Ramadan Kontemporer

rabads

ramadan ialah sirup marjan yang gencar diiklankan
kain sarung yang laris di pasaran
dan promag yang ditawarkan
sebagai obat kuat penahan lapar
dan suplemen penunda kematian

ramadan ialah konversi iman ke dalam penampilan
festival religiusitas di panggung hiburan
dan pertaruhan ayat tuhan lewat lomba dan kompetisi saling mengalahkan

ramadan ialah pameran kesucian
perputaran ekonomi di dalam roda ketuhanan
pemerataan rezeki kepada yang berkepentingan
dan investigasi ruang pribadi sebagai tontonan menjelang buka

ramadan ialah jalan sunyi yang ditutupi asap industri
menahan diri dari kepungan mesin produksi
menyalakan api di atas luapan akumulasi nilai lebih
menjadi buih di tengah gelombang bunuh diri
dan menjemput mati di dalam zaman yang bergerak tanpa kaki

dan materialisme menjelma surgawi
dan pahala sebagai yang paling ilahi
ramadan menjadi ruang vip
ruang di mana orang-orang menjadi barang-barang
dan barang ditransaksikan menjadi kebaikan
sebagai jalan menuju kemuliaan.

Balikpapan, 2017

Advertisements

Diri Tanpa Arti

bagikan tanpa pikiran
bermusuhan tanpa pengetahuan
ikut-ikutan tanpa pemahaman
benci tanpa mengerti
caci tanpa sadari
diri tanpa arti

kata-kata semakin gas
mudah menguap dan terbakar
warning! jauhi dari pikiran bersumbu pendek
mudah meledak dan ambyar

jangan berlayar kalau takut tenggelam
jangan bercinta kalau takut sengsara
jangan mendengar kalau takut terbakar
jangan melihat kalau takut dijilat
jangan hidup kalau takut mati
diri tanpa arti

palu punya bapak
arit punya ibu
dapur punya kakak
beras punya mejikjer
nasi punya aku

aku makan nasi tapi anti mejikjer
karena mejikjer dibuat oleh manusia bermata sipit bertanduk iblis berambut pirang bernadi yahudi tinggal di amerika dan membuat facebook
tapi aku kemudian abaikan fakta itu
karena aku butuh nasi

harus dibedakan mana tidur
mana ngelindur
meski sama-sama di atas kasur
diri tanpa arti

menyiram diri sendiri dengan bensin
membakar kepala dengan amarah
menjadi penemu bukan di bidang iptek
tapi penemu di bidang aib saudara sendiri
lidah semakin panjang
menjadi papan seluncur kebencian

kapan ingat ibrahim kalau anak-cucu ishaq dan ismail lupa?
kapan renung kalau sendiri saja susah?
kapan isi waktu kalau pada kapan saja angkuh?
kapan jadi paku kalau sibuk jadi palu?
diri tanpa arti

burung kakatua
hinggap di jendela
rumah siapa
kalau nenek
sudah tak ada?

diri
tanpa
arti.

Dada Puisi Arohi

(buat ahmad)

aku berjalan di dadanya yang terbakar
kata-kata telah ia hapus dari kertas
puisi yang tadinya kompas
kini menggelembung jadi asap

ia tak mengajarkanku membaca puisi
melainkan menjadi puisi
“manunggaling kawula lan puisi,” begitulah
sukmanya bertajali dengan sukmaku

kadang ia gandhi
kadang ia ruhani
kadang ia nyawiji
kadang ia si sederhana ahmadi

dadanya hutan belantara
tempatku singgah meminum api
melepas mimpi
dan kembali beranjak pergi

kini ia kusebut arohi di dalam hati
bukan karena tumhiho menenggelamkan pedih
melainkan karena akronim ahmad rohani
dan isyarat dari ar-rahim

aku berjalan di dadanya yang terbakar
dada yang hutan belantara
dada yang menghapus puisi
dengan airmata tanpa kata-kata.

Balikpapan, 4 Maret 2017

Presiden Anjing

(Ini karya tulisan yang dibuat oleh salah satu teman Facebook saya, Jevindra. Saya terbitkan kembali dalam blog ini karena sampai saat ini saya masih suka.)


“Presiden kita sekarang itu anjing!”
teriak penjual nasi kucing
di trotoar
tak satu pun tukang becak dan orang-orang yang mendengar berani bergeming.

“Ya! Hanya koar-koar kerja-kerja-kerja,” sahut suaminya, “tapi gila, membuat semua [barang] naik harga.”
Tukang becak hanya bisa menghela napasnya
Aku yang terdiam seribu bahasa
–tanpa sadar kemudian ikut bersuara–

“Ya! Memang presiden kita sekarang itu anjing!”


***

Malam hari:

Dalam lelap aku bermimpi
Tukang-tukang becak mendatangiku dengan wajah pasi
Tiba-tiba menjelma sekawanan anjing
Memandangku dengan julur lidah dan menyeringai

“Apa yang kaukatakan siang tadi?”
tanya salah satu anjing
“Presiden kita yang sekarang itu anjing!”
jawabku

“Bangsat! Kurang ajar kau!”
“Memangnya kenapa?”
“Jangan samakan kami dengan presiden itu, kami anjing.”

dengan tatapan sinis mereka berlalu meninggalkanku dalam perasaanku yang kelu.

Bandung, 221214

SAJAK ORANG ASING

 

Aku merasa asing

oleh lingkungan, dunia,

saudara, keluarga, kerabat,

handai taulan, anak-istri

 

aku diasingkan oleh kenyataan

bahkan oleh bayang-bayangku sendiri

hanya pena dan kertas ini

yang masih mau menampung sisa-sisa metafora

dari hati dan sanubariku

 

tapi kawan

saya tidak sendiri

di belakangku ada ratusan juta manusia hidup tanpa kepala

berenang di kolam peradaban yang dangkal

memuja-puja keunggulan yang hanya sepercikan kotoran hewan

zaman yang berlomba-lomba merebut kemewahan

yang oleh kekerdilan pikirannya dimaknai sebagai kekayaan

dengan memunyai banyak kartu kredit

dan harta benda

 

di atas keterasinganku sendiri

aku menyaksikan manusia hidup dalam satu muka yang sama

muka-muka terjajah oleh keinginan dan angannya sendiri

muka-muka berdarah ditikam ketakutan tentang hari esok mau makan apa atau bisa makan atau tidak

termasuk mukaku sendiri yang aku lihat di kaca tak lagi menyerupaiku

oh langit oh bintang yang kuanggap sebagai dewa malam

di bawahMu aku mati

di pangku batu

digerus waktu

 

21 Desember 2014

BUANA

dua tubuh saling memupuk
dua ruh saling merasuk
menumpahkan serdadu-serdadu peluh
memburu waktu seperti buruh
dan lesuh
desahmu rebah di desaku
risaumu lelap di pisauku
melayu di hira
dikira kayu kah?
Buana
kelak tumbuh buah
beri kehidupan
beri kepusingan!