MENULIS PUISI

aku menulis puisi
bukan mengetik puisi
maka kata-kataku menyatu dengan peluh dan tetes darah
yang bicara bukan tinta bukan kata
tapi pemberontakan yang membara

jika kau menghentikanku menulis puisi
itu artinya kau sedang menyulut api revolusi!

Advertisements

Secerca Tanya untuk Aksi 20 Mei oleh HMI, BEM, dkk: Massa Aksi Revolusi atau Sekadar Tebar Sensasi?

tanda-tanya

Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) beserta Badan Eksekutif Mahasiswa universitas ternama di Indonesia melakukan makan malam bersama presiden Indonesia Jokowi.

Seusai acara, saat diwawancarai media, Ketua Umum PB HMI Arief Rosyid berkata bahwa HMI akan tetap melakukan aksi pada 20 Mei 2015. Itulah garis besar dari headline-headline berita online yang beredar di media sosial.

Tulisan saya kali ini dominan berisi pertanyaan. Saya semaksimal mungkin menghindari teori-teori–hingga justifikasi. Saya hanya ingin menulis dengan beberapa pertanyaan yang saya tujukan khusus kepada segenap mahasiswa yang ikut makan malam bersama dan kemudian secara paradoksal menyatakan sikap untuk mendemo Jokowi pada 20 Mei 2015 besok.

Karena terkadang, cara paling bijak menulis pernyataan adalah mengajukan pertanyaan.

Maka berikut pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, mungkin masih banyak lagi benih-benih pertanyaannya, tetapi untuk saat ini cukup beberapa pertanyaan saja yang (akan) saya publikasikan, antara lain sebagai berikut:

Kenapa kawan-kawan mahasiswa mau melakukan makan malam bersama Jokowi yang notabene adalah simbol negara yang akan didemo?

Kalau menyampaikan aspirasi secara langsung (tatap muka) dengan Jokowi lebih efektif, buat apa harus melakukan aksi?

Kenapa tuntutan aksi bersama di 20 Mei tersebut hanya berkutat pada persoalan permukaan (ekterioritas) kenegaraan saja?

Kalau memang benar-benar yang dilakukan adalah perjuangan populis, kenapa corak aksinya bersifat elitis (makan malam bersama presiden yang notabene adalah simbol yang akan didemo)?

Sebenarnya yang dicari kawan-kawan mahasiswa (organisasi) itu aksi massa-aksi revolusi atau sekadar ajang unjuk eksistensi dan tebar sensasi?

Lagi, kenapa isu yang diangkat bukan isu-isu yang substansial dan fundamental, dan bukan akar permasalahan yang diangkat melainkan isu-isu rendahan yang sesungguhnya hanyalah implikasi dari kebobrokan sistemik kebangsaan dan kenegaraan. Kenapa? Kenopo toh, mas?

Kenapa kawan-kawan mahasiswa (organisasi) terlihat tidak serius melakukan aksi? (Hal itu bisa dilihat dari minimnya konsolidasi pergerakan aksi tersebut). Apa jangan-jangan sengaja pergerakannya diekslusifkan agar aliran airnya tidak terlalu terbagi ke banyak keran? Dan lantas kemudian menyerukan aksi–lewat media massa–kepada mahasiswa lain untuk turut berpartisipasi agar terkesan membutuhkan kuantitas, dan rame (padahal tujuannya untuk hemat anggaran)?

Sebenarnya kawan-kawan mahasiswa sadar atau tidak bahwa dengan bertemu Jokowi secara langsung itu sudah jauh lebih baik ketimbang melakukan aksi dengan ratusan-ribuan mahasiswa? (Sebab dengan bertemu langsung, aspirasi yang disampaikan langsung didengar dan komunikasinya lebih efektif dan efisien) Maka kenapa tak langsung saja disampaikan inti tuntutan kawan-kawan mahasiswa di depan Jokowi langsung saat makan malam itu berlangsung?

Sekali lagi, sebenarnya yang dicari kawan-kawan mahasiswa (organisasi) itu aksi massa-aksi revolusi atau sekadar ajang unjuk eksistensi dan tebar sensasi?

Secerca pertanyaan-pertanyaan di atas tersebut tidak perlu dijawab karena sudah terkandung jawabannya di dalam. Ambigu? Itulah cerminan diri kalian mahasiswa seremonial!

BUANA

dua tubuh saling memupuk
dua ruh saling merasuk
menumpahkan serdadu-serdadu peluh
memburu waktu seperti buruh
dan lesuh
desahmu rebah di desaku
risaumu lelap di pisauku
melayu di hira
dikira kayu kah?
Buana
kelak tumbuh buah
beri kehidupan
beri kepusingan!