Wasya, Ah, Wasya

Oleh WS Rendra

WASYA, yang baik!

Sekarang saya menulis surat lagi padamu. Mudah-mudahan kau tidak melupakan aku, seperti aku juga tidak melupakan kau.

Saya telah merasa beruntung bisa mengenalmu, dan meskipun kita hanya berteman selama beberapa hari, tapi persahabatan kita sangat mengesankan di hatiku.

Pada suatu hari ketika aku naik kereta api Trans Siberia, dari Optur menuju Moskwa, saya merasa tidak enak badan, sedikit jatuh sakit. Ketika dokter bertanya, bagian apakah dari badan saya yang terasa sakit, saya menjawab bahwa semua terasa sakit. Dokter memeriksa sekujur badanku, dan mengangkat bahunya. Dokter itu dokter Irina. Kau tahu dia sangat pandai dan banyak pengalamannya. Tapi dia merasa kesal terhadapku. Saya tak mau membantunya. Sebagai pasien, saya bersikap non kooperatip. Saya Cuma senang kalau tangannya yang halus itu memeriksa tubuhku, tapi saya tak suka menelan obat-obat yang diberikan olehnya, dan tak suka pula menceritakan perubahan-perubahanyang telah terjadi pada diriku. Sementara itu kotoran saya buruk. Apabila kereta api berhenti di kota-kota besar seperti Novobirsk atau Irkutsk, berlompatlah tiga empat orang dokter yang lain ke atas kereta api untuk memeriksa saya dan mementukan apa penyakitku.

Bermacam-macamlah yang dilakukan mereka terhadapku. Memeriksa telapuk mata, lidah, memompa perut, dan lain sebagainya. Dan selalu mereka mengangkat bahu mereka. Sebenarnya waktu mereka tengah membalik-balik badanku itu, saya merasa sehat tak kekurangan sesuatu apa. Saya hanya merasa luruh dan lesu. Dan saya senang melihat orang melakukan kesibukan-kesibukan yang lucu.

Pada permulaan saya berada di gerbong orang sakit itu, tengah saya terlentang dengan lesu yang bukan disebabkan oleh sakit  tapi oleh sesuatu yang waktu itu kurang kusadari, datanglah seorang pelayan dari gerbong restoran mengantar makanan. Orang itu gagah dan berwajah bersih. Sebelum masuk, orang itu mengetuk tiga kali dengan penuh irama yang bergaya. Ketika saya persilakan masuk, pintu dibuka, dan muncullah wajah yang bersih dengan senyumnya. Orang itu melangkah maju dengan penuh gaya, sambil memegang talam berisi makanan di tangannya dengan cara yang manis. Kemudian orang itu berkata dalam bahasa Indonesia:

“Rendra makam.”

“Makan,” kata saya membetulkan.

“Ah yes, makan.”

“Terima kasih.”

And also—er—selamat pagi.”

“Selamat pagi.”

I am sorry, selamat pagi.”

What is your name?tanya saya.

“Wasya.”

Itulah perkenalan saya pertama dengan kau. Kunjungan-kunjunganmu sangat mengesan dan setiap kali saya menanti saat makan sama gairahanya dengan menanti kedatanganmu. Selama saya sakit tentu saja senantiasa berwajah murung, tetapi selalu kau berusaha menghibur saya, dan selamanya kau berhasil. Kesukaran satu-satunya dalam pergaulan kita ialah bahasa. Kau tahu bahasa Indonesia tak lebih dari tujuh patah kata, sedang bahasa Inggrismu juga hanya tahu kata-kata teguran atau beberapa kata untuk bersapa saja. Untung selama di Tiongkok saya sudah mulai belajar bahasa Rusia. Bahasa Rusiaku patah-patah, kacau, dan bersifat nekat-nekatan. Tapi toh bisa saya pergunakan untuk melahirkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaanku, meskipun juga terbatas. Jadi selama itu kita pun menggunakan bahasa Rusia.

Dengan patah-patah saya bisa menangkap keteranganmu bahwa kau mengaku, kau seorang penari ballet dulunya. Saya tak percaya di dalam hati, tapi kau saya biarkan, sebab saya tahu bahwa kau cuma bermaksud untuk menghiburku. Kemudian kau mendongeng banyak tentang Bolshoi Theater.

Apabila kau tak berada di sampingku, saya merasa sepi. Tiga buah novel (Ivan) Turgenev sudah selesai kubaca. Akan membaca yang lain sudah merasa malas. Biasanya lalu memandang ke luar jendela sambil mendengarkan bunyi roda kereta api membuat irama di atas rel. Di luar bisa saya lihat padang-padang yang luas dengan bunga-bunga liar yang bersebaran. Kadang-kadang pula hutan-hutan yang lebat dengan lumut-lumut yang indah. Tetapi saya tak kuat memandang semuanya itu sebab pikiran saya lalu melayang, dan pasti lalu rindu. Kalau rindu saya pada tanah air sudah sedemikian kuatnya, biasanya saya lalu bertambah murung dan kesal.

Pada suatu hari kau membawakan makanan yang kurang banyak dari biasanya, saya lalu marah-marah. Kau menerangkan bahwa itu semua perintah dari dokter. Dokter mengatakan bahwa perut saya harus dijaga. Saya mengatakan bahwa dokter itu hanya beromong-kosong saja. Perutku cukup sehat dan ia tak tahu apa-apa tentang perut saya itu. Dan saya lalu menepuki perut saya.

“Yang sakit bukan yang luar, tapi yang dalam. Percayalah, dokter lebih mengetahui,” demikian kau menerangkan pada saya dalam bahasa Rusia yang jelas dan pelan.

“Rendra tidak sakit—sehat—harus makan banyak—kalau makan sedikit, sakit,” kataku dalam bahasa Rusia yang patah-patah.

“Wasya hanya menurut perintah dokter. Apalagi karena Wasya ingin melihat Rendra lekas sembuh dari sakitnya.”

“Rendra sudah sembuh—dokter itu sakit—Rendra makan banyak—harus.”

“Rendra, ah, Rendra. Rendra sangat marah, tetapi keliru, sekarang Wasya bersedih hati,”—katamu dengan melipat kedua lenganmu ke dada, serta menggeleng-gelengkan kepala.

Wasya,

Sebenarnya saat itu saya memang sedang suka tergoda untuk marah-marah. Penyakit saya sebenarnya ialah kesal dan marah. Objeknya ialah keadaan. Saya tahu bahwa orang yang suka memberengsek terhadap keadaan ialah orang yang lemah semangat. Ia tak bisa menguasai dirinya dan keadaan kelilingnya. Nyatanya memang demikianlah keadaanku waktu itu. Kekesalan saya itu terutama karena saya kecewa terhadap diri saya sendiri. Pada suatu kali ketika seorang mahasiswa dari Australia yang menjadi teman seperjalanan kami menanyakan kepada saya siapakah menteri keuangan Indonesia? Saya tak bisa menjawabnya.

Saya masih mentah waktu itu, dan saya tak suka baca koran. Saya hanya memunyai satu dunia yang terpencil saja, yaitu dunia kesusasteraan dan kesenian. Di luar dunia itu saya menjadi linglung dan kaku, bahkan boleh dikatakan seorang yang tak berguna. Dan juga ketika para teman-teman berdiskusi tentang masalah Aljazair, saya tak tahu masalah apakah itu sebenarnya. Belakangan baru saya tahu bahwa Aljazair itu tanah jajahan Perancis. Dan juga waktu itu  saya tak tahu siapakah Bulganin atau Khruscov. Akhirnya beberapa teman menjadi kesal karena ketololanku itu, sehingga salah seorang bertanya kepada saya:

“Lalu apakah saja yang kau ketaui?”

“Bukankah saya tahu siapa Dante, siapa Mozart, dan juga siapa Stanislavsky?”

Sejak itu saya merasa jadi terasing dari teman-teman. Saya merasa kesal dan lalu timbullah tempramen yang buruk pada saya. Sejak itulah saya merasa ingin sakit saja. Dengan mudah keinginan itu terlaksana.

Dan sementara “sakit” saya itu, kaulah merupakan obat yang mujarab bagi saya. saya tahu bahwa ada beberapa polisi keamanan rahasia di dalam kereta api itu, saya tahu pula ada beberapa komisaris polisi yang selalu saya ganggu, tetapi kau saya anggap tidak masuk golongan mereka. Kau saya anggap orang yang “murni” dan datang menghibur saya secara spontan, karena memang telah menjadi karaktermu untuk bertingkah begitu. Kau telah membantu meriangkan hati saya, dan dengan demikian menaikkan semangat saya. Serta akhirnya membantu memberi ketenangan pada jiwa saya. Demikianlah dengan pelan-pelan saya bisa mencapai kesabaran dan ketenangan lagi. Akhirnya saya bisa meninjau kembali segala masalah dengan objektif. Saya menimbang-nimbannya dan mempelajarinya. Saya mendapat kesempatan untuk merenung dengan penuh istirahat dan kenikmatan. Kemudian saya bisa menentukan langkah-langkah apa yang akan saya ambil selanjutnya. Semuanya ini sangat berarti bagiku. Untuk itu saya sangat berterima kasih padamu.

Dengan jelas masih kuingat cara-caramu melucu. Pada suatu hari kau berkata:

“Rendra, sebenarnya kulitmu dulu putih juga seperti saya.”

Saya memandangmu dengan mata bertanya. Tapi dengan tersenyum segera kau melanjutkan:

“Tentu saja. Kemarin kau telah bercerita bagaimana keadaan tanah airmu, kepulauan Indonesia itu. Sekarang saya berpikir begini. Pada mulanya ketika kau masih baby kau berkulit putih juga seperti bayi-bayi Eropa yang lain, kemudian setelah kau besar kau menjadi nakal. Kau suka berlari-lari di sepanjang pantai, memanjat pohon-pohon kelapa dan mandi-mandi di laut. Nah, waktu itu matahari yang bersinar sepanjang tahun di tanah airmu itu mulai membakar kulitmu. Dengan demikian dari hari ke hari kulitmu berubah menjadi coklat.”

Saya tertawa dan berkata menjawabmu:

“Kulit Rendra masak. Kulit Wasya tidak.”

Teringat pula oleh saya bagaimana kau mengajar saya kata-kata benda dalam bahasa Rusia. Kau menunjuk lada dan menyebut namanya dalam bahasa Rusia. Seperti seorang bapak kau mengajar saya:

“Itu pohon—itu beruang—itu perahu—itu penjaga hutan—itu radar—itu telegrap—itu bulan—bulan itu bagus—bulan itu tersenyum kepada Rendra—dan bulan itu berkata, ‘Selamat malam, selamat tidur,’—sekarang Rendra harus tidur—Rendra harus sehat, supaya tiap orang senang karenanya. Dan ibu Rendra juga pasti ikut gembira.”

Wasya,

Saya ingin membuat cerita yang bagus tentang kau, tetapi saya tidak bisa. Saya harap saya cukup dalam melahirkan terima kasih saya dengan surat ini. Saya tahu bahwa saya bukannya orang yang kau istimewakan, artinya kau berbuat demikian tidak hanya kepada saya saja. Maka saya pun yakin mereka, orang (lain), yang telah kau perlakukan seperti ketika kau memperlakukan saya akan berterima kasih pula padamu. []

Advertisements