Mapan Dulu atau Nikah Dulu

Ada orang yang berjuang untuk menikah. Ada orang yang menikah untuk berjuang. Semua soal prinsip, bukan soal benar dan salah. Kalau secara pribadi, saya lebih memilih prinsip yang kedua, karena, pertama, tak semua orang berani menempuh jalan itu. Secara perbandingan, kuantitas orang yang menempuh prinsip kedua jauh lebih sedikit. Karena risikonya lebih besar, dan secara umum “menyimpang” dari common sense hierarki dan pola perjalanan hidup manusia: sekolah—kerja—menikah—punya turunan—tua—mati. Orang yang menempuh prinsip kedua tidak mengikuti pola yang demikian, ia menentang, melanggar, dan menciptakan jalannya sendiri. Dan itu, menurut saya, membuat hidup lebih berasa hidup.

Kedua, menurut saya ada kegetiran dan kobaran-kobaran perasaan tertentu yang tidak didapatkan dalam prinsip yang pertama. Orang yang menikah setelah mapan tidak pernah merasakan betapa indahnya kegilaan saat uang habis di tengah jalan sedangkan ada nyawa yang harus dihidupkan. Orang yang menikah setelah mapan tidak punya daya kreasi mengolah sumber daya yang ada menjadi penyambung hidup banyak kepala. Orang yang menikah setelah mapan tidak merasakan senangnya melihat anak bisa menikmati sesuatu yang mereka sukai meski untuk mendapatkan itu (orangtua) harus terlebih dulu berpeluh-peluh membanting tulang di jalan-jalan.

Ketiga, orang yang berjuang setelah menikah lebih memiliki banyak dinamika di dalam kehidupan. Lebih banyak gejolak emosi yang dirasakan. Dan kematangan mengolah masalahnya lebih teruji. Karena fokus pencapaiannya banyak. Bukan hanya kebutuhan makan-minum yang harus dipenuhi. Tapi kebutuhan istri, dapur, rumah (kost/kontrakan) pun harus juga dipenuhi. Faktanya, orang yang menikah meski belum mapan itu lebih ditempa oleh berbagai persoalan. Dan pengalaman itu langka—dan tidak bisa didapatkan lewat teori-teori di bangku kuliah. (Tapi bukannya memang pernikahan itu tidak ada teorinya?) Memang, semua orang mencari kebahagiaan, termasuk dalam hal pernikahan. Tapi sebagaimana kata Leo Tolstoy di dalam Anna Karenina, “Semua keluarga yang bahagia itu (bahagianya) sama. Tapi keluarga yang tidak bahagia, (mereka) tidak bahagia dengan caranya sendiri-sendiri.”

Maka silakan memilih, mau mapan dulu baru menikah atau menikah dulu baru mapan. Semua soal pilihan, sekali lagi, tak ada hubungannya dengan benar dan salah. Tapi Tan Malaka pernah berkata, “Nilai sebuah kemenangan itu terletak pada perjuangannya, bukan pada hasilnya.” Maka saya cuma bilang: apa kita nggak malu sama burung yang kawin lebih dulu baru buat sarang di pepohonan kemudian (baca: mapan)?

Ingat pepatah lama: Berakit ke hulu berenang ke tepian. Bersakit dahulu bersenang kemudian.

Anomali Isi Televisi

Tak jarang setiap berhadapan dengan televisi saya ngedumel tiada henti. Sampah. Kata itulah yang sering saya ucapkan dalam hati. Televisi beserta isi-isinya hampir sebagian besar menggiring kita ke jurang kebodohan–dan tak disangkal menjadikan kita sebagai pemuja kepalsuan.

Contoh konkretnya, ponakan saya sendiri yang berusia dua tahun, sering saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri, sekonyong-konyong meninggalkan aktivitas nenen dari mamanya–meski lapar dan haus setengah mati–berlari ke depan televisi karena mendengar dan ingin menonton sampai habis iklan kampanye salah satu partai politik yang ketuanya pemilik banyak stasiun televisi. Partai Lapindo, eh Perindo maksudnya. Ampuuuun, kataku dalam hati.

Suatu ketika saya ingin menginisiasi gerakan anti televisi. Menyebarkan pamflet yang isinya tentang bahaya laten dari televisi. “Menonton Televisi Membunuhmu”, begitulah kalimat di sisi paling bawah pada pamflet tersebut.

Televisi termasuk pelanggar HAM terbesar di muka bumi ini. Membunuh hak manusia untuk menjadi diri sendiri dan berpikir jernih.

Tapi … mmm … tapi setelah saya pikir-pikir lebih dalam lagi. Astaga! Kalau sampai televisi benar-benar ditiadakan dari muka bumi, bukankah akan menjadi lebih mengerikan dunia ini? Semua pabrik televisi tutup. Stasiun televisi, rumah-rumah produksi, sanggar-sanggar akting, dan lain sebagainya gulung tikar. Pengangguran semakin membludak. Buruh, crew, broadcaster, sutradara, editor, penulis naskah, beserta seluruh jajarannya, cleaning service, satpam, tukang parkir, dan lain-lain kehilangan sumber penghidupan. Pengangguran akan semakin menyesaki jalan-jalan, tingkat kemiskinan bertambah, dan kalau sudah begitu: perbuatan kriminal pun akan semakin mengancam. Sebab kelaparan semakin bertambah. Kadar gula pada diri sebagian besar orang semakin berkurang. Emosi menjadi sangat tidak stabil, mudah marah-marah, hilang akal sehat, betindak kalap, dan kalau sudah demikian, penipuan, pencurian, pembunuhan, dll., adalah sebuah keniscayaan.

Maka alih-alih menginisiasi gerakan anti-televisi, saya sadari bahwa ada banyak orang yang butuh hidup dari pekerjaan di dalam domain televisi tersebut. Ada banyak jiwa yang nasib hidupnya berlangsung dari kerja televisi, hiburan, berita, sinetron, dsb, dst.

Ya, akhirnya saya sadari. Beginilah kehidupan. Mengandung paradoks di dalam dirinya sendiri. Menyimpan anomali dalam setiap pro-kontra yang ada. Kita menyukai sesuatu, tapi sesuatu itu memunyai sisi bahaya buat kita. Kita membenci sesuatu, tapi sesuatu itu mengandung roda kehidupan yang harus terus berputar. []

Komunisme dan Kerancuan Sejarah Orba

Tanpa tedeng aling-aling langsung saja saya katakan bahwa orang yang bilang cinta terhadap Indonesia tetapi anti terhadap komunisme itu bagai menantu yang mencintai istri/suami tetapi durhaka terhadap mertuanya.

Indonesia itu salah satu unsur pembentuknya adalah ideologi komunisme. Jadi jangan salah sangka, jangan amnesia, buta sejarah, apalagi tolol. Sebab tanpa memelajarai komunisme, mustahil para founding father bisa merumuskan pancasila.

Lho, Bung Karno sang proklamator yang kita puja-puji dan kita bangga-banggakan itu adalah seorang komunis tulen. Kalau tidak percaya silakan pelajari pemikiran-pemikirannya, baca buku-bukunya. Bahkan tokoh besar komunisme, Karl Marx, yang dibahasakan oleh Bung Karno sebagai datuknya kaum miskin yang berpenampilan koyak-koyak itu diperingati hari kematiannya lewat sebuah tulisan di “Fikiran Ra’jat”tahun 1933 yang berjudul “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx”.

Dari situ bisa kita maknai bahwa betapa hormatnya Bung Karno terhadap Karl Marx, dan betapa berpengaruhnya Karl Marx terhadap pemikiran Bung Karno. Dan dari (teori-teori) Karl Marx-lah Bung Karno menghasilkan buah pemikiran tentang Marhaenisme, yang menurut Bung Karno adalah Marxisme/komunisme yang di-Indonesia-kan. Komunisme yang sesuai dengan kebudayaan nusantara, yang sesuai dengan jati diri kita, begitu kata Bung Karno.

Dan menyikapi fenomena komunismefobia yang tak surut-surut sampai hari ini, sejak dulu sudah ia terangkan bahwa komunisme itu ideologi, bukan teologi. Komunisme bukan-lah atheisme, komunisme itu ideologi perjuangan. Bajingan Orba sajalah yang mengaburkan makna dan sejarahnya. Silakan kroscek sendiri pidato Bung Karno pada peringatan HUT kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1960, pidato Bung Karno di HUT PERWARI 1965,  Amanat Presiden Bung Karno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 1965, pidato Bung Karno di Sidang Paripurna Kabinet Dwikora, di Istana Bogor, 6 November 1965, Amanat Presiden Sukarno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 196,  Amanat Presiden Sukarno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 1965, pidato Bung Karno di hadapan peserta Sapta Warsa Gerakan Siswa Nasional Indonesia/GSNI, di Istora Senayan, Jakarta, 28 Februari 1966, dan masih banyak lagi pidato-pidato lainnya yang isinya secara gamblang Bung Karno mengaku diri sebagai komunis.

Maka membenci komunisme sama dengan membenci Indonesia, founding father (terutama Bung Karno), dan sejarah kebangsaan kita. Bahkan konsep negara Republik Indonesia itu ditulis oleh seorang maniak komunisme: Ibrahim Datuk Tan Malaka. Kalau kebebalan dan kesalah-kaprahan kebenaran sejarah ini kita (tetap) pelihara maka lebih baik kita bubarkan saja negara ini. Wong kita sudah berkhianat, kok. 

Yang jelas, kita sudah nyata-nyata durhaka terhadap founding father  jika masih anti terhadap komunisme. Tapi dengan melihat kondisi yang ada dan mempertimbangkan segala kemungkinannya maka sepertinya kedurhakaan kita ini akan tetap kita pertahankan. Soal ini, Bung Karno sudah men-twit-kannya hampir seratus tahun yang lalu: “Orang tak akan gampang-gampang melepaskan bakul-nasinya, jika pelepasan bakul itu mendatangkan matinya!”

Ssst … soal komunisme dan segala persoalannya ini kalau mau diluruskan sebenarnya gampang saja. Sekadar informasi: saat ini banyak aktivis “kiri” yang duduk di tampuk kekuasaan–khususnya di parlemen. Tak usahlah saya sebutkan nama-nama mereka yang jelas mereka cerdas, militan, dan revolusioner (reformisioner). Tapi berhubung karena dengan mengungkapkan kebenaran akan “mendatangkan matinya” maka lebih baik sami’na wa atho’na.  Kami dengar kami taat. Diam dan nikmati nyamannya kursi kekuasaan.

Kita boleh bilang Orba sebagai bajingan, kawan. Tapi orang-orang seperti mereka jauh lebih bajingan lagi karena mereka mendiamkan kesalahan (baca: kerancuan sejarah). Ingat kata Soe Hok Gie: “Mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.”

Masih tidak percaya? Coba cek sampai hari ini anasir-anasir Orba hampir semuanya masih dipakai, termasuk peringatan hari SUPERSEMAR yang jatuh pada hari ini. Dan cek, adakah aparatur negara-pemerintahan wabilkhusus anggota DPR yang sekarang ini menjabat berani menyatakan secara terang-terangan bahwa sejarah SUPERSEMAR itu murni rekayasa alias kebohongan yang dibuat oleh Soeharto?

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi,” tegas Tan Malaka.

Piye kabare, iseh penak jamanku tho?” kata Soeharto sambil melambaikan tangan.

Yo penak. Dulu Soeharto cuma satu; sekarang Soeharto di mana-mana. Semua berlaku seperti Soeharto,” celetuk Gus Dur selow dengan gaya khasnya.

Aforisme Anarkisme kepada Negara

Aforisme ini bukan bikinan seseorang, bukan desakan, apalagi paksaan. Ia hanyalah ampas-ampas pikiran yang terbuang dari gesekan-gesekan keadaan. Sejarah sudah tak memunyai kredibilitas. Teori-teori lama sudah usang ditelan zaman. Dari praktik ke praktik, yang ada hanyalah penumpukan keuntungan dan kekuasaan di satu sisi, dan ketimpangan, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, pengisapan, dan penindasan di sisi lainnya.

Boleh jadi, anarkisme adalah orde terakhir dari jalan panjang perjuangan manusia dalam menemukan kembali sebuah role model peradaban umat manusia. Adalah babak terakhir corak sejarah manusia. Tanpa negara. Dunia kembali ke penelanjangan entitas.

Dan kepada negara. Inilah kami apa adanya.

Kami akan baik-baik saja tanpa peranmu. Hingga pada akhirnya kami merasa bahwa kami tak memerlukan adamu lagi. Ada dan tiadamu pun kami mampu survive, kau ada dan tidak ada pun bagi kami tak ada pengaruh apa-apa.

Kau menyebut dirimu negara, tapi dalam praksisnya tak kami temui karakter kenegaraan pada dirimu. Kau bahkan menjelma dengan sorban keagamaan hanya untuk meniduri kekuasaan. Kau susupi ideologi binatangmu ke dalam kurikulum pendidikan untuk menciptakan makhluk-makhluk mekanis yang siap–dan bahkan meminta–diperkosa.

Bahwa faktanya negara hanyalah kepura-puraan belaka, (drama) kesejahteraan hanya berlaku di saat pentas politik praktis: pemilu; pilpres, pileg, pilkada, pilkadal, pilkabe, bla-bla-bla … tapi setelah itu, kau lupa. Tidak ada makna apa-apa, semua berjalan seperti sedia kala.

Kau ciptakan kebebasan pers untuk membenturkan paradigma kami yang lugu dengan sederetan propaganda kapitalisme-mu yang lucu. Tapi kami tahu, yang merah di bibir itu cuma gincu. Anarkisme, radikalisme, pemberontakan, dsb. hari ini dimaknai sebagai sesuatu yang buruk padahal secara bahasa dan sejarah tidak demikian. Masyarakat menjadi korban re-pemaknaan penguasa negara, media, dan pemilik kapital dan pilar-pilar hegemoni lainnya. Tapi kami adalah kehendak untuk bebas, merdeka, dan berdaulat atas diri kami sendiri. Bebas, merdeka, dan berdaulat atas kemanusiaan yang kita kandung sendiri.

Produk demokrasimu adalah dongeng yang dimodernisasi, lagu lama yang cuma dipakaikan cover baru. Tapi kami tak bodoh untuk menelanmu mentah-mentah. Maka dengan ini kami katakan bahwa kami adalah hasilmu yang gagal, yang menolak tunduk terhadap program kapitalistik-mu. Kami lolos dari lubang jarum eksploitasimu yang membodohkan dan mencoba membuat kami menjadi manusia satu dimensi; manusia yang dogmatis terhadap segala titahmu.

Sikap kami jelas: meyakini kedaulatan di tangan negara adalah musyrik. Adalah takhayul cukardeleng. Maka anarkisme-lah jalan keluarnya. Bukan sebagai solusi tetapi sebagai kehendak sejarah, sebagai hasil pergulatan keadaan.

Semua akan kacau pada waktunya. dan anarkisme bukan paksaan untuk diminta ada.

 

Perubahan adalah Hasil Pengetahuan

(Ini tulisan lama saya di tahun 2014. Pernah dimuat di portal online mana–saya sudah lupa. Saya menerbitkan kembali di dalam blog ini dengan harapan jiwa muda saya bisa terpelihara. Hehehe …)

“Cita-cita hidup manusia beragam, tapi satu hal yang harus kita sepakati adalah bahwa tugas hidup manusia adalah mengurangi ketidak-tahuan kita setiap hari.”

–Budiman Sudjatmiko

Mengatakan hidup sebagai hidup tanpa memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kehidupan, itu sama dengan menistakan kehidupan ke dalam jurang kebodohan. Setiap manusia wajib mengetahui, apapun harus diketahui. Dengan mengetahui, seseorang bisa dikatakan mempunyai pikiran. Sebab, pengetahuan adalah produk dari aktifitas pikiran.

Homo Kepoctus, Manusia adalah makhluk yang ingin mengetahui. Mungkin Charles Darwin kalau masih hidup sampai saat ini maka dia akan menyebutnya demikian.

Dunia berkembang dan maju adalah hasil dari ketat dan dalamnya pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Maka, wajah dunia hari ini adalah cerminan dari betapa canggih dan jenius manusia-manusia di dalamnya.

Kampus adalah tempat paling utama dalam menjalarkan ilmu pengetahuan ke otak mahasiswa, seharusnya, sebab di kampus, segala obyektifitas dan nilai intelektual bercokol. Mahasiswa tinggal memetik dan memakan buahnya.

Namun hari ini, faktanya, kampus malah menjadi tempat hedonisme berwabah. Jaring konsumerisme bersarang di berbagai tempat dan ruang mahasiswa. Kampus mengalami disfungsi, Intelektual tak lagi bereaksi.

Kaum intelektual adalah orang yang mempunyai fungsi sosial, itulah gambaran sederhana oleh Antonio Gramsci terhadap makna kaum intelektual yang ideal. Jika tak ada fungsi sosial maka tak ada pula intelektual.

Kampus adalah mesin pencetak intelek-intelek baru setiap tahun. Masyarakat sebagai obyek perjuangan kaum intelek harusnya mampu mengatualisasikan nilai-nilai intelektual itu untuk mengabdi kepada masyarakat, sebagaimana juga yang terpatri dalam tri darma perguruan tinggi.

Semangat mahasiswa sebagai entitas perubahan dan tonggak pengabdian itulah yang harus dihidupkan kembali, kampus sebagai tempat mahasiswa ber-kuliah harusnya dijadikan sebagai laboraturium kemajuan peradaban dunia. Mahasiswa yang dipredikati agen of change penting untuk dihidupkan dalam wilayah praksis-implementatif.

Pengetahuan dikembangkan, peran difungsikan, dan tujuan diutamakan. Itulah syarat agar mahasiswa Indonesia bisa maju.

Tugas mahasiswa saat ini adalah menghidupkan kembali ruh kemahasiswaannya; dengan cara membaca buku, melakukan kajian-kajian kebangsaan-kenegaraan, dan turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan untuk memekakan jiwa gotong-royong yang notabene adalah karakteristik bangsa Indonesia.

Jika saran di atas terlalu normatif, maka berpikirlah tentang hal gila yang lebih menggugah dan mampu mengubah. Asalkan kita telah mengetahui banyak tentang siapa diri kita dan siapa musuh kita. Ya, menambah dan terus menambah pengetahuan sebelum membuat perubahan.

17 Agustus bukan HUT RI

300px-Proklamasi_Klad

Entah mereka terlalu-sangat mencintai Indonesia, atau hanya memamerkan ke-update-an mereka terhadap momen-momen seremonial nasional-kenegaraan. Tetapi yang pasti, ucapaan “hari ulang tahun republik Indonesia” (HUT RI) atau kalimat-kalimat sejenisnya yang menyuratkan kata “republik” atau bentuk negara lainnya pada hari perayaan nasional–setiap  tanggal 17 Agustus, selalu saja tedengar menggelikan di telinga.

Sudah menjadi konvensi absolut dan hukum ketetapan, setiap tahun–setiap 17 Agustus 1945, masyarakat Indonesia merayakan hari besarnya. Menurut mereka–lewat gestur nan kaku dari presiden–sering menyebutnya: HUT RI.

Terus, masalahnya apa?

Masalahnya adalah kita terlalu mabuk untuk menyadari bahwa 17 Agustus 1945 itu bukanlah hari ulang tahun republik Indonesia. Bukan HUT RI. Tak ada republik. Silakan baca kembali teks proklamasi asli yang ditulis Bung Karno. Tak ada satu kata pun yang menyebutkan republik atau bentuk negara lainnya di sana–sebab de facto saat itu negara belum dibentuk. Negara secara hukum dan konstitusional baru dibentuk sehari setelah pembacaan teks proklamasi kemerdekaan (bangsa) Indonesia. Bangsa Indonesia, bukan negara Indonesia. Bangsa itu nature, negara itu nurture. Aih, lumer.

Indonesia baru sah disebut negara pada 18 Agustus 1945 setelah, oleh panitia persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI), Undang-Undang Dasar negara republik Indonesia 1945 (UUD 1945) ditetapkan sebagai hukum tertulis (basic law) negara, sebagai konstitusi pemerintahan negara.

Maka predikat “Republik Indonesia” tidak tepat disematkan pada 17 Agustus 1945. Sebab, sekali lagi, saat itu negara belum ada. Negara belum ada. Republik belum ada!

Semoga tulisan ini dibaca siapa saja yang mengaku orang Indonesia, dan tidak taklid buta–konformis terhadap gelombang mainstream.

Emang pentingnya apa?

Ya, gak penting-penting amat sih. Tetapi yang jelas, kekaburan masa lalu menghasilkan kekaburan masa depan. Kalau kita tak menguasai ilmu untuk membaca (kebenaran) tata buku masa lalu, dan tata buku masa kini, maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan. Bukan begitu, Rendra?

Dan ingat, tak ada yang tak penting. Ketak-pentingan hari ini, boleh jadi, akan menjadi kepentingan di hari esok. Tergantung cita-citamu, (selama bukan untuk menjadi PNS).

Secerca Tanya untuk Aksi 20 Mei oleh HMI, BEM, dkk: Massa Aksi Revolusi atau Sekadar Tebar Sensasi?

tanda-tanya

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) beserta Badan Eksekutif Mahasiswa universitas ternama di Indonesia melakukan makan malam bersama presiden Indonesia Jokowi.

Seusai acara, saat diwawancarai media, Ketua Umum PB HMI Arief Rosyid berkata bahwa HMI akan tetap melakukan aksi pada 20 Mei 2015. Itulah garis besar dari headline-headline berita online yang beredar di media sosial.

Tulisan saya kali ini dominan berisi pertanyaan. Saya semaksimal mungkin menghindari teori-teori–hingga justifikasi. Saya hanya ingin menulis dengan beberapa pertanyaan yang saya tujukan khusus kepada segenap mahasiswa yang ikut makan malam bersama dan kemudian secara paradoksal menyatakan sikap untuk mendemo Jokowi pada 20 Mei 2015 besok.

Karena terkadang, cara paling bijak menulis pernyataan adalah mengajukan pertanyaan.

Maka berikut pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, mungkin masih banyak lagi benih-benih pertanyaannya, tetapi untuk saat ini cukup beberapa pertanyaan saja yang (akan) saya publikasikan, antara lain sebagai berikut:

Kenapa kawan-kawan mahasiswa mau melakukan makan malam bersama Jokowi yang notabene adalah simbol negara yang akan didemo?

Kalau menyampaikan aspirasi secara langsung (tatap muka) dengan Jokowi lebih efektif, buat apa harus melakukan aksi?

Kenapa tuntutan aksi bersama di 20 Mei tersebut hanya berkutat pada persoalan permukaan (ekterioritas) kenegaraan saja?

Kalau memang benar-benar yang dilakukan adalah perjuangan populis, kenapa corak aksinya bersifat elitis (makan malam bersama presiden yang notabene adalah simbol yang akan didemo)?

Sebenarnya yang dicari kawan-kawan mahasiswa (organisasi) itu aksi massa-aksi revolusi atau sekadar ajang unjuk eksistensi dan tebar sensasi?

Lagi, kenapa isu yang diangkat bukan isu-isu yang substansial dan fundamental, dan bukan akar permasalahan yang diangkat melainkan isu-isu rendahan yang sesungguhnya hanyalah implikasi dari kebobrokan sistemik kebangsaan dan kenegaraan. Kenapa? Kenopo toh, mas?

Kenapa kawan-kawan mahasiswa (organisasi) terlihat tidak serius melakukan aksi? (Hal itu bisa dilihat dari minimnya konsolidasi pergerakan aksi tersebut). Apa jangan-jangan sengaja pergerakannya diekslusifkan agar aliran airnya tidak terlalu terbagi ke banyak keran? Dan lantas kemudian menyerukan aksi–lewat media massa–kepada mahasiswa lain untuk turut berpartisipasi agar terkesan membutuhkan kuantitas, dan rame (padahal tujuannya untuk hemat anggaran)?

Sebenarnya kawan-kawan mahasiswa sadar atau tidak bahwa dengan bertemu Jokowi secara langsung itu sudah jauh lebih baik ketimbang melakukan aksi dengan ratusan-ribuan mahasiswa? (Sebab dengan bertemu langsung, aspirasi yang disampaikan langsung didengar dan komunikasinya lebih efektif dan efisien) Maka kenapa tak langsung saja disampaikan inti tuntutan kawan-kawan mahasiswa di depan Jokowi langsung saat makan malam itu berlangsung?

Sekali lagi, sebenarnya yang dicari kawan-kawan mahasiswa (organisasi) itu aksi massa-aksi revolusi atau sekadar ajang unjuk eksistensi dan tebar sensasi?

Secerca pertanyaan-pertanyaan di atas tersebut tidak perlu dijawab karena sudah terkandung jawabannya di dalam. Ambigu? Itulah cerminan diri kalian mahasiswa seremonial!