Sang Orator Baru

toaa

JUMAT, 9 Desember 2011. Siang itu sang surya begitu perkasa menancapkan sinarnya di bumi kota Makassar, bisa sengatannya bisa membuat kulit manusia berubah menjadi gosong, atau kemerah-merahan seperti udang yang dipanggang di perapian, kondisi seperti ini umumnya membuat banyak orang khususnya para gadis, ibu-ibu, dan kaum lelaki klimis pecinta salon yang berhobi merawat diri untuk lebih memilih berteduh di pepohonan kampus dan sekolah, rumah tinggal, mall-mall atau bagi kaum pekerja kantoran berdiam di dalam ruang-ruang ber-ac dan gedung yang menjulang tinggi sampai tiba waktunya sang jingga menyingkapkan warnanya di ufuk barat: sore.

Meski terik sedemikian ganas dan banyak orang bersembunyi dari panas, ada sekurumunan mahasiswa yang lebih memilih keluar menantang sengatan sang surya untuk melakukan aksi demonstrasi di jalan raya, tak perduli dengan kulit-kulit mereka yang semakin menghitam dipanggang mentari; bagi mereka terik mentari adalah penyulut api semangat revolusi, sekaligus ajang untuk menunjukkan taring kepada para birokratis rakus bahwa mereka akan selalu ada pada barisan perlawanan ketika hak rakyat dirampas oleh maling-maling berdasi.

Meski berada pada medan yang sangat curam sekalipun suara perlawanan tetap dikobarkan. Kami ada dan berlipat ganda! Seru massa aksi mengutip larik lagu Fajar Merah, anak Wiji Thukul.

Siang itu, Azfar sebagai salah seorang demonstran yang turun ke jalan dengan perkasa melangkahkan kaki bersama kawan-kawannya menuju gedung Kejaksaan Tinggi—sasaran pertama aksi demonstrasi karena yang paling dekat dengan kampusnya, ia begitu semangat namun juga sangat geram menyaksikan semakin banyaknya kasus korupsi yang kian hari kian marak dilakukan oleh para wakil-wakil rakyat dan beberapa pejabat menteri. Ia semakin geram lagi ketika isu-isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) menyeruak dengan gesit seperti mengejar rating berita menutupi kasus korupsi yang mengindikasikan keterlibatan pejabat-pejabat besar di negara ini.

Setibanya di depan kantor Kejaksaan Tinggi—titik pertama Azfar dan kawanannya melakukan aksi—terlihat barisan polisi dengan seragam dan tangan-tangan mereka—yang kekar sudah berdiri sigap untuk menjaga aksi demonstrasi para mahasiswa—memegang perisai, polisi mengamat-amati dan mengantisipasi kalau-kalau Azfar dan teman-temannya akan melakukan aksi vandalis. Selain polisi, ada juga beberapa awak media yang sudah antusias memegang kamera dan sekali-sekali men-jepret kerumanan massa mahasiswa yang sudah berada di depan gedung Kejaksaan Tinggi.

*

SATU hari sebelum mereka melakukan aksi, sepulang dari rapat konsolidasi persiapan aksi, Azfar sudah berlatih berorasi, menyemburkan kalimat-kalimat pamungkasnya yang dia harapkan bisa menyiutkan nyali para maling berdasi dan bisa menyulutkan api semangat para mahasiswa yang mendengarnya.

Di depan cermin, dengan memegang botol deodoran ia berlagak seolah-olah sedang—berdiri di depan orang banyak—memegang megaphone sambil mengangkat jari telunjuk tangan kanannya mengarah ke atas seperti mengutuk plafon kamarnya yang sering kebocoran kalau hujan, lalu mulai mengeluarkan suaranya yang membuat telinga siapa pun yang mendengarnya menjadi sakit.

“Ketika penindasan terjadi di mana-mana, ketika virus-virus korupsi mewabah di mana-mana, ketika pejabat negara bertindak semena-mena, dan ketika hukum berpihak kepada uang dan penguasa maka hanya ada satu kata: LAWAN!”

Begitulah ia bersuara dengan lantang di depan cermin. Suara lantang itu tidak hanya dihamburkan di depan cermin tetapi juga di kamar mandi sebelum menyemburkan air ke tubuhnya yang kurus.

Semangat yang berapi-api itu minimal disebabkan oleh dua hal: pertama, karena kebenciannya kepada pejabat-pejabat yang doyan merampas uang rakyat; sering membuat kebijakan yang (sama sekali) tak bijak; dan hanya semakin menambah kemiskinan dan kesengsaraan bagi rakyatnya. Dan kedua, ia ingin menampilkan dirinya yang gagah memegang megaphone di depan khalayak ramai dengan harapan bisa diliput oleh awak media khususnya media televisi agar dapat dilihat oleh teman-temannya yang kuliah di kota-kota lain, dan juga orangtuanya di kampung, meski ia tahu orangtuanya di kampung belum bisa mengakses siaran televisi karena saking terpelosoknya letak kampungnya berada (padahal dunia sudah sangat canggih!).

Sebab yang pertama bisa dikatakan adalah cermin dari aktivis sejati, sementara sebab yang kedua adalah cermin dari aktivis kerdil yang haus popularitas, krisis eksistensi serta narsis dan gila pujian. Kalau dibandingkan keduanya, Azfar lebih cenderung termotivasi oleh sebab yang kedua. Maklum, di zaman sekarang ini bukan hanya Azfar, tapi sebagian besar umat manusia memang menghamba pada perkara-perkara tersebut.

*

TEPAT di depan gerbang kantor Kejaksaan Tinggi, massa aksi sudah berbaris rapi membuat border dan sebagian lainnya mengangkat bendera merah-putih sebagai simbol perlawanan. Seseorang yang memakai kopiah dengan memiringkannya menyerupai gaya khas Sukarno namun berwarna sedikit kemerah-merahan—agak luntur karena mungkin termakan usia—bertindak sebagai koordinator lapangan (koorlap), dengan megaphone di tangannya, ia mengomandoi massa aksi agar tertib dan merapatkan barisan.

“Berapa jumlah kita, kawan-kawan?” Si Koorlap membuka orasinya.

“Satu!” jawab massa aksi serempak.

“Baik, kawan-kawan. Rapatkan barisan, kawan-kawan. Kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mahasiswa tidak buta. Bahwa kita adalah benar-benar rakyat yang ingin merdeka. Merdeka!”

Begitulah sampai seterusnya Si Koorlap berorasi dengan mengutip-kutip kalimat-kalimat dari Sukarno, Bung Tomo, WS Rendra, Wiji Thukul, dan lain-lain agar menambah sangar isi orasinya. Bahkan tak hanya itu, ia pun menyemburkan kalimat-kalimat kutukan, cacian, dan hasutan melalui megaphone agar menambah panas suasana siang itu. Setelah menutup orasinya, ia disambut meriah dengan riakan-riakan yang keras dari massa aksi. Ia pun menyudahi orasinya dengan mengajak seluruh massa aksi menyanyikan lagu Buruh Tani dan Darah Juang.

Melihat Si Koorlap begitu sangar berorasi di atas podium—dan lihai mengkobarkan semangat massa aksi di atas podium, Azfar merasa tertantang dan tidak mau kalah. Mulutnya mulai gatal ingin sesegera mungkin mempertunjukkan kemahirannya berorasi—yang menurutnya tidak beda jauh dengan Si Koorlap bahkan mungkin bisa lebih bagus lagi. Apalagi melihat mata-mata kamera para awak media banyak mengarah kepada Si Koorlap tadi, membuat Azfar semakin tak sabar ingin tampil memperagakan hasil latihannya di depan cermin dan kamar mandi secara intens selama ini.

Namun sampai satu jam berlalu, megaphone belum bergilir ke tangannya.

*

            TITIK pertama, Kejaksaan Tinggi, telah usai, kini massa aksi menuju ke titik berikutnya, di bawah jembatan Fly Over yang juga tidak jauh dari gedung Kejaksaan Tinggi. Di sana sudah ada barisan-barisan mahasiswa lain yang juga sedang menyuarakan dan menyerukan hal yang sama seperti kelompok Azfar. Hari itu, memang banyak kelompok-kelompok mahasiswa yang turun ke jalan melakukan aksi. Hal ini sudah menjadi tradisi ketika hari-hari besar atau ketika ada wacana-wacana kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Sebagaimana siang itu banyak mahasiswa yang turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi.

Sembari melangkahkan kaki menuju ke fly Over, orasi-orasi yang keluar dari corong megaphone terus dikobarkan, menuntun semangat mereka menuju ke fly Over, semangat mereka semakin berkobar, semakin terik matahari semakin perjuangan berapi-api, apalagi menyaksikan kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi di bawah fly over serta sebuah mini bus yang terkapar di tengah jalan—yang kemudian dijadikan sebagai podium mahasiswa dalam menghamburkan orasinya. Dan tepat di bawah fly over inilah, kelompok-kelompok mahasiswa dari berbagai organisasi dan kampus-kampus bersatu untuk semakin memasifkan pergerakan mereka. Sebagian melakukan aksi bakar-bakar ban, sebagian terus mengibarkan bendera dan meneriakkan yel-yel perlawanan. Dan ada pula yang membakar foto-foto pejabat negara yang terindikasi melakukan tindak pidana korupsi berikut me-milox di jalan dan tembok-embok jembatan nama-nama proyek yang tersangkut mega skandal korupsi yang sudah bertahun-tahun oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum diselesaikan.

Kelompok Azfar disambut meriah oleh kelompok mahasiswa lainnya yang sudah berada lebih dulu di bawah fly Over.  Si Koorlap langsung dipersilakan untuk mengambil podium. Harus diakui bahwa di antara kelompok Azfar, Si Koorlap itu adalah demonstran yang paling senior dan yang paling disegani karena ialah yang paling berpengalaman dan paling tajam orasi-orasinya.

Si Koorlap pun kembali menyemburkan kalimat-kalimat dahsyatnya lewat corong megaphone. Situasi semakin memanas. “Jika kata tak mampu menggugah. Diplomasi tak mampu mengubah. Maka pemberontakan adalah solusi kaum muda!” pekik Si Koorlap sampai bermuncratan air-air dari dalam mulutnya. Bukan hanya kelompok Azfar, semburan orasi Si Koorlap juga disambut antusias oleh semua massa aksi yang semakin banyak jumlahnya itu. Ia terus mengutip kalimat tokoh-tokoh untuk memainkan gelombang massa.

Tak ada lagi perbedaan ketika itu, antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain terlihat bersatu padu dalam barisan yang sama, yakni barisan perlawanan. Tidak ada lagi ego-ego antar organisasi dan antar fakultas. Semua bersatu dalam satu tujuan yang sama: “Ganyang koruptor. Tangkap koruptor. Bongkar skandal mega-proyek anu dan itu.”

“Baiklah, kawan-kawan. Berikutnya kita dengarkan orasi yang akan disampaikan oleh Bung Azfar dari Fakultas Teknik Bisulwa.” Momen itu akhirnya tiba juga. Si Koorlap memberi isyarat kepada Azfar untuk segera naik ke atas podium.

Dengan tegang dan degupan jantung yang berdebar kencang seperti genderang perang, Azfar melangkahkan kaki naik ke atas podium. Keyakinan yang kokoh mulai runtuh, ia mulai ragu apakah ia bisa sehebat dan segagah Si Koorlap—apalagi ia menyadari bahwa dirinya sama sekali belum pernah memegang megaphone untuk berorasi sebelum-sebelumnya. Ia bingung bagaimana cara memulainya. Semua hafalan dan latihan yang ia simulasikan di hadapan cermin dan di dalam kamar mandi hilang seketika. Rasa sesal mulai menghampirinya. Kalau tahu begini, saya tidak akan memberi kode kepada Si Koorlap agar memberi podium kepada saya, katanya dalam hati.

Semua mata seakan tertuju padanya, begitu pula mata-mata kamera awak media semua seolah-olah terpusat ke arahnya, tepat ke biji matanya. Barisan polisi bahkan bersiap-siap mengambil posisi mengantasipasi kalau-kalau orasi Azfar bisa menimbulkan hasutan yang bermuara kepada chaos dan tindakan vandalistik. Secara penampilan, Azfar mirip dengan Wiji Tukul, kurus berantakan, memakai jaket kusam dan lusuh, dan rambutnya sedikit gondrong tak disisir, mungkin itulah sebabnya polisi memberi kesigapan lebih dibanding orasi-orasi sebelumnya, takut kalau-kalau hasutannya menyerupai Wiji Tukul: kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan.

Langkah berat azfar disambut dengan yel-yel perlawanan dari mahasiswa yang semakin menggema menyerukan pemberantasan korupsi, kepulan asap yang semakin pekat melumuri jalanan turut mendramatisir langkah berat azfar ke atas podium. Selain itu, antrean panjang kendaraan yang tersandung macet turut pula menyaksikan langkah kaki sang orator baru itu.

Dengan tubuh gemetar ia mendaki mini bus menuju ke puncak podium, bersiap-siap mengukir sejarah baru, minimal untuk dirinya sendiri.

“Huuuuummmmmmm,” suara itu keluar dari corong megaphone yang dipegang Azfar. Intensitas dengungan itu semakin tinggi dan membuat gendang telinga siapa pun yang mendengarnya menjadi sakit.

Satu sama lain antar-massa aksi saling melirik bertanya-tanya dalam hati. Mungkin megaphone-nya rusak, pikir banyak orang. Sementara mata-mata kamera tak memalingkan arahnya, tetap saja tertuju pada sang orator baru itu, Azfar. Beberapa kali bunyi yang tidak enak itu terdengar lagi, hingga kemudian Si Koorlap mengambil kembali megaphone yang digenggam Azfar untuk mencoba memastikan apa ada masalah dengan megaphone tersebut. Tapi nyatanya tak ada yang bermasalah, di tangan Si Koorlap, suara megaphone tak mengeluarkan dengungan sebagaimana yang tadi dipegang oleh Azfar.

Setelah dipastikan sehat-sehat saja, megaphone itu diserahkan kembali ke tangan Azfar. Namun di tangan Azfar, dengungan itu terdengar lagi, bahkan lebih berdenging, “Huuuuuuuuuummmmmmmmmmm…” Suara itu terdengar berulang-ulang selama di tangan Azfar. Lirik-melirik penuh tanda tanya disertai dengan senyum-senyum tipis seakan mengolok semakin ramai sesama mahasiswa dan semua yang turut menyaksikan kejadian itu, termasuk para polisi yang tadinya tegang dan pedagang asongan yang menjajakan dagangannya di perempatan jalan. Sementara itu, para awak media tak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke atas podium (entah apa benar disorot kamera atau perasaan Azfar saja yang merasa disorot kamera?), tempat Azfar dan Si Koorlap berdiri. Menyaksikan kejadian itu, seorang mahasiswa dari barisan massa aksi yang sebelumnya dari kelompok lain menyodorkan megaphone-nya yang dianggapnya lebih baik daripada megaphone milik kelompok azfar, harap-harap suara aneh itu tidak terdengar lagi.

“Huuuuuuuuuummmmmmmmmmm…” tak ada perubahan, masih sama seperti semula, di tangan azfar, megaphone seakan tidak sehat, sementara di tangan Si Koorlap, megaphone-nya tidak ada kendala dan bermasalah sama sekali. Akhirnya semua bersepakat bahwa yang bermasalah bukan megaphonenya tetapi Azfar-lah yang bermasalah. Dengan langkah berat dan dengan kemaluan yang besar, maksudnya perasaan malu yang besar ia pun turun dari atas podium sambil berharap-harap peristiwa memalukan ini tidak dimuat dan disiarkan di televisi. Sebab sangat memalukan rasanya bila kejadian semacam ini disaksikan oleh seluruh penduduk negeri, apalagi kalau ditonton oleh teman-teman yang kuliah di kota lain.

Dan sesaat setelah turun dari podium, kalimat “ketika penindasan terjadi di mana-mana, ketika virus-virus korupsi mewabah di mana-mana, ketika pejabat negara bertindak semena-mena, dan ketika hukum berpihak kepada uang dan penguasa maka hanya ada satu kata: LAWAN!” yang tadi menghilang dan tak bisa diingat sekejap muncul kembali di dalam memori Azfar tanpa satu huruf pun yang luput dari ingatan.[]

Dahlan, lahir di Buton, Sulawesi Tenggara. Alumni Universitas Bosowa, Makassar. Pegiat literasi, suka membaca dan menulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s