Hanya Kualitas Pemberian yang Berbeda

“Yang terpenting bukanlah apa yang kita dapatkan tetapi apa yang kita berikan pada hidup.” -Jean Paul Sartre

Manusia adalah ia yang memberikan apa kepada hidup. Jika manusia hidup namun tak memberikan apa-apa untuk hidup dan kehidupan maka manusia –secara prinsip– tidak bisa disebut manusia.

Memberi! Itulah yang terpenting dalam hidup. Kita takkan dikenal dan takkan diketahui apabila tidak memberikan apa yang kita punya.

Namun memberi bukan sembarang memberi. Memberi itu harus—yang bermanfaat bagi kemajuan hidup manusia. Ada human progress. Ada pencapaian hidup manusia ke arah yang lebih baik.

Sampai sini ada pertanyaan?

Ada! Bagaimana kalau kita ingin memberi sesuatu tetapi kita tidak diberi sesuatu? Dengan kata lain, bagaimana kita mau memberi jika kita tak punya apa-apa untuk diberi—karena kita tidak punya apa-apa?

Jawabnya, berikanlah apa yang kau tak punya. Maksudnya, berikanlah pengetahuanmu kepada orang-orang bahwa kau tak punya apa-apa untuk diberi. Dengan begitu, kau telah memberikan sesuatu kepada orang, yakni pengetahuanmu akan dirimu yang tak punya apa-apa untuk diberi. Sederhana, bukan?

Ya, jadi memberi adalah sesuatu yang pasti dalam kehidupan. Hanya saja, tingkat dan kualitas pemberian itu yang berbeda-beda. Mengenai bentuk, jenis, dan varian-varian pemberian usahlah saya tulis di sini. Biarlah kau berpikir dan membayangkannya sendiri.

Ingat kata pemimpin besar Islam, seorang revolusioner, Muhamammad SAW, “Sebaik-baiknya manusia adalah ia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” Bermanfaat berarti memberikan sesuatu. Dan seperti yang dijelaskan sebelumnya di atas bahwa pada dasarnya setiap manusia pasti memberi, hanya tingkat dan kualitas pemberiannya (saja) yang berbeda.

Jadi setiap kita adalah manusia yang bermanfaat—karena kita bisa memberikan sesuatu bagi manusia, dan semesta raya. Bukan begitu?

Sampai sini ada pertanyaan?

Kalau masih ada pertanyaan maka saya akan menjawabnya dengan pertanyaan juga. Semua diawali dari tanya dan diakhiri dengan tanya. Itulah tanda-tanda orang yang berpikir. Opo seh, rek? Afala ta’qilun?

Wallahu a’lam bisshawab ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s