Negara Kesejahteraan: Pencuri atau Penyelamat? Belajar dari Jerman

Rumah Filsafat

photo_28580_carousel http://chronicle.com

Oleh Reza A.A Wattimena, Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di Bonn, Jerman

Peter Sloterdijk, salah seorang filsuf Jerman yang sampai sekarang masih hidup dan aktif berkarya sebagai Professor für Philosophie und Ästhetik di Hochschule für Gestaltung di Karlsruhe, Jerman, menulis sebuah artikel yang menggemparkan publik Jerman pada 31 Juni 2009 lalu. Artikel itu berjudul Die Revolution der gebenden Hand, atau dapat diterjemahkan sebagai Revolusi dari tangan yang memberi, dan diterbitkan di Frankfurter Allgemeine, salah satu koran nasional di Jerman yang paling banyak dibaca.

Di dalam artikel itu, ia mengritik keras kebijakan negara kesejahteraan (Sozialstaat) yang sampai sekarang masih dipegang erat oleh negara-negara Eropa Barat, termasuk Jerman dan negara-negara Skandinavia, seperti Finlandia, Swedia, Norwegia, dan Denmark. Dalam arti ini, kita dapat memahami Negara Kesejahteraan sebagai suatu tata kelola pemerintahan, dimana pemerintah memainkan peranan yang amat besar untuk melindungi dan mengembangkan…

View original post 980 more words

Advertisements

Hanya Kualitas Pemberian yang Berbeda

“Yang terpenting bukanlah apa yang kita dapatkan tetapi apa yang kita berikan pada hidup.” -Jean Paul Sartre

Manusia adalah ia yang memberikan apa kepada hidup. Jika manusia hidup namun tak memberikan apa-apa untuk hidup dan kehidupan maka manusia –secara prinsip– tidak bisa disebut manusia.

Memberi! Itulah yang terpenting dalam hidup. Kita takkan dikenal dan takkan diketahui apabila tidak memberikan apa yang kita punya.

Namun memberi bukan sembarang memberi. Memberi itu harus—yang bermanfaat bagi kemajuan hidup manusia. Ada human progress. Ada pencapaian hidup manusia ke arah yang lebih baik.

Sampai sini ada pertanyaan?

Ada! Bagaimana kalau kita ingin memberi sesuatu tetapi kita tidak diberi sesuatu? Dengan kata lain, bagaimana kita mau memberi jika kita tak punya apa-apa untuk diberi—karena kita tidak punya apa-apa?

Jawabnya, berikanlah apa yang kau tak punya. Maksudnya, berikanlah pengetahuanmu kepada orang-orang bahwa kau tak punya apa-apa untuk diberi. Dengan begitu, kau telah memberikan sesuatu kepada orang, yakni pengetahuanmu akan dirimu yang tak punya apa-apa untuk diberi. Sederhana, bukan?

Ya, jadi memberi adalah sesuatu yang pasti dalam kehidupan. Hanya saja, tingkat dan kualitas pemberian itu yang berbeda-beda. Mengenai bentuk, jenis, dan varian-varian pemberian usahlah saya tulis di sini. Biarlah kau berpikir dan membayangkannya sendiri.

Ingat kata pemimpin besar Islam, seorang revolusioner, Muhamammad SAW, “Sebaik-baiknya manusia adalah ia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” Bermanfaat berarti memberikan sesuatu. Dan seperti yang dijelaskan sebelumnya di atas bahwa pada dasarnya setiap manusia pasti memberi, hanya tingkat dan kualitas pemberiannya (saja) yang berbeda.

Jadi setiap kita adalah manusia yang bermanfaat—karena kita bisa memberikan sesuatu bagi manusia, dan semesta raya. Bukan begitu?

Sampai sini ada pertanyaan?

Kalau masih ada pertanyaan maka saya akan menjawabnya dengan pertanyaan juga. Semua diawali dari tanya dan diakhiri dengan tanya. Itulah tanda-tanda orang yang berpikir. Opo seh, rek? Afala ta’qilun?

Wallahu a’lam bisshawab ….

INGATLAH

jika kelak penulis sajak ini mati
ingatlah kata-kata tak mati-mati

jika kelak pembaca sajak ini menjadi tua dan letih
ingatlah kata-kata lebih kokoh dari belati

jika kelak sajak ini kalah gagah dari barang-barang industri
ingatlah kata-kata lebih megah dari candi

jika kelak sajak ini abai dan dilupai
ingatlah kata-kata adalah manifestasi ilahi

ingatlah kata-kata yang mengadakan sesuatu
bahkan sebelum ada disebut ada!

Kembali: Tulisan Mabuk atau Tidak Mabuk

Kembali lagi ber-wordpress-ria setelah tiga bulan vakum karena desakan keadaan dan tuntutan kehidupan. Meski tak ber-wordpress, kegiatan menulis selama tiga bulan terakhir ini masih dilakukan (walau intensitasnya berkurang).

Dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk (bisa) duduk di depan komputer, saya semaksimal mungkin –menyempatkan waktu– menulis di kertas—di buku-buku kecil—yang keberadaannya kini berserakan ke mana tahu.

Entahlah, yang penting menulis, menulis, dan menulis. Sebelum dikikis dan dilinggis. Bukan begitu, kawan?

Lanjut. Apa yang bisa saya tulis untuk diposting di wordpress.com dalam kesempatan kali ini? Apa? Apa? Apa? “Aahh, di dalam kemabukan, wajah-wajah berdarah akan terlihat sebagai bulan,” kata Rendra dalam Sajak Anak Muda.

Aha, bagaimana kalau kita menulis saja tentang kemabukan? Bagaimana? Mudah, toh? Tinggal ditulis: kemabukan. Selesai!

Bukan itu maksudnya. Menulis tentang kemabukan, bukan menulis kata “kemabukan”. Menulis tentang kemabukan berarti mengulas, mengulik, mengomongkan, dll, tentang kemabukan.

Oh ya, ya, ya. Eh sabar, tapi bukankah dalam kemabukan segala apa bisa apa? Tak perlu runut-formal-rasional-sistematis-bla-bla-bla? Menulis tentang kemabukan berarti bebas berbicara apa saja dengan menjiwai kemabukan itu sendiri. Dan bahkan lebih tepat jika ditulis dalam kondisi mabuk—agar efektifitas penulisan tentang kemabukan itu lebih tercapai. Artinya bahwa jika kita ingin menulis tentang kemabukan, terlebih dahulu yang menulis atau si penulis harus mabuk. Toh?

Sepakat?

Sepakat atau tidak sepakat tulisan ini harus diakhiri. Karena saya sudah mabuk oleh semua ketidak-mabukan. Asu kabeh!

Wallahu a’lam bisshawab ….

Hompimpa Manusia Indonesia

“Kekuatan terbesar manusia adalah keingintahuan,” tulis Niccolo Machiavelli 7 abad yang lalu. Tanpa keingintahuan, manusia hanyalah–sekadar benda mati.

Spirit kemanusiaan lahir dari penjajahan semesta yang overload; di antara tumpukan kepelikan-kepelikan yang bahkan akal sehat pun keletihan untuk menjangkaunya.

Hari ini, dalam ketaksadaran manusia, hidup sebuah peradaban yang di dalamnya tidak ada pengetahuan. Kalaupun ada, maka pengetahuan itu adalah instrumen kekuasaan. Ingat kata Michel Foucault: “Pengetahuan memiliki relasi yang sangat erat dengan kekuasaan. Dan tak ada pengetahuan yang bebas nilai dari kepentingan.”

Di Indonesia, manusia dibentuk menjadi makhluk-makhluk, meminjam istilah Herbert Marcuse, yakni makhluk satu dimensi. Manusia yang dalam kelesuhannya menanggung beban nominal dan kebutuhan tentang hasrat diri sendiri dan tuntutan moral komunal.

Dulu di abad 19, Charles Baudelaire sudah mengatakan: “Di antara manusia; hanya penyair, pendeta, dan prajuritlah yang agung. Lainnya hanya pantas untuk dicambuk.” Sayang, Baudelaire tidak hidup saat ini. Sebab kemungkinan besar dia akan merevisi kembali pernyataannya tersebut.

Manusia Indonesia hidup dalam satu wajah yang sama. Wajah-wajah kehilangan sejarah yang dijajah oleh hukum universal. Atas nama perserikatan bangsa-bangsa, adikuasa bebas memangsa. Indonesia hilang makna; hilang kedaulatan.

Tapi, manusia Indonesia tetap santai menjalani hidup. Baginya semua baik-baik saja. Padahal, mengutip Rendra, “Mereka berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan.”

Manusia Indonesia tidak merdeka. “Dan bangsa yang tidak merdeka adalah bangsa yang mati,” kata Manuel Quezon dikutip Bung Karno dalam Di Bawah Bendera Revolusi.

Manusia Indonesia tidak menjadi dirinya sendiri; mereka menjadi budak konsumerisme budaya barat. Manusia Indonesia tidak berdiri di atas kakinya sendiri; mereka berdiri di atas kaleng utang dan undang-undang negara majikan.

Maka, apalah arti negara tanpa kedaulatan? Apalah arti bangsa tanpa kemerdekaan?

Apabila jawaban tak kunjung kau temukan; berpuisilah! Meski puisi tak memerdekakan raga, minimal ia memerdekakan sukma.

Demikian tulisan ini saya buat tanpa maksud untuk dibenarkan atau disalahkan. Sebab sejalan dengan perkataan Slavoj Zizek, filsuf terbesar zaman ini, bahwa, “Manusia itu dialektis, benar atau tidaknya seseorang ditentukan oleh kekuatan …” Entah kekuatan ideologi, agama, budaya, atau apapun yang melatar-belakangi nalar akal budi setiap orang. Setiap manusia.

Wallahu a’lam bisshawab ….

Ciguli Dalam Hujan

Berbahagialah orang yang tidak menggantungkan nasib hidupnya pada negara; apalagi menyibukkan diri dalam isu politik.

Mendiamkan kesalahan bukan berarti menginginkan kejahatan langgeng. Bakunin pernah berkata bahwa, “Hasrat menghancurkan sejalan dengan dorongan menciptakan.”

Konsekuensi dari pendiaman kehancuran suatu negeri adalah menyiapkan konsep baru untuk membangunnya.

Hidup itu dialektis, dan kehidupan itu milik pecinta. Berbahagialah! Berbahagialah! Ingat Erich Fromm, “Cinta itu seni, maka ia mengisyaratkan pengetahuan dan usaha.”

Apabila kau mengaku dirimu sebagai pecinta maka berpengetahuanlah, berusahalah, dan bercintalah!

Mari kita susun dunia baru bahagia, wahai pecinta!

Wallahu a’lam bisshawab ….