memang inilah pokok falsafat-hidup Hitler.

Yang betul-betul dinamakan laki-laki dunia ialah – menurut Hitler – orang yang bisa menggerakkan massa. Bukan mitsalnya mengeluarkan idee sahaja, bukan menyusun teori sahaja, bukan kepandaian ini atau kepandaian itulah yang menjadi ukuran orang Besar. Orang Besar adalah orang yang cakap menggerakkan massa. “GroB rein heiBt Massen bewegen konnen.”

Falsafat-hidup ini telah dilaksanakan oleh Hitler dengan cara yang memang mengagumkan. Menurut keterangan Konrad Heiden, seorang biograf Hitler yang terkenal, memang belum pernah di sejarah dunia ada orang yang menyamai Hitler ditentang “Massen bewegen konnen” itu. Menurut Heiden, di dunia Barat hanyalah satu orang yang menyamai Hitler tentang kecakapan berpidato: Gapon, salah seorang yang terkenal dari sejarah kaum agama di Rusia pada permulaan abad ini. Saya kira, Konrad Heiden belum pernah mendengarkan Jean Jaures berpidato!

Jean Jaures adalah salah seorang pemimpin kaum buruh Perancis, yang biasa disebut orang “Frankrijks grootste volkstribuun” dari abad yang akhir-akhir ini. Menurut anggapan saya, sesudah saya membandingkan pidato-pidato Jean Jaures dengan pidato-pidato Adolf Hitler, – pidato­-pidato Hitler bukan sahaja saya banyak baca, tapi juga sering saya dengarkan di radio maka Jean Jaures-lah yang lebih ulung. Memang pidato-pidato Jean Jaures adalah maha-haibat. Trotzky, yang sendirinya juga juru-pidato yang maha-haibat, di dalam ia punya buku “Mijn Leven” yang terkenal, membandingkan pidato-pidato Jean Jaures itu sebagai “air­ terjun yang membongkar bukit-bukit-karang”,—sebagai “een waterval die rotsen omvergooit”.

Tetapi apakah sebabnya Jaures tidak dapat menggerakkan massa sebegitu banyaknya seperti Hitler? Ya, bukan sedikitlah pengaruh Jaures. Kalau Jaures berpidato, maka puluhan-ribu oranglah yang mendengarnya. Kalau habis Jaures berpidato, maka menurut keterangan De Rappoport, pendengar-pendengarnya lantas mendapat perasaan cinta akan semua manusia. “Orang lantas ingin memeluk semua manusia”, begitulah me­nurut De Rappoport haibatnya pidato-pidato Jaures itu. Jaures adalah punya pengaruh yang begitu besar, sehingga salah seorang mengatakan, bahwa, kalau umpamanya ia tidak ditembak coati orang pada bulan Agustus 1914, maka barangkali ia bisa mencegah menjalarnya perang-dunia(?).

Tetapi kembali lagi kepada pertanyaan: apakah sebabnya Jaures tidak dapat menggerakkan massa sebegitu banyak seperti Hitler? Apa sebab ia punya pengikut hanya milyunan sahaja, dan tidak puluhan-milyun seperti Hitler? Apa sebab ia tidak dapat bekuk negara, seperti Hitler?

Jawabnya pertanyaan ini adalah terdapat di dalam buku Willi Miinzenberg itu. Hitler tidak sahaja mencari anggauta, ia juga, dan malahan terutama, mencari pengikut. Pengikut yang sebanyak mungkin, pengikut ribuan, ketian, laksaan, milyunan, – ya, malahan puluh-milyunan! Asal ikut, asal bergerak, asal mengalir, asal tertarik! Tak usah sedar, tak usah memikir, tak usah “erklart”, tak usah pula semuanya menjadi anggauta partai. Asal ikut!

Propaganda lebih penting dari organisasi! “Aufgabe der Propaganda ist es, Anhtinger zu werben, Aufgabe der Organisation, Mitglieder zu gewinnen”. Artinya: “Propaganda cari pengikut, organisasi cari anggauta”. Hitler cari pengikut lebih dulu, anggauta nanti datang sendiri. Kata­nya: “Bodohlah orang yang mengira, kita musti mendirikan cabang lebih dulu, kemudian baru propaganda. Tidak! Lebih dulu propaganda, lebih dulu kita pengaruhi massa. Cabang nanti datang dengan sendirinya.” Dan metodenya mendapatkan pengikut yang sebanyak mungkin itulah yang digasak oleh Mtinzenberg. Massa yang hanya digerakkan sahaja, zonder diberi pengetahuan yang berdiri atas “Wahrheit”, zonder diberi keyakinan yang terpaku juga di dalam otak, zonder disedarkan tetapi hanya dima­bokkan, – zonder diberi “Wissen” tetapi hanya diberi “Illusion” -, massa yang demikian itu nanti tentu akan “gugur” kembali! Munzenberg me­ramalkan keguguran-kembali ini. Miinzenberg, sebagai juga Fritz Sternberg di dalam bukunya yang bernama “Hoe fang kan Hitler oorlog voeren?”, meramalkan, bahwa justru Massa ini, yang menjadi dasar, alas, tiang, dan tublihnya Hitlerianisme itu. Karena ia hanya dimabokkan sahaja. Karena ia hanya dicekoki “Illusion” sahaja. Karena ia tidak dididik, tidak diyakinkan, tidak disedarkan.

Sangat menarik sekali uraian Fritz Sternberg itu pula: Dikatakannya, Hitler boleh cukup alat-alat-perangnya, boleh cukup meriamnya dan dinamitnya, boleh cukup kapal-udaranya dan kapal-silamnya, – tetapi adalah satu faktor yang nanti boleh jadi menggugurkan ia punya plan. Faktor ini ialah faktor “manusia”, faktor “mens”. Sebab faktor “manusia” inilah, yang berdarah dan berdaging dan berjiwa, yang nanti akan merasa lapar perutnya kalau di Jerman kekurangan makan, yang merasakan sakit kalau kulitnya robek dan darahnya mengalir, yang merasakan dahsyat kalau dipaksa menghadapi maut, – faktor “manusia” inilah, yang mungkin dilu­pakan oleh Hitler. Faktor “manusia” inilah yang barangkali sejurus waktu dapat disemangatkan, digembirakan, disilaukan-mata, dimabokkan, dijadi­kan material, dijadikan obyek, tapi dialah pada hakekatnya motor sejarah. Dialah yang berjoang atau tidak berjoang, dialah yang mengerjakan sejarah atau tidak mengerjakan sejarah. Dialah yang pada setiap saat bisa berkata: “aku mau berjoang” atau “aku tidak mau berjoang”, “aku­ mau lapar” atau “aku tidak mau lapar”, – “aku mau mati” atau “aku tidak mau mati”.

Dia, “manusia”, dia boleh sejurus waktu dijadikan obyek oleh Hitler, tetapi akhirnya dia adalah subyek yang tidak boleh diperlakukan semau-p­maunya. Kalau Hitler tidak bisa mengadakan “Blitzkrieg”, kalau Hitler tidak bisa mengadakan “perang kilat”, begitulah Fritz Sternberg berkata, maka dia tidak akan dapat menang peperangan itu. Sebab kalau perang terlalu lama, artinya: kalau rakyat Jerman mendapat kelaparan, maka muncullah nanti “Der Mensch”, menggugurkan semua rancangan. Mun­cullah nanti “Der Mensch” yang gugur semua kemabokannya, gugur semua Illusion-nya, gugur semua keobyekannya. Der Mensch, yang merasa perut­nya lapar, yang mendapat surat dari isterinya di rumah, bahwa anak-anaknya memakan rumput dan kulit-ubi.

Der Mensch!

Der Mensch inikah yang hendak dijadikan sahabat Inggris dengan blokadenya itu?

Insya Allah akan saya bicarakan lain kali.

“Panji Islam”, 1940

ISLAM SONTOLOYO

ISLAM SONTOLOYO

(Di salin dari “Di Bawah Bendera Revolusi”)

Di dalam surat kabar “Pemandangan” 8 April yang lalu saya membaca satu perkabaran yang ganjil: Seorang guru agama dijebloskan ke dalam bui tahanan karena ia memperkosa kehormatan salah seorang muridnya yang masih gadis kecil. Bahwa orang dijebloskan ke dalam tahanan kalau ia memperkosa gadis, itu tidaklah ganjil. Dan tidak ter­lalu ganjil pula kalau seorang guru memperkosa seorang muridnya. Bukan karena ini perbuatan tidak bersifat kebinatangan, jauh dari itu, tetapi oleh karena memang kadang-kadang terjadi kebinatangan yang semacam itu. Yang saya katakan ganjil ialah caranya si guru itu “menghalalkan” ia punya perbuatan.

Cobalah tuan baca yang berikut ini, yang saya ambil over dari “Pemandangan” tadi itu:

Keterangan lain-lain mengenai akalnya guru itu mempengaruhi murid­-muridnya; kepada tiap-tiap yang menjadi murid diobroli bahwa ia pernah bicara kepada Nabi Besar Muhammad s.a.w., lalu masing-masing diajarnya untuk mendekati Allah tiap-tiap malam jumat berzikir sejak magrib hingga subuh, dengan permulaan berseru ramai-ramai “Saya muridnya Kiyai Anu,”  dengan seruan ini katanya supaya terkenal dan Allah mengam­puni dosanya.

Tiap-tiap murid perempuan, meskipun masih kanak-kanak musti ditutup mukanya, jika waktu pertemuan malam jumat golongan perem­puan dipisahkan dalam rumah, untuk murid lelaki khusus dalam langgar. Kiyai itu menerangkan dalam ajarannja: “Perempuan itu boleh disede­kah,” artinya demikian: Sebagai di atas ditegaskan, murid-murid perem­puan itu meskipun kanak-kanak, musti ditutup mukanya, karena haram dilihat oleh lelaki lain yang bukan suaminya, katanya.

Tetapi, dari sebab perempuan-perempuan itu perlu diajar olehnya, dan musti bertemuan dan beromong-omong, maka murid-murid perem­puan itu “dimahram dahulu,” kata guru itu. Artinya: Perempuan-perem­puan itu musti dinikahi olehnya.

Yang jadi kiyainya ia juga, yang jadi pengantinnya ia juga.

Caranya demikian:

Kalau seorang murid lelaki yang mempunyai istri yang jadi murid­nya juga, istrinya itu dihadapan dia lantas menjatuhkan talaqnya tiga. Seketika juga perempuan itu dinikahkan dengan lain lelaki (kawan muridnya) sehingga tiga lelaki dalam seketika itu juga berturut-turut tiga kali dinikahkan dan diceraikan lagi, keempat kalinya dinikali olehnya sendiri.

Kecuali kalau janda atau gadis, tidak dinikahkan dengan lain orang, tetapi langsung dinikahkan dengan si Dajal sendiri. Dengan cara demikian tiap-tiap istri yang jadi muridnya berarti istri daripada Dajal tersebut dalam pemandangan golongan mereka.

Demikianlah cara yang demikian ini berlaku juga dengan gadis yang jadi perkara ini, oleh karena gadis itu sudah dimahram oleh guru itu.

Demikianlah, maka pada satu hari gadis ini dipikat oleh guru itu masuk ke dalam satu rumah, dan di situlah ia dirusak kehormatannya. Halal, sah, oleh karena sudah istrinya.

Sungguh, kalau reportase di surat kabar “Pemandangan” itu benar, maka benar-benarlah di sini kita melihat Islam Sontoloyo! Sesuatu per­buatan dosa dihalalkan menurut hukum fiqh. Tak ubahnya dengan tukang merentenkan uang yang “menghalalkan” ribanya itu dengan pura-pura berjual-beli sesuatu barang dengan orang yang mau meminjam uang daripadanya. Tahukah tuan caranya tukang riba itu menghalalkan ia punya pekerjaan riba? Tuan mau pinjam uang daripadanya f 100, – , dan sanggup bayar habis bulan f 120, – .

Ia mengambil sehelai kain, atau sebuah kursi, atau sebuah cincin, ataupun sebuah batu, dan ia jual barang itu “op crediet” kepada tuan dengan harga f 120, “Tidak usah bayar kontan, habis bulan saja bayar f 120, – itu.” Itu kain atau kursi atau cincin atau batu kini sudah menjadi milik tuan karena sudah tuan beli, walaupun “op crediet”. Lantas ia beli kembali barang itu dari tuan dengan harga kontan f 100, – . Accoord? Nah inilah tuan terima uang pembelian kontan yang f 100, – itu. Asal tuan jangan lupa: habis bulan tuan bayar tuan punya hutang kredit yang f 120, —itu!

Simple comme bonjour! –Kata orang Perancis. Artinya: “Tidak ada yang lebih mudah dari ini!” Bukan! Ini bukan riba, ini bukan merentenkan uang, ini dagang, jual-beli, –halal, sah, tidak dilarang oleh agama!

Benar, ini sah, ini halal, tapi halalnya Islam sontoloyo! Halalnya orang yang mau main kikebu dengan Tuhan, atau orang yang mau main “kucing-kucingan” dengan Tuhan. Dan, kalau mau memakai perkataan yang lebih jitu, halalnya orang yang mau mengabui mata Tuhan!

Seolah-olah Tuhan diabui mata! Seolah-olah agama sudah dipenuhi atau sudah diturut, kalau dilahirnya syari’at saja sudah dikerjakan! Tetapi tidakkah justru yang demikian ini sering kita jumpakan?

Tidak justru Islam terlalu menganggap fiqh itu satu-satunya tiang keagamaan. Kita lupa, atau kita tidak mau tahu, bahwa tiang keagamaan ialah terutama sekali terletak di dalam ketundukan kita punya jiwa ke­pada Allah. Kita lupa bahwa fiqh itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama. Belum dapat memenuhi semua syarat-syarat ke-Tuhan-an yang sejati, yang juga berhajat kepada Tauhid, kepada Achlaq, kepada kebaktian Rohani, ke­pada Allah, dan kepada lain-lain lagi.

Dulu di lain tempat, pernah saya menulis:

Adalah seorang sayid yang sedikit terpelajar, –tetapi ia tak dapat memuaskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun jua dari “kitab-fiqh”, mati-hidup dengan kitab-fiqh itu … Qur’an dan Api­ Islam seakan-akan mati, karena kitab-fiqh itu sajalah yang mereka jadikan pedoman-hidup, bukan kalam Ilahi sendiri. Ya, kalau dipikirkan dengan dalam-dalam, maka kitab-fiqh-kitab-fiqh itulah yang seakan-akan ikut menjadi algojo roch dan semangat Islam. Bisakah, sebagai misal, suatu masyarakat menjadi hidup, menjadi bernyawa, menjadi levend, kalau masyarakat itu hanya dialaskan saja kepada Wetboek van strafrecht dan Burgerlijk Wetboek, kepada artikel ini dengan artikel itu? Masyarakat yang demikian itu akan segeralah menjadi masyarakat mati, masyarakat bangkai, masyarakat yang – bukan masyarakat. Sebab tanda­nya masyarakat ialah justru ia punya hidup, ia punya nyawa. Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada Roch, tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sama sekali tenggelam di alam “kitab-fiqh­nya” saja, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya Agama Yang Hidup.”

Sesudah beberapa kali membaca saya punya tulisan-tulisan di dalam P.I. ini, tuan barangkali lantas mengira, bahwa saya adalah pembenci fiqh. Saya bukan pembenci fiqh, saya malahan berkata bahwa tiada masyarakat Islam dapat berdiri zonder hukum-hukumnya fiqh. Sebagai­mana tiada masyarakat satupun dapat berdiri zonder Wetboek van Straf­recht dan Burgerlijk Wetboek, maka begitu juga tiada perikehidupan Islam dapat ditegakkan zonder wetboeknya fiqh. Saya bukan pembenci fiqh, saya hanyalah pembenci orang atau perikehidupan agama yang ter­lalu mendasarkan diri kepada fiqh itu saja, kepada hukum-hukumnya syari’at itu saja.

Dan sungguh, tuan-tuan, pendapat yang begini bukanlah pendapat saya yang picik ini saja, juga Farid Wadjdi, juga Muhammad Ali, juga Kwadja Kamaludin, juga Amir Ali berpendapat begitu. Farid, Wajdi pernah berpidato di hadapan kaum Orientalis Eropa tentang arti fiqh itu buah perikehidupan Islam, dan beliau berkatalah bahwa: “Kaum Orientalis yang mau mengukur Islam dengan fiqh itu saja, sebenarnya adalah ber­buat tidak adil kepada Islam, oleh karena fiqh belumlah Islam seluruhnya, dan malahan kadang-kadang sudahlah menjadi satu sistem yang berten­tangan dengan Islam yang sejati.” Muhammad Ali tidak berhenti-henti berjuang dengan kaum-kaum yang mau membelenggu Islam itu ke dalam mereka punya monopoli undang-undang. Dan Kwadja Kamaludin menulis di dalam ia punya“Evangelie van de Daad”, —satu kitab yang dulu pernah saya katakan brilliant, dan saya pujikan keras kepada semua orang Islam dan bukan Islam, sebagai berikut: “Kita hanya ngobrol tentang sem­bahyang dan puasa, dan kita sudah mengira bahwa kita sudah melakukan agama. Khatib-khatib membuat khotbah tentang rahasia-rahasianya surga dan neraka, atau mereka mengajar kita betapa caranya mengambil air wudhu atau rukun-rukun yang lain, dan itu sudahlah dianggap cukup buat mengerjakan agama. Begitu jualah keadaannya kitab-kitab agama kita, tetapi yang demikian itu bukanlah gambar kita punya agama yang sebenar­nya.” “Cobalah kita punya ulama-ulama itu menerangkan kepada dunia wetenschap betapa rupanya ethiek yang diajarkan oleh Qur’an. Maka tidak akan sukarlah bangsa-bangsa Barat ditarik masuk Islam, kalau literatur yang demikian itu disebarkan ke mana-mana.”

Dan bagaimana perkataan Sayid Amir Ali? Mempelajari kitab-kitab fiqh tidaklah cukup buat mengenal semangat dan ruhnya Islam yang se­jati. Malahan kitab-kitab fiqh itu kadang-kadang berisi hal-hal yang berlawanan dengan ruhnya Islam yang sejati. Dan maukah tuan men­dengar pendapatnya orang lain alim yang bukan Islam? Masih ingatkah tuan akan perkataan Prof. Snouck Hurgronje yang saya sitir di dalam P.I. dua minggu yang lalu? Yang mengatakan, bahwa: Bukan Qur’an kini yang menjadi wetboeknya orang Muslim pada umumnya, tetapi apa cang “di­cabutkan oleh ulama-ulama dad segala waktu dari Qur’an itu dan sunah itu?” Maka ini ulama-ulama dad segala waktu adalah terikat pula kepada ucapan-ucapannya ulama-ulama yang terdahulu dari mereka, masing­-masing di dalam lingkungannya mazhabnya sendiri-sendiri. Mereka hanya dapat memilih antara pendapat-pendapatnya autoriteit-autoriteit yang terdahulu dari mereka. Maka syarat itu seumumnya akhirnya tergan­tunglah kepada ijma’, dan tidak kepada maksud-maksudnya firman yang asli, atau ambillah misalnya lagi pendapatnya Prof. Tor Andrea; Professor inipun berkata: “Tiap-tiap agama akhirnya hilang ia punya jiwa yang dinamis, oleh karena pengikut-pengikutnya lebih ingat kepada ia punya sistem-hukum saja, daripada kepada ia punya ajaran jiwa. Islam-pun tidak terluput dari faham ini.”

Tuan barangkali berkata, apa kita pusingkan pendapat orang lain? Janganlah tuan berkata begitu. Orang lain sering kali mempunyai pendapat yang lebih benar di atas agama kita, sering kali mempunyai pendapat yang lebih “onbevangen” di atas agama kita daripada kita sendiri, oleh karena mereka tidak terikat oleh tradisi pikiran yang mengikat kita, tidak terikat oleh “cinta buta” yang mengikat kita kepada agama kita itu. Lagi pula, –benarkah mereka punya pendapat itu bahwa tidak ada orang asing yang benar? Apakah tidak ada orang asing yang tepat di dalam penda­patnya?

Cobalah kita mengambil satu contoh. Islam melarang kita makan daging babi. Islam juga melarang kita menghina kepada si miskin, memakan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, menyekutukan Tuhan yang Esa itu. Malahan yang belakangan ini dikatakan dosa yang terbesar, dosa datuknya dosa. Tetapi apa yang kita lihat?

Coba tuan menghina si miskin, makan haknja anak jatim, memfitnah orang lain, musyrik di­ dalam tuan punya pikiran atau perbuatan, –maka tidak banyak orang yang akan menunjuk kepada tuan dengan jari seraya berkata: Tuan menyalahi Islam. Tetapi coba tuan makan daging babi, walau hanya sebesar biji asam pun, maka seluruh dunia akan mengatakan tuan orang kafir! Inilah gambarnya jiwa Islam sekarang ini: terlalu mementingkan kulit saja, tidak mementingkan isi. Terlalu terikat kepada“uiterlijke vormen” saja, tidak menyala-nyalakan “intrinsieke waarden”. Dulu pernah saya melihat satu kebiasaan aneh di salah satu kota kecil di tanah Priangan. Di situ banyak sundal, banyak bidadari-bidadari yang menyediakan tubuhnya buat pelepas nafsu yang tersebut. Tetapi semua “bidadari-bidadari” itu bidadari “Islam”, bidadari yang tidak melanggar sesuatu syarak agama. Kalau tuan ingin melepaskan tuan punya berahi kepada salah seorang dari mereka, maka ada seorang penghulu yang akan menikahkan tuan lebih dulu dengan dia buat satu malam. Satu malam itu tuan punya istri yang sah, satu malam tuan boleh berkumpul dengan dia tanpa melanggar larangan zina. Keesokan harinya bolehlah tuan jatuhkan talaq tiga ke­pada tuan punya kekasih itu tadi! Dia mendapat “nafkah” dan “mas ­kawin” dari tuan, dan mas penghulu pun mendapat persen dari tuan. Mas penghulu ini barangkali malahan berulang-ulang juga mengucapkan syukur kepada Tuhan, bahwa Tuhan telah memperkenankan dia berbuat satu kebajikan, yakni menghindarkan dua orang anak Adam daripada dosanya perzinaan!

Tidakkah benar perkataan saya, bahwa ini bernama main kikebu dengan Tuhan, atau mau mengabui mata Tuhan? Perungklukan, persundalan, perzinaan, di-“putarkan” menjadi perbuatan yang halal! Tetapi juga: tidakkah benar ini hanya satu faset saja dari gambarnya masya­rakat kita seluruhnya, yang lebih mementingkan fiqh saja, haram­ makruh saja, daripada “intrinsieke waarden” yang lain-lain?

Akh, saya meniru perkataan budiman Kwadja Kamaludin: Alangkah baiknya kita di sampingnya fiqh itu mempelajari juga dengan sungguh-­sungguh ethieknya Qur’an, intrinsieke waardennya Qur’an. Alangkah baiknya pula kita meninjau sejarah yang telah lampau, mempelajari sejarah itu, melihat di mana letaknya garis-menaik dan di mana letaknya garis-menurun dari masyarakat Islam, akan menguji kebenarannya per­kataan Prof. Tor Andrea yang mengatakan bahwa juga Islam terkena fatum kehilangan jiwanya yang dinamis, sesudah lebih ingat kepada ia punya sistim perundang-undangan daripada kepada ia punya ajaran jiwa. Dulupun dari Endeh pernah saya tuliskan: “Umumnya kita punya kiyai-kiyai dan kita punya ulama-ulama tak ada sedikitpun ‘feeling’ kepada sejarah,” ya, boleh saya katakan kebanyakan tak mengetahui sedikitpun dari se­jarah itu. Mereka punya minat hanya menuju kepada agama khusus saja, dan dari agama ini, terutama sekali bagian fiqh. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan­ masyarakat yang menyebabkan kemajuannya atau kemundurannya sesuatu bangsa, sejarah itu samasekali tidak menarik mereka punya perhatian. Padahal di sini, di sinilah padang penyelidikan yang maha-penting! Apa sebab mundur? Apa sebab maju? Apa sebab bangsa ini di zaman ini begini? Apa sebab bangsa itu di zaman itu begitu? lnilah pertanyaan­-pertanyaan yang maha-penting yang harus berputar, terus-menerus di dalam kita punya ingatan, kalau kita mempelajari naik-turunnya sejarah itu.

Tetapi bagaimana kita punya kiyai-kiyai dan ulama-ulama? Tajwid membaca Qur’an, hafadz ratusan hadits, mahir di dalam ilmu syarak,   tetapi pengetahuannya tentang sejarah umumnya Paling mujur mereka hanya mengetahui “tarich Islam” saja, dan ini pun terambil dari buku-bukunya tarich Islam yang kuno, yang tak dapat tahan ujiannya ilmu pengetahuan modern!

Padahal dari tarich Islam inipun saja mereka sudah akan dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Kita umumnya mempelajari hukum, tetapi kita tidak mempelajari caranya orang-dulu mentanfidzkan hukum itu.

Kita cakap mengajikan Qur’an seperti orang maha-guru di Mesir, kita kenal isinya kitab-kitab fiqh seperti seorang adpokat kenal isinya ia punya kitab hukum pidana dan hukum perdata, kita mengetahui tiap-tiap perintah agama dan tiap-tiap larangan agama sampai yang seketjil-ketjilnya pun, tetapi kita tidak mengetahui betapa caranya Nabi, sahabat-sahabat, tabiin-tabiin, khalifah-khalifah mentanfidzkan perintah-­perintah dan larangan-larangan itu di dalam urusan sehari-hari dan di dalam urusannya negara. Kita sama sekali gelap dan buta buat di dalam hal pentanfidzkan itu, oleh karena kita tidak mengenal tarich.

Dan apakah Pengajaran Besar, yang tarich itu kasihkan kepada kita? Pengajaran Besar tarich ini ialah, bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda di atas angkasa, oleh karena fiqh tidak berdiri sendiri, tetapi ialah disertai dengan tauhid dan ethieknya Islam yang menyala-nyala.

Fiqh pada waktu itu hanyalah “kendaraan” saja, tetapi kendaraan ini dikusiri oleh ruhnya Ethiek Islam serta Tauhid yang hidup, dan ditarik oleh kuda-semberani yang di atas tubuhnya ada tertulis ayat Qur’an: “Janganlah kamu lembek, dan janganlah kamu mengeluh, sebab kamu akan menang, asal kamu mukmin sejati.” Fiqh ditarik oleh Agama Hidup, dikendarai Agama Hidup, disemangati Agama Hidup: Ruh Agama Hidup yang berapi-api dan menyala-nyala! Dengan fiqh yang demikian itulah umat Islam menjadi cakrawarti di separuh dunia!

Tetapi apakah pula kebalikan dari Pengajaran Besar ini? Kebalikan­nya Pengajaran Besar ini ialah Pengajaran Besar pula yang tarich itu mengasihkan kepada kita di dalam periodenya yang kedua, Pengajaran Besar, bahwa sejak Islam-studie dijadikan fiqh-studie dari pusakanya Imam yang empat saja dan bahwa sejak fiqh-studie ini mendapat kedudukan sentral di alam Islam-studie itu, di situlah garis-kenaikan itu menjadi membelok di bawah, menjadi garis yang menurun.

Di situlah Islam lantas “membeku” menurut katanya Essad Bey, membeku menjadi satu sistem formil belaka. Lenyaplah ia punya tenaga yang hidup itu, lenyaplah ia punya jiwa-penarik, lenyaplah ia punya ketangkasan yang mengingatkan kepada ketangkasannya harimau. Kendaraan tiada lagi ia punya kuda, tiada lagi ia punya kusir. Ia tiada bergerak lagi, ia mandek! Dan bukan saja mandek! Kendaraan mandek lama-lamapun men­jadi amoh. Fiqh bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas-hidup, fiqh kini kadang-kadang menjadi penghalalannya perbuatan-perbuatan kaum soontoolooyoo!

Maka benarlah perkataannya Halide Edib Hanum, bahwa: “Islam di zaman akhir-akhir ini bukan lagi agama pemimpin hidup, tetapi agama pokrol-bambu.”

Jikalau umat Islam tetap tidak mengindahkan pengajaran­-pengajaran besar sejarahnya sendiri, jikalau pemuka-pemuka Islam di Indonesia tidak mengikuti jejaknya pemimpin-pemimpin besar di ne­geri lain seperti Muhammad Ali, Farid Wadjdi, Kwadja Kamaludin, Amir Ali dll yang menghendaki satu geestelijke wedergeboorte (kebangunan ruh baru) di dalam dunia Islam, – jikalau pemuka-pemuka kita itu ha­nya mau bersifat ulama-ulama-fiqh saja dan bukan pemimpin kejiwa­an sejati maka janganlah ada harapan umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai Kekuatan Jiwa yang haibat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang.

Janganlah kita ada harapan dapat mencapai persanggupannya Allah yang tertulis di atas tubuhnya kuda-semberani tadi itu.

Janganlah kita kira diri kita sudah mukmin tetapi hendaklah kita insyaf, bahwa banyak di kalangan kita yang Islamnya masih Islam sontoloyo!

“Panji Islam”, 1940

Salinan Dari Buku

Emile Durkheim membagi bunuh diri menjadi tiga kategori sosial: egoistik, altruistik, dan anomik.

1. Bunuh diri egoistik berlaku pada seseorang yang tidak terintegrasi kuat ke dalam kelompok sosial tertentu. Kekurangan integrasi keluarga menjelaskan mengapa orang yang tidak menikah lebih rentan terhadap bunuh diri ketimbang orang yang menikah, dan mengapa pasangan yang dikaruniai keturunan adalah kelompok yang paling terlindung.

2. Bunuh diri altruistik berlaku pada orang yang menerima bunuh diri sebagai bagian dari cara mereka bergabung ke dalam suatu kelompok. Sebagai contoh adalah prajurit Jepang yang mengorbankan dirinya dalam perang. 

3. Bunuh diri anomik berlaku bagi mereka yang proses integrasinya ke dalam suatu kelompok sosial tertentu mengalami gangguan atau hambatan, atau mereka tidak dapat mengikuti aturan dan norma yang berlaku. Anomi menjelaskan mengapa perubahan yang drastis pada situasi ekonomi membuat seseorang lebih rentan daripada ketika mereka memperoleh keberuntungan. Anomi juga mengacu kepada instabilitas sosial, dan hancurnya nilai dan standar suatu komunitas secara umum.

“Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Synopsis of psychiatry. 10th ed. New York: Lippincott Williams and Wilkins; 2007. P. 900-901”