Sang Orator Baru

toaa

JUMAT, 9 Desember 2011. Siang itu sang surya begitu perkasa menancapkan sinarnya di bumi kota Makassar, bisa sengatannya bisa membuat kulit manusia berubah menjadi gosong, atau kemerah-merahan seperti udang yang dipanggang di perapian, kondisi seperti ini umumnya membuat banyak orang khususnya para gadis, ibu-ibu, dan kaum lelaki klimis pecinta salon yang berhobi merawat diri untuk lebih memilih berteduh di pepohonan kampus dan sekolah, rumah tinggal, mall-mall atau bagi kaum pekerja kantoran berdiam di dalam ruang-ruang ber-ac dan gedung yang menjulang tinggi sampai tiba waktunya sang jingga menyingkapkan warnanya di ufuk barat: sore.

Meski terik sedemikian ganas dan banyak orang bersembunyi dari panas, ada sekurumunan mahasiswa yang lebih memilih keluar menantang sengatan sang surya untuk melakukan aksi demonstrasi di jalan raya, tak perduli dengan kulit-kulit mereka yang semakin menghitam dipanggang mentari; bagi mereka terik mentari adalah penyulut api semangat revolusi, sekaligus ajang untuk menunjukkan taring kepada para birokratis rakus bahwa mereka akan selalu ada pada barisan perlawanan ketika hak rakyat dirampas oleh maling-maling berdasi.

Meski berada pada medan yang sangat curam sekalipun suara perlawanan tetap dikobarkan. Kami ada dan berlipat ganda! Seru massa aksi mengutip larik lagu Fajar Merah, anak Wiji Thukul.

Siang itu, Azfar sebagai salah seorang demonstran yang turun ke jalan dengan perkasa melangkahkan kaki bersama kawan-kawannya menuju gedung Kejaksaan Tinggi—sasaran pertama aksi demonstrasi karena yang paling dekat dengan kampusnya, ia begitu semangat namun juga sangat geram menyaksikan semakin banyaknya kasus korupsi yang kian hari kian marak dilakukan oleh para wakil-wakil rakyat dan beberapa pejabat menteri. Ia semakin geram lagi ketika isu-isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) menyeruak dengan gesit seperti mengejar rating berita menutupi kasus korupsi yang mengindikasikan keterlibatan pejabat-pejabat besar di negara ini.

Setibanya di depan kantor Kejaksaan Tinggi—titik pertama Azfar dan kawanannya melakukan aksi—terlihat barisan polisi dengan seragam dan tangan-tangan mereka—yang kekar sudah berdiri sigap untuk menjaga aksi demonstrasi para mahasiswa—memegang perisai, polisi mengamat-amati dan mengantisipasi kalau-kalau Azfar dan teman-temannya akan melakukan aksi vandalis. Selain polisi, ada juga beberapa awak media yang sudah antusias memegang kamera dan sekali-sekali men-jepret kerumanan massa mahasiswa yang sudah berada di depan gedung Kejaksaan Tinggi.

*

SATU hari sebelum mereka melakukan aksi, sepulang dari rapat konsolidasi persiapan aksi, Azfar sudah berlatih berorasi, menyemburkan kalimat-kalimat pamungkasnya yang dia harapkan bisa menyiutkan nyali para maling berdasi dan bisa menyulutkan api semangat para mahasiswa yang mendengarnya.

Di depan cermin, dengan memegang botol deodoran ia berlagak seolah-olah sedang—berdiri di depan orang banyak—memegang megaphone sambil mengangkat jari telunjuk tangan kanannya mengarah ke atas seperti mengutuk plafon kamarnya yang sering kebocoran kalau hujan, lalu mulai mengeluarkan suaranya yang membuat telinga siapa pun yang mendengarnya menjadi sakit.

“Ketika penindasan terjadi di mana-mana, ketika virus-virus korupsi mewabah di mana-mana, ketika pejabat negara bertindak semena-mena, dan ketika hukum berpihak kepada uang dan penguasa maka hanya ada satu kata: LAWAN!”

Begitulah ia bersuara dengan lantang di depan cermin. Suara lantang itu tidak hanya dihamburkan di depan cermin tetapi juga di kamar mandi sebelum menyemburkan air ke tubuhnya yang kurus.

Semangat yang berapi-api itu minimal disebabkan oleh dua hal: pertama, karena kebenciannya kepada pejabat-pejabat yang doyan merampas uang rakyat; sering membuat kebijakan yang (sama sekali) tak bijak; dan hanya semakin menambah kemiskinan dan kesengsaraan bagi rakyatnya. Dan kedua, ia ingin menampilkan dirinya yang gagah memegang megaphone di depan khalayak ramai dengan harapan bisa diliput oleh awak media khususnya media televisi agar dapat dilihat oleh teman-temannya yang kuliah di kota-kota lain, dan juga orangtuanya di kampung, meski ia tahu orangtuanya di kampung belum bisa mengakses siaran televisi karena saking terpelosoknya letak kampungnya berada (padahal dunia sudah sangat canggih!).

Sebab yang pertama bisa dikatakan adalah cermin dari aktivis sejati, sementara sebab yang kedua adalah cermin dari aktivis kerdil yang haus popularitas, krisis eksistensi serta narsis dan gila pujian. Kalau dibandingkan keduanya, Azfar lebih cenderung termotivasi oleh sebab yang kedua. Maklum, di zaman sekarang ini bukan hanya Azfar, tapi sebagian besar umat manusia memang menghamba pada perkara-perkara tersebut.

*

TEPAT di depan gerbang kantor Kejaksaan Tinggi, massa aksi sudah berbaris rapi membuat border dan sebagian lainnya mengangkat bendera merah-putih sebagai simbol perlawanan. Seseorang yang memakai kopiah dengan memiringkannya menyerupai gaya khas Sukarno namun berwarna sedikit kemerah-merahan—agak luntur karena mungkin termakan usia—bertindak sebagai koordinator lapangan (koorlap), dengan megaphone di tangannya, ia mengomandoi massa aksi agar tertib dan merapatkan barisan.

“Berapa jumlah kita, kawan-kawan?” Si Koorlap membuka orasinya.

“Satu!” jawab massa aksi serempak.

“Baik, kawan-kawan. Rapatkan barisan, kawan-kawan. Kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mahasiswa tidak buta. Bahwa kita adalah benar-benar rakyat yang ingin merdeka. Merdeka!”

Begitulah sampai seterusnya Si Koorlap berorasi dengan mengutip-kutip kalimat-kalimat dari Sukarno, Bung Tomo, WS Rendra, Wiji Thukul, dan lain-lain agar menambah sangar isi orasinya. Bahkan tak hanya itu, ia pun menyemburkan kalimat-kalimat kutukan, cacian, dan hasutan melalui megaphone agar menambah panas suasana siang itu. Setelah menutup orasinya, ia disambut meriah dengan riakan-riakan yang keras dari massa aksi. Ia pun menyudahi orasinya dengan mengajak seluruh massa aksi menyanyikan lagu Buruh Tani dan Darah Juang.

Melihat Si Koorlap begitu sangar berorasi di atas podium—dan lihai mengkobarkan semangat massa aksi di atas podium, Azfar merasa tertantang dan tidak mau kalah. Mulutnya mulai gatal ingin sesegera mungkin mempertunjukkan kemahirannya berorasi—yang menurutnya tidak beda jauh dengan Si Koorlap bahkan mungkin bisa lebih bagus lagi. Apalagi melihat mata-mata kamera para awak media banyak mengarah kepada Si Koorlap tadi, membuat Azfar semakin tak sabar ingin tampil memperagakan hasil latihannya di depan cermin dan kamar mandi secara intens selama ini.

Namun sampai satu jam berlalu, megaphone belum bergilir ke tangannya.

*

            TITIK pertama, Kejaksaan Tinggi, telah usai, kini massa aksi menuju ke titik berikutnya, di bawah jembatan Fly Over yang juga tidak jauh dari gedung Kejaksaan Tinggi. Di sana sudah ada barisan-barisan mahasiswa lain yang juga sedang menyuarakan dan menyerukan hal yang sama seperti kelompok Azfar. Hari itu, memang banyak kelompok-kelompok mahasiswa yang turun ke jalan melakukan aksi. Hal ini sudah menjadi tradisi ketika hari-hari besar atau ketika ada wacana-wacana kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Sebagaimana siang itu banyak mahasiswa yang turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi.

Sembari melangkahkan kaki menuju ke fly Over, orasi-orasi yang keluar dari corong megaphone terus dikobarkan, menuntun semangat mereka menuju ke fly Over, semangat mereka semakin berkobar, semakin terik matahari semakin perjuangan berapi-api, apalagi menyaksikan kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi di bawah fly over serta sebuah mini bus yang terkapar di tengah jalan—yang kemudian dijadikan sebagai podium mahasiswa dalam menghamburkan orasinya. Dan tepat di bawah fly over inilah, kelompok-kelompok mahasiswa dari berbagai organisasi dan kampus-kampus bersatu untuk semakin memasifkan pergerakan mereka. Sebagian melakukan aksi bakar-bakar ban, sebagian terus mengibarkan bendera dan meneriakkan yel-yel perlawanan. Dan ada pula yang membakar foto-foto pejabat negara yang terindikasi melakukan tindak pidana korupsi berikut me-milox di jalan dan tembok-embok jembatan nama-nama proyek yang tersangkut mega skandal korupsi yang sudah bertahun-tahun oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum diselesaikan.

Kelompok Azfar disambut meriah oleh kelompok mahasiswa lainnya yang sudah berada lebih dulu di bawah fly Over.  Si Koorlap langsung dipersilakan untuk mengambil podium. Harus diakui bahwa di antara kelompok Azfar, Si Koorlap itu adalah demonstran yang paling senior dan yang paling disegani karena ialah yang paling berpengalaman dan paling tajam orasi-orasinya.

Si Koorlap pun kembali menyemburkan kalimat-kalimat dahsyatnya lewat corong megaphone. Situasi semakin memanas. “Jika kata tak mampu menggugah. Diplomasi tak mampu mengubah. Maka pemberontakan adalah solusi kaum muda!” pekik Si Koorlap sampai bermuncratan air-air dari dalam mulutnya. Bukan hanya kelompok Azfar, semburan orasi Si Koorlap juga disambut antusias oleh semua massa aksi yang semakin banyak jumlahnya itu. Ia terus mengutip kalimat tokoh-tokoh untuk memainkan gelombang massa.

Tak ada lagi perbedaan ketika itu, antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain terlihat bersatu padu dalam barisan yang sama, yakni barisan perlawanan. Tidak ada lagi ego-ego antar organisasi dan antar fakultas. Semua bersatu dalam satu tujuan yang sama: “Ganyang koruptor. Tangkap koruptor. Bongkar skandal mega-proyek anu dan itu.”

“Baiklah, kawan-kawan. Berikutnya kita dengarkan orasi yang akan disampaikan oleh Bung Azfar dari Fakultas Teknik Bisulwa.” Momen itu akhirnya tiba juga. Si Koorlap memberi isyarat kepada Azfar untuk segera naik ke atas podium.

Dengan tegang dan degupan jantung yang berdebar kencang seperti genderang perang, Azfar melangkahkan kaki naik ke atas podium. Keyakinan yang kokoh mulai runtuh, ia mulai ragu apakah ia bisa sehebat dan segagah Si Koorlap—apalagi ia menyadari bahwa dirinya sama sekali belum pernah memegang megaphone untuk berorasi sebelum-sebelumnya. Ia bingung bagaimana cara memulainya. Semua hafalan dan latihan yang ia simulasikan di hadapan cermin dan di dalam kamar mandi hilang seketika. Rasa sesal mulai menghampirinya. Kalau tahu begini, saya tidak akan memberi kode kepada Si Koorlap agar memberi podium kepada saya, katanya dalam hati.

Semua mata seakan tertuju padanya, begitu pula mata-mata kamera awak media semua seolah-olah terpusat ke arahnya, tepat ke biji matanya. Barisan polisi bahkan bersiap-siap mengambil posisi mengantasipasi kalau-kalau orasi Azfar bisa menimbulkan hasutan yang bermuara kepada chaos dan tindakan vandalistik. Secara penampilan, Azfar mirip dengan Wiji Tukul, kurus berantakan, memakai jaket kusam dan lusuh, dan rambutnya sedikit gondrong tak disisir, mungkin itulah sebabnya polisi memberi kesigapan lebih dibanding orasi-orasi sebelumnya, takut kalau-kalau hasutannya menyerupai Wiji Tukul: kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan.

Langkah berat azfar disambut dengan yel-yel perlawanan dari mahasiswa yang semakin menggema menyerukan pemberantasan korupsi, kepulan asap yang semakin pekat melumuri jalanan turut mendramatisir langkah berat azfar ke atas podium. Selain itu, antrean panjang kendaraan yang tersandung macet turut pula menyaksikan langkah kaki sang orator baru itu.

Dengan tubuh gemetar ia mendaki mini bus menuju ke puncak podium, bersiap-siap mengukir sejarah baru, minimal untuk dirinya sendiri.

“Huuuuummmmmmm,” suara itu keluar dari corong megaphone yang dipegang Azfar. Intensitas dengungan itu semakin tinggi dan membuat gendang telinga siapa pun yang mendengarnya menjadi sakit.

Satu sama lain antar-massa aksi saling melirik bertanya-tanya dalam hati. Mungkin megaphone-nya rusak, pikir banyak orang. Sementara mata-mata kamera tak memalingkan arahnya, tetap saja tertuju pada sang orator baru itu, Azfar. Beberapa kali bunyi yang tidak enak itu terdengar lagi, hingga kemudian Si Koorlap mengambil kembali megaphone yang digenggam Azfar untuk mencoba memastikan apa ada masalah dengan megaphone tersebut. Tapi nyatanya tak ada yang bermasalah, di tangan Si Koorlap, suara megaphone tak mengeluarkan dengungan sebagaimana yang tadi dipegang oleh Azfar.

Setelah dipastikan sehat-sehat saja, megaphone itu diserahkan kembali ke tangan Azfar. Namun di tangan Azfar, dengungan itu terdengar lagi, bahkan lebih berdenging, “Huuuuuuuuuummmmmmmmmmm…” Suara itu terdengar berulang-ulang selama di tangan Azfar. Lirik-melirik penuh tanda tanya disertai dengan senyum-senyum tipis seakan mengolok semakin ramai sesama mahasiswa dan semua yang turut menyaksikan kejadian itu, termasuk para polisi yang tadinya tegang dan pedagang asongan yang menjajakan dagangannya di perempatan jalan. Sementara itu, para awak media tak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke atas podium (entah apa benar disorot kamera atau perasaan Azfar saja yang merasa disorot kamera?), tempat Azfar dan Si Koorlap berdiri. Menyaksikan kejadian itu, seorang mahasiswa dari barisan massa aksi yang sebelumnya dari kelompok lain menyodorkan megaphone-nya yang dianggapnya lebih baik daripada megaphone milik kelompok azfar, harap-harap suara aneh itu tidak terdengar lagi.

“Huuuuuuuuuummmmmmmmmmm…” tak ada perubahan, masih sama seperti semula, di tangan azfar, megaphone seakan tidak sehat, sementara di tangan Si Koorlap, megaphone-nya tidak ada kendala dan bermasalah sama sekali. Akhirnya semua bersepakat bahwa yang bermasalah bukan megaphonenya tetapi Azfar-lah yang bermasalah. Dengan langkah berat dan dengan kemaluan yang besar, maksudnya perasaan malu yang besar ia pun turun dari atas podium sambil berharap-harap peristiwa memalukan ini tidak dimuat dan disiarkan di televisi. Sebab sangat memalukan rasanya bila kejadian semacam ini disaksikan oleh seluruh penduduk negeri, apalagi kalau ditonton oleh teman-teman yang kuliah di kota lain.

Dan sesaat setelah turun dari podium, kalimat “ketika penindasan terjadi di mana-mana, ketika virus-virus korupsi mewabah di mana-mana, ketika pejabat negara bertindak semena-mena, dan ketika hukum berpihak kepada uang dan penguasa maka hanya ada satu kata: LAWAN!” yang tadi menghilang dan tak bisa diingat sekejap muncul kembali di dalam memori Azfar tanpa satu huruf pun yang luput dari ingatan.[]

Dahlan, lahir di Buton, Sulawesi Tenggara. Alumni Universitas Bosowa, Makassar. Pegiat literasi, suka membaca dan menulis.

Diri Tanpa Arti

bagikan tanpa pikiran
bermusuhan tanpa pengetahuan
ikut-ikutan tanpa pemahaman
benci tanpa mengerti
caci tanpa sadari
diri tanpa arti

kata-kata semakin gas
mudah menguap dan terbakar
warning! jauhi dari pikiran bersumbu pendek
mudah meledak dan ambyar

jangan berlayar kalau takut tenggelam
jangan bercinta kalau takut sengsara
jangan mendengar kalau takut terbakar
jangan melihat kalau takut dijilat
jangan hidup kalau takut mati
diri tanpa arti

palu punya bapak
arit punya ibu
dapur punya kakak
beras punya mejikjer
nasi punya aku

aku makan nasi tapi anti mejikjer
karena mejikjer dibuat oleh manusia bermata sipit bertanduk iblis berambut pirang bernadi yahudi tinggal di amerika dan membuat facebook
tapi aku kemudian abaikan fakta itu
karena aku butuh nasi

harus dibedakan mana tidur
mana ngelindur
meski sama-sama di atas kasur
diri tanpa arti

menyiram diri sendiri dengan bensin
membakar kepala dengan amarah
menjadi penemu bukan di bidang iptek
tapi penemu di bidang aib saudara sendiri
lidah semakin panjang
menjadi papan seluncur kebencian

kapan ingat ibrahim kalau anak-cucu ishaq dan ismail lupa?
kapan renung kalau sendiri saja susah?
kapan isi waktu kalau pada kapan saja angkuh?
kapan jadi paku kalau sibuk jadi palu?
diri tanpa arti

burung kakatua
hinggap di jendela
rumah siapa
kalau nenek
sudah tak ada?

diri
tanpa
arti.

Glosarium Kebahagiaan

 

Banyak kepala yang tak mengandung pikiran di dalamnya. Banyak orang yang sudah hilang martabat hidupnya. Mereka ini setiap saat diseret-seret oleh pemberitaan dan isu-isu rendahan.

Mereka memang tak punya pikiran, kepala mereka tak lebih berharga dari kelapa. Bahkan kelapa jauh lebih bernilai karena kandungan berbagai vitamin dan mineral di dalamnya. Sedangkan mereka, kepala mereka hanya berisi berita sampah tanpa makna, tak memberi dampak apa-apa selain mengobarkan amarah dan memantik kebencian yang kian membara.

Hargailah pikiranmu dengan tidak mengikuti pikiran orang lain. Jadilah diri sendiri dengan tidak menjadi orang lain. Sebab orang lain sudah menjadi orang lain.

Maka daripada menyibukkan diri mengomentari apa saja yang berseliweran di televisi, koran, dan media sosial, lebih baik fokus kerja mencapai cita-cita. Atau minimal belajar membedakan mana berita banal dan mana berita yang substansial. Mana yang kelihatannya kecil tetapi memiliki risiko yang besar bila didiamkan; dan mana yang kelihatannya besar, wah, dan penuh riuh-rendah namun isinya kosong, tidak substantif, tidak berkaitan dengan inti kehidupan: kemanusiaan, hak untuk hidup, keamanaan, dan kesejahteraan.

Mengurus masalah negara itu tidak ada habisnya. Negara makin ke sini makin tak bekerja untuk menyelesaikan masalah rakyatnya, malah justru menimbulkan masalahnya sendiri untuk dipro-kontrai oleh sesama rakyatnya. Diributkan, dipertentangkan, dan diperselisihkan.

Maka seyogianya sebagai rakyat, perlu kepandaian untuk memilih dan memilah mana persoalan yang patut direspons dan mana persoalan yang ditanggapi sewajarnya saja, bahkan kadang ada berita yang didiamkan pun akan hilang dengan sendirinya.

Tapi semua tergantung kita. Kalau memang dengan berkerumun dalam permusuhan dan saling menghardik membuat kita menjadi bahagia, ya apa boleh buat. Monggo.

Cuma heran saja, kualitas kebahagiaannya kok serendah itu?

Dada Puisi Arohi

(buat ahmad)

aku berjalan di dadanya yang terbakar
kata-kata telah ia hapus dari kertas
puisi yang tadinya kompas
kini menggelembung jadi asap

ia tak mengajarkanku membaca puisi
melainkan menjadi puisi
“manunggaling kawula lan puisi,” begitulah
sukmanya bertajali dengan sukmaku

kadang ia gandhi
kadang ia ruhani
kadang ia nyawiji
kadang ia si sederhana ahmadi

dadanya hutan belantara
tempatku singgah meminum api
melepas mimpi
dan kembali beranjak pergi

kini ia kusebut arohi di dalam hati
bukan karena tumhiho menenggelamkan pedih
melainkan karena akronim ahmad rohani
dan isyarat dari ar-rahim

aku berjalan di dadanya yang terbakar
dada yang hutan belantara
dada yang menghapus puisi
dengan airmata tanpa kata-kata.

Balikpapan, 4 Maret 2017

Lara Tagore

 

“Perjalanan demi perjalanan dari mati ke mati. Kau lambaikan isyarat pada peziarah kebebasan.”

DAN KINI dalam kesendiriannya yang tidak sepenuhnya sendiri karena ditemani Lara Fabian dan nocturno, ia terus berjalan. Dalam hatinya ia berkata, aku harus tetap melanjutkan hidup.

Je t’aime! Tagore terus berjalan dan berjalan. Dengan tongkat kayu di tangan kanannya dan remah roti di tangan kirinya. Tagore harus berjalan, ujarnya dalam hati.

Nocturno menguat pada diri di luarnya–maupun di dalam dirinya. Tagore baru sadar, duka membuat pikiran seseorang lebih terbuka. Dan pada perenungan yang dalam, ia menemukan banyak hal di dalam dirinya–pun pada diri manusia pada umumnya, bahwa pada setiap diri terdiri dari banyak diri. Bahwa di setiap aku terkandung banyak-banyak aku. Dan pengambilan kebijakan terbaik ialah kebijakan yang dimusyawarahkan dan dirumuskan oleh, dan melibatkan, semua elemen aku (yang) di dalam diri.

Tagore terus berjalan sambil menggumam dengan bahasa yang manusia umumnya tak mengerti, dan sesekali bersiul melantunkan nada yang mungkin akan sangat asing di telinga manusia pada umumnya.

“Kejujuran itu ada dalam hati dan hanya bisa dimengerti oleh hati. Jika ia diterjemahkan dalam bahasa kata-kata maka ia akan sukar dipahami secara leksikal, maupun literal,” begitu Tagore berkata keras-keras pada dirinya. Tak peduli malam mendengarnya; tak peduli hewan jalanan mendengarnya.

Kemudian terdengar di belakangnya gerak kaki berjejak mengikutinya, tapi suaranya aneh. Ritme langkahnya tak seperti manusia pada umunya, tak pula seperti hewan pada umumnya. Ya, batinnya, pada kenyataan hidup perorangan, segalanya adalah khusus; tak ada yang bisa diumumkan!

“Aku binatang jalang. Aku binatang jalang. Aku binatang jalan.” Suara itu seperti membisik di belakangnya, terdengar sayup-sayup dan penuh desah. “Dari kumpulannya yang terbuang. Dari kumpulannya yang terbuang. Dari kumpulannya yang terbuang.” Tagore seperti sangat familiar dengan kata-kata itu dan sejurus kemudian ingatannya tertuju pada Chairil Anwar, kawan imajinernya. “Ya, Charil!” panggilnya setelah berhasil mengingat pemilik mantra tersebut, sambil menoleh ke belakang dan mencari-cari sosoknya. “Charil, di mana kau? Itu Chairil atau hanya suara usil? Chairil! Jawab aku!”

Tapi tak terdengar jawaban. Lamat-lamat suara itu makin menguat. Makin lama makin menguat. Semakin keras terdengar, semakin deras tersiar.

“Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari. Hingga hilang pedih perih.” Dan kata-kata itu terulang-ulang terus di telinga Tagore. Iapun ketakutan dan berlari, berlari … dengan maksud menghilangkan pedih perih.

Tagore kini berlari. Ia berlari sekencang-kencangnya, menabrak kegelapan, memecah ketakutan, memasuki hutan dan kebon belakang, tapi hutan dan kebon belakang perlahan perlahan-lahan lahan-lahan perlahanan meniada. “Hutan sedang menuju ketiadaannya,” kata Tagore sembari tetap berlari. “Dan kehancuran tinggal menunggu kesempurnaannya,” lanjutnya sambil semakin berlari.

Tagore lebih berlari, dan semakin berlari. Tak peduli apa yang di hadapannya. Dan tiba-tiba, Broken Vow! Ia terjatuh dalam jurang Lara Fabian, yakni jurang dirinya sendiri. Dari dalam jurang itu, terdengar suara wanita bersenandung:

I’ll let you go

I’ll let you fly

Why do I keep asking why

I’ll let you go

Now that I found

A way to keep somehow

More than a broken vow

Tell me the words I never said

Show me the tears you never shed

Give me the touch

That one you promised to be mine

Or has it vanished for all time

 

I close my eyes

And dream of you and I

And then I realize

There’s more to life than only bitterness and lies

I close my eyes

I’d give away my soul

To hold you once again

And never let this promise end.

 

Kesaksian Cinta yang Disuling Airmata

Dalam sepasang tubuh yang renta tak ada lagi cinta yang menganga. Kalaupun dibilang cinta, itu hanyalah komitmen janji setia atau obsesi saling berpunya.

Cinta sudah mati. Cinta sudah selesai menyemburkan apinya. Kelanggengan sebuah hubungan bekerja bukan karena cinta sebagai pelumasnya melainkan gengsi dan harga diri sebagai taruhannya.

Pada erat sebuah ikatan, belum tentu talinya adalah cinta. Cinta mungkin tetap ada, tapi ia sudah berpindah ke diri yang lain. Ia mungkin masih berupa ikatan, tapi bukan sepasang kekasih sebagai pengeratnya. Sebagaimana Isa yang berganti rupa sesaat sebelum disalib di tiang gantungan.

Muhammad kepada ummati bukanlah sebuah kisah cinta sejati. Itu adalah manifestasi misi suci yang diemban seorang nabi di bumi. Jangan salah kaprah. Sebab cinta itu tak punya arah.

Cinta itu ketidakmasukakalan yang paling indah. Cinta itu kembang api. Cinta itu letupan-letupan perasaan yang paling gila. Hingga kata-kata meledak di tangan seorang penyair, cinta tetap takkan menjadi benda padat dan atau benda cair.

Dengarlah tetapi jangan kalian percayai. Sebelum matahari tenggelam di kepalaku, aku tak bisa menciptakan cinta. Cintalah yang mengadakan aku. Mustahil kudefinisikan ia secara sempurna sebagaimana tata surya yang bekerja sesuai orbitnya. Setiap orang, termasuk aku, hanya merasakan biasnya dan hanya sedikit menjelaskan vibrasi dan frekuensi kekuatannya.

Manusia belum sampai Tuhan. Manusia masih menenteng badan. Manusia masih sebatas pancaran layar flatron. Manusia masih selaksa kata-kata dan sesekali mempersonifikasi abstraksi perasaannya lewat emotikon. Manusia tak bisa mengurai dirinya dalam skala kumparan neutron, proton, dan elektron.

Dengarlah, seorang filsuf sedang menziarahi jasadnya di dalam sunyi. Ia yang sudah mati berkali-kali dan hanya hidup sebagai ari-ari. Tapi jangan percayai, sebab setiap kata-kata selalu mengandung banyak makna di dalam dirinya sendiri.

Sebelum fajar menelurkan ayam. Sebelum hujan menulis kembali ingatan. Kenanglah dirimu sendiri yang diterpa duka dan lara, luka dan nanah, dan fana dan maya. Lihatlah, kita sudah hampir berkokok di rahim kehidupan. Nelayan menuju pulang ke darat, petani bersiap kembali memanen keringatnya di sawah, dan penyair tetaplah seorang miskin dan papa yang saking tak punya apa-apa ia hanya bisa menggali-gali perasaannya yang paling dalam.

O, kita semua adalah anak-cucu dari Ibrahim. Kita semua adalah jism dari Yang Rahman dan Yang Rahim. Kalau benci, bencilah sewajarnya saja. Kalau cinta, cintailah sewajarnya saja–meski tak ada yang wajar di dalam cinta. Asalkan jangan lupa membahagiakan keluarga dan tetangga. Agar kelak jika tak ada lagi air di muka bumi, setidaknya jenazahmu masih bisa dimandikan dengan tanah dan airmata.

Yang Mengerikan dari Kesendirian

Yang paling mengerikan dari kesendirian adalah hilangnya pikiran dan perasaan yang bisa untuk dituliskan. Kehilangan pikiran adalah kebodohan. Sedangkan kehilangan perasaan adalah kejahatan. Kalau sampai itu terjadi, neraka tak perlu diputuskan setelah mati. Bahkan mati pun tak perlu menunggu mati.

Tanpa pikiran dan perasaan, hidup adalah mati. Sebab kematian, seperti kata Haruki Murakami, bukanlah lawan dari kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan. Bahwa tak semua yang hidup itu benar-benar hidup. Bahwa di dalam hidup itu terdapat berlapis-lapis kematian. Bisa kematian akal, nurani, bisa kematian kebersamaan, kepedulian, kasih sayang dan sebagainya, dan seterusnya. Bisa saja kita hidup secara badaniyah, tapi mati secara ilahiyah. Perasaan kita tak ada, pikiran kita entah ke mana. Segalanya hampa.

Yang paling mengerikan dari kesendirian adalah mendalamnya kehampaan. Hampa segalanya: hampa pikiran, hampa perasaan, hampa tujuan, hampa kemauan, hampa kerinduan, hampa cinta, hampa segala hampa.

Kata-kata telah menguap ke udara. Segala yang menggenang hanya kenang. Segala yang terngiang hanya kesedihan. Di dalam kesendirian, yang terdengar hanyalah bunyi di dalam sunyi. Sungai-sungai mengalir membentuk anak-anaknya. Merantau dan berpetualang ke lautan. Melebur ke dalam samudera. Menjadi airmata yang turun dari langit. Menjadi cakrawala yang tak pernah merasa sempit. Melampaui manusia yang tak merasa dihimpit.

Mulanya, rumah dibuat untuk perlindungan diri, bukan untuk membuat manusia menjadi sendiri-sendiri. Rumah dibuat sebagai penegas ruang privasi, tapi bukan untuk memutus rantai sosialisasi. Rumah adalah cerminan keberagaman, bukan untuk saling menunjukkan keunggulan yang cenderung mempertajam perbedaan. Sebab yang menjadi tujuan hidup manusia bukanlah membangun rumah, melainkan untuk apa, menjadi apa, dan akan bagaimana setelah rumah dibangun.

Yang paling mengerikan dari kesendirian adalah kengawuran yang datang perlahan-lahan dan kegilaan yang timbul pelan-pelan. Seperti tulisan ini, saya bahkan tak mengerti apa yang sebenarnya saya maksudkan. Saya serahkan sepenuhnya kepada setiap yang membaca untuk mengartikan. Saya hanya ingin memejamkan mata sebentar, menyatu dalam “Speak Softly Love” Andy Williams.

Batang Kuis, Deli Serdang, 8 Desember 2016

Setiap Orang adalah Setiap Orang

Memiliki hanya tepat jika peruntukannya adalah memiliki barang, bukan orang. Sebab setiap orang bukan untuk dimiliki. Sebab setiap orang punya pikiran, punya kehendaknya sendiri. Rasa memiliki atas orang hanya akan menimbulkan (potensi) kekecewaan karena orang bisa pergi, berkhianat, dan melakukan apa saja sesuai kemauannya sendiri.

Klaim kepemilikan orangtua atas anak, misalnya, itu adalah konsep pemikiran yang keliru. Karena anak bukan barang. Ia, pada saatnya nanti, harus kita relakan untuk pergi menjadi dirinya sendiri. Ia punya kehendak, punya hak, punya pikiran dan perasaan yang senantiasa bergolak.

“Anakmu bukanlah anakmu,” kata Kahlil Gibran, “mereka sekadar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu … karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.” Kita sebagai orangtua saja yang otoriter mengharuskan mereka menuruti pikiran kita. Padahal faktanya, mereka ada dan tidaknya bukan karena kemauan mereka. Tapi karena (hasil dari) keinginan kita sebagai laki-laki dan perempuan.

Begitupun dalam ranah suami-istri. Dipaksakan dengan cara apa pun, suami dan istri tetaplah dua subjek yang berbeda. Mereka bisa bersatu, tapi tak bisa menyatu. Bersatu berarti bergabung untuk suatu tujuan atau alasan. Sedangkan menyatu berarti meninggalkan subjek lama untuk menjadi suatu zat baru. Menyatu berarti suami dan istri menjadi satu subjek. Dan itu nyaris mustahil terjadi. Sebab suami dan istri itu adalah dua subjek yang berada pada dua tubuh yang berbeda.

Maka kepemilikian itu tak tepat dalam klaim “istri adalah milik suami”, “suami milik istri”, “anak milik orangtua”, dan sebagainya, dan seterusnya.

Sebab manusia tidak bisa saling memiliki. Meski raganya ter/dikerangkeng, pikirannya, sukmanya, jiwanya, tak bisa dipenjarakan. Maka memaksakan orang lain untuk menjadi apa yang kita inginkan sama dengan praktik totalitarianisme. Itu melanggar hak azasi manusia. Menyalahi kodrat manusia.

Maka sebagai manusia harusnya kita tahu diri. Kenyataan tak harus melulu sesuai dengan yang kita ingini, tapi itulah kenyataannya. Tidak ada istri durhaka, suami durhaka, anak durhaka, dan lain-lain. Yang ada adalah kegagalanmu sebagai manusia dalam menyikapi kenyataan. Mau dijungkir-balikkan bagaimanapun kau tetap kau dan orang lain adalah orang lain.

Pencarian terpanjang dalam perjalanan kehidupan manusia adalah menemukan dan menjadi diri sendiri. Tapi paradoksnya, menjadi diri sendiri bisa berarti menjadi orang lain. Sebab orang lain (dan setiap orang pada umumnya) juga ingin menjadi dirinya sendiri. Betul ka tra?

Aih, jang pusing. Mampir dolo di Lapo Mamre.

Aforisme Anarkisme kepada Negara

Aforisme ini bukan bikinan seseorang, bukan desakan, apalagi paksaan. Ia hanyalah ampas-ampas pikiran yang terbuang dari gesekan-gesekan keadaan. Sejarah sudah tak memunyai kredibilitas. Teori-teori lama sudah usang ditelan zaman. Dari praktik ke praktik, yang ada hanyalah penumpukan keuntungan dan kekuasaan di satu sisi, dan ketimpangan, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, pengisapan, dan penindasan di sisi lainnya.

Boleh jadi, anarkisme adalah orde terakhir dari jalan panjang perjuangan manusia dalam menemukan kembali sebuah role model peradaban umat manusia. Adalah babak terakhir corak sejarah manusia. Tanpa negara. Dunia kembali ke penelanjangan entitas.

Dan kepada negara. Inilah kami apa adanya.

Kami akan baik-baik saja tanpa peranmu. Hingga pada akhirnya kami merasa bahwa kami tak memerlukan adamu lagi. Ada dan tiadamu pun kami mampu survive, kau ada dan tidak ada pun bagi kami tak ada pengaruh apa-apa.

Kau menyebut dirimu negara, tapi dalam praksisnya tak kami temui karakter kenegaraan pada dirimu. Kau bahkan menjelma dengan sorban keagamaan hanya untuk meniduri kekuasaan. Kau susupi ideologi binatangmu ke dalam kurikulum pendidikan untuk menciptakan makhluk-makhluk mekanis yang siap–dan bahkan meminta–diperkosa.

Bahwa faktanya negara hanyalah kepura-puraan belaka, (drama) kesejahteraan hanya berlaku di saat pentas politik praktis: pemilu; pilpres, pileg, pilkada, pilkadal, pilkabe, bla-bla-bla … tapi setelah itu, kau lupa. Tidak ada makna apa-apa, semua berjalan seperti sedia kala.

Kau ciptakan kebebasan pers untuk membenturkan paradigma kami yang lugu dengan sederetan propaganda kapitalisme-mu yang lucu. Tapi kami tahu, yang merah di bibir itu cuma gincu. Anarkisme, radikalisme, pemberontakan, dsb. hari ini dimaknai sebagai sesuatu yang buruk padahal secara bahasa dan sejarah tidak demikian. Masyarakat menjadi korban re-pemaknaan penguasa negara, media, dan pemilik kapital dan pilar-pilar hegemoni lainnya. Tapi kami adalah kehendak untuk bebas, merdeka, dan berdaulat atas diri kami sendiri. Bebas, merdeka, dan berdaulat atas kemanusiaan yang kita kandung sendiri.

Produk demokrasimu adalah dongeng yang dimodernisasi, lagu lama yang cuma dipakaikan cover baru. Tapi kami tak bodoh untuk menelanmu mentah-mentah. Maka dengan ini kami katakan bahwa kami adalah hasilmu yang gagal, yang menolak tunduk terhadap program kapitalistik-mu. Kami lolos dari lubang jarum eksploitasimu yang membodohkan dan mencoba membuat kami menjadi manusia satu dimensi; manusia yang dogmatis terhadap segala titahmu.

Sikap kami jelas: meyakini kedaulatan di tangan negara adalah musyrik. Adalah takhayul cukardeleng. Maka anarkisme-lah jalan keluarnya. Bukan sebagai solusi tetapi sebagai kehendak sejarah, sebagai hasil pergulatan keadaan.

Semua akan kacau pada waktunya. dan anarkisme bukan paksaan untuk diminta ada.

 

MEMOAR KEMATIAN: MIMPI

 

(Saya terkadang bingung sendiri menemukan-membaca tulisan-tulisan lawas saya yang konyol dan gila. Salah satunya ini. Apa saya memerlukan seorang psikolog?)

TADI malam saya bermimpi membunuh orang. Namanya mimpi maka saya tak ingat detail kronologi pembunuhannya. Yang jelas dalam ingatan saya, ada seseorang yang saya penggal kepalanya. Entah siapa dia. Saya memotong lehernya hingga terpisah dari badannya. Saya pun bingung untuk membuang mayatnya di mana. Saya takut ketahuan. Saya putuskan untuk pertama-tama memasukkan badannya ke dalam karung. Tapi setelah saya masukkan badannya ke dalam karung. Kepalanya, yang tadi ada di samping saya, menghilang. Entah ke mana. Saya pun panik dan mulai mencurigai ada orang yang sempat melihat tindakan saya saat memasukkan badan mayat ke karung dan mengambil kepala mayat tersebut.

Saya mencari-cari, mencari-cari, tetapi tak ketemu. Saya semakin gelisah. Saya takut ketahuan orang banyak kalau saya telah melakukan pembunuhan. Saya takut. Dalam ketakutan dan kegelisahan yang mendalam, saya mencoba untuk memungkiri kenyataan tersebut. Dalam hati saya berkata: ini tidak nyata! Ini hanya mimpi! Yakin! Ini hanya mimpi! Saya harus bangun! Saya harus sadar! Sadar!

Dan akhirnya: saya pun terbangun. Dan beberapa jam setelah terbangun, saya menuliskan mimpi ini.

***

SEMUA itu hanya mimpi. Mimpi yang saya tuliskan kembali dalam bentuk yang berbeda. Saya menukar subjek-subjek di dalam mimpi itu, mengubah diri saya sebagai pelaku. Dan perasaan yang terhasilkan adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Meski demikian, perasaan saat saya menjadi subjek yang dibunuh pun tak kalah menyakitkan. Bahkan seumur hidup, tak ada perasaan sesakit dibunuh, dipenggal kepalanya dengan cara diiris-iris lehernya menggunakan golok tua yang agak tumpul. Sakit, o sakit sekali!

Meski mimpi, perasaan yang saya alami sungguh sangat nyata. Saya bahkan merasa jangan-jangan saat ini saya benar-benar sudah mati dan menjadi arwah yang bergentayangan. Atau saya mati suri. Atau saya sedang dan sudah menjalani hidup yang baru; hidup setelah mati.

Ah, perasaan sungguh sangat abstrak. Saya benar-benar bingung dan pusing.

Tapi tunggu dulu. Kenapa sampai bisa terjadi mimpi. Orang-orang mengatakan bahwa mimpi adalah bunga tidur. Tapi bukankah bunga yang tumbuh dan mekar di dalam tidur adalah bibit kembang yang kita tanam di saat terjaga? Contohnya kita bermimpi dikejar satpam, bukankah mimpi itu tidak sekonyong-konyong muncul tanpa sebab-sebab yang memadai, seperti misalnya saat terjaga di siang tadi kita sedang membully atau mengejek-ejek seorang satpam? Atau melakukan hal-hal yang berkaitan dengan satpam, kejar-kejaran, atau mungkin saat kita tidur terjadi kejadian kejar-kejaran antara satpam dengan sekelompok orang di sekitar tempat kita sedang tidur?

Saya pusing dan bingung. Mimpi terkadang membangkitkan harapan namun tak jarang malah mempersuram keadaan.

***

TADI malam saya bermimpi dibunuh orang. Namanya mimpi maka saya tak ingat detail kronologi pembunuhannya. Yang jelas dalam ingatan saya, ada seseorang yang memenggal kepalaku. Entah siapa dia. Dia memotong leherku hingga terpisah dari badanku. Dia tampak kebingungan akan dibuang ke mana mayatku. Dia tampak ketakutan. Dia akhirnya memutuskan untuk pertama-tama memasukkan badanku ke dalam karung. Tapi setelah dia masukkan badanku ke dalam karung. Kepalaku, yang tadi ada di sampingnya, menghilang. Entah ke mana. Sebenarnya saya tak merasa bahwa kepala saya telah ke mana atau telah hilang. Saya merasa kepala saya tidak ke mana-mana, tepat di sampingnya, di sisi kanan kakinya yang sedang berlutut. Saya merasa sedang melihatnya dari sudut pandang yang sama sedari tadi. Namun tampak kepanikan dari air muka dan bahasa kacau tubuhnya. Dia mulai mencurigai ada orang yang sempat melihat tindakannya saat  memasukan badanku ke karung dan mengambil kepalaku. Dia mencari-cari, mencari-cari, tetapi tak ketemu. Dia semakin gelisah. Dia seperti ketakutan kalau-kalau tindakannya diketahui orang banyak. Tapi saya tak terlalu peduli padanya. Saya sendiri pun masih merasakan sakit yang teramat sangat. Dalam kesakitan dan keperihan yang mendalam, saya mencoba untuk memungkiri kenyataan tersebut. Dalam hati saya berkata: ini tidak nyata! Ini hanya mimpi! Yakin! Ini hanya mimpi! Saya harus bangun! Saya harus sadar! Sadar!

Dan akhirnya: saya pun terbangun. Dan beberapa jam setelah terbangun, saya menuliskan mimpi ini.

***

SAYA terbangun dan banyak-banyak mengucap syukur karena pertama, semuanya ternyata hanya mimpi. Dan kedua, saya bisa mengetahui dan merasakan bagaimana pedihnya mati dengan cara dibunuh. Sakitnya bukan main. Seumur hidup saya berani bersumpah: tak ada sakit sesakit kematian. Apalagi mati dibunuh.

O, mimpi ini adalah mimpi yang memberi pengetahuan dan kesadaran dalam hidupku. Jenis mimpi seperti ini bagi saya terbilang sangat jarang. Saya memang bukan kali ini saja mendapat pengetahuan dari mimpi. Pengetahuan yang datang melalui mimpi sudah pernah saya alami sebelumnya. Meski jumlahnya masih bisa dihitung menggunakan jari. Tapi menurut saya mimpi kali ini sungguh sangat mencekam dan mungkin akan mengubah banyak hal terkait cara dan sikap saya menjalani hidup.

Tapi tunggu. Apa betul ini adalah bentuk kesadaran saya setelah terbangun? Apa betul saya saat ini sedang terjaga setelah mimpi buruk yang baru saja kualami?

Sabar. Sepertinya ada yang kurang beres. Saya saat ini sedang terjaga, duduk di sisi luar ranjang, sambil menuliskan kembali mimpi saya di buku nota kecil, buku catatan utangku tepat di meja–tempat biasa saya menulis dan membaca. Ini fakta dan sangat nyata. Tapi. Tapi … di belakang saya, di tengah ranjang yang saya duduki ini, terbaring tubuhku, jasadku, fisik badaniahku. Dengan mata tertutup dan mulut setengah ternganga. Shit!

Ini mimpi atau bukan?

***

GELAP. Pandanganku gelap. Keluh-kesahku gelap. Peluh-resahku gelap. Pikiranku gelap. Perasaanku gelap. Segalanya gelap. Saya memeluk diriku sendiri. Mendekap panas dan dingin tubuhku.

Saya melirik kembali istri pamanku yang tertidur. Saya meraba kembali tubuhnya yang sedikit terbuka. Menggerayanginya dan merayakan kemenangan hasratku.

Namun saya takut. Takut dia terbangun, mengetahui kebejatanku, dan berteriak sejadi-jadinya. Kalau sampai itu terjadi, saya sudah siap melibas lehernya dengan golok yang digantung di pintu kamar saya dan istri pamanku ini berada.

Di sisi lain, saya pun takut kalau-kalau kebejatanku ini diketahui oleh pamanku. Kalau itu terjadi, dia bisa saja dengan sigap melibas leherku dengan golok yang digantung di pintu kamar di mana saya dan istri pamanku ini sedang berada.

Gelap. Pandanganku gelap. Keluh-kesahku gelap. Peluh-resahku gelap. Pikiranku gelap. Perasaanku gelap. Segalanya gelap. Saya memeluk diriku sendiri. Mendekap panas dan dingin tubuhku.

Sudah tiada lagi kata-kata. Saya harus berani mengambil sikap untuk segera bertemu Tuhan dengan cara apa. Dengan memerkosa istri pamanku dan kemudian sejurus waktu ia menyukai dan menikmatinya; atau dengan cara dibunuh oleh pamanku sendiri karena mengetahui istrinya mau (atau telah) diperkosa oleh saya (ponakannya sendiri). Kalau terjadi kematian, maka setiap subjek yang mati mengalami kematian dengan cara dibacok, ditikam, atau digorok.

Persetan! Pada berahi yang memuncak, kematian tak bisa lagi menggertak. (*)