Presiden Anjing

(Ini karya tulisan yang dibuat oleh salah satu teman Facebook saya, Jevindra. Saya terbitkan kembali dalam blog ini karena sampai saat ini saya masih suka.)


“Presiden kita sekarang itu anjing!”
teriak penjual nasi kucing
di trotoar
tak satu pun tukang becak dan orang-orang yang mendengar berani bergeming.

“Ya! Hanya koar-koar kerja-kerja-kerja,” sahut suaminya, “tapi gila, membuat semua [barang] naik harga.”
Tukang becak hanya bisa menghela napasnya
Aku yang terdiam seribu bahasa
–tanpa sadar kemudian ikut bersuara–

“Ya! Memang presiden kita sekarang itu anjing!”


***

Malam hari:

Dalam lelap aku bermimpi
Tukang-tukang becak mendatangiku dengan wajah pasi
Tiba-tiba menjelma sekawanan anjing
Memandangku dengan julur lidah dan menyeringai

“Apa yang kaukatakan siang tadi?”
tanya salah satu anjing
“Presiden kita yang sekarang itu anjing!”
jawabku

“Bangsat! Kurang ajar kau!”
“Memangnya kenapa?”
“Jangan samakan kami dengan presiden itu, kami anjing.”

dengan tatapan sinis mereka berlalu meninggalkanku dalam perasaanku yang kelu.

Bandung, 221214

Pahlawan Dulu dan Sekarang

sopp17a

Kita punya pahlawan di dua zaman berbeda:

  • Dulu pejuang tanah air
  • Sekarang pejuang dana cair

Kita punya pahlawan di dua zaman berbeda:

  • Dulu berorasi dan beraksi
  • Sekarang berhipokrasi dan korupsi

Kita punya pahlawan di dua zaman berbeda:

  • Dulu melawan penjajah hingga mati
  • Sekarang jual diri dengan harga tinggi

Kita punya pahlawan di dua zaman berbeda:

  • Dulu bersusah-payah untuk bersatu
  • Sekarang bercerai-berai ingin menjadi nomor satu

Kita punya pahlawan di dua zaman berbeda:

  • Dulu merebut Irian Barat dari tangan Belanda
  • Sekarang jadi budak Barat sambil membusung dada

Kita punya pahlawan di dua zaman berbeda:

  • Dulu mengganyang Malaysia meski ia ditolong dan dibantu oleh sepuluh imperialis sekalipun
  • Sekarang sesama bangsa saling menjajah dan mendiskriminasi tanpa ampun

Kita punya pahlawan di dua zaman berbeda:

  • Dulu ber-juang mengangkat harkat dan martabat hidup
  • Sekarang ber-uang saling-sikat membuat peradaban redup

Kita punya pahlawan di dua zaman berbeda:

  • Dulu berpolitik untuk bisa sejahtera
  • Sekarang berpolitik untuk saling menyandera

Kita punya pahlawan di dua zaman berbeda:

  • Dulu bercita-cita luhur
  • Sekarang berebut kursi saling mengubur
  • Sekarang dicaci-maki hingga masuk kubur

Sabda Cinta 4 Penyair

4Penyaiir

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada,” ujar Sapardi Djoko Damono.

“Cinta yang berbobot itu tidak sederhana. Seperti ‘Romeo-Juliet’ dan ‘Laila-Majenun’!” sanggah Sutardji Calzoum Bachri.

“Cinta itu sederhana, di dalamnya ada bahagia. Kita saja yang pelik, seolah semua harus jadi milik,” tawar Candra Malik mencoba menengahi.

“Wis yo cuuk, asu kabeh …. markincuuuk!” pekik Sujiwo Tejo sambil menggenggam toa.

Nol

Nol itu isi bukan kosong,
Nol itu nilai bukan melompong,
Nol lebih dari kuantitas, ia adalah kualitas,
Nol adalah tak terhingga dalam hermeneutika bahasa kehidupan,
Nol adalah pengabaian yang berujung penderitaan,
Nol tidak bicara tentang benar-salah, baik-buruk, indah-jelek,
Nol adalah tentang penyamaran segala sesuatu yang tak disadari menjadi kristal dan inti neutron, proton, electron yang merasuk dalam tubuh manusia,
Nol adalah tiada yang lebih ada dari ada,
Nol itu ada maka ia harus dipelajari,
Nol itu awal dan akhir,
Nol adalah kehancuran dan perbaikan,
Nol adalah nol yang tak nihil dalam keabadian,
Ya Nol…