MEMOAR KEMATIAN: MIMPI

 

(Saya terkadang bingung sendiri menemukan-membaca tulisan-tulisan lawas saya yang konyol dan gila. Salah satunya ini. Apa saya memerlukan seorang psikolog?)

TADI malam saya bermimpi membunuh orang. Namanya mimpi maka saya tak ingat detail kronologi pembunuhannya. Yang jelas dalam ingatan saya, ada seseorang yang saya penggal kepalanya. Entah siapa dia. Saya memotong lehernya hingga terpisah dari badannya. Saya pun bingung untuk membuang mayatnya di mana. Saya takut ketahuan. Saya putuskan untuk pertama-tama memasukkan badannya ke dalam karung. Tapi setelah saya masukkan badannya ke dalam karung. Kepalanya, yang tadi ada di samping saya, menghilang. Entah ke mana. Saya pun panik dan mulai mencurigai ada orang yang sempat melihat tindakan saya saat memasukkan badan mayat ke karung dan mengambil kepala mayat tersebut.

Saya mencari-cari, mencari-cari, tetapi tak ketemu. Saya semakin gelisah. Saya takut ketahuan orang banyak kalau saya telah melakukan pembunuhan. Saya takut. Dalam ketakutan dan kegelisahan yang mendalam, saya mencoba untuk memungkiri kenyataan tersebut. Dalam hati saya berkata: ini tidak nyata! Ini hanya mimpi! Yakin! Ini hanya mimpi! Saya harus bangun! Saya harus sadar! Sadar!

Dan akhirnya: saya pun terbangun. Dan beberapa jam setelah terbangun, saya menuliskan mimpi ini.

***

SEMUA itu hanya mimpi. Mimpi yang saya tuliskan kembali dalam bentuk yang berbeda. Saya menukar subjek-subjek di dalam mimpi itu, mengubah diri saya sebagai pelaku. Dan perasaan yang terhasilkan adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Meski demikian, perasaan saat saya menjadi subjek yang dibunuh pun tak kalah menyakitkan. Bahkan seumur hidup, tak ada perasaan sesakit dibunuh, dipenggal kepalanya dengan cara diiris-iris lehernya menggunakan golok tua yang agak tumpul. Sakit, o sakit sekali!

Meski mimpi, perasaan yang saya alami sungguh sangat nyata. Saya bahkan merasa jangan-jangan saat ini saya benar-benar sudah mati dan menjadi arwah yang bergentayangan. Atau saya mati suri. Atau saya sedang dan sudah menjalani hidup yang baru; hidup setelah mati.

Ah, perasaan sungguh sangat abstrak. Saya benar-benar bingung dan pusing.

Tapi tunggu dulu. Kenapa sampai bisa terjadi mimpi. Orang-orang mengatakan bahwa mimpi adalah bunga tidur. Tapi bukankah bunga yang tumbuh dan mekar di dalam tidur adalah bibit kembang yang kita tanam di saat terjaga? Contohnya kita bermimpi dikejar satpam, bukankah mimpi itu tidak sekonyong-konyong muncul tanpa sebab-sebab yang memadai, seperti misalnya saat terjaga di siang tadi kita sedang membully atau mengejek-ejek seorang satpam? Atau melakukan hal-hal yang berkaitan dengan satpam, kejar-kejaran, atau mungkin saat kita tidur terjadi kejadian kejar-kejaran antara satpam dengan sekelompok orang di sekitar tempat kita sedang tidur?

Saya pusing dan bingung. Mimpi terkadang membangkitkan harapan namun tak jarang malah mempersuram keadaan.

***

TADI malam saya bermimpi dibunuh orang. Namanya mimpi maka saya tak ingat detail kronologi pembunuhannya. Yang jelas dalam ingatan saya, ada seseorang yang memenggal kepalaku. Entah siapa dia. Dia memotong leherku hingga terpisah dari badanku. Dia tampak kebingungan akan dibuang ke mana mayatku. Dia tampak ketakutan. Dia akhirnya memutuskan untuk pertama-tama memasukkan badanku ke dalam karung. Tapi setelah dia masukkan badanku ke dalam karung. Kepalaku, yang tadi ada di sampingnya, menghilang. Entah ke mana. Sebenarnya saya tak merasa bahwa kepala saya telah ke mana atau telah hilang. Saya merasa kepala saya tidak ke mana-mana, tepat di sampingnya, di sisi kanan kakinya yang sedang berlutut. Saya merasa sedang melihatnya dari sudut pandang yang sama sedari tadi. Namun tampak kepanikan dari air muka dan bahasa kacau tubuhnya. Dia mulai mencurigai ada orang yang sempat melihat tindakannya saat  memasukan badanku ke karung dan mengambil kepalaku. Dia mencari-cari, mencari-cari, tetapi tak ketemu. Dia semakin gelisah. Dia seperti ketakutan kalau-kalau tindakannya diketahui orang banyak. Tapi saya tak terlalu peduli padanya. Saya sendiri pun masih merasakan sakit yang teramat sangat. Dalam kesakitan dan keperihan yang mendalam, saya mencoba untuk memungkiri kenyataan tersebut. Dalam hati saya berkata: ini tidak nyata! Ini hanya mimpi! Yakin! Ini hanya mimpi! Saya harus bangun! Saya harus sadar! Sadar!

Dan akhirnya: saya pun terbangun. Dan beberapa jam setelah terbangun, saya menuliskan mimpi ini.

***

SAYA terbangun dan banyak-banyak mengucap syukur karena pertama, semuanya ternyata hanya mimpi. Dan kedua, saya bisa mengetahui dan merasakan bagaimana pedihnya mati dengan cara dibunuh. Sakitnya bukan main. Seumur hidup saya berani bersumpah: tak ada sakit sesakit kematian. Apalagi mati dibunuh.

O, mimpi ini adalah mimpi yang memberi pengetahuan dan kesadaran dalam hidupku. Jenis mimpi seperti ini bagi saya terbilang sangat jarang. Saya memang bukan kali ini saja mendapat pengetahuan dari mimpi. Pengetahuan yang datang melalui mimpi sudah pernah saya alami sebelumnya. Meski jumlahnya masih bisa dihitung menggunakan jari. Tapi menurut saya mimpi kali ini sungguh sangat mencekam dan mungkin akan mengubah banyak hal terkait cara dan sikap saya menjalani hidup.

Tapi tunggu. Apa betul ini adalah bentuk kesadaran saya setelah terbangun? Apa betul saya saat ini sedang terjaga setelah mimpi buruk yang baru saja kualami?

Sabar. Sepertinya ada yang kurang beres. Saya saat ini sedang terjaga, duduk di sisi luar ranjang, sambil menuliskan kembali mimpi saya di buku nota kecil, buku catatan utangku tepat di meja–tempat biasa saya menulis dan membaca. Ini fakta dan sangat nyata. Tapi. Tapi … di belakang saya, di tengah ranjang yang saya duduki ini, terbaring tubuhku, jasadku, fisik badaniahku. Dengan mata tertutup dan mulut setengah ternganga. Shit!

Ini mimpi atau bukan?

***

GELAP. Pandanganku gelap. Keluh-kesahku gelap. Peluh-resahku gelap. Pikiranku gelap. Perasaanku gelap. Segalanya gelap. Saya memeluk diriku sendiri. Mendekap panas dan dingin tubuhku.

Saya melirik kembali istri pamanku yang tertidur. Saya meraba kembali tubuhnya yang sedikit terbuka. Menggerayanginya dan merayakan kemenangan hasratku.

Namun saya takut. Takut dia terbangun, mengetahui kebejatanku, dan berteriak sejadi-jadinya. Kalau sampai itu terjadi, saya sudah siap melibas lehernya dengan golok yang digantung di pintu kamar saya dan istri pamanku ini berada.

Di sisi lain, saya pun takut kalau-kalau kebejatanku ini diketahui oleh pamanku. Kalau itu terjadi, dia bisa saja dengan sigap melibas leherku dengan golok yang digantung di pintu kamar di mana saya dan istri pamanku ini sedang berada.

Gelap. Pandanganku gelap. Keluh-kesahku gelap. Peluh-resahku gelap. Pikiranku gelap. Perasaanku gelap. Segalanya gelap. Saya memeluk diriku sendiri. Mendekap panas dan dingin tubuhku.

Sudah tiada lagi kata-kata. Saya harus berani mengambil sikap untuk segera bertemu Tuhan dengan cara apa. Dengan memerkosa istri pamanku dan kemudian sejurus waktu ia menyukai dan menikmatinya; atau dengan cara dibunuh oleh pamanku sendiri karena mengetahui istrinya mau (atau telah) diperkosa oleh saya (ponakannya sendiri). Kalau terjadi kematian, maka setiap subjek yang mati mengalami kematian dengan cara dibacok, ditikam, atau digorok.

Persetan! Pada berahi yang memuncak, kematian tak bisa lagi menggertak. (*)

 

 

 

Presiden Anjing

(Ini karya tulisan yang dibuat oleh salah satu teman Facebook saya, Jevindra. Saya terbitkan kembali dalam blog ini karena sampai saat ini saya masih suka.)


“Presiden kita sekarang itu anjing!”
teriak penjual nasi kucing
di trotoar
tak satu pun tukang becak dan orang-orang yang mendengar berani bergeming.

“Ya! Hanya koar-koar kerja-kerja-kerja,” sahut suaminya, “tapi gila, membuat semua [barang] naik harga.”
Tukang becak hanya bisa menghela napasnya
Aku yang terdiam seribu bahasa
–tanpa sadar kemudian ikut bersuara–

“Ya! Memang presiden kita sekarang itu anjing!”


***

Malam hari:

Dalam lelap aku bermimpi
Tukang-tukang becak mendatangiku dengan wajah pasi
Tiba-tiba menjelma sekawanan anjing
Memandangku dengan julur lidah dan menyeringai

“Apa yang kaukatakan siang tadi?”
tanya salah satu anjing
“Presiden kita yang sekarang itu anjing!”
jawabku

“Bangsat! Kurang ajar kau!”
“Memangnya kenapa?”
“Jangan samakan kami dengan presiden itu, kami anjing.”

dengan tatapan sinis mereka berlalu meninggalkanku dalam perasaanku yang kelu.

Bandung, 221214

Perubahan adalah Hasil Pengetahuan

(Ini tulisan lama saya di tahun 2014. Pernah dimuat di portal online mana–saya sudah lupa. Saya menerbitkan kembali di dalam blog ini dengan harapan jiwa muda saya bisa terpelihara. Hehehe …)

“Cita-cita hidup manusia beragam, tapi satu hal yang harus kita sepakati adalah bahwa tugas hidup manusia adalah mengurangi ketidak-tahuan kita setiap hari.”

–Budiman Sudjatmiko

Mengatakan hidup sebagai hidup tanpa memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kehidupan, itu sama dengan menistakan kehidupan ke dalam jurang kebodohan. Setiap manusia wajib mengetahui, apapun harus diketahui. Dengan mengetahui, seseorang bisa dikatakan mempunyai pikiran. Sebab, pengetahuan adalah produk dari aktifitas pikiran.

Homo Kepoctus, Manusia adalah makhluk yang ingin mengetahui. Mungkin Charles Darwin kalau masih hidup sampai saat ini maka dia akan menyebutnya demikian.

Dunia berkembang dan maju adalah hasil dari ketat dan dalamnya pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Maka, wajah dunia hari ini adalah cerminan dari betapa canggih dan jenius manusia-manusia di dalamnya.

Kampus adalah tempat paling utama dalam menjalarkan ilmu pengetahuan ke otak mahasiswa, seharusnya, sebab di kampus, segala obyektifitas dan nilai intelektual bercokol. Mahasiswa tinggal memetik dan memakan buahnya.

Namun hari ini, faktanya, kampus malah menjadi tempat hedonisme berwabah. Jaring konsumerisme bersarang di berbagai tempat dan ruang mahasiswa. Kampus mengalami disfungsi, Intelektual tak lagi bereaksi.

Kaum intelektual adalah orang yang mempunyai fungsi sosial, itulah gambaran sederhana oleh Antonio Gramsci terhadap makna kaum intelektual yang ideal. Jika tak ada fungsi sosial maka tak ada pula intelektual.

Kampus adalah mesin pencetak intelek-intelek baru setiap tahun. Masyarakat sebagai obyek perjuangan kaum intelek harusnya mampu mengatualisasikan nilai-nilai intelektual itu untuk mengabdi kepada masyarakat, sebagaimana juga yang terpatri dalam tri darma perguruan tinggi.

Semangat mahasiswa sebagai entitas perubahan dan tonggak pengabdian itulah yang harus dihidupkan kembali, kampus sebagai tempat mahasiswa ber-kuliah harusnya dijadikan sebagai laboraturium kemajuan peradaban dunia. Mahasiswa yang dipredikati agen of change penting untuk dihidupkan dalam wilayah praksis-implementatif.

Pengetahuan dikembangkan, peran difungsikan, dan tujuan diutamakan. Itulah syarat agar mahasiswa Indonesia bisa maju.

Tugas mahasiswa saat ini adalah menghidupkan kembali ruh kemahasiswaannya; dengan cara membaca buku, melakukan kajian-kajian kebangsaan-kenegaraan, dan turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan untuk memekakan jiwa gotong-royong yang notabene adalah karakteristik bangsa Indonesia.

Jika saran di atas terlalu normatif, maka berpikirlah tentang hal gila yang lebih menggugah dan mampu mengubah. Asalkan kita telah mengetahui banyak tentang siapa diri kita dan siapa musuh kita. Ya, menambah dan terus menambah pengetahuan sebelum membuat perubahan.

Revolusi Harus Revolusioner

(Ini tulisan lama saya di tahun 2014. Saya menerbitkan ulang tanpa mengedit seluruh kontennya untuk menjadi pengingat bahwa hidup memang sangat dialektis; selalu berubah. Saya bisa melihat diri saya sangat berbeda dalam tulisan ini.)

“Mendidik rakyat dengan penindasan, mendidik penguasa dengan perlawanan.” –Anyong Latupono

Jika kau tak mau dilawan maka jangan menguasai, dan jika kau tak mau ditawan, maka jangan mau dikuasai. Itulah resep sederhana membangun kehidupan tanpa hierarki penindasan. Menuju tatanan hidup yang berkesetaraan, bebas, dan merdeka. Resep itu takkan kau dapati di lomba masak, adu-bakat, dan kompetisi nyanyi di televisi.

Politik “atas nama” adalah sebutan untuk praktik politik hari ini. Ia lahir dari, oleh, dan untuk kekuasaan. Agar diterima publik, dimainkanlah bahasa “kerakyatan” di dalamnya. Kun fayakun, jadilah politik atas nama rakyat, lewat ajang debat, dan saling babat. Hebat. Ya, Indonesia memang hebat.

Mengingat perkataan Bung Karno yang terjejak dalam kumpulan tulisannya dalam Di Bawah Bendera Revolusi, “Jangankan manusia, cacing pun tentu begerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit.” Perkataan tersebut adalah keniscayaan dari kausalitas (hukum sebab-akibat) yang meliputi semesta raya ini. Bahwa takkan ada manusia yang mau hidupnya dihisap apalagi ditindas oleh manusia lain. Semakin air itu ditekan, semakin besar muncratannya ke atas. Semakin manusia ditindas, semakin manusia membuas. Itulah hukum sebab-akibat. Hukum alam dan akal-sehat. Tan Malaka menyebutnya natuurkunde.

Konsukwensi keyakinan manusia terhadap kausalitas seharusnya berlaku mutlak. Sayang, realitas hari ini berkata lain, besarnya keyakinan terhadap kausalitas kalah dengan besarnya gelombang nafsu untuk berkuasa. Secara de facto, di bawah kekuasaan kapitalisme sebagai kelas penguasa hari ini, dengan invisble hand dan segala bentuk kreatifitasnya mengelola penindasan terjadi secara halus, dan itu terbukti hampir berhasil seratus persen sebab rakyat sebagai kelas yang ditindas tidak seperti yang dikatakan Bung Karno, begerak berkeluget-keluget, tidak ada perlawanan, tidak ada pemberontakan. Hanya diam dan menerima secara sukarela. Mungkin inilah voluntary effect yang diteorikan Antonio Gramsci hampir seabad yang lalu.

Perang konvensional terlalu kuno untuk diterapkan, perang opini dan informasi lebih “mematikan” , Proxy War sebutannya, perang proxy tak butuh meriam-bedil-senapan. Tak perlu. “Untuk memenangkan perang, kau tak perlu menyerang fisiknya, cukup jajah wacananya,” Michel Foucault mengingatkanku dalam diskusi imajiner sebelum tulisan ini dibuat.

Paradigma suatu bangsa adalah cerminan dari ideologi negaranya, dan ideologi negaranya adalah hasil rekayasa para penguasanya. Negara secara massif-intensif menjajah wacana rakyatnya untuk lupa tentang tujuan bernegara. Penguasa menjalankan negara “seolah-olah” negara, dan rakyat secara tak sadar menyepakatinya dengan sukarela, dan ironisnya, tak sedikit yang mendukung dan berjibaku dalam realitas palsu (realitas yang dipalsukan) tersebut.

Semakin kreatif penguasa menggiring alam-pikir rakytanya, semakin nyaman sebuah kekuasaan berpucuk.

Pentingnya kreatifitas –daya cipta– penguasa dalam berkuasa memiliki arti agar yang dikuasai patuh terhadap (kehendak) penguasa. Bahkan tidak hanya sebatas itu, mereka (yang dikuasai) harus memberi persetujuan atas ke-subordinasi-annya. Sehingga pemberlakuan PHK, Outshorching, Upah murah, Jam kerja tidak manusiawi, dan lain sebagainya harus disetujui sebagai sesuatu (aturan) yang layak diberlakukan. Meski secara rasionalitas dan kemanusiaan tidak layak. Sangat tidak layak.

Itulah yang dimaksud Antonio Gramsci sebagai puncak kekuasaan satu kelas terhadap kelas lain. Kekuasaan bekerja tanpa membuat yang dikuasai merasa dikuasai. Dengan kata lain, rakyat dibuat bertekuk-lutut dengan ketak-sadarannya terhadap penguasa. This is hegemony.

Bagaimana dengan Indonesia hari ini?

Selama masih ada gerakan kontra-penguasa, masih ada tulisan-tulisan perlawanan, dan postulat perubahan maka selama itu kekuasaan belum mencapai kebehasilannya seratus persen. Ia (kekuasaan) masih bisa diruntuhkan-dirontokkan, berangkat dari sabda Al-Chartill bahwa, “Perubahan itu datang dari gerakan yang paling kecil, dan terkecil sekali.”

Nelson Mandela mengatakan, “Pendidikan adalah senjata yang paling kuat untuk mengubah dunia,” Paulo Freire meng-iyakan dengan sedikit menyederhanakan, “Pendidikan adalah alat pembebasan.” Entah pembebasan dari buta-huruf,  kebodohan, ketidak-tahuan, sampai ketidak-sadaran bahwa manusia (sesungguhnya) masih ditindas. Sebab penindasan, apapun nama dan alasannya, adalah tidak manusiawi (dehumanisasi). Pendidikan sebagai proses dialektika yang memanusiakan manusia (humanisasi).

Tulisan ini hanya akan “bernyawa” di tangan Pemuda-Mahasiswa, mereka kaum intelektual yang integral dengan masyarakat. Di tangan pekerja-buruh, tulisan ini tak ada nilainya, sebab yang terpenting bagi buruh, pekerja, dsb, adalah memenuhi kebutuhan. Selama tulisan tak memberi uang maka selama itu tulisan tak ada maknanya. Maka hanya Pemuda-Mahasiswa-lah embrio perubahan terbentuk.

Harus diakui, tingkat kesadaran rakyat akan ketimpangan dan penindasan sangat rendah, sebab seperti yang diurai di atas, penguasa mempunyai beragam kreatifitas dalam membungkam hasrat pemberontakan rakyatnya. Misalnya: secara institusional dicanangkan program jaminan kesehatan, gaji-13, THR (tunggakan hari raya) dll. Padahal sebenarnya pekerja-buruh wajib mendapatkannya, bahwa program-program demikian bukanlah bonus melainkan hak setiap pekerja-buruh.

Di sini-lah tugas Pemuda-Mahasiswa dalam melakukan pembebasan lewat pendidikan. Pertama, Pemuda-Mahasiswa harus meningkatkan intensitas propaganda pencerahan terhadap masyarakat tentang kebohongan penguasa dalam kehidupan bernegara yang ideal. Hal ini bisa disebut juga pendidikan sosio-kultural, tak perlu institusi formal, yang penting tingkat pencerahnnya dimasif-intensifkan. Kedua, sembari melakukan propaganda pencerahan, Pemuda-Mahasiswa harus menelanjangi topeng penindasan yang terjadi selama ini setelanjang mungkin agar disadari oleh pekerja-buruh dan seluruh elemen masyarakat bahwa sesungguhnya ada ketidak-adilan yang selama ini diperagakan oleh penguasa. Ketiga, untuk meng-efektif-kan dan meng-optimal-kan point pertama dan kedua di atas maka Pemuda-Mahasiswa harus pro terhadap segala bentuk kebijakan penguasa yang tidak berpihak terhadap rakyat, hal ini bertujuan agar rakyat bisa semakin sadar bahwa ketimpangan dan penindasan itu nyata adanya. Posisi Pemuda-Mahasiswa di sini adalah sebagai penyingkap tirai kepalsuan penguasa. Ingat kausalitas (hukum sebab-akibat), akibat itu lahir dari sebab-sebab yang mencukupi, air mendidih pada suhu 100 derajat celcius. Derajat celcius adalah sebab, air mendidih adalah akibat. Jika diibaratkan, air mendidih adalah perubahan, 100 adalah angka penindasan, derajat celcius adalah penguasa. Jika penguasa melakukan penindasan hanya pada suhu 80 derajat maka perubahan takkan mendidih. Perubahan takkan terjadi. Perubahan sebagai akibat harus dipenuhi dengan sebab-sebab yang  tepat-memadai. Maka, tugas dari  Pemuda-Mahasiswa adalah memaksimalkan penindasan agar rakyat lebih cepat tersadarkan. Semakin air ditekan, semakin muncratannya lebih besar. “Jangankan manusia, cacing pun tentu begerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit.” Sekali lagi tegas Bung Karno.

Inilah cara revolusioner demi dan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan kita, kemanusiaan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dan dengan cara inilah, Bung Karno membuat rakyat Indonesia bisa bergerak berkeluget-keluget. Ya, mendidik dengan penindasan, mendidik dengan perlawanan. Karena cinta, dengan atau tanpa selongsong senapan ….

Wallahu a’lam bissawab …

 

SAJAK ORANG ASING

 

Aku merasa asing

oleh lingkungan, dunia,

saudara, keluarga, kerabat,

handai taulan, anak-istri

 

aku diasingkan oleh kenyataan

bahkan oleh bayang-bayangku sendiri

hanya pena dan kertas ini

yang masih mau menampung sisa-sisa metafora

dari hati dan sanubariku

 

tapi kawan

saya tidak sendiri

di belakangku ada ratusan juta manusia hidup tanpa kepala

berenang di kolam peradaban yang dangkal

memuja-puja keunggulan yang hanya sepercikan kotoran hewan

zaman yang berlomba-lomba merebut kemewahan

yang oleh kekerdilan pikirannya dimaknai sebagai kekayaan

dengan memunyai banyak kartu kredit

dan harta benda

 

di atas keterasinganku sendiri

aku menyaksikan manusia hidup dalam satu muka yang sama

muka-muka terjajah oleh keinginan dan angannya sendiri

muka-muka berdarah ditikam ketakutan tentang hari esok mau makan apa atau bisa makan atau tidak

termasuk mukaku sendiri yang aku lihat di kaca tak lagi menyerupaiku

oh langit oh bintang yang kuanggap sebagai dewa malam

di bawahMu aku mati

di pangku batu

digerus waktu

 

21 Desember 2014