Indonesia yang Kami Cintai

 

Kami mencintai Indonesia; bukan Indonesia sebagai negara atau republik, tapi Indonesia sebagai hamparan negeri yang sudah dari sananya menjadi tempat kami lahir, tumbuh, dan menjalani hidup.

Kami mencintai Indonesia, bukan karena pejabat negaranya yang cuma bisa bikin masalah, apalagi politisinya yang cuma tukang dusta sampai berbusa-busa, tapi karena Indonesia menjadi takdir tempat kami menumpang hidup, mencari nafkah, menemukan makna, memetik hikmah, dan meraup berkah.

Kami mencintai Indonesia, dengan rasa yang ada begitu saja. Mungkin karena kami masih memunyai kesadaran untuk bersyukur dan mengenal kata terima kasih.

Kami mencintai Indonesia sebagai pemberian Tuhan, bukan sebagai organisasi politik-kekuasaan yang diperebutkan oleh satu dua orang. Kami akan selalu mencintai Indonesia, meski pejabat negaranya tak mencintai kami. Meski harapan kami sering dikhianati. Meski hati kami selalu dilukai.

Karena rasa cinta kami lebih besar dari rasa sakit hati kami.

Meski kelak Indonesia sebagai negara sudah tak ada, rasa cinta kami kepada Indonesia akan selalu abadi di dalam dada. Karena Indonesia, bagi kami, bukan sekadar negara, organisasi sosial, perusahaan, partai politik, atau lembaga penyambung lidah rakyat, tapi Indonesia adalah sejarah dan tanah tumpah darah yang kaya akan keberagaman budaya dan keasrian alamnya. Indonesia adalah ibu kehidupan, tempat putus pusar yang dari sanalah kami bergantung hingga hari ini proses berkehidupan kami terus berlangsung.

Karena kami mencintai Indonesia, maka Indonesia adalah rasa cinta itu sendiri. Maka, menghapus rasa cinta kepada Indonesia sama dengan menghapus rasa cinta itu sendiri. Dan di dalam hidup ini, mustahil, bukan, ada manusia yang tak memunyai rasa cinta barang sedikit pun?

Bahkan jika sekalipun oleh Tuhan kami ditakdirkan untuk memiliki rasa cinta yang cuma seujung kuku, bisa dipastikan, seluruh cinta itu kami persembahkan seutuhnya hanya kepadamu, Indonesia.

Advertisements

Kemerdekaan Kontemporer: Pseudo-Kemerdekaan

Kemerdekaan adalah semua orang sibuk mendefiniskan kemerdekaannya masing-masing hingga pada akhirnya kemerdekaan antara satu dengan yang lainnya saling berbenturan dan mengakibatkan hubungan antarmereka menjadi kacau dan berantakan.

Kemerdekaan hanya akan bermakna sebagai kemerdekaan minimal dan individual. Outputnya jelas: antarmereka (akan) saling menegasi dan saling menganggap yang lain sebagai Yang Lain, bukan sebagai bagian dari dirinya, bukan sebagai sesuatu yang include dalam kedirian dan kepentingan kemanusiaannya.

Kemerdekaan, akhirnya, cuma menjadi perebutan klaim dan pertaruhan kekuasaan. Yang paling merdeka adalah mereka yang memunyai spektrum kebebasan paling luas dan kapasitas kekuasaan paling besar. Sedangkan mereka yang miskin-papa, hanya bisa menyenangkan hatinya dengan mendefinisikan kemerdekaan sebisa-bisanya dan seada-adanya–sesuai kondisi faktualnya yang menyedihkan; yang kian hari kian memprihatinkan. Toh, kemerdekaan pada akhirnya hanya akan disadari juga sebagai kemerdekaan semu; pseudo-kemerdekaan. Kemerdekaan ilutif.

Maka sebagai manusia yang berkesadaran sosial, masih etiskah mendefinisikan kemerdekaan sesuai kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan aspirasi dan kehendak berkemerdekaan orang lain? Sebab, kalau tujuan akhir sebuah kemerdekaan adalah untuk privatisasi; diri-sendiri-oriented atau diri-sendiri-sentris, maka kiranya proklamasi kemerdekaan perlu dibacakan ulang oleh setiap orang dan atas nama pribadi, bukan atas nama bangsa.