Kesaksian Cinta yang Disuling Airmata

Dalam sepasang tubuh yang renta tak ada lagi cinta yang menganga. Kalaupun dibilang cinta, itu hanyalah komitmen janji setia atau obsesi saling berpunya.

Cinta sudah mati. Cinta sudah selesai menyemburkan apinya. Kelanggengan sebuah hubungan bekerja bukan karena cinta sebagai pelumasnya melainkan gengsi dan harga diri sebagai taruhannya.

Pada erat sebuah ikatan, belum tentu talinya adalah cinta. Cinta mungkin tetap ada, tapi ia sudah berpindah ke diri yang lain. Ia mungkin masih berupa ikatan, tapi bukan sepasang kekasih sebagai pengeratnya. Sebagaimana Isa yang berganti rupa sesaat sebelum disalib di tiang gantungan.

Muhammad kepada ummati bukanlah sebuah kisah cinta sejati. Itu adalah manifestasi misi suci yang diemban seorang nabi di bumi. Jangan salah kaprah. Sebab cinta itu tak punya arah.

Cinta itu ketidakmasukakalan yang paling indah. Cinta itu kembang api. Cinta itu letupan-letupan perasaan yang paling gila. Hingga kata-kata meledak di tangan seorang penyair, cinta tetap takkan menjadi benda padat dan atau benda cair.

Dengarlah tetapi jangan kalian percayai. Sebelum matahari tenggelam di kepalaku, aku tak bisa menciptakan cinta. Cintalah yang mengadakan aku. Mustahil kudefinisikan ia secara sempurna sebagaimana tata surya yang bekerja sesuai orbitnya. Setiap orang, termasuk aku, hanya merasakan biasnya dan hanya sedikit menjelaskan vibrasi dan frekuensi kekuatannya.

Manusia belum sampai Tuhan. Manusia masih menenteng badan. Manusia masih sebatas pancaran layar flatron. Manusia masih selaksa kata-kata dan sesekali mempersonifikasi abstraksi perasaannya lewat emotikon. Manusia tak bisa mengurai dirinya dalam skala kumparan neutron, proton, dan elektron.

Dengarlah, seorang filsuf sedang menziarahi jasadnya di dalam sunyi. Ia yang sudah mati berkali-kali dan hanya hidup sebagai ari-ari. Tapi jangan percayai, sebab setiap kata-kata selalu mengandung banyak makna di dalam dirinya sendiri.

Sebelum fajar menelurkan ayam. Sebelum hujan menulis kembali ingatan. Kenanglah dirimu sendiri yang diterpa duka dan lara, luka dan nanah, dan fana dan maya. Lihatlah, kita sudah hampir berkokok di rahim kehidupan. Nelayan menuju pulang ke darat, petani bersiap kembali memanen keringatnya di sawah, dan penyair tetaplah seorang miskin dan papa yang saking tak punya apa-apa ia hanya bisa menggali-gali perasaannya yang paling dalam.

O, kita semua adalah anak-cucu dari Ibrahim. Kita semua adalah jism dari Yang Rahman dan Yang Rahim. Kalau benci, bencilah sewajarnya saja. Kalau cinta, cintailah sewajarnya saja–meski tak ada yang wajar di dalam cinta. Asalkan jangan lupa membahagiakan keluarga dan tetangga. Agar kelak jika tak ada lagi air di muka bumi, setidaknya jenazahmu masih bisa dimandikan dengan tanah dan airmata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s