Setiap Orang adalah Setiap Orang

Memiliki hanya tepat jika peruntukannya adalah memiliki barang, bukan orang. Sebab setiap orang bukan untuk dimiliki. Sebab setiap orang punya pikiran, punya kehendaknya sendiri. Rasa memiliki atas orang hanya akan menimbulkan (potensi) kekecewaan karena orang bisa pergi, berkhianat, dan melakukan apa saja sesuai kemauannya sendiri.

Klaim kepemilikan orangtua atas anak, misalnya, itu adalah konsep pemikiran yang keliru. Karena anak bukan barang. Ia, pada saatnya nanti, harus kita relakan untuk pergi menjadi dirinya sendiri. Ia punya kehendak, punya hak, punya pikiran dan perasaan yang senantiasa bergolak.

“Anakmu bukanlah anakmu,” kata Kahlil Gibran, “mereka sekadar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu … karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.” Kita sebagai orangtua saja yang otoriter mengharuskan mereka menuruti pikiran kita. Padahal faktanya, mereka ada dan tidaknya bukan karena kemauan mereka. Tapi karena (hasil dari) keinginan kita sebagai laki-laki dan perempuan.

Begitupun dalam ranah suami-istri. Dipaksakan dengan cara apa pun, suami dan istri tetaplah dua subjek yang berbeda. Mereka bisa bersatu, tapi tak bisa menyatu. Bersatu berarti bergabung untuk suatu tujuan atau alasan. Sedangkan menyatu berarti meninggalkan subjek lama untuk menjadi suatu zat baru. Menyatu berarti suami dan istri menjadi satu subjek. Dan itu nyaris mustahil terjadi. Sebab suami dan istri itu adalah dua subjek yang berada pada dua tubuh yang berbeda.

Maka kepemilikian itu tak tepat dalam klaim “istri adalah milik suami”, “suami milik istri”, “anak milik orangtua”, dan sebagainya, dan seterusnya.

Sebab manusia tidak bisa saling memiliki. Meski raganya ter/dikerangkeng, pikirannya, sukmanya, jiwanya, tak bisa dipenjarakan. Maka memaksakan orang lain untuk menjadi apa yang kita inginkan sama dengan praktik totalitarianisme. Itu melanggar hak azasi manusia. Menyalahi kodrat manusia.

Maka sebagai manusia harusnya kita tahu diri. Kenyataan tak harus melulu sesuai dengan yang kita ingini, tapi itulah kenyataannya. Tidak ada istri durhaka, suami durhaka, anak durhaka, dan lain-lain. Yang ada adalah kegagalanmu sebagai manusia dalam menyikapi kenyataan. Mau dijungkir-balikkan bagaimanapun kau tetap kau dan orang lain adalah orang lain.

Pencarian terpanjang dalam perjalanan kehidupan manusia adalah menemukan dan menjadi diri sendiri. Tapi paradoksnya, menjadi diri sendiri bisa berarti menjadi orang lain. Sebab orang lain (dan setiap orang pada umumnya) juga ingin menjadi dirinya sendiri. Betul ka tra?

Aih, jang pusing. Mampir dolo di Lapo Mamre.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s