17 Agustus bukan HUT RI

300px-Proklamasi_Klad

Entah mereka terlalu-sangat mencintai Indonesia, atau hanya memamerkan ke-update-an mereka terhadap momen-momen seremonial nasional-kenegaraan. Tetapi yang pasti, ucapaan “hari ulang tahun republik Indonesia” (HUT RI) atau kalimat-kalimat sejenisnya yang menyuratkan kata “republik” atau bentuk negara lainnya pada hari perayaan nasional–setiap  tanggal 17 Agustus, selalu saja tedengar menggelikan di telinga.

Sudah menjadi konvensi absolut dan hukum ketetapan, setiap tahun–setiap 17 Agustus 1945, masyarakat Indonesia merayakan hari besarnya. Menurut mereka–lewat gestur nan kaku dari presiden–sering menyebutnya: HUT RI.

Terus, masalahnya apa?

Masalahnya adalah kita terlalu mabuk untuk menyadari bahwa 17 Agustus 1945 itu bukanlah hari ulang tahun republik Indonesia. Bukan HUT RI. Tak ada republik. Silakan baca kembali teks proklamasi asli yang ditulis Bung Karno. Tak ada satu kata pun yang menyebutkan republik atau bentuk negara lainnya di sana–sebab de facto saat itu negara belum dibentuk. Negara secara hukum dan konstitusional baru dibentuk sehari setelah pembacaan teks proklamasi kemerdekaan (bangsa) Indonesia. Bangsa Indonesia, bukan negara Indonesia. Bangsa itu nature, negara itu nurture. Aih, lumer.

Indonesia baru sah disebut negara pada 18 Agustus 1945 setelah, oleh panitia persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI), Undang-Undang Dasar negara republik Indonesia 1945 (UUD 1945) ditetapkan sebagai hukum tertulis (basic law) negara, sebagai konstitusi pemerintahan negara.

Maka predikat “Republik Indonesia” tidak tepat disematkan pada 17 Agustus 1945. Sebab, sekali lagi, saat itu negara belum ada. Negara belum ada. Republik belum ada!

Semoga tulisan ini dibaca siapa saja yang mengaku orang Indonesia, dan tidak taklid buta–konformis terhadap gelombang mainstream.

Emang pentingnya apa?

Ya, gak penting-penting amat sih. Tetapi yang jelas, kekaburan masa lalu menghasilkan kekaburan masa depan. Kalau kita tak menguasai ilmu untuk membaca (kebenaran) tata buku masa lalu, dan tata buku masa kini, maka rencana masa depan hanyalah spekulasi, keinginan, dan angan-angan. Bukan begitu, Rendra?

Dan ingat, tak ada yang tak penting. Ketak-pentingan hari ini, boleh jadi, akan menjadi kepentingan di hari esok. Tergantung cita-citamu, (selama bukan untuk menjadi PNS).

Advertisements

One thought on “17 Agustus bukan HUT RI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s