Hompimpa Manusia Indonesia

“Kekuatan terbesar manusia adalah keingintahuan,” tulis Niccolo Machiavelli 7 abad yang lalu. Tanpa keingintahuan, manusia hanyalah–sekadar benda mati.

Spirit kemanusiaan lahir dari penjajahan semesta yang overload; di antara tumpukan kepelikan-kepelikan yang bahkan akal sehat pun keletihan untuk menjangkaunya.

Hari ini, dalam ketaksadaran manusia, hidup sebuah peradaban yang di dalamnya tidak ada pengetahuan. Kalaupun ada, maka pengetahuan itu adalah instrumen kekuasaan. Ingat kata Michel Foucault: “Pengetahuan memiliki relasi yang sangat erat dengan kekuasaan. Dan tak ada pengetahuan yang bebas nilai dari kepentingan.”

Di Indonesia, manusia dibentuk menjadi makhluk-makhluk, meminjam istilah Herbert Marcuse, yakni makhluk satu dimensi. Manusia yang dalam kelesuhannya menanggung beban nominal dan kebutuhan tentang hasrat diri sendiri dan tuntutan moral komunal.

Dulu di abad 19, Charles Baudelaire sudah mengatakan: “Di antara manusia; hanya penyair, pendeta, dan prajuritlah yang agung. Lainnya hanya pantas untuk dicambuk.” Sayang, Baudelaire tidak hidup saat ini. Sebab kemungkinan besar dia akan merevisi kembali pernyataannya tersebut.

Manusia Indonesia hidup dalam satu wajah yang sama. Wajah-wajah kehilangan sejarah yang dijajah oleh hukum universal. Atas nama perserikatan bangsa-bangsa, adikuasa bebas memangsa. Indonesia hilang makna; hilang kedaulatan.

Tapi, manusia Indonesia tetap santai menjalani hidup. Baginya semua baik-baik saja. Padahal, mengutip Rendra, “Mereka berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan.”

Manusia Indonesia tidak merdeka. “Dan bangsa yang tidak merdeka adalah bangsa yang mati,” kata Manuel Quezon dikutip Bung Karno dalam Di Bawah Bendera Revolusi.

Manusia Indonesia tidak menjadi dirinya sendiri; mereka menjadi budak konsumerisme budaya barat. Manusia Indonesia tidak berdiri di atas kakinya sendiri; mereka berdiri di atas kaleng utang dan undang-undang negara majikan.

Maka, apalah arti negara tanpa kedaulatan? Apalah arti bangsa tanpa kemerdekaan?

Apabila jawaban tak kunjung kau temukan; berpuisilah! Meski puisi tak memerdekakan raga, minimal ia memerdekakan sukma.

Demikian tulisan ini saya buat tanpa maksud untuk dibenarkan atau disalahkan. Sebab sejalan dengan perkataan Slavoj Zizek, filsuf terbesar zaman ini, bahwa, “Manusia itu dialektis, benar atau tidaknya seseorang ditentukan oleh kekuatan …” Entah kekuatan ideologi, agama, budaya, atau apapun yang melatar-belakangi nalar akal budi setiap orang. Setiap manusia.

Wallahu a’lam bisshawab ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s