BUIH

307610_4970650621504_1167777620_n

sumber gambar: www.jajalove.com

Aku hidup di tengah arus deras program keseragaman. Segalanya harus sama dan seragam. Jika berbeda maka aku dibenci dan dimusuhi. Tapi di dalam arus deras keseragaman terjadi kontradiksi-kontradiksi kecil yang mengakibatkan setiap obyek-obyek yang diseragamkan menjadi subyek yang menolak diseragamkan, seperti aku salah satunya. Maka kami pun—secara naluriah—menciptakan satu gerakan baru: gerakan anti-keseragaman. Dan perlahan perlahan-lahan tapi pasti, gerakan anti-keseragaman yang kami ciptakan menjadi besar hingga bercorak aneka, beraneka corak, beragam-ragam hingga tak terhitung ragamnya. Beragam ragam-ragam, beragam sekali.

Tapi perlahan perlahan-lahan arus keseragaman kembali bergelombang menerjang menghantam istana-istana anti-keseragaman. Luluh dan lantaklah istana tersebut disapu ganasnya keseragaman. Tapi bukan berarti kami hilang. Tak! Kami tak hilang. Kami tak mati. Kami hancur bercerai berai terelai-relai tetapi tak mati tak habis tak hilang. Kami menjadi entitas-entitas kecil seperti buih di lautan keseragaman.

Kami masih ada, tapi dalam hegemoni keseragaman.

“Kau buih, tapi kau adalah satu kesatuan dengan lautan,” kata karang.

“Tidak! Aku adalah kumpulannya yang terbuang,” kata Chairil, eh bukan, maksudnya kataku.

“Tidak! Kau adalah anak lautan. Kau adalah bagian dari keseragaman,” tegas karang.

“Tidak! Aku adalah anak yang tak diingini dan tak diharapkan untuk ada!” aku lebih tegas.

“Dasar!”

“Aku tak berdasar. Aku tak di dasar. Aku di permukaan.”

***

Aku hidup di tengah arus deras program keseragaman tapi menolak untuk diseragamkan. Aku kini menjadi buih lautan. Terhempas ke sana kemari. Menjalani hidup sesuai kehendak sang penguasa: lautan.

Aku yang paling duluan masuk ke dalam mulut makhluk hidup dan sekaligus yang paling duluan keluar dari mulut makhluk hidup. Ada kalanya aku menguap ke udara dan menetas menjadi bui di darat. Di darat aku bukan buih tapi bui. Aku membui raga maupun rasa manusia. Aku membui manusia secara fisikal, maupun mental, terkecuali kepada anak-anak. Kepada setiap anak-anak aku menjadi ibu, bukan lagi bui. Aku adalah kelembutan yang paling cinta. Aku paling doa.  “Anakku, kau segalanya.”

Tapi aku tetaplah buih. Menjadi apapun tetaplah kembali pada buih dan menjadi buih. Aku tetap buih meski tak menetap. Aku tetap buih meski tak beratap.

***

“Bosan saya, hidup dalam keseragaman,” ujar Khaves

“Iya, aku juga,” serga Stefes.

“Selow. Revolusi pasti terjadi,” nimbrung Gowes.

Suasana kemudian hening. Malam ini bulan hampir tak kelihatan. Gelap pekat. Laut teduh tanpa ikan yang saling berburu. Sejurus kemudian Gowes memecah keheningan, “Aha, aku ada ide,” sambil memukulkan dirinya pada kami, buih-buih yang lain. “Kita harus bersatu meruntuhkan hegemoni lautan. Kita kaum buih sesamudera harus bersatu menjadi lautan baru. Lautan tanpa keseragaman dan tak bisa diseragamkan.”

“Iya, cerdas, ide yang brilian, Wes. Saya sepakat!” serga Stefes.

“Iya, iya, iya … sepakat!” seru yang lain.

“Bersatu!” pekik Gowes.

“Sabar. Tenang dulu kawan-kawan. Emangnya bisa, lautan diruntuhkan?” tanya Khaves.

“Maksudnya bukan runtuh secara denotatif, tetapi konotatif. Iya kan, Wes?” Stefes menengahi.

“I, i, iya begitu maskudnya, eh maksudnya,” aku Gowes.

“Baiklah. Ayo kita bersatu!”

***

Kini antar lautan saling menghantam. Padahal sesama umat lautan—tetapi mereka saling menerjang. Dan sialnya, buih-buih itu tetap ada. Selalu saja ada gelombang-gelombang dari kelompok lautan baru, dan selalu muncul buih-buih baru dari hasil peperangannya. Entah apa kata yang tepat, peperangan, pertempuran, atau pembantaian—tak bisa lagi dibedakan. Intinya: selalu terjadi perpecahan seusai perbenturan.

Buih-buih adalah anak lautan. Ia diseragamkan menjadi bagian dari lautan. Ia cerminan dari lautan. Pola sikap dan lakunya adalah berdasarkan kehendak dari lautan. Sehingga selalu kaum buih merasa diperlakukan tidak manusiawi (lah kan bukan manusia?), maksudnya tidak buihwi. Mereka tidak bisa menjadi diri sendiri. Maka selalu ada hasrat pemberontakan dalam diri kaum buih—hingga pada kulminasinya, pemberontakan pun dilakukan. Tetapi setelah pemberontakan dilakukan, semuanya kembali seperti sedia kala: kaum buih menjadi gelombang lautan baru, berkuasa, dan menghasilkan buih-buih baru. Dan seterusnya terjadi seperti itu.

***

Aku hidup dalam derasnya arus keseragaman. Aku dan lainnya di lautan ini menjadi seragam: basah dan hampir mati tenggelam karena kelelahan bertahan tanpa pegangan. Kami hidup di laut tapi kami bukan hewan atau makhluk laut. Kami di tengah lautan tapi kami bukan lautan. Tapi kami dilautkan. Dimautkan.

Maka kami menjadi seragam. Dan setidak-seragam-apapun kami. Kami tetap bagian dari keseragaman. Dan sebentar lagi, perlahan perlahan-lahan kami akan mati—dan menjadi buih di laut. tetapi satu yang pasti: setiap ibu takkan pernah membui.

Juanda, Jakarta Pusat, 07 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s