Pasca Kenangan

Hubungan percintaan yang dibina delapan tahun akhirnya bubar di tengah jalan. Pertentangan dari masing-masing keluarga dan ketidakjelasan masa depan si lelaki membuat mereka pasrah pada takdir: berpisah. Ini tak kalah menyakitkan dari hubungan beda agama. Padahal dengan usia yang begitu lama, dihitung-dihitung sudah bisa dipakai untuk melunasi kredit rumah dan cicilan motor, minimal, tiga unit.

Sekarang mereka sudah memiliki kehidupannya sendiri-sendiri; pasangan, rumah tangga, keluarga, mainan, dan kesibukan masing-masing. Tapi, karena hubungan yang kelewat lama dan sekaligus dalam, maka masing-masing dari mereka tak pernah utuh menghilangkan bayangan mantan dalam pikirannya. Setiap sudut kota, setiap café dan restoran mewah, hingga setiap gaya bercinta, selalu membuat mereka saling teringat. Bahkan di saat asyik bersanggama, mereka tak jarang sering salah menyebutkan nama, tapi syukurnya hanya disebutkan dalam hati, sehingga tak ketahuan oleh pasangan masing-masing.

Mereka, baik si lelaki baik si wanita, selalu berusaha berlari meninggalkan bayangan-bayangan masa lalunya itu, namun tetap saja, mereka tak bisa berlari dari dirinya sendiri. Sudah mencoba berbagai cara, tetap saja tak bisa. Tak bisa. Hingga suatu ketika, seiring menderasnya waktu, masing-masing dari mereka menyadari dengan sendirinya bahwa kenyataan perasaan ini bukan untuk disangkal melainkan harus diakui keadaannya. “Lari dari kenyataan bukanlah cara yang tepat untuk mengubah kenyataan. Menyangkali kenyataan hanya akan membuat kenyataan itu menjadi semakin terasa nyata,” kata sebuah ilham yang secara bersamaan menyusup ke dalam mimpi mereka suatu malam.

Paginya, sadar tak sadar, ilham yang menyusup ke dalam mimpi mereka itu memberi pengaruh terhadap banyak hal di dalam pikiran dan perasaan mereka. Mereka dengan penuh cinta menyapa, mendekap, mengecup pasangan mereka masing-masing. “Cara terbaik mengubah kenyataan adalah dengan menerima kenyataan itu apa adanya,” sesuatu membisik ke telinga mereka. Mereka hanya tersenyum dan saling membayangkan di waktu yang bersamaan dan dari tempat yang berbeda. Si lelaki membayangkan wajah mantan wanitanya dan sebaliknya si wanita membayangkan wajah mantan lelakinya meski kini saling tidak tahu keberadaan masing-masing.

Sejak pagi itulah, kehidupan mereka menjadi lebih baik. Mereka mengakui, meski tak pernah lagi bertemu sejak empat tahun yang lalu (sudah empat tahun pasca berpisah, masing-masing mereka menikah, membangun rumah tangganya sendiri-sendiri), perasaan sayang itu masih tetap ada. Namun dengan melihat kenyataan yang ada, mustahil mereka harus menghancurkan kehidupannya yang sekarang; pasangan, rumah tangga, keluarga, mainan, dan kesibukan yang ada hanya untuk mengikuti keegoisan masing-masing.

“Mencintai tak harus saling memiliki. Bahagia tak harus bisa bersama. Kenanglah namaku di sudut hatimu.” begitulah bahasa klise yang sering tertulis di toilet-toilet umum. Setiap membaca corat-coret itu aku menjadi merasa semakin mules dan buang air besarku (BAB) menjadi semakin lancar. Tak sadar, sudah hampir sejam aku di dalam toilet umum karena terlalu asyik mengingat-ingat kembali kisah percintaan teman-temanku itu. Ya, yang aku ceritakan di atas itu adalah kisah dari temanku, baik si lelaki baik si wanita kedua-duanya adalah teman-temanku. Teman-temanku yang mungkin juga tekandung dalam kisah pribadi hidupku sendiri. Entahlah, perutku mules lagi.

Gambaran Lelaki Sejati

Seorang lelaki sejati jika melihat setiap anak kecil langsung mengingat anaknya, tapi jika melihat wanita muda pasti lupa pada istrinya. Tapi lelaki sejati selalu menolak tunduk pada naluri selingkuh yang kuat bergolak dalam dirinya. Bukan karena sayang, cinta, atau kesetiaan pada istrinya tetapi karena ia sudah khatam atas segala ilusi seksual. Baginya, jiwa buana, cita-cita, dan misi hidupnya jauh lebih besar ketimbang persoalan pelukan, ciuman, dan erangan. Maka sebisa mungkin ia (resisten) menolak tunduk pada godaan yang demikian.

Lelaki sejati jika menyeduh kopi selalu tanpa gula sebab pada kopi-lah ia belajar menikmati kepahitan hidup. Dan kalau ngopi, ia tak mau dijajah oleh merk, tempat, atau asal daerah/negara kopi itu dibuat. Prinsipnya: lebih baik ngopi seadanya di warung kopi daripada di kafe-kafe mahal jika hanya untuk menunjukkan gengsi dan kelas sosial.

Lelaki sejati menenggak bir bukan karena gaya-gayaan apalagi sok-sokan, tapi karena ia sadar: tanpa “bir”, “takbir” tinggallah “tak”. Selain itu, dengan bir-lah bibir tercipta; ialah asal muasal kecupan dan pelukan: awal keberlangsungan sebuah peradaban.

Lelaki sejati kalau sembahyang bukan karena dasar ketakutan atas dosa dan neraka atau karena ingin masuk sorga. Tapi semata-mata karena dan untuk Tuhannya. Karena mengharapkan ridhonya dan sekaligus bersyukur atas segala rahmatNya.

Lelaki sejati, sebagaimana yang dikatakan para sufi, ialah mereka yang membenarkan ucapannya dengan tindakan, bukan yang membenarkan tindakannya dengan ucapan.

Lelaki sejati kalau berhubungan intim bukan dengan jajan tetapi karena atas dasar suka-sama-suka, mau-sama-mau. Karena lelaki sejati mencintai keindahan. Dan karena kehidupan itu proses penghayatan, penuh perasaan, dan sangat berirama maka ia menolak prinsip “yang penting colok”. Sebab kalau cuma “yang penting colok”, lantas apa bedanya lelaki dengan chargeran?

Lelaki sejati tidak mau ikut-ikutan sesat dengan memaknai kata kemaluan sebagai kelamin. Bagi lelaki sejati, kemaluan berarti rasa/sifat malu sebagaimana rasa/sifat manusia pada kata kemanusiaan, rasa/sifat mau pada kemauan, dan lain sebagainya. Lelaki sejati konsisten pada logika ejaan kata sebagaimana ia komitmen pada satu cinta. Kelamin adalah kelamin, bisa diganti dengan kontol atau penis sesuai kosakata yang tersedia dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Lelaki sejati boleh menjadi apa saja, asalkan apa saja tidak menjadinya. Dalam artian, segala yang masuk padanya, baik informasi, pengetahuan, makanan, atau apa saja tidak lantas langsung mengubahnya dari sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Lelaki sejati di dalam dirinya ada semacam saringan; ialah pikiran, naluri, dan nurani yang membuat dirinya tetap menjadi dirinya dan bukan menjadi orang lain.

Lelaki sejati seperti sajak Sapardi Djoko Damono, jika mencintai angin harus menjadi siut, jika mencintai air harus menjadi ricik, jika mencintai gunung harus menjadi terjal, jika mencintai api harus menjadi jilat, jika mencintai cakrawala harus menebas jarak, dan jika mencintaimu harus menjelma aku. Lelaki sejati itu mencintai, bukan berharap, menginginkan, apalagi memaksakan orang lain untuk mencintainya sebagaimana jawaban Dominic Toretto (Vin Diesel) saat ditanya oleh Letty (Michelle Rodriguez)–yang sebelumnya hilang ingatan–kenapa ia selama ini tidak mengatakan kepadanya bahwa mereka sudah menikah? Dominic berkata, “Aku bisa mencintaimu. Tapi aku tak bisa memaksamu mencintaiku.” (Furious 7 , 2015). Dicintai saja tidak boleh ada paksaan, apalagi dikasihi dan dikasihani?

Begitulah lelaki sejati, gentleman, maskulin, dan selalu tampak gagah. Tapi lelaki sejati seperti yang digambarkan ini baru sekadar gambaran saja, mustahil dijumpai di kehidupan nyata. Dan kalaupun ada di kehidupan nyata sekalipun maka yang pantas bersanding dengannya hanyalah seorang wanita sejati jua.

Pertanyaannya kemudian: seperti apa gambaran wanita sejati itu? Silakan gambarkan sendiri sosok dan kriteria wanita sejati itu sesuai dengan iman dan kepercayaan kita masing-masing. Berdoa, mulai….

Doa Seorang Buruh Purnawaktu

Bapakkanlah aku, suamikanlah aku, tapi tetap pelihara muda dan liarku seawet mungkin. Karena dengan demikianlah jiwaku bisa terus memggeliat di bawah matahari dan bersiasat di bawah bintang yang menari-nari.
 
Jadikanlah kerjaku sebagai kerja manusia. Yang membuatku meniadakan kepentingan diri sendiri dan hanya bertujuan untuk kebahagiaan orang lain, terutama keluarga, dan orang-orang tercinta. Karena dengan demikianlah bagiku hakikat menjadi manusia.
 
Berikanlah iman, iman kemanusiaan. Yang tak dibatasi oleh sekat kedaerahan, negara, agama, atau madzhab dan dogma-dogma kepatuhan yang memicikkan dan mengerdilkan. Karena dengan demikianlah sujudku menjadi kemaslahatan dan ketenangan bagi tetangga dan seluruh umat manusia.
 
Jagalah kekanak-kanakan di dalam diri ini secara proporsional dan kontekstual: bisa bercanda dan serius di saat yang tepat. Ajarkanlah cara bersenda gurau yang tepat saat berdoa. Dan jauhkanlah aku dari perbuatan yang didasari oleh ketakutan dan hitung-hitungan. Kalau marah, marahku marah angin, berlalu sekilas waktu. Kalau kerja, kerjaku kerja air, biar dipandang rendah tetapi istiqomah mengaliri kehidupan dan menumbuhkan harapan. Kalau sabar, sabarku sabar tanah, diinjak-injak tapi tetap menumbuhkan pohon, bunga, juga buah-buahan.
 
Semoga makna lebih besar dari nama. Semoga tindak lebih besar dari tanduk. Semoga cinta lebih luas dari tinta. Semoga kasih lebih panjang dari kisah. Semoga doa sudah mencebur dalam kerja. Atas nama pribadi, segala yang kuperbuat adalah adalah atasnamaku pribadi, maka tak usah tanya agamaku apa, orangtuaku siapa, asalku dari mana, dsb., dst.
 
Tapi aku tahu, Engkau Tuhan Mahasegalanya; padaMu, aku bahkan lebih kecil dibanding debu jalanan. Maka aku pasrah pada segala takdir kehidupan. Aku ridho pada segala yang Engkau niscayakan. Maka doa ini, tak perlu dikabulkan–sebab segala yang Kau tetapkan, bagiku, itulah yang terbaik bagi kehidupan.

Mapan Dulu atau Nikah Dulu

Ada orang yang berjuang untuk menikah. Ada orang yang menikah untuk berjuang. Semua soal prinsip, bukan soal benar dan salah. Kalau secara pribadi, saya lebih memilih prinsip yang kedua, karena, pertama, tak semua orang berani menempuh jalan itu. Secara perbandingan, kuantitas orang yang menempuh prinsip kedua jauh lebih sedikit. Karena risikonya lebih besar, dan secara umum “menyimpang” dari common sense hierarki dan pola perjalanan hidup manusia: sekolah—kerja—menikah—punya turunan—tua—mati. Orang yang menempuh prinsip kedua tidak mengikuti pola yang demikian, ia menentang, melanggar, dan menciptakan jalannya sendiri. Dan itu, menurut saya, membuat hidup lebih berasa hidup.

Kedua, menurut saya ada kegetiran dan kobaran-kobaran perasaan tertentu yang tidak didapatkan dalam prinsip yang pertama. Orang yang menikah setelah mapan tidak pernah merasakan betapa indahnya kegilaan saat uang habis di tengah jalan sedangkan ada nyawa yang harus dihidupkan. Orang yang menikah setelah mapan tidak punya daya kreasi mengolah sumber daya yang ada menjadi penyambung hidup banyak kepala. Orang yang menikah setelah mapan tidak merasakan senangnya melihat anak bisa menikmati sesuatu yang mereka sukai meski untuk mendapatkan itu (orangtua) harus terlebih dulu berpeluh-peluh membanting tulang di jalan-jalan.

Ketiga, orang yang berjuang setelah menikah lebih memiliki banyak dinamika di dalam kehidupan. Lebih banyak gejolak emosi yang dirasakan. Dan kematangan mengolah masalahnya lebih teruji. Karena fokus pencapaiannya banyak. Bukan hanya kebutuhan makan-minum yang harus dipenuhi. Tapi kebutuhan istri, dapur, rumah (kost/kontrakan) pun harus juga dipenuhi. Faktanya, orang yang menikah meski belum mapan itu lebih ditempa oleh berbagai persoalan. Dan pengalaman itu langka—dan tidak bisa didapatkan lewat teori-teori di bangku kuliah. (Tapi bukannya memang pernikahan itu tidak ada teorinya?) Memang, semua orang mencari kebahagiaan, termasuk dalam hal pernikahan. Tapi sebagaimana kata Leo Tolstoy di dalam Anna Karenina, “Semua keluarga yang bahagia itu (bahagianya) sama. Tapi keluarga yang tidak bahagia, (mereka) tidak bahagia dengan caranya sendiri-sendiri.”

Maka silakan memilih, mau mapan dulu baru menikah atau menikah dulu baru mapan. Semua soal pilihan, sekali lagi, tak ada hubungannya dengan benar dan salah. Tapi Tan Malaka pernah berkata, “Nilai sebuah kemenangan itu terletak pada perjuangannya, bukan pada hasilnya.” Maka saya cuma bilang: apa kita nggak malu sama burung yang kawin lebih dulu baru buat sarang di pepohonan kemudian (baca: mapan)?

Ingat pepatah lama: Berakit ke hulu berenang ke tepian. Bersakit dahulu bersenang kemudian.

Anomali Isi Televisi

Tak jarang setiap berhadapan dengan televisi saya ngedumel tiada henti. Sampah. Kata itulah yang sering saya ucapkan dalam hati. Televisi beserta isi-isinya hampir sebagian besar menggiring kita ke jurang kebodohan–dan tak disangkal menjadikan kita sebagai pemuja kepalsuan.

Contoh konkretnya, ponakan saya sendiri yang berusia dua tahun, sering saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri, sekonyong-konyong meninggalkan aktivitas nenen dari mamanya–meski lapar dan haus setengah mati–berlari ke depan televisi karena mendengar dan ingin menonton sampai habis iklan kampanye salah satu partai politik yang ketuanya pemilik banyak stasiun televisi. Partai Lapindo, eh Perindo maksudnya. Ampuuuun, kataku dalam hati.

Suatu ketika saya ingin menginisiasi gerakan anti televisi. Menyebarkan pamflet yang isinya tentang bahaya laten dari televisi. “Menonton Televisi Membunuhmu”, begitulah kalimat di sisi paling bawah pada pamflet tersebut.

Televisi termasuk pelanggar HAM terbesar di muka bumi ini. Membunuh hak manusia untuk menjadi diri sendiri dan berpikir jernih.

Tapi … mmm … tapi setelah saya pikir-pikir lebih dalam lagi. Astaga! Kalau sampai televisi benar-benar ditiadakan dari muka bumi, bukankah akan menjadi lebih mengerikan dunia ini? Semua pabrik televisi tutup. Stasiun televisi, rumah-rumah produksi, sanggar-sanggar akting, dan lain sebagainya gulung tikar. Pengangguran semakin membludak. Buruh, crew, broadcaster, sutradara, editor, penulis naskah, beserta seluruh jajarannya, cleaning service, satpam, tukang parkir, dan lain-lain kehilangan sumber penghidupan. Pengangguran akan semakin menyesaki jalan-jalan, tingkat kemiskinan bertambah, dan kalau sudah begitu: perbuatan kriminal pun akan semakin mengancam. Sebab kelaparan semakin bertambah. Kadar gula pada diri sebagian besar orang semakin berkurang. Emosi menjadi sangat tidak stabil, mudah marah-marah, hilang akal sehat, betindak kalap, dan kalau sudah demikian, penipuan, pencurian, pembunuhan, dll., adalah sebuah keniscayaan.

Maka alih-alih menginisiasi gerakan anti-televisi, saya sadari bahwa ada banyak orang yang butuh hidup dari pekerjaan di dalam domain televisi tersebut. Ada banyak jiwa yang nasib hidupnya berlangsung dari kerja televisi, hiburan, berita, sinetron, dsb, dst.

Ya, akhirnya saya sadari. Beginilah kehidupan. Mengandung paradoks di dalam dirinya sendiri. Menyimpan anomali dalam setiap pro-kontra yang ada. Kita menyukai sesuatu, tapi sesuatu itu memunyai sisi bahaya buat kita. Kita membenci sesuatu, tapi sesuatu itu mengandung roda kehidupan yang harus terus berputar. []

Komunisme dan Kerancuan Sejarah Orba

Tanpa tedeng aling-aling langsung saja saya katakan bahwa orang yang bilang cinta terhadap Indonesia tetapi anti terhadap komunisme itu bagai menantu yang mencintai istri/suami tetapi durhaka terhadap mertuanya.

Indonesia itu salah satu unsur pembentuknya adalah ideologi komunisme. Jadi jangan salah sangka, jangan amnesia, buta sejarah, apalagi tolol. Sebab tanpa memelajarai komunisme, mustahil para founding father bisa merumuskan pancasila.

Lho, Bung Karno sang proklamator yang kita puja-puji dan kita bangga-banggakan itu adalah seorang komunis tulen. Kalau tidak percaya silakan pelajari pemikiran-pemikirannya, baca buku-bukunya. Bahkan tokoh besar komunisme, Karl Marx, yang dibahasakan oleh Bung Karno sebagai datuknya kaum miskin yang berpenampilan koyak-koyak itu diperingati hari kematiannya lewat sebuah tulisan di “Fikiran Ra’jat”tahun 1933 yang berjudul “Memperingati 50 Tahun Wafatnya Karl Marx”.

Dari situ bisa kita maknai bahwa betapa hormatnya Bung Karno terhadap Karl Marx, dan betapa berpengaruhnya Karl Marx terhadap pemikiran Bung Karno. Dan dari (teori-teori) Karl Marx-lah Bung Karno menghasilkan buah pemikiran tentang Marhaenisme, yang menurut Bung Karno adalah Marxisme/komunisme yang di-Indonesia-kan. Komunisme yang sesuai dengan kebudayaan nusantara, yang sesuai dengan jati diri kita, begitu kata Bung Karno.

Dan menyikapi fenomena komunismefobia yang tak surut-surut sampai hari ini, sejak dulu sudah ia terangkan bahwa komunisme itu ideologi, bukan teologi. Komunisme bukan-lah atheisme, komunisme itu ideologi perjuangan. Bajingan Orba sajalah yang mengaburkan makna dan sejarahnya. Silakan kroscek sendiri pidato Bung Karno pada peringatan HUT kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1960, pidato Bung Karno di HUT PERWARI 1965,  Amanat Presiden Bung Karno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 1965, pidato Bung Karno di Sidang Paripurna Kabinet Dwikora, di Istana Bogor, 6 November 1965, Amanat Presiden Sukarno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 196,  Amanat Presiden Sukarno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 1965, pidato Bung Karno di hadapan peserta Sapta Warsa Gerakan Siswa Nasional Indonesia/GSNI, di Istora Senayan, Jakarta, 28 Februari 1966, dan masih banyak lagi pidato-pidato lainnya yang isinya secara gamblang Bung Karno mengaku diri sebagai komunis.

Maka membenci komunisme sama dengan membenci Indonesia, founding father (terutama Bung Karno), dan sejarah kebangsaan kita. Bahkan konsep negara Republik Indonesia itu ditulis oleh seorang maniak komunisme: Ibrahim Datuk Tan Malaka. Kalau kebebalan dan kesalah-kaprahan kebenaran sejarah ini kita (tetap) pelihara maka lebih baik kita bubarkan saja negara ini. Wong kita sudah berkhianat, kok. 

Yang jelas, kita sudah nyata-nyata durhaka terhadap founding father  jika masih anti terhadap komunisme. Tapi dengan melihat kondisi yang ada dan mempertimbangkan segala kemungkinannya maka sepertinya kedurhakaan kita ini akan tetap kita pertahankan. Soal ini, Bung Karno sudah men-twit-kannya hampir seratus tahun yang lalu: “Orang tak akan gampang-gampang melepaskan bakul-nasinya, jika pelepasan bakul itu mendatangkan matinya!”

Ssst … soal komunisme dan segala persoalannya ini kalau mau diluruskan sebenarnya gampang saja. Sekadar informasi: saat ini banyak aktivis “kiri” yang duduk di tampuk kekuasaan–khususnya di parlemen. Tak usahlah saya sebutkan nama-nama mereka yang jelas mereka cerdas, militan, dan revolusioner (reformisioner). Tapi berhubung karena dengan mengungkapkan kebenaran akan “mendatangkan matinya” maka lebih baik sami’na wa atho’na.  Kami dengar kami taat. Diam dan nikmati nyamannya kursi kekuasaan.

Kita boleh bilang Orba sebagai bajingan, kawan. Tapi orang-orang seperti mereka jauh lebih bajingan lagi karena mereka mendiamkan kesalahan (baca: kerancuan sejarah). Ingat kata Soe Hok Gie: “Mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.”

Masih tidak percaya? Coba cek sampai hari ini anasir-anasir Orba hampir semuanya masih dipakai, termasuk peringatan hari SUPERSEMAR yang jatuh pada hari ini. Dan cek, adakah aparatur negara-pemerintahan wabilkhusus anggota DPR yang sekarang ini menjabat berani menyatakan secara terang-terangan bahwa sejarah SUPERSEMAR itu murni rekayasa alias kebohongan yang dibuat oleh Soeharto?

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi,” tegas Tan Malaka.

Piye kabare, iseh penak jamanku tho?” kata Soeharto sambil melambaikan tangan.

Yo penak. Dulu Soeharto cuma satu; sekarang Soeharto di mana-mana. Semua berlaku seperti Soeharto,” celetuk Gus Dur selow dengan gaya khasnya.

Sang Orator Baru

toaa

JUMAT, 9 Desember 2011. Siang itu sang surya begitu perkasa menancapkan sinarnya di bumi kota Makassar, bisa sengatannya bisa membuat kulit manusia berubah menjadi gosong, atau kemerah-merahan seperti udang yang dipanggang di perapian, kondisi seperti ini umumnya membuat banyak orang khususnya para gadis, ibu-ibu, dan kaum lelaki klimis pecinta salon yang berhobi merawat diri untuk lebih memilih berteduh di pepohonan kampus dan sekolah, rumah tinggal, mall-mall atau bagi kaum pekerja kantoran berdiam di dalam ruang-ruang ber-ac dan gedung yang menjulang tinggi sampai tiba waktunya sang jingga menyingkapkan warnanya di ufuk barat: sore.

Meski terik sedemikian ganas dan banyak orang bersembunyi dari panas, ada sekurumunan mahasiswa yang lebih memilih keluar menantang sengatan sang surya untuk melakukan aksi demonstrasi di jalan raya, tak perduli dengan kulit-kulit mereka yang semakin menghitam dipanggang mentari; bagi mereka terik mentari adalah penyulut api semangat revolusi, sekaligus ajang untuk menunjukkan taring kepada para birokratis rakus bahwa mereka akan selalu ada pada barisan perlawanan ketika hak rakyat dirampas oleh maling-maling berdasi.

Meski berada pada medan yang sangat curam sekalipun suara perlawanan tetap dikobarkan. Kami ada dan berlipat ganda! Seru massa aksi mengutip larik lagu Fajar Merah, anak Wiji Thukul.

Siang itu, Azfar sebagai salah seorang demonstran yang turun ke jalan dengan perkasa melangkahkan kaki bersama kawan-kawannya menuju gedung Kejaksaan Tinggi—sasaran pertama aksi demonstrasi karena yang paling dekat dengan kampusnya, ia begitu semangat namun juga sangat geram menyaksikan semakin banyaknya kasus korupsi yang kian hari kian marak dilakukan oleh para wakil-wakil rakyat dan beberapa pejabat menteri. Ia semakin geram lagi ketika isu-isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) menyeruak dengan gesit seperti mengejar rating berita menutupi kasus korupsi yang mengindikasikan keterlibatan pejabat-pejabat besar di negara ini.

Setibanya di depan kantor Kejaksaan Tinggi—titik pertama Azfar dan kawanannya melakukan aksi—terlihat barisan polisi dengan seragam dan tangan-tangan mereka—yang kekar sudah berdiri sigap untuk menjaga aksi demonstrasi para mahasiswa—memegang perisai, polisi mengamat-amati dan mengantisipasi kalau-kalau Azfar dan teman-temannya akan melakukan aksi vandalis. Selain polisi, ada juga beberapa awak media yang sudah antusias memegang kamera dan sekali-sekali men-jepret kerumanan massa mahasiswa yang sudah berada di depan gedung Kejaksaan Tinggi.

*

SATU hari sebelum mereka melakukan aksi, sepulang dari rapat konsolidasi persiapan aksi, Azfar sudah berlatih berorasi, menyemburkan kalimat-kalimat pamungkasnya yang dia harapkan bisa menyiutkan nyali para maling berdasi dan bisa menyulutkan api semangat para mahasiswa yang mendengarnya.

Di depan cermin, dengan memegang botol deodoran ia berlagak seolah-olah sedang—berdiri di depan orang banyak—memegang megaphone sambil mengangkat jari telunjuk tangan kanannya mengarah ke atas seperti mengutuk plafon kamarnya yang sering kebocoran kalau hujan, lalu mulai mengeluarkan suaranya yang membuat telinga siapa pun yang mendengarnya menjadi sakit.

“Ketika penindasan terjadi di mana-mana, ketika virus-virus korupsi mewabah di mana-mana, ketika pejabat negara bertindak semena-mena, dan ketika hukum berpihak kepada uang dan penguasa maka hanya ada satu kata: LAWAN!”

Begitulah ia bersuara dengan lantang di depan cermin. Suara lantang itu tidak hanya dihamburkan di depan cermin tetapi juga di kamar mandi sebelum menyemburkan air ke tubuhnya yang kurus.

Semangat yang berapi-api itu minimal disebabkan oleh dua hal: pertama, karena kebenciannya kepada pejabat-pejabat yang doyan merampas uang rakyat; sering membuat kebijakan yang (sama sekali) tak bijak; dan hanya semakin menambah kemiskinan dan kesengsaraan bagi rakyatnya. Dan kedua, ia ingin menampilkan dirinya yang gagah memegang megaphone di depan khalayak ramai dengan harapan bisa diliput oleh awak media khususnya media televisi agar dapat dilihat oleh teman-temannya yang kuliah di kota-kota lain, dan juga orangtuanya di kampung, meski ia tahu orangtuanya di kampung belum bisa mengakses siaran televisi karena saking terpelosoknya letak kampungnya berada (padahal dunia sudah sangat canggih!).

Sebab yang pertama bisa dikatakan adalah cermin dari aktivis sejati, sementara sebab yang kedua adalah cermin dari aktivis kerdil yang haus popularitas, krisis eksistensi serta narsis dan gila pujian. Kalau dibandingkan keduanya, Azfar lebih cenderung termotivasi oleh sebab yang kedua. Maklum, di zaman sekarang ini bukan hanya Azfar, tapi sebagian besar umat manusia memang menghamba pada perkara-perkara tersebut.

*

TEPAT di depan gerbang kantor Kejaksaan Tinggi, massa aksi sudah berbaris rapi membuat border dan sebagian lainnya mengangkat bendera merah-putih sebagai simbol perlawanan. Seseorang yang memakai kopiah dengan memiringkannya menyerupai gaya khas Sukarno namun berwarna sedikit kemerah-merahan—agak luntur karena mungkin termakan usia—bertindak sebagai koordinator lapangan (koorlap), dengan megaphone di tangannya, ia mengomandoi massa aksi agar tertib dan merapatkan barisan.

“Berapa jumlah kita, kawan-kawan?” Si Koorlap membuka orasinya.

“Satu!” jawab massa aksi serempak.

“Baik, kawan-kawan. Rapatkan barisan, kawan-kawan. Kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mahasiswa tidak buta. Bahwa kita adalah benar-benar rakyat yang ingin merdeka. Merdeka!”

Begitulah sampai seterusnya Si Koorlap berorasi dengan mengutip-kutip kalimat-kalimat dari Sukarno, Bung Tomo, WS Rendra, Wiji Thukul, dan lain-lain agar menambah sangar isi orasinya. Bahkan tak hanya itu, ia pun menyemburkan kalimat-kalimat kutukan, cacian, dan hasutan melalui megaphone agar menambah panas suasana siang itu. Setelah menutup orasinya, ia disambut meriah dengan riakan-riakan yang keras dari massa aksi. Ia pun menyudahi orasinya dengan mengajak seluruh massa aksi menyanyikan lagu Buruh Tani dan Darah Juang.

Melihat Si Koorlap begitu sangar berorasi di atas podium—dan lihai mengkobarkan semangat massa aksi di atas podium, Azfar merasa tertantang dan tidak mau kalah. Mulutnya mulai gatal ingin sesegera mungkin mempertunjukkan kemahirannya berorasi—yang menurutnya tidak beda jauh dengan Si Koorlap bahkan mungkin bisa lebih bagus lagi. Apalagi melihat mata-mata kamera para awak media banyak mengarah kepada Si Koorlap tadi, membuat Azfar semakin tak sabar ingin tampil memperagakan hasil latihannya di depan cermin dan kamar mandi secara intens selama ini.

Namun sampai satu jam berlalu, megaphone belum bergilir ke tangannya.

*

            TITIK pertama, Kejaksaan Tinggi, telah usai, kini massa aksi menuju ke titik berikutnya, di bawah jembatan Fly Over yang juga tidak jauh dari gedung Kejaksaan Tinggi. Di sana sudah ada barisan-barisan mahasiswa lain yang juga sedang menyuarakan dan menyerukan hal yang sama seperti kelompok Azfar. Hari itu, memang banyak kelompok-kelompok mahasiswa yang turun ke jalan melakukan aksi. Hal ini sudah menjadi tradisi ketika hari-hari besar atau ketika ada wacana-wacana kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat. Sebagaimana siang itu banyak mahasiswa yang turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi.

Sembari melangkahkan kaki menuju ke fly Over, orasi-orasi yang keluar dari corong megaphone terus dikobarkan, menuntun semangat mereka menuju ke fly Over, semangat mereka semakin berkobar, semakin terik matahari semakin perjuangan berapi-api, apalagi menyaksikan kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi di bawah fly over serta sebuah mini bus yang terkapar di tengah jalan—yang kemudian dijadikan sebagai podium mahasiswa dalam menghamburkan orasinya. Dan tepat di bawah fly over inilah, kelompok-kelompok mahasiswa dari berbagai organisasi dan kampus-kampus bersatu untuk semakin memasifkan pergerakan mereka. Sebagian melakukan aksi bakar-bakar ban, sebagian terus mengibarkan bendera dan meneriakkan yel-yel perlawanan. Dan ada pula yang membakar foto-foto pejabat negara yang terindikasi melakukan tindak pidana korupsi berikut me-milox di jalan dan tembok-embok jembatan nama-nama proyek yang tersangkut mega skandal korupsi yang sudah bertahun-tahun oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum diselesaikan.

Kelompok Azfar disambut meriah oleh kelompok mahasiswa lainnya yang sudah berada lebih dulu di bawah fly Over.  Si Koorlap langsung dipersilakan untuk mengambil podium. Harus diakui bahwa di antara kelompok Azfar, Si Koorlap itu adalah demonstran yang paling senior dan yang paling disegani karena ialah yang paling berpengalaman dan paling tajam orasi-orasinya.

Si Koorlap pun kembali menyemburkan kalimat-kalimat dahsyatnya lewat corong megaphone. Situasi semakin memanas. “Jika kata tak mampu menggugah. Diplomasi tak mampu mengubah. Maka pemberontakan adalah solusi kaum muda!” pekik Si Koorlap sampai bermuncratan air-air dari dalam mulutnya. Bukan hanya kelompok Azfar, semburan orasi Si Koorlap juga disambut antusias oleh semua massa aksi yang semakin banyak jumlahnya itu. Ia terus mengutip kalimat tokoh-tokoh untuk memainkan gelombang massa.

Tak ada lagi perbedaan ketika itu, antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain terlihat bersatu padu dalam barisan yang sama, yakni barisan perlawanan. Tidak ada lagi ego-ego antar organisasi dan antar fakultas. Semua bersatu dalam satu tujuan yang sama: “Ganyang koruptor. Tangkap koruptor. Bongkar skandal mega-proyek anu dan itu.”

“Baiklah, kawan-kawan. Berikutnya kita dengarkan orasi yang akan disampaikan oleh Bung Azfar dari Fakultas Teknik Bisulwa.” Momen itu akhirnya tiba juga. Si Koorlap memberi isyarat kepada Azfar untuk segera naik ke atas podium.

Dengan tegang dan degupan jantung yang berdebar kencang seperti genderang perang, Azfar melangkahkan kaki naik ke atas podium. Keyakinan yang kokoh mulai runtuh, ia mulai ragu apakah ia bisa sehebat dan segagah Si Koorlap—apalagi ia menyadari bahwa dirinya sama sekali belum pernah memegang megaphone untuk berorasi sebelum-sebelumnya. Ia bingung bagaimana cara memulainya. Semua hafalan dan latihan yang ia simulasikan di hadapan cermin dan di dalam kamar mandi hilang seketika. Rasa sesal mulai menghampirinya. Kalau tahu begini, saya tidak akan memberi kode kepada Si Koorlap agar memberi podium kepada saya, katanya dalam hati.

Semua mata seakan tertuju padanya, begitu pula mata-mata kamera awak media semua seolah-olah terpusat ke arahnya, tepat ke biji matanya. Barisan polisi bahkan bersiap-siap mengambil posisi mengantasipasi kalau-kalau orasi Azfar bisa menimbulkan hasutan yang bermuara kepada chaos dan tindakan vandalistik. Secara penampilan, Azfar mirip dengan Wiji Tukul, kurus berantakan, memakai jaket kusam dan lusuh, dan rambutnya sedikit gondrong tak disisir, mungkin itulah sebabnya polisi memberi kesigapan lebih dibanding orasi-orasi sebelumnya, takut kalau-kalau hasutannya menyerupai Wiji Tukul: kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan.

Langkah berat azfar disambut dengan yel-yel perlawanan dari mahasiswa yang semakin menggema menyerukan pemberantasan korupsi, kepulan asap yang semakin pekat melumuri jalanan turut mendramatisir langkah berat azfar ke atas podium. Selain itu, antrean panjang kendaraan yang tersandung macet turut pula menyaksikan langkah kaki sang orator baru itu.

Dengan tubuh gemetar ia mendaki mini bus menuju ke puncak podium, bersiap-siap mengukir sejarah baru, minimal untuk dirinya sendiri.

“Huuuuummmmmmm,” suara itu keluar dari corong megaphone yang dipegang Azfar. Intensitas dengungan itu semakin tinggi dan membuat gendang telinga siapa pun yang mendengarnya menjadi sakit.

Satu sama lain antar-massa aksi saling melirik bertanya-tanya dalam hati. Mungkin megaphone-nya rusak, pikir banyak orang. Sementara mata-mata kamera tak memalingkan arahnya, tetap saja tertuju pada sang orator baru itu, Azfar. Beberapa kali bunyi yang tidak enak itu terdengar lagi, hingga kemudian Si Koorlap mengambil kembali megaphone yang digenggam Azfar untuk mencoba memastikan apa ada masalah dengan megaphone tersebut. Tapi nyatanya tak ada yang bermasalah, di tangan Si Koorlap, suara megaphone tak mengeluarkan dengungan sebagaimana yang tadi dipegang oleh Azfar.

Setelah dipastikan sehat-sehat saja, megaphone itu diserahkan kembali ke tangan Azfar. Namun di tangan Azfar, dengungan itu terdengar lagi, bahkan lebih berdenging, “Huuuuuuuuuummmmmmmmmmm…” Suara itu terdengar berulang-ulang selama di tangan Azfar. Lirik-melirik penuh tanda tanya disertai dengan senyum-senyum tipis seakan mengolok semakin ramai sesama mahasiswa dan semua yang turut menyaksikan kejadian itu, termasuk para polisi yang tadinya tegang dan pedagang asongan yang menjajakan dagangannya di perempatan jalan. Sementara itu, para awak media tak henti-hentinya mengarahkan kameranya ke atas podium (entah apa benar disorot kamera atau perasaan Azfar saja yang merasa disorot kamera?), tempat Azfar dan Si Koorlap berdiri. Menyaksikan kejadian itu, seorang mahasiswa dari barisan massa aksi yang sebelumnya dari kelompok lain menyodorkan megaphone-nya yang dianggapnya lebih baik daripada megaphone milik kelompok azfar, harap-harap suara aneh itu tidak terdengar lagi.

“Huuuuuuuuuummmmmmmmmmm…” tak ada perubahan, masih sama seperti semula, di tangan azfar, megaphone seakan tidak sehat, sementara di tangan Si Koorlap, megaphone-nya tidak ada kendala dan bermasalah sama sekali. Akhirnya semua bersepakat bahwa yang bermasalah bukan megaphonenya tetapi Azfar-lah yang bermasalah. Dengan langkah berat dan dengan kemaluan yang besar, maksudnya perasaan malu yang besar ia pun turun dari atas podium sambil berharap-harap peristiwa memalukan ini tidak dimuat dan disiarkan di televisi. Sebab sangat memalukan rasanya bila kejadian semacam ini disaksikan oleh seluruh penduduk negeri, apalagi kalau ditonton oleh teman-teman yang kuliah di kota lain.

Dan sesaat setelah turun dari podium, kalimat “ketika penindasan terjadi di mana-mana, ketika virus-virus korupsi mewabah di mana-mana, ketika pejabat negara bertindak semena-mena, dan ketika hukum berpihak kepada uang dan penguasa maka hanya ada satu kata: LAWAN!” yang tadi menghilang dan tak bisa diingat sekejap muncul kembali di dalam memori Azfar tanpa satu huruf pun yang luput dari ingatan.[]

Dahlan, lahir di Buton, Sulawesi Tenggara. Alumni Universitas Bosowa, Makassar. Pegiat literasi, suka membaca dan menulis.