Pasca Kenangan

Hubungan percintaan yang dibina delapan tahun akhirnya bubar di tengah jalan. Pertentangan dari masing-masing keluarga dan ketidakjelasan masa depan si lelaki membuat mereka pasrah pada takdir: berpisah. Ini tak kalah menyakitkan dari hubungan beda agama. Padahal dengan usia yang begitu lama, dihitung-dihitung sudah bisa dipakai untuk melunasi kredit rumah dan cicilan motor, minimal, tiga unit.

Sekarang mereka sudah memiliki kehidupannya sendiri-sendiri; pasangan, rumah tangga, keluarga, mainan, dan kesibukan masing-masing. Tapi, karena hubungan yang kelewat lama dan sekaligus dalam, maka masing-masing dari mereka tak pernah utuh menghilangkan bayangan mantan dalam pikirannya. Setiap sudut kota, setiap café dan restoran mewah, hingga setiap gaya bercinta, selalu membuat mereka saling teringat. Bahkan di saat asyik bersanggama, mereka tak jarang sering salah menyebutkan nama, tapi syukurnya hanya disebutkan dalam hati, sehingga tak ketahuan oleh pasangan masing-masing.

Mereka, baik si lelaki baik si wanita, selalu berusaha berlari meninggalkan bayangan-bayangan masa lalunya itu, namun tetap saja, mereka tak bisa berlari dari dirinya sendiri. Sudah mencoba berbagai cara, tetap saja tak bisa. Tak bisa. Hingga suatu ketika, seiring menderasnya waktu, masing-masing dari mereka menyadari dengan sendirinya bahwa kenyataan perasaan ini bukan untuk disangkal melainkan harus diakui keadaannya. “Lari dari kenyataan bukanlah cara yang tepat untuk mengubah kenyataan. Menyangkali kenyataan hanya akan membuat kenyataan itu menjadi semakin terasa nyata,” kata sebuah ilham yang secara bersamaan menyusup ke dalam mimpi mereka suatu malam.

Paginya, sadar tak sadar, ilham yang menyusup ke dalam mimpi mereka itu memberi pengaruh terhadap banyak hal di dalam pikiran dan perasaan mereka. Mereka dengan penuh cinta menyapa, mendekap, mengecup pasangan mereka masing-masing. “Cara terbaik mengubah kenyataan adalah dengan menerima kenyataan itu apa adanya,” sesuatu membisik ke telinga mereka. Mereka hanya tersenyum dan saling membayangkan di waktu yang bersamaan dan dari tempat yang berbeda. Si lelaki membayangkan wajah mantan wanitanya dan sebaliknya si wanita membayangkan wajah mantan lelakinya meski kini saling tidak tahu keberadaan masing-masing.

Sejak pagi itulah, kehidupan mereka menjadi lebih baik. Mereka mengakui, meski tak pernah lagi bertemu sejak empat tahun yang lalu (sudah empat tahun pasca berpisah, masing-masing mereka menikah, membangun rumah tangganya sendiri-sendiri), perasaan sayang itu masih tetap ada. Namun dengan melihat kenyataan yang ada, mustahil mereka harus menghancurkan kehidupannya yang sekarang; pasangan, rumah tangga, keluarga, mainan, dan kesibukan yang ada hanya untuk mengikuti keegoisan masing-masing.

“Mencintai tak harus saling memiliki. Bahagia tak harus bisa bersama. Kenanglah namaku di sudut hatimu.” begitulah bahasa klise yang sering tertulis di toilet-toilet umum. Setiap membaca corat-coret itu aku menjadi merasa semakin mules dan buang air besarku (BAB) menjadi semakin lancar. Tak sadar, sudah hampir sejam aku di dalam toilet umum karena terlalu asyik mengingat-ingat kembali kisah percintaan teman-temanku itu. Ya, yang aku ceritakan di atas itu adalah kisah dari temanku, baik si lelaki baik si wanita kedua-duanya adalah teman-temanku. Teman-temanku yang mungkin juga tekandung dalam kisah pribadi hidupku sendiri. Entahlah, perutku mules lagi.

Advertisements

Sang Orator Baru

toaa

JUMAT, 9 Desember 2011. Siang itu sang surya begitu perkasa menancapkan sinarnya di bumi kota Makassar, bisa sengatannya bisa membuat kulit manusia berubah menjadi gosong, atau kemerah-merahan seperti udang yang dipanggang di perapian, kondisi seperti ini umumnya membuat banyak orang khususnya para gadis, ibu-ibu, dan kaum lelaki klimis pecinta salon yang berhobi merawat diri untuk lebih memilih berteduh di pepohonan kampus dan sekolah, rumah tinggal, mall-mall atau bagi kaum pekerja kantoran berdiam di dalam ruang-ruang ber-ac dan gedung yang menjulang tinggi sampai tiba waktunya sang jingga menyingkapkan warnanya di ufuk barat: sore.

Meski terik sedemikian ganas dan banyak orang bersembunyi dari panas, ada sekurumunan mahasiswa yang lebih memilih keluar menantang sengatan sang surya untuk melakukan aksi demonstrasi di jalan raya, tak perduli dengan kulit-kulit mereka yang semakin menghitam dipanggang mentari; bagi mereka terik mentari adalah penyulut api semangat revolusi, sekaligus ajang untuk menunjukkan taring kepada para birokratis rakus bahwa mereka akan selalu ada pada barisan perlawanan ketika hak rakyat dirampas oleh maling-maling berdasi.

Meski berada pada medan yang sangat curam sekalipun suara perlawanan tetap dikobarkan. Kami ada dan berlipat ganda! Seru massa aksi mengutip larik lagu Fajar Merah, anak Wiji Thukul.

Siang itu, Azfar sebagai salah seorang demonstran yang turun ke jalan dengan perkasa melangkahkan kaki bersama kawan-kawannya menuju gedung Kejaksaan Tinggi—sasaran pertama aksi demonstrasi karena yang paling dekat dengan kampusnya, ia begitu semangat namun juga sangat geram menyaksikan semakin banyaknya kasus korupsi yang kian hari kian marak dilakukan oleh para wakil-wakil rakyat dan beberapa pejabat menteri. Ia semakin geram lagi ketika isu-isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) menyeruak dengan gesit seperti mengejar rating berita menutupi kasus korupsi yang mengindikasikan keterlibatan pejabat-pejabat besar di negara ini.

Setibanya di depan kantor Kejaksaan Tinggi—titik pertama Azfar dan kawanannya melakukan aksi—terlihat barisan polisi dengan seragam dan tangan-tangan mereka—yang kekar sudah berdiri sigap untuk menjaga aksi demonstrasi para mahasiswa—memegang perisai, polisi mengamat-amati dan mengantisipasi kalau-kalau Azfar dan teman-temannya akan melakukan aksi vandalis. Selain polisi, ada juga beberapa awak media yang sudah antusias memegang kamera dan sekali-sekali men-jepret kerumanan massa mahasiswa yang sudah berada di depan gedung Kejaksaan Tinggi.

*

SATU hari sebelum mereka melakukan aksi, sepulang dari rapat konsolidasi persiapan aksi, Azfar sudah berlatih berorasi, menyemburkan kalimat-kalimat pamungkasnya yang dia harapkan bisa menyiutkan nyali para maling berdasi dan bisa menyulutkan api semangat para mahasiswa yang mendengarnya.

Di depan cermin, dengan memegang botol deodoran ia berlagak seolah-olah sedang—berdiri di depan orang banyak—memegang megaphone sambil mengangkat jari telunjuk tangan kanannya mengarah ke atas seperti mengutuk plafon kamarnya yang sering kebocoran kalau hujan, lalu mulai mengeluarkan suaranya yang membuat telinga siapa pun yang mendengarnya menjadi sakit.

“Ketika penindasan terjadi di mana-mana, ketika virus-virus korupsi mewabah di mana-mana, ketika pejabat negara bertindak semena-mena, dan ketika hukum berpihak kepada uang dan penguasa maka hanya ada satu kata: LAWAN!”

Begitulah ia bersuara dengan lantang di depan cermin. Suara lantang itu tidak hanya dihamburkan di depan cermin tetapi juga di kamar mandi sebelum menyemburkan air ke tubuhnya yang kurus.

Semangat yang berapi-api itu minimal disebabkan oleh dua hal: pertama, karena kebenciannya kepada pejabat-pejabat yang doyan merampas uang rakyat; sering membuat kebijakan yang (sama sekali) tak bijak; dan hanya semakin menambah kemiskinan dan kesengsaraan bagi rakyatnya. Dan kedua, ia ingin menampilkan dirinya yang gagah memegang megaphone di depan khalayak ramai dengan harapan bisa diliput oleh awak media khususnya media televisi agar dapat dilihat oleh teman-temannya yang kuliah di kota-kota lain, dan juga orangtuanya di kampung, meski ia tahu orangtuanya di kampung belum bisa mengakses siaran televisi karena saking terpelosoknya letak kampungnya berada (padahal dunia sudah sangat canggih!).

Sebab yang pertama bisa dikatakan adalah cermin dari aktivis sejati, sementara sebab yang kedua adalah cermin dari aktivis kerdil yang haus popularitas, krisis eksistensi serta narsis dan gila pujian. Kalau dibandingkan keduanya, Azfar lebih cenderung termotivasi oleh sebab yang kedua. Maklum, di zaman sekarang ini bukan hanya Azfar, tapi sebagian besar umat manusia memang menghamba pada perkara-perkara tersebut.

*

TEPAT di depan gerbang kantor Kejaksaan Tinggi, massa aksi sudah berbaris rapi membuat border dan sebagian lainnya mengangkat bendera merah-putih sebagai simbol perlawanan. Seseorang yang memakai kopiah dengan memiringkannya menyerupai gaya khas Sukarno namun berwarna sedikit kemerah-merahan—agak luntur karena mungkin termakan usia—bertindak sebagai koordinator lapangan (koorlap), dengan megaphone di tangannya, ia mengomandoi massa aksi agar tertib dan merapatkan barisan.

“Berapa jumlah kita, kawan-kawan?” Si Koorlap membuka orasinya.

“Satu!” jawab massa aksi serempak.

“Baik, kawan-kawan. Rapatkan barisan, kawan-kawan. Kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mahasiswa tidak buta. Bahwa kita adalah benar-benar rakyat yang ingin merdeka. Merdeka!”

Begitulah sampai seterusnya Si Koorlap berorasi dengan mengutip-kutip kalimat-kalimat dari Sukarno, Bung Tomo, WS Rendra, Wiji Thukul, dan lain-lain agar menambah sangar isi orasinya. Bahkan tak hanya itu, ia pun menyemburkan kalimat-kalimat kutukan, cacian, dan hasutan melalui megaphone agar menambah panas suasana siang itu. Setelah menutup orasinya, ia disambut meriah dengan riakan-riakan yang keras dari massa aksi. Ia pun menyudahi orasinya dengan mengajak seluruh massa aksi menyanyikan lagu Buruh Tani dan Darah Juang.

Melihat Si Koorlap begitu sangar berorasi di atas podium—dan lihai mengkobarkan semangat massa aksi di atas podium, Azfar merasa tertantang dan tidak mau kalah. Mulutnya mulai gatal ingin sesegera mungkin mempertunjukkan kemahirannya berorasi—yang menurutnya tidak beda jauh dengan Si Koorlap bahkan mungkin bisa lebih bagus lagi. Apalagi melihat mata-mata kamera para awak media banyak mengarah kepada Si Koorlap tadi, membuat Azfar semakin tak sabar ingin tampil memperagakan hasil latihannya di depan cermin dan kamar mandi secara intens selama ini.

Namun sampai satu jam berlalu, megaphone belum bergilir ke tangannya.

*

            TITIK pertama, Kejaksaan Tinggi, telah usai, kini massa aksi menuju ke titik berikutnya, di bawah jembatan Fly Over yang juga tidak jauh dari gedung Kejaksaan Tinggi. Di sana sudah ada barisan-barisan mahasiswa lain yang juga sedang menyuarakan dan menyerukan hal yang sama seperti kelompok Azfar. Hari itu, memang banyak kelompok-kelompok mahasiswa yang turun ke jalan melakukan aksi. Hal ini sudah menjadi tradisi ketika hari-hari besar atau ketika ada wacana-wacana kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Sebagaimana siang itu banyak mahasiswa yang turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi.

Sembari melangkahkan kaki menuju ke fly Over, orasi-orasi yang keluar dari corong megaphone terus dikobarkan, menuntun semangat mereka menuju ke fly Over, semangat mereka semakin berkobar, semakin terik matahari semakin perjuangan berapi-api, apalagi menyaksikan kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi di bawah fly over serta sebuah mini bus yang terkapar di tengah jalan—yang kemudian dijadikan sebagai podium mahasiswa dalam menghamburkan orasinya. Dan tepat di bawah fly over inilah, kelompok-kelompok mahasiswa dari berbagai organisasi dan kampus-kampus bersatu untuk semakin memasifkan pergerakan mereka. Sebagian melakukan aksi bakar-bakar ban, sebagian terus mengibarkan bendera dan meneriakkan yel-yel perlawanan. Dan ada pula yang membakar foto-foto pejabat negara yang terindikasi melakukan tindak pidana korupsi berikut me-milox di jalan dan tembok-embok jembatan nama-nama proyek yang tersangkut mega skandal korupsi yang sudah bertahun-tahun oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum diselesaikan.

Kelompok Azfar disambut meriah oleh kelompok mahasiswa lainnya yang sudah berada lebih dulu di bawah fly Over.  Si Koorlap langsung dipersilakan untuk mengambil podium. Harus diakui bahwa di antara kelompok Azfar, Si Koorlap itu adalah demonstran yang paling senior dan yang paling disegani karena ialah yang paling berpengalaman dan paling tajam orasi-orasinya.

Si Koorlap pun kembali menyemburkan kalimat-kalimat dahsyatnya lewat corong megaphone. Situasi semakin memanas. “Jika kata tak mampu menggugah. Diplomasi tak mampu mengubah. Maka pemberontakan adalah solusi kaum muda!” pekik Si Koorlap sampai bermuncratan air-air dari dalam mulutnya. Bukan hanya kelompok Azfar, semburan orasi Si Koorlap juga disambut antusias oleh semua massa aksi yang semakin banyak jumlahnya itu. Ia terus mengutip kalimat tokoh-tokoh untuk memainkan gelombang massa.

Tak ada lagi perbedaan ketika itu, antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain terlihat bersatu padu dalam barisan yang sama, yakni barisan perlawanan. Tidak ada lagi ego-ego antar organisasi dan antar fakultas. Semua bersatu dalam satu tujuan yang sama: “Ganyang koruptor. Tangkap koruptor. Bongkar skandal mega-proyek anu dan itu.”

“Baiklah, kawan-kawan. Berikutnya kita dengarkan orasi yang akan disampaikan oleh Bung Azfar dari Fakultas Teknik Bisulwa.” Momen itu akhirnya tiba juga. Si Koorlap memberi isyarat kepada Azfar untuk segera naik ke atas podium.

Dengan tegang dan degupan jantung yang berdebar kencang seperti genderang perang, Azfar melangkahkan kaki naik ke atas podium. Keyakinan yang kokoh mulai runtuh, ia mulai ragu apakah ia bisa sehebat dan segagah Si Koorlap—apalagi ia menyadari bahwa dirinya sama sekali belum pernah memegang megaphone untuk berorasi sebelum-sebelumnya. Ia bingung bagaimana cara memulainya. Semua hafalan dan latihan yang ia simulasikan di hadapan cermin dan di dalam kamar mandi hilang seketika. Rasa sesal mulai menghampirinya. Kalau tahu begini, saya tidak akan memberi kode kepada Si Koorlap agar memberi podium kepada saya, katanya dalam hati.

Semua mata seakan tertuju padanya, begitu pula mata-mata kamera awak media semua seolah-olah terpusat ke arahnya, tepat ke biji matanya. Barisan polisi bahkan bersiap-siap mengambil posisi mengantasipasi kalau-kalau orasi Azfar bisa menimbulkan hasutan yang bermuara kepada chaos dan tindakan vandalistik. Secara penampilan, Azfar mirip dengan Wiji Tukul, kurus berantakan, memakai jaket kusam dan lusuh, dan rambutnya sedikit gondrong tak disisir, mungkin itulah sebabnya polisi memberi kesigapan lebih dibanding orasi-orasi sebelumnya, takut kalau-kalau hasutannya menyerupai Wiji Tukul: kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan.

Langkah berat azfar disambut dengan yel-yel perlawanan dari mahasiswa yang semakin menggema menyerukan pemberantasan korupsi, kepulan asap yang semakin pekat melumuri jalanan turut mendramatisir langkah berat azfar ke atas podium. Selain itu, antrean panjang kendaraan yang tersandung macet turut pula menyaksikan langkah kaki sang orator baru itu.

Dengan tubuh gemetar ia mendaki mini bus menuju ke puncak podium, bersiap-siap mengukir sejarah baru, minimal untuk dirinya sendiri.

“Huuuuummmmmmm,” suara itu keluar dari corong megaphone yang dipegang Azfar. Intensitas dengungan itu semakin tinggi dan membuat gendang telinga siapa pun yang mendengarnya menjadi sakit.

Satu sama lain antar-massa aksi saling melirik bertanya-tanya dalam hati. Mungkin megaphone-nya rusak, pikir banyak orang. Sementara mata-mata kamera tak memalingkan arahnya, tetap saja tertuju pada sang orator baru itu, Azfar. Beberapa kali bunyi yang tidak enak itu terdengar lagi, hingga kemudian Si Koorlap mengambil kembali megaphone yang digenggam Azfar untuk mencoba memastikan apa ada masalah dengan megaphone tersebut. Tapi nyatanya tak ada yang bermasalah, di tangan Si Koorlap, suara megaphone tak mengeluarkan dengungan sebagaimana yang tadi dipegang oleh Azfar.

Setelah dipastikan sehat-sehat saja, megaphone itu diserahkan kembali ke tangan Azfar. Namun di tangan Azfar, dengungan itu terdengar lagi, bahkan lebih berdenging, “Huuuuuuuuuummmmmmmmmmm…” Suara itu terdengar berulang-ulang selama di tangan Azfar. Lirik-melirik penuh tanda tanya disertai dengan senyum-senyum tipis seakan mengolok semakin ramai sesama mahasiswa dan semua yang turut menyaksikan kejadian itu, termasuk para polisi yang tadinya tegang dan pedagang asongan yang menjajakan dagangannya di perempatan jalan. Sementara itu, para awak media tak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke atas podium (entah apa benar disorot kamera atau perasaan Azfar saja yang merasa disorot kamera?), tempat Azfar dan Si Koorlap berdiri. Menyaksikan kejadian itu, seorang mahasiswa dari barisan massa aksi yang sebelumnya dari kelompok lain menyodorkan megaphone-nya yang dianggapnya lebih baik daripada megaphone milik kelompok azfar, harap-harap suara aneh itu tidak terdengar lagi.

“Huuuuuuuuuummmmmmmmmmm…” tak ada perubahan, masih sama seperti semula, di tangan azfar, megaphone seakan tidak sehat, sementara di tangan Si Koorlap, megaphone-nya tidak ada kendala dan bermasalah sama sekali. Akhirnya semua bersepakat bahwa yang bermasalah bukan megaphonenya tetapi Azfar-lah yang bermasalah. Dengan langkah berat dan dengan kemaluan yang besar, maksudnya perasaan malu yang besar ia pun turun dari atas podium sambil berharap-harap peristiwa memalukan ini tidak dimuat dan disiarkan di televisi. Sebab sangat memalukan rasanya bila kejadian semacam ini disaksikan oleh seluruh penduduk negeri, apalagi kalau ditonton oleh teman-teman yang kuliah di kota lain.

Dan sesaat setelah turun dari podium, kalimat “ketika penindasan terjadi di mana-mana, ketika virus-virus korupsi mewabah di mana-mana, ketika pejabat negara bertindak semena-mena, dan ketika hukum berpihak kepada uang dan penguasa maka hanya ada satu kata: LAWAN!” yang tadi menghilang dan tak bisa diingat sekejap muncul kembali di dalam memori Azfar tanpa satu huruf pun yang luput dari ingatan.[]

Dahlan, lahir di Buton, Sulawesi Tenggara. Alumni Universitas Bosowa, Makassar. Pegiat literasi, suka membaca dan menulis.

Lara Tagore

 

“Perjalanan demi perjalanan dari mati ke mati. Kau lambaikan isyarat pada peziarah kebebasan.”

DAN KINI dalam kesendiriannya yang tidak sepenuhnya sendiri karena ditemani Lara Fabian dan nocturno, ia terus berjalan. Dalam hatinya ia berkata, aku harus tetap melanjutkan hidup.

Je t’aime! Tagore terus berjalan dan berjalan. Dengan tongkat kayu di tangan kanannya dan remah roti di tangan kirinya. Tagore harus berjalan, ujarnya dalam hati.

Nocturno menguat pada diri di luarnya–maupun di dalam dirinya. Tagore baru sadar, duka membuat pikiran seseorang lebih terbuka. Dan pada perenungan yang dalam, ia menemukan banyak hal di dalam dirinya–pun pada diri manusia pada umumnya, bahwa pada setiap diri terdiri dari banyak diri. Bahwa di setiap aku terkandung banyak-banyak aku. Dan pengambilan kebijakan terbaik ialah kebijakan yang dimusyawarahkan dan dirumuskan oleh, dan melibatkan, semua elemen aku (yang) di dalam diri.

Tagore terus berjalan sambil menggumam dengan bahasa yang manusia umumnya tak mengerti, dan sesekali bersiul melantunkan nada yang mungkin akan sangat asing di telinga manusia pada umumnya.

“Kejujuran itu ada dalam hati dan hanya bisa dimengerti oleh hati. Jika ia diterjemahkan dalam bahasa kata-kata maka ia akan sukar dipahami secara leksikal, maupun literal,” begitu Tagore berkata keras-keras pada dirinya. Tak peduli malam mendengarnya; tak peduli hewan jalanan mendengarnya.

Kemudian terdengar di belakangnya gerak kaki berjejak mengikutinya, tapi suaranya aneh. Ritme langkahnya tak seperti manusia pada umunya, tak pula seperti hewan pada umumnya. Ya, batinnya, pada kenyataan hidup perorangan, segalanya adalah khusus; tak ada yang bisa diumumkan!

“Aku binatang jalang. Aku binatang jalang. Aku binatang jalan.” Suara itu seperti membisik di belakangnya, terdengar sayup-sayup dan penuh desah. “Dari kumpulannya yang terbuang. Dari kumpulannya yang terbuang. Dari kumpulannya yang terbuang.” Tagore seperti sangat familiar dengan kata-kata itu dan sejurus kemudian ingatannya tertuju pada Chairil Anwar, kawan imajinernya. “Ya, Charil!” panggilnya setelah berhasil mengingat pemilik mantra tersebut, sambil menoleh ke belakang dan mencari-cari sosoknya. “Charil, di mana kau? Itu Chairil atau hanya suara usil? Chairil! Jawab aku!”

Tapi tak terdengar jawaban. Lamat-lamat suara itu makin menguat. Makin lama makin menguat. Semakin keras terdengar, semakin deras tersiar.

“Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari. Hingga hilang pedih perih.” Dan kata-kata itu terulang-ulang terus di telinga Tagore. Iapun ketakutan dan berlari, berlari … dengan maksud menghilangkan pedih perih.

Tagore kini berlari. Ia berlari sekencang-kencangnya, menabrak kegelapan, memecah ketakutan, memasuki hutan dan kebon belakang, tapi hutan dan kebon belakang perlahan perlahan-lahan lahan-lahan perlahanan meniada. “Hutan sedang menuju ketiadaannya,” kata Tagore sembari tetap berlari. “Dan kehancuran tinggal menunggu kesempurnaannya,” lanjutnya sambil semakin berlari.

Tagore lebih berlari, dan semakin berlari. Tak peduli apa yang di hadapannya. Dan tiba-tiba, Broken Vow! Ia terjatuh dalam jurang Lara Fabian, yakni jurang dirinya sendiri. Dari dalam jurang itu, terdengar suara wanita bersenandung:

I’ll let you go

I’ll let you fly

Why do I keep asking why

I’ll let you go

Now that I found

A way to keep somehow

More than a broken vow

Tell me the words I never said

Show me the tears you never shed

Give me the touch

That one you promised to be mine

Or has it vanished for all time

 

I close my eyes

And dream of you and I

And then I realize

There’s more to life than only bitterness and lies

I close my eyes

I’d give away my soul

To hold you once again

And never let this promise end.

 

Wasya, Ah, Wasya

Oleh WS Rendra

WASYA, yang baik!

Sekarang saya menulis surat lagi padamu. Mudah-mudahan kau tidak melupakan aku, seperti aku juga tidak melupakan kau.

Saya telah merasa beruntung bisa mengenalmu, dan meskipun kita hanya berteman selama beberapa hari, tapi persahabatan kita sangat mengesankan di hatiku.

Pada suatu hari ketika aku naik kereta api Trans Siberia, dari Optur menuju Moskwa, saya merasa tidak enak badan, sedikit jatuh sakit. Ketika dokter bertanya, bagian apakah dari badan saya yang terasa sakit, saya menjawab bahwa semua terasa sakit. Dokter memeriksa sekujur badanku, dan mengangkat bahunya. Dokter itu dokter Irina. Kau tahu dia sangat pandai dan banyak pengalamannya. Tapi dia merasa kesal terhadapku. Saya tak mau membantunya. Sebagai pasien, saya bersikap non kooperatip. Saya Cuma senang kalau tangannya yang halus itu memeriksa tubuhku, tapi saya tak suka menelan obat-obat yang diberikan olehnya, dan tak suka pula menceritakan perubahan-perubahanyang telah terjadi pada diriku. Sementara itu kotoran saya buruk. Apabila kereta api berhenti di kota-kota besar seperti Novobirsk atau Irkutsk, berlompatlah tiga empat orang dokter yang lain ke atas kereta api untuk memeriksa saya dan mementukan apa penyakitku.

Bermacam-macamlah yang dilakukan mereka terhadapku. Memeriksa telapuk mata, lidah, memompa perut, dan lain sebagainya. Dan selalu mereka mengangkat bahu mereka. Sebenarnya waktu mereka tengah membalik-balik badanku itu, saya merasa sehat tak kekurangan sesuatu apa. Saya hanya merasa luruh dan lesu. Dan saya senang melihat orang melakukan kesibukan-kesibukan yang lucu.

Pada permulaan saya berada di gerbong orang sakit itu, tengah saya terlentang dengan lesu yang bukan disebabkan oleh sakit  tapi oleh sesuatu yang waktu itu kurang kusadari, datanglah seorang pelayan dari gerbong restoran mengantar makanan. Orang itu gagah dan berwajah bersih. Sebelum masuk, orang itu mengetuk tiga kali dengan penuh irama yang bergaya. Ketika saya persilakan masuk, pintu dibuka, dan muncullah wajah yang bersih dengan senyumnya. Orang itu melangkah maju dengan penuh gaya, sambil memegang talam berisi makanan di tangannya dengan cara yang manis. Kemudian orang itu berkata dalam bahasa Indonesia:

“Rendra makam.”

“Makan,” kata saya membetulkan.

“Ah yes, makan.”

“Terima kasih.”

And also—er—selamat pagi.”

“Selamat pagi.”

I am sorry, selamat pagi.”

What is your name?tanya saya.

“Wasya.”

Itulah perkenalan saya pertama dengan kau. Kunjungan-kunjunganmu sangat mengesan dan setiap kali saya menanti saat makan sama gairahanya dengan menanti kedatanganmu. Selama saya sakit tentu saja senantiasa berwajah murung, tetapi selalu kau berusaha menghibur saya, dan selamanya kau berhasil. Kesukaran satu-satunya dalam pergaulan kita ialah bahasa. Kau tahu bahasa Indonesia tak lebih dari tujuh patah kata, sedang bahasa Inggrismu juga hanya tahu kata-kata teguran atau beberapa kata untuk bersapa saja. Untung selama di Tiongkok saya sudah mulai belajar bahasa Rusia. Bahasa Rusiaku patah-patah, kacau, dan bersifat nekat-nekatan. Tapi toh bisa saya pergunakan untuk melahirkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaanku, meskipun juga terbatas. Jadi selama itu kita pun menggunakan bahasa Rusia.

Dengan patah-patah saya bisa menangkap keteranganmu bahwa kau mengaku, kau seorang penari ballet dulunya. Saya tak percaya di dalam hati, tapi kau saya biarkan, sebab saya tahu bahwa kau cuma bermaksud untuk menghiburku. Kemudian kau mendongeng banyak tentang Bolshoi Theater.

Apabila kau tak berada di sampingku, saya merasa sepi. Tiga buah novel (Ivan) Turgenev sudah selesai kubaca. Akan membaca yang lain sudah merasa malas. Biasanya lalu memandang ke luar jendela sambil mendengarkan bunyi roda kereta api membuat irama di atas rel. Di luar bisa saya lihat padang-padang yang luas dengan bunga-bunga liar yang bersebaran. Kadang-kadang pula hutan-hutan yang lebat dengan lumut-lumut yang indah. Tetapi saya tak kuat memandang semuanya itu sebab pikiran saya lalu melayang, dan pasti lalu rindu. Kalau rindu saya pada tanah air sudah sedemikian kuatnya, biasanya saya lalu bertambah murung dan kesal.

Pada suatu hari kau membawakan makanan yang kurang banyak dari biasanya, saya lalu marah-marah. Kau menerangkan bahwa itu semua perintah dari dokter. Dokter mengatakan bahwa perut saya harus dijaga. Saya mengatakan bahwa dokter itu hanya beromong-kosong saja. Perutku cukup sehat dan ia tak tahu apa-apa tentang perut saya itu. Dan saya lalu menepuki perut saya.

“Yang sakit bukan yang luar, tapi yang dalam. Percayalah, dokter lebih mengetahui,” demikian kau menerangkan pada saya dalam bahasa Rusia yang jelas dan pelan.

“Rendra tidak sakit—sehat—harus makan banyak—kalau makan sedikit, sakit,” kataku dalam bahasa Rusia yang patah-patah.

“Wasya hanya menurut perintah dokter. Apalagi karena Wasya ingin melihat Rendra lekas sembuh dari sakitnya.”

“Rendra sudah sembuh—dokter itu sakit—Rendra makan banyak—harus.”

“Rendra, ah, Rendra. Rendra sangat marah, tetapi keliru, sekarang Wasya bersedih hati,”—katamu dengan melipat kedua lenganmu ke dada, serta menggeleng-gelengkan kepala.

Wasya,

Sebenarnya saat itu saya memang sedang suka tergoda untuk marah-marah. Penyakit saya sebenarnya ialah kesal dan marah. Objeknya ialah keadaan. Saya tahu bahwa orang yang suka memberengsek terhadap keadaan ialah orang yang lemah semangat. Ia tak bisa menguasai dirinya dan keadaan kelilingnya. Nyatanya memang demikianlah keadaanku waktu itu. Kekesalan saya itu terutama karena saya kecewa terhadap diri saya sendiri. Pada suatu kali ketika seorang mahasiswa dari Australia yang menjadi teman seperjalanan kami menanyakan kepada saya siapakah menteri keuangan Indonesia? Saya tak bisa menjawabnya.

Saya masih mentah waktu itu, dan saya tak suka baca koran. Saya hanya memunyai satu dunia yang terpencil saja, yaitu dunia kesusasteraan dan kesenian. Di luar dunia itu saya menjadi linglung dan kaku, bahkan boleh dikatakan seorang yang tak berguna. Dan juga ketika para teman-teman berdiskusi tentang masalah Aljazair, saya tak tahu masalah apakah itu sebenarnya. Belakangan baru saya tahu bahwa Aljazair itu tanah jajahan Perancis. Dan juga waktu itu  saya tak tahu siapakah Bulganin atau Khruscov. Akhirnya beberapa teman menjadi kesal karena ketololanku itu, sehingga salah seorang bertanya kepada saya:

“Lalu apakah saja yang kau ketaui?”

“Bukankah saya tahu siapa Dante, siapa Mozart, dan juga siapa Stanislavsky?”

Sejak itu saya merasa jadi terasing dari teman-teman. Saya merasa kesal dan lalu timbullah tempramen yang buruk pada saya. Sejak itulah saya merasa ingin sakit saja. Dengan mudah keinginan itu terlaksana.

Dan sementara “sakit” saya itu, kaulah merupakan obat yang mujarab bagi saya. saya tahu bahwa ada beberapa polisi keamanan rahasia di dalam kereta api itu, saya tahu pula ada beberapa komisaris polisi yang selalu saya ganggu, tetapi kau saya anggap tidak masuk golongan mereka. Kau saya anggap orang yang “murni” dan datang menghibur saya secara spontan, karena memang telah menjadi karaktermu untuk bertingkah begitu. Kau telah membantu meriangkan hati saya, dan dengan demikian menaikkan semangat saya. Serta akhirnya membantu memberi ketenangan pada jiwa saya. Demikianlah dengan pelan-pelan saya bisa mencapai kesabaran dan ketenangan lagi. Akhirnya saya bisa meninjau kembali segala masalah dengan objektif. Saya menimbang-nimbannya dan mempelajarinya. Saya mendapat kesempatan untuk merenung dengan penuh istirahat dan kenikmatan. Kemudian saya bisa menentukan langkah-langkah apa yang akan saya ambil selanjutnya. Semuanya ini sangat berarti bagiku. Untuk itu saya sangat berterima kasih padamu.

Dengan jelas masih kuingat cara-caramu melucu. Pada suatu hari kau berkata:

“Rendra, sebenarnya kulitmu dulu putih juga seperti saya.”

Saya memandangmu dengan mata bertanya. Tapi dengan tersenyum segera kau melanjutkan:

“Tentu saja. Kemarin kau telah bercerita bagaimana keadaan tanah airmu, kepulauan Indonesia itu. Sekarang saya berpikir begini. Pada mulanya ketika kau masih baby kau berkulit putih juga seperti bayi-bayi Eropa yang lain, kemudian setelah kau besar kau menjadi nakal. Kau suka berlari-lari di sepanjang pantai, memanjat pohon-pohon kelapa dan mandi-mandi di laut. Nah, waktu itu matahari yang bersinar sepanjang tahun di tanah airmu itu mulai membakar kulitmu. Dengan demikian dari hari ke hari kulitmu berubah menjadi coklat.”

Saya tertawa dan berkata menjawabmu:

“Kulit Rendra masak. Kulit Wasya tidak.”

Teringat pula oleh saya bagaimana kau mengajar saya kata-kata benda dalam bahasa Rusia. Kau menunjuk lada dan menyebut namanya dalam bahasa Rusia. Seperti seorang bapak kau mengajar saya:

“Itu pohon—itu beruang—itu perahu—itu penjaga hutan—itu radar—itu telegrap—itu bulan—bulan itu bagus—bulan itu tersenyum kepada Rendra—dan bulan itu berkata, ‘Selamat malam, selamat tidur,’—sekarang Rendra harus tidur—Rendra harus sehat, supaya tiap orang senang karenanya. Dan ibu Rendra juga pasti ikut gembira.”

Wasya,

Saya ingin membuat cerita yang bagus tentang kau, tetapi saya tidak bisa. Saya harap saya cukup dalam melahirkan terima kasih saya dengan surat ini. Saya tahu bahwa saya bukannya orang yang kau istimewakan, artinya kau berbuat demikian tidak hanya kepada saya saja. Maka saya pun yakin mereka, orang (lain), yang telah kau perlakukan seperti ketika kau memperlakukan saya akan berterima kasih pula padamu. []

BUIH

307610_4970650621504_1167777620_n

sumber gambar: www.jajalove.com

Aku hidup di tengah arus deras program keseragaman. Segalanya harus sama dan seragam. Jika berbeda maka aku dibenci dan dimusuhi. Tapi di dalam arus deras keseragaman terjadi kontradiksi-kontradiksi kecil yang mengakibatkan setiap obyek-obyek yang diseragamkan menjadi subyek yang menolak diseragamkan, seperti aku salah satunya. Maka kami pun—secara naluriah—menciptakan satu gerakan baru: gerakan anti-keseragaman. Dan perlahan perlahan-lahan tapi pasti, gerakan anti-keseragaman yang kami ciptakan menjadi besar hingga bercorak aneka, beraneka corak, beragam-ragam hingga tak terhitung ragamnya. Beragam ragam-ragam, beragam sekali.

Tapi perlahan perlahan-lahan arus keseragaman kembali bergelombang menerjang menghantam istana-istana anti-keseragaman. Luluh dan lantaklah istana tersebut disapu ganasnya keseragaman. Tapi bukan berarti kami hilang. Tak! Kami tak hilang. Kami tak mati. Kami hancur bercerai berai terelai-relai tetapi tak mati tak habis tak hilang. Kami menjadi entitas-entitas kecil seperti buih di lautan keseragaman.

Kami masih ada, tapi dalam hegemoni keseragaman.

“Kau buih, tapi kau adalah satu kesatuan dengan lautan,” kata karang.

“Tidak! Aku adalah kumpulannya yang terbuang,” kata Chairil, eh bukan, maksudnya kataku.

“Tidak! Kau adalah anak lautan. Kau adalah bagian dari keseragaman,” tegas karang.

“Tidak! Aku adalah anak yang tak diingini dan tak diharapkan untuk ada!” aku lebih tegas.

“Dasar!”

“Aku tak berdasar. Aku tak di dasar. Aku di permukaan.”

***

Aku hidup di tengah arus deras program keseragaman tapi menolak untuk diseragamkan. Aku kini menjadi buih lautan. Terhempas ke sana kemari. Menjalani hidup sesuai kehendak sang penguasa: lautan.

Aku yang paling duluan masuk ke dalam mulut makhluk hidup dan sekaligus yang paling duluan keluar dari mulut makhluk hidup. Ada kalanya aku menguap ke udara dan menetas menjadi bui di darat. Di darat aku bukan buih tapi bui. Aku membui raga maupun rasa manusia. Aku membui manusia secara fisikal, maupun mental, terkecuali kepada anak-anak. Kepada setiap anak-anak aku menjadi ibu, bukan lagi bui. Aku adalah kelembutan yang paling cinta. Aku paling doa.  “Anakku, kau segalanya.”

Tapi aku tetaplah buih. Menjadi apapun tetaplah kembali pada buih dan menjadi buih. Aku tetap buih meski tak menetap. Aku tetap buih meski tak beratap.

***

“Bosan saya, hidup dalam keseragaman,” ujar Khaves

“Iya, aku juga,” serga Stefes.

“Selow. Revolusi pasti terjadi,” nimbrung Gowes.

Suasana kemudian hening. Malam ini bulan hampir tak kelihatan. Gelap pekat. Laut teduh tanpa ikan yang saling berburu. Sejurus kemudian Gowes memecah keheningan, “Aha, aku ada ide,” sambil memukulkan dirinya pada kami, buih-buih yang lain. “Kita harus bersatu meruntuhkan hegemoni lautan. Kita kaum buih sesamudera harus bersatu menjadi lautan baru. Lautan tanpa keseragaman dan tak bisa diseragamkan.”

“Iya, cerdas, ide yang brilian, Wes. Saya sepakat!” serga Stefes.

“Iya, iya, iya … sepakat!” seru yang lain.

“Bersatu!” pekik Gowes.

“Sabar. Tenang dulu kawan-kawan. Emangnya bisa, lautan diruntuhkan?” tanya Khaves.

“Maksudnya bukan runtuh secara denotatif, tetapi konotatif. Iya kan, Wes?” Stefes menengahi.

“I, i, iya begitu maskudnya, eh maksudnya,” aku Gowes.

“Baiklah. Ayo kita bersatu!”

***

Kini antar lautan saling menghantam. Padahal sesama umat lautan—tetapi mereka saling menerjang. Dan sialnya, buih-buih itu tetap ada. Selalu saja ada gelombang-gelombang dari kelompok lautan baru, dan selalu muncul buih-buih baru dari hasil peperangannya. Entah apa kata yang tepat, peperangan, pertempuran, atau pembantaian—tak bisa lagi dibedakan. Intinya: selalu terjadi perpecahan seusai perbenturan.

Buih-buih adalah anak lautan. Ia diseragamkan menjadi bagian dari lautan. Ia cerminan dari lautan. Pola sikap dan lakunya adalah berdasarkan kehendak dari lautan. Sehingga selalu kaum buih merasa diperlakukan tidak manusiawi (lah kan bukan manusia?), maksudnya tidak buihwi. Mereka tidak bisa menjadi diri sendiri. Maka selalu ada hasrat pemberontakan dalam diri kaum buih—hingga pada kulminasinya, pemberontakan pun dilakukan. Tetapi setelah pemberontakan dilakukan, semuanya kembali seperti sedia kala: kaum buih menjadi gelombang lautan baru, berkuasa, dan menghasilkan buih-buih baru. Dan seterusnya terjadi seperti itu.

***

Aku hidup dalam derasnya arus keseragaman. Aku dan lainnya di lautan ini menjadi seragam: basah dan hampir mati tenggelam karena kelelahan bertahan tanpa pegangan. Kami hidup di laut tapi kami bukan hewan atau makhluk laut. Kami di tengah lautan tapi kami bukan lautan. Tapi kami dilautkan. Dimautkan.

Maka kami menjadi seragam. Dan setidak-seragam-apapun kami. Kami tetap bagian dari keseragaman. Dan sebentar lagi, perlahan perlahan-lahan kami akan mati—dan menjadi buih di laut. tetapi satu yang pasti: setiap ibu takkan pernah membui.

Juanda, Jakarta Pusat, 07 Juli 2015

Enam Kalender

66

ENAM kalender yang lalu, satu hari menjelang puasa, di malam tarawih pertama, seperti malam ini, kita—untuk pertama kali—berjamaah bersama, tetapi bukan di rumah peribadatan, melainkan di ranjang, di rumah temanku, dalam kegelapan, jauh dari pantauan orang, kau pecah perawan!

Di saat umat muslim berbondong-bondong ke masjid, kau kubopong ke dalam jerit dan sakit. Setelah sebulan berpisah karena liburan ke luar kota: aku ke Jakarta, kau ke Jogjakarta. Rindu panggil pulang, tubuh saling merangsang, peluh dan peju mengalir di ranjang. Cape, tapi nikmat.

“Aku takut. Jangan tinggalin aku, yah!”

“Iya, sayang, tenang aja, apa pun yang terjadi, aku kan selalu di sampingmu. Aku akan bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi … tenang aja, sayang,” tuturku lembut di ubun-ubun kepalamu yang berbantal di lenganku. (Gaya retoris khas buaya darat dalam membungkus kepicikannya.)

Aku sedang mengenangmu, Jihan, meski yang kuat terbayang adalah gelombang dosa yang kita ciptakan malam itu, malam yang menjadi pintu pembuka bagi dosa-dosa selanjutnya. Setelah enam kalender berlalu, kau kini beranak dua. (Suamimu itu suami kedua setelah sebelumnya gagal dengan suamimu yang pertama, yah?)

Dulu kita menikmati dosa, kini aku belajar menghikmati kisah.

Dulu, kau kuanggap sebagai korban—bagian dari kebuasan kelaminku: setelah perawan kudapatkan, kau (kalian) kucampakkan! Tapi kini … entah kenapa, dari seabreg perempuan yang pernah kukencani, hanya kau yang paling mengenang. Oh, mengenangmu adalah kebangkitan perasaan. Mengorbanimu adalah kesalahan yang mengobarkan.

“Ren, kamu lagi ngapain? Gimana kerjaannya? Sudah selesai belum, gambar yang diminta?” suara Ibu (bos kantor) mengagetkanku—mengganggu kekhusyukanku dalam mengenangmu, sontak kuhentikan kegiatan menulis sejenak dan langsung menutup buku tulis kecil ini dengan setengah malu.

Hehe … iya, Bu, nih, sedikit lagi. Nanti saya ke ruang Ibu aja! (Dalam hatiku berkata: mengganggu!)

Jihan, tadi sampai mana? Oh, Jihan! Enam kalender telah berlalu, dan kau! Kau masih terpatri di benakku tanpa malu! (Setelah dipikir-pikir, ingatan tentangmu yang begitu kuat ini mungkin hanya karena kebetulan hari ini—satu hari menjelang (Ramadan) puasa hari pertama saja, sih, ya? Momen yang monumental bagi kita berdua—terjadi enam tahun yang lalu.

Jihan, sungguh aku mengaku salah padamu. Sejujurnya aku tahu bahwa ketidak-lupaanku padamu ini adalah karena gunungan kesalahan dan kebiadaban yang dulu kulakukan padamu, dan aku tahu kau tak pernah memaafkanku. Dan itu terkadang sungguh menghantuiku. (Aku memang sering dihantui kesalahan yang betul-betul kusadari.)

Bagaimana caranya agar aku bisa menebus semua kesalahanku padamu? Tapi tunggu dulu, bukankah dosa dan segala kealpaan adalah hasil ciptaan kita bersama? Kan, kau sendiri yang mau bertahan denganku meski berada dalam berbagai situati dan kondisi yang rumit dan membingungkan—situasi di mana kau memang diharuskan untuk keluar dari lingkaran kegilaanku. Bukan kegilaanku tetapi tepatnya: kebajingananku!

Jihan, seandainya bisa, aku ingin kembali memperbaiki semuanya denganmu, menebus semua kesalahanku padamu dan merawat cinta yang kau wakafkan untukku. (Wakafkan? Memang itu dulu, tapi entah sekarang statusnya apa, mungkin saja telah kau batalkan dan menjual—kemudian dibeli—oleh orang lain. Mengingat arus globalisasi dan industrialisasi yang terlalu deras menenggelamkan kehidupan umat manusia.)

Jihan, aku masih Haren, masih Haren seperti yang dulu, sebagai nelayan di lautan dosa. Menikmati—dan menghikmatinya hingga samudera mengering, hingga malaikat maut datang menggiring.

Enam kalender yang lalu, kau berusia 14 tahun dengan wajah teduh dan berjuta keriangan. Kini, kau berusia 20 tahun dengan dua anak dan satu suami berjalan bergandengan. (Aku membayangkan kalian bergandengan, tetapi tidak selaras dan harmonis.)

Tapi Jihan, kau terlalu muda untuk menanggung kepelikan hidup. Apalagi aku dengar dari Fitri temanmu, ekonomi keluargamu sangat timpang, suamimu suka mabuk-mabukan dan tak punya pekerjaan tetap. (Kenapa kamu mau menikah dengannya?) Oh, ya, masih kudengar dari Fitri, katanya si Cinta anakmu yang pertama wajahnya mirip aku? Apa jangan-jangan dia bagian dari darah dagingku. Toh, jarak perpisahan kita dengan kelangsungan pernikahanmu tidak terpaut jauh, bukan? Aku penasaran ingin bertemu dan melihat Cinta.

Jihan, bersyukurlah kau, lewat ingatan kuhidupkan, lewat tulisan kuabadikan. Apalagi aku menulis ini di tengah kesibukan kerja. Di tengah teror Ibu Bos agar segera menuntaskan tugas kerja.

“Ren! Sudah selesai belum kerjaannya?” pekik Ibu dari dalam ruangannya.

Ibu bos akhir-akhir ini agak sensitif. Suka marah-marah. Mungkin karena bawaannya yang lagi hamil. (Tapi semoga anak yang dikandung Ibu bukan hasil dari persetubuhannya denganku.)

“Iya, Bu, tar! Ini udah mau kelar.”

“Buruan! Hari ini deadline penyerahan gambar kerjanya, loh. Harus segera dikirim. Sudah mau malam, nih. Emang kamu gak mau buru-buru pulang biar bisa tarawihan?” cecar Ibu.

“Iya, iya, Bu! Saya kirim!” jawabku seadanya–biar lancar.

Jihan, aku harus menyelesaikan pekerjaanku. (Tapi bukankah mengenangmu juga bagian dari pekerjaan?)

Bye!

Entropi Demokrasi

entropy

Berikut adalah cerpen tentang demokrasi karya Fandy Hermanto yang saya sadur kembali tanpa mengubah substansi ceritanya. Singkat kata: silakan menikmati….

Si Ulin, Ki Sanak, dan Cak Usro kembali bertemu di sebuah warung kopi…

Cak Usro: “Seperti kata hukum termodinamika II, bisakah kita katakan bahwa keteraturan demokrasi, sejurus anak panah waktu, semakin kemari semakin tinggi tingkat kekacauannya, non-linier, dan bergerak acak? Menambal ketidakteraturan di satu tempat akan mengambil energi di tempat lain. Wajah demokrasi mulai teratur, namun tidak dengan kejujuran? Kebebasan pers makin teratur, tidak dengan independensi dan kualitas? Semacam entropi demokrasi.”

Si Ulin: “Keteraturan hanya bersifat prosedural, tidak diimbangi peningkatan kualitas secara substansial, karena dimensi insititusi demokrasinya juga rendah kualitasnya, khususnya soal rule of law.”

Cak Usro: “Demokratisasi berarti suatu proses, gerak dinamik. Gerak kita menuju keteraturan di satu sisi, hanya akan membuat ketidakteraturan di sisi lain, misalnya cost yang tinggi, atau contoh lain, perampingan kabinet akan menggusur sebagian pegawai negeri sipil, dll. Keteraturan instalasi organ/perangkat demokrasi –saya sebut hardwarenya demokrasi saja– diperlukan sumber daya/software yang bisa mengoperasikan perangkat tersebut. Software seperti leadershipgood governance, semangat kebangsaan, dll, sesuatu yang mahal saat ini. Dan saya setuju kalau demokrasi yang kokoh perangkatnya tapi tak dioperasikan sesuai ‘manual book’-nya, rule of law, itu demokrasi yang rendah kualitasnya.”

Si Ulin: “Demokrasi memang mahal harganya, misalnya untuk elektoral (prosedural). Tetapi, tesis Cak Ulin bahwa gerak kita menuju keteraturan di satu sisi, hanya akan membuat ketidakteraturan di sisi lain, dengan contoh untuk cost yang tinggi itu teori siapa, Cak? Kalau bisa mempengaruhi memang iya, tapi pernyataan soal akan membuat ketidakteraturan apakah sudah valid? Kalo iya, sampai sejauh mana ketidakteraturan tersebut?”

Cak Usro: “Sebetulnya tidak ada yang membahas hal ini. Saya tidak berangkat dari teori mana pun. Saya hanya mencoba menerjemahkan hukum kedua termodinamika, ‘Sistem yang teratur akan menjadi tidak stabil dan berkurang keteraturannya sejalan dengan waktu,’ ke dalam konteks sistem demokrasi. Jumlah entropi (tingkat ketidakteraturan) semakin meningkat sejurus waktu. Jika dibiarkan begitu saja (spontan), alam semesta ini memang bergerak menuju ketidakteraturan, itu hukumnya. Artinya, segala keteraturan yang kita buat tidak akan membuat entropi menjadi 0, akan tetapi hanya memindahkan entropi. Ini hanya perenungan mencoba menerapkan hukum-hukum alam tertentu pada konteks kita sehari-hari, bisa tepat bisa kurang tepat, terbuka saja untuk diskusi kita tho?”

Ki Sanak: “Jika implementasi hukum termodinamis II adalah mesin kalor, maka dalam demokrasi itu sendiri mesin kalornya mungkin DPR yang mengubah energi panas dalam bentuk aspirasi, menjadi energi mekanik dalam bentuk kebijakan. Di sini ada sebuah siklus yang berjalan linier. Jadi tak bisa DPR memberi aspirasi ke rakyat, dan rakyat yang buat kebijakan. Kalau begitu mah jadinya social action… he..he… Lalu soal total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi cenderung untuk meningkat seiring dengan meningkatnya waktu mendekati nilai maksimumnya, maka kekacauan justru malah terjadi jika aspirasi diserap dan langsung dibuat jadi kebijakan. Nah, demokrasi yang bagus kok malah jadi bikin chaos ya? Menurut Cak ulin gimana?”

Cak Ulin: “Demokrasi model sekarang khan sebetulnya penyederhanaan suara rakyat menjadi parlemen, eksekutif dan yudikatif. Yang betul-betul transformasi suara rakyat khan parlemen (DPR) dan eksekutif (presiden, termasuk kepala daerah). Khusus untuk parlemen (DPR/DPRD), aspirasi yang berupa energi potensial rakyat mustinya jatuh menjadi energi mekanik berupa kebijakan secara linier. Jika energi potensialnya tidak pernah berubah menjadi energi mekanik melalui mesin ini, ya bisa jadi energi potensial rakyat itu mencari mesin lain. Kalau Ki Sanak menyebutnya social action, kalangan lain mungkin menyebutnya gerakan ekstra-parlementer, atau parlemen jalanan. Terkait dengan jumlah entropi, kalau hal itu berupa hukum tentu sulit bagi kita untuk menguji lagi pada kondisi-kondisi lain, karena hukum dan teori (teori apa saja, termasuk teori politik) jelas berbeda tingkat keterterimaannya. teori justru mesti diuji tho? Masalah yang masih saya cari adalah apakah hukum alam ini bisa diterapkan pada konteks sistem demokrasi, demokrasi di mana melibatkan hubungan antar-manusia, dan hubungan antar-perangkat keras demokrasi?”

Ki Sanak: “Aku rasa bisa Cak, karena toh demokrasi juga bagian dari fenomena jagat ini… he..he… cuma keberlakuannya berada di level kerangka pikir manusia dan hidup dalam sistem sosial, bukan sistem organik. Ibarat sel-sel dalam tubuh kita juga ada mekanisme termodinamis di dalamnya. Lalu soal gerakan ekstra-parlementer, atau parlemen jalanan itu tadi, menurut Cak usro karena siklusnya berusaha dibalik, atau karena keterandalan si mesin kalor (parlemen dan eksekutif) sudah sampai titik maksimum dalam bekerja?”

Cak Usro: “Hmmmm….”

Ki Sanak: “Menyambung Si Ulin… ‘sejauh mana ketidakteraturan tersebut’, mungkin logikanya bisa dibalik menjadi ‘faktor apa yang bikin ketidakteraturan itu bakal muncul dan terus meningkat’. Nah, ini aku jadi ingat prinsip mesin kalor pada mobil/motor… jika pedal gas terus ditekan logikanya mesin harus makin kencang, namun tetap ada batas ketika mesin kalor akan menghasilkan energi mekanik. Ketika mesin udah gerung-gerung namun kecepatan tidak bertambah, berarti entropi itu sudah dimulai dan meningkat. Jika malah gas terus dibuka, dan bensin terus berkucur deras, maka bukan jadi makin kencang tapi mesin jebol. Nah, kekacauan mutlak khan? Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain: thermal efficiency, momentum putar, torsi, dan lainnya—yang dalam demokrasi mungkin bisa dianalogikan: prasarana aspirasi, konsistensi penegakan hukum, dan keterandalan kebijakan yang dihasilkan dalam sistem sosial masyarakat. Mesin kalor khan juga penyederhanaan dari fenomena termodinamis di jagat raya… soo, sama kayak demokrasi parlemen,”

Si Ulin: “Sah-sah saja kalian menganalogikan teori termodinamika yang cukup rumit dalam konteks demokrasi… tapi pernyataan pertamaku yang ringkas berdasarkan penelitian, kajian beberapa lembaga dan individu (independen) dalam melihat kondisi demokrasi di Indonesia pasca reformasi.”

Cak Usro: “Betul, Ulin, hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa ‘keteraturan hanya bersifat prosedural, tidak diimbangi peningkatan kualitas secara substansial, karena dimensi insititusi demokrasinya juga rendah kualitasnya, khususnya soal rule of law’ memang bentuk paradoks di negara kita, tugas kita membuat keteraturan yang entropinya mendekati 0… hehe….”

Ki Sanak: “Sik, sik aku baca dulu kesimpulannya… keteraturan hanya bersifat prosedural, tidak diimbangi peningkatan kualitas secara substansial, karena dimensi insititusi demokrasinya juga rendah kualitasnya khususnya soal rule of law… Nah, see… hukum fisika pun berlaku di sini… prosedur adalah alur kerja dari si mesin kalor, kualitas substansial adalah thermal efficiency-nya, lalu rule of law adalah konsistensi momentum putar yg dihasilkan, ini hukum kesetimbangan beban.”

Cak Usro: “ Ki Sanak ini tadinya montir ya… hehe….”

Ki Sanak: “Haha…. ketahuan deh… montir khan juga boleh belajar soal demokrasi, Cak… hehehe….”

Cak Usro: “Jadi, kesimpulan awal kita apa nih, Ki Sanak, Ulin? Pertama, hukum alam kemungkinan besar bisa diterapkan dalam sistem demokrasi selama sistem tersebut berada di jagat raya ini?! Setuju? Kedua, Hasil penelitian kawan-kawan NGO atau lembaga penelitian lain tetap bisa dianalogikan dengan hukum-hukum fisika, setuju?”

Ki Sanak: “Setuju sekali akan dua poin itu… terutama untuk aku yang baru bisa memahami fenomena sosial, dari bercermin pada fenomena alam,”

Palu digedok “dok dok”…. 🙂