Kemerdekaan Kontemporer: Pseudo-Kemerdekaan

Kemerdekaan adalah semua orang sibuk mendefiniskan kemerdekaannya masing-masing hingga pada akhirnya kemerdekaan antara satu dengan yang lainnya saling berbenturan dan mengakibatkan hubungan antarmereka menjadi kacau dan berantakan.

Kemerdekaan hanya akan bermakna sebagai kemerdekaan minimal dan individual. Outputnya jelas: antarmereka (akan) saling menegasi dan saling menganggap yang lain sebagai Yang Lain, bukan sebagai bagian dari dirinya, bukan sebagai sesuatu yang include dalam kedirian dan kepentingan kemanusiaannya.

Kemerdekaan, akhirnya, cuma menjadi perebutan klaim dan pertaruhan kekuasaan. Yang paling merdeka adalah mereka yang memunyai spektrum kebebasan paling luas dan kapasitas kekuasaan paling besar. Sedangkan mereka yang miskin-papa, hanya bisa menyenangkan hatinya dengan mendefinisikan kemerdekaan sebisa-bisanya dan seada-adanya–sesuai kondisi faktualnya yang menyedihkan; yang kian hari kian memprihatinkan. Toh, kemerdekaan pada akhirnya hanya akan disadari juga sebagai kemerdekaan semu; pseudo-kemerdekaan. Kemerdekaan ilutif.

Maka sebagai manusia yang berkesadaran sosial, masih etiskah mendefinisikan kemerdekaan sesuai kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan aspirasi dan kehendak berkemerdekaan orang lain? Sebab, kalau tujuan akhir sebuah kemerdekaan adalah untuk privatisasi; diri-sendiri-oriented atau diri-sendiri-sentris, maka kiranya proklamasi kemerdekaan perlu dibacakan ulang oleh setiap orang dan atas nama pribadi, bukan atas nama bangsa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s