Enam Kalender

66

ENAM kalender yang lalu, satu hari menjelang puasa, di malam tarawih pertama, seperti malam ini, kita—untuk pertama kali—berjamaah bersama, tetapi bukan di rumah peribadatan, melainkan di ranjang, di rumah temanku, dalam kegelapan, jauh dari pantauan orang, kau pecah perawan!

Di saat umat muslim berbondong-bondong ke masjid, kau kubopong ke dalam jerit dan sakit. Setelah sebulan berpisah karena liburan ke luar kota: aku ke Jakarta, kau ke Jogjakarta. Rindu panggil pulang, tubuh saling merangsang, peluh dan peju mengalir di ranjang. Cape, tapi nikmat.

“Aku takut. Jangan tinggalin aku, yah!”

“Iya, sayang, tenang aja, apa pun yang terjadi, aku kan selalu di sampingmu. Aku akan bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi … tenang aja, sayang,” tuturku lembut di ubun-ubun kepalamu yang berbantal di lenganku. (Gaya retoris khas buaya darat dalam membungkus kepicikannya.)

Aku sedang mengenangmu, Jihan, meski yang kuat terbayang adalah gelombang dosa yang kita ciptakan malam itu, malam yang menjadi pintu pembuka bagi dosa-dosa selanjutnya. Setelah enam kalender berlalu, kau kini beranak dua. (Suamimu itu suami kedua setelah sebelumnya gagal dengan suamimu yang pertama, yah?)

Dulu kita menikmati dosa, kini aku belajar menghikmati kisah.

Dulu, kau kuanggap sebagai korban—bagian dari kebuasan kelaminku: setelah perawan kudapatkan, kau (kalian) kucampakkan! Tapi kini … entah kenapa, dari seabreg perempuan yang pernah kukencani, hanya kau yang paling mengenang. Oh, mengenangmu adalah kebangkitan perasaan. Mengorbanimu adalah kesalahan yang mengobarkan.

“Ren, kamu lagi ngapain? Gimana kerjaannya? Sudah selesai belum, gambar yang diminta?” suara Ibu (bos kantor) mengagetkanku—mengganggu kekhusyukanku dalam mengenangmu, sontak kuhentikan kegiatan menulis sejenak dan langsung menutup buku tulis kecil ini dengan setengah malu.

Hehe … iya, Bu, nih, sedikit lagi. Nanti saya ke ruang Ibu aja! (Dalam hatiku berkata: mengganggu!)

Jihan, tadi sampai mana? Oh, Jihan! Enam kalender telah berlalu, dan kau! Kau masih terpatri di benakku tanpa malu! (Setelah dipikir-pikir, ingatan tentangmu yang begitu kuat ini mungkin hanya karena kebetulan hari ini—satu hari menjelang (Ramadan) puasa hari pertama saja, sih, ya? Momen yang monumental bagi kita berdua—terjadi enam tahun yang lalu.

Jihan, sungguh aku mengaku salah padamu. Sejujurnya aku tahu bahwa ketidak-lupaanku padamu ini adalah karena gunungan kesalahan dan kebiadaban yang dulu kulakukan padamu, dan aku tahu kau tak pernah memaafkanku. Dan itu terkadang sungguh menghantuiku. (Aku memang sering dihantui kesalahan yang betul-betul kusadari.)

Bagaimana caranya agar aku bisa menebus semua kesalahanku padamu? Tapi tunggu dulu, bukankah dosa dan segala kealpaan adalah hasil ciptaan kita bersama? Kan, kau sendiri yang mau bertahan denganku meski berada dalam berbagai situati dan kondisi yang rumit dan membingungkan—situasi di mana kau memang diharuskan untuk keluar dari lingkaran kegilaanku. Bukan kegilaanku tetapi tepatnya: kebajingananku!

Jihan, seandainya bisa, aku ingin kembali memperbaiki semuanya denganmu, menebus semua kesalahanku padamu dan merawat cinta yang kau wakafkan untukku. (Wakafkan? Memang itu dulu, tapi entah sekarang statusnya apa, mungkin saja telah kau batalkan dan menjual—kemudian dibeli—oleh orang lain. Mengingat arus globalisasi dan industrialisasi yang terlalu deras menenggelamkan kehidupan umat manusia.)

Jihan, aku masih Haren, masih Haren seperti yang dulu, sebagai nelayan di lautan dosa. Menikmati—dan menghikmatinya hingga samudera mengering, hingga malaikat maut datang menggiring.

Enam kalender yang lalu, kau berusia 14 tahun dengan wajah teduh dan berjuta keriangan. Kini, kau berusia 20 tahun dengan dua anak dan satu suami berjalan bergandengan. (Aku membayangkan kalian bergandengan, tetapi tidak selaras dan harmonis.)

Tapi Jihan, kau terlalu muda untuk menanggung kepelikan hidup. Apalagi aku dengar dari Fitri temanmu, ekonomi keluargamu sangat timpang, suamimu suka mabuk-mabukan dan tak punya pekerjaan tetap. (Kenapa kamu mau menikah dengannya?) Oh, ya, masih kudengar dari Fitri, katanya si Cinta anakmu yang pertama wajahnya mirip aku? Apa jangan-jangan dia bagian dari darah dagingku. Toh, jarak perpisahan kita dengan kelangsungan pernikahanmu tidak terpaut jauh, bukan? Aku penasaran ingin bertemu dan melihat Cinta.

Jihan, bersyukurlah kau, lewat ingatan kuhidupkan, lewat tulisan kuabadikan. Apalagi aku menulis ini di tengah kesibukan kerja. Di tengah teror Ibu Bos agar segera menuntaskan tugas kerja.

“Ren! Sudah selesai belum kerjaannya?” pekik Ibu dari dalam ruangannya.

Ibu bos akhir-akhir ini agak sensitif. Suka marah-marah. Mungkin karena bawaannya yang lagi hamil. (Tapi semoga anak yang dikandung Ibu bukan hasil dari persetubuhannya denganku.)

“Iya, Bu, tar! Ini udah mau kelar.”

“Buruan! Hari ini deadline penyerahan gambar kerjanya, loh. Harus segera dikirim. Sudah mau malam, nih. Emang kamu gak mau buru-buru pulang biar bisa tarawihan?” cecar Ibu.

“Iya, iya, Bu! Saya kirim!” jawabku seadanya–biar lancar.

Jihan, aku harus menyelesaikan pekerjaanku. (Tapi bukankah mengenangmu juga bagian dari pekerjaan?)

Bye!