Diri Tanpa Arti

bagikan tanpa pikiran
bermusuhan tanpa pengetahuan
ikut-ikutan tanpa pemahaman
benci tanpa mengerti
caci tanpa sadari
diri tanpa arti

kata-kata semakin gas
mudah menguap dan terbakar
warning! jauhi dari pikiran bersumbu pendek
mudah meledak dan ambyar

jangan berlayar kalau takut tenggelam
jangan bercinta kalau takut sengsara
jangan mendengar kalau takut terbakar
jangan melihat kalau takut dijilat
jangan hidup kalau takut mati
diri tanpa arti

palu punya bapak
arit punya ibu
dapur punya kakak
beras punya mejikjer
nasi punya aku

aku makan nasi tapi anti mejikjer
karena mejikjer dibuat oleh manusia bermata sipit bertanduk iblis berambut pirang bernadi yahudi tinggal di amerika dan membuat facebook
tapi aku kemudian abaikan fakta itu
karena aku butuh nasi

harus dibedakan mana tidur
mana ngelindur
meski sama-sama di atas kasur
diri tanpa arti

menyiram diri sendiri dengan bensin
membakar kepala dengan amarah
menjadi penemu bukan di bidang iptek
tapi penemu di bidang aib saudara sendiri
lidah semakin panjang
menjadi papan seluncur kebencian

kapan ingat ibrahim kalau anak-cucu ishaq dan ismail lupa?
kapan renung kalau sendiri saja susah?
kapan isi waktu kalau pada kapan saja angkuh?
kapan jadi paku kalau sibuk jadi palu?
diri tanpa arti

burung kakatua
hinggap di jendela
rumah siapa
kalau nenek
sudah tak ada?

diri
tanpa
arti.

Advertisements

Glosarium Kebahagiaan

 

Banyak kepala yang tak mengandung pikiran di dalamnya. Banyak orang yang sudah hilang martabat hidupnya. Mereka ini setiap saat diseret-seret oleh pemberitaan dan isu-isu rendahan.

Mereka memang tak punya pikiran, kepala mereka tak lebih berharga dari kelapa. Bahkan kelapa jauh lebih bernilai karena kandungan berbagai vitamin dan mineral di dalamnya. Sedangkan mereka, kepala mereka hanya berisi berita sampah tanpa makna, tak memberi dampak apa-apa selain mengobarkan amarah dan memantik kebencian yang kian membara.

Hargailah pikiranmu dengan tidak mengikuti pikiran orang lain. Jadilah diri sendiri dengan tidak menjadi orang lain. Sebab orang lain sudah menjadi orang lain.

Maka daripada menyibukkan diri mengomentari apa saja yang berseliweran di televisi, koran, dan media sosial, lebih baik fokus kerja mencapai cita-cita. Atau minimal belajar membedakan mana berita banal dan mana berita yang substansial. Mana yang kelihatannya kecil tetapi memiliki risiko yang besar bila didiamkan; dan mana yang kelihatannya besar, wah, dan penuh riuh-rendah namun isinya kosong, tidak substantif, tidak berkaitan dengan inti kehidupan: kemanusiaan, hak untuk hidup, keamanaan, dan kesejahteraan.

Mengurus masalah negara itu tidak ada habisnya. Negara makin ke sini makin tak bekerja untuk menyelesaikan masalah rakyatnya, malah justru menimbulkan masalahnya sendiri untuk dipro-kontrai oleh sesama rakyatnya. Diributkan, dipertentangkan, dan diperselisihkan.

Maka seyogianya sebagai rakyat, perlu kepandaian untuk memilih dan memilah mana persoalan yang patut direspons dan mana persoalan yang ditanggapi sewajarnya saja, bahkan kadang ada berita yang didiamkan pun akan hilang dengan sendirinya.

Tapi semua tergantung kita. Kalau memang dengan berkerumun dalam permusuhan dan saling menghardik membuat kita menjadi bahagia, ya apa boleh buat. Monggo.

Cuma heran saja, kualitas kebahagiaannya kok serendah itu?