Aforisme Anarkisme kepada Negara

Aforisme ini bukan bikinan seseorang, bukan desakan, apalagi paksaan. Ia hanyalah ampas-ampas pikiran yang terbuang dari gesekan-gesekan keadaan. Sejarah sudah tak memunyai kredibilitas. Teori-teori lama sudah usang ditelan zaman. Dari praktik ke praktik, yang ada hanyalah penumpukan keuntungan dan kekuasaan di satu sisi, dan ketimpangan, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, pengisapan, dan penindasan di sisi lainnya.

Boleh jadi, anarkisme adalah orde terakhir dari jalan panjang perjuangan manusia dalam menemukan kembali sebuah role model peradaban umat manusia. Adalah babak terakhir corak sejarah manusia. Tanpa negara. Dunia kembali ke penelanjangan entitas.

Dan kepada negara. Inilah kami apa adanya.

Kami akan baik-baik saja tanpa peranmu. Hingga pada akhirnya kami merasa bahwa kami tak memerlukan adamu lagi. Ada dan tiadamu pun kami mampu survive, kau ada dan tidak ada pun bagi kami tak ada pengaruh apa-apa.

Kau menyebut dirimu negara, tapi dalam praksisnya tak kami temui karakter kenegaraan pada dirimu. Kau bahkan menjelma dengan sorban keagamaan hanya untuk meniduri kekuasaan. Kau susupi ideologi binatangmu ke dalam kurikulum pendidikan untuk menciptakan makhluk-makhluk mekanis yang siap–dan bahkan meminta–diperkosa.

Bahwa faktanya negara hanyalah kepura-puraan belaka, (drama) kesejahteraan hanya berlaku di saat pentas politik praktis: pemilu; pilpres, pileg, pilkada, pilkadal, pilkabe, bla-bla-bla … tapi setelah itu, kau lupa. Tidak ada makna apa-apa, semua berjalan seperti sedia kala.

Kau ciptakan kebebasan pers untuk membenturkan paradigma kami yang lugu dengan sederetan propaganda kapitalisme-mu yang lucu. Tapi kami tahu, yang merah di bibir itu cuma gincu. Anarkisme, radikalisme, pemberontakan, dsb. hari ini dimaknai sebagai sesuatu yang buruk padahal secara bahasa dan sejarah tidak demikian. Masyarakat menjadi korban re-pemaknaan penguasa negara, media, dan pemilik kapital dan pilar-pilar hegemoni lainnya. Tapi kami adalah kehendak untuk bebas, merdeka, dan berdaulat atas diri kami sendiri. Bebas, merdeka, dan berdaulat atas kemanusiaan yang kita kandung sendiri.

Produk demokrasimu adalah dongeng yang dimodernisasi, lagu lama yang cuma dipakaikan cover baru. Tapi kami tak bodoh untuk menelanmu mentah-mentah. Maka dengan ini kami katakan bahwa kami adalah hasilmu yang gagal, yang menolak tunduk terhadap program kapitalistik-mu. Kami lolos dari lubang jarum eksploitasimu yang membodohkan dan mencoba membuat kami menjadi manusia satu dimensi; manusia yang dogmatis terhadap segala titahmu.

Sikap kami jelas: meyakini kedaulatan di tangan negara adalah musyrik. Adalah takhayul cukardeleng. Maka anarkisme-lah jalan keluarnya. Bukan sebagai solusi tetapi sebagai kehendak sejarah, sebagai hasil pergulatan keadaan.

Semua akan kacau pada waktunya. dan anarkisme bukan paksaan untuk diminta ada.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s