Entropi Demokrasi

entropy

Berikut adalah cerpen tentang demokrasi karya Fandy Hermanto yang saya sadur kembali tanpa mengubah substansi ceritanya. Singkat kata: silakan menikmati….

Si Ulin, Ki Sanak, dan Cak Usro kembali bertemu di sebuah warung kopi…

Cak Usro: “Seperti kata hukum termodinamika II, bisakah kita katakan bahwa keteraturan demokrasi, sejurus anak panah waktu, semakin kemari semakin tinggi tingkat kekacauannya, non-linier, dan bergerak acak? Menambal ketidakteraturan di satu tempat akan mengambil energi di tempat lain. Wajah demokrasi mulai teratur, namun tidak dengan kejujuran? Kebebasan pers makin teratur, tidak dengan independensi dan kualitas? Semacam entropi demokrasi.”

Si Ulin: “Keteraturan hanya bersifat prosedural, tidak diimbangi peningkatan kualitas secara substansial, karena dimensi insititusi demokrasinya juga rendah kualitasnya, khususnya soal rule of law.”

Cak Usro: “Demokratisasi berarti suatu proses, gerak dinamik. Gerak kita menuju keteraturan di satu sisi, hanya akan membuat ketidakteraturan di sisi lain, misalnya cost yang tinggi, atau contoh lain, perampingan kabinet akan menggusur sebagian pegawai negeri sipil, dll. Keteraturan instalasi organ/perangkat demokrasi –saya sebut hardwarenya demokrasi saja– diperlukan sumber daya/software yang bisa mengoperasikan perangkat tersebut. Software seperti leadershipgood governance, semangat kebangsaan, dll, sesuatu yang mahal saat ini. Dan saya setuju kalau demokrasi yang kokoh perangkatnya tapi tak dioperasikan sesuai ‘manual book’-nya, rule of law, itu demokrasi yang rendah kualitasnya.”

Si Ulin: “Demokrasi memang mahal harganya, misalnya untuk elektoral (prosedural). Tetapi, tesis Cak Ulin bahwa gerak kita menuju keteraturan di satu sisi, hanya akan membuat ketidakteraturan di sisi lain, dengan contoh untuk cost yang tinggi itu teori siapa, Cak? Kalau bisa mempengaruhi memang iya, tapi pernyataan soal akan membuat ketidakteraturan apakah sudah valid? Kalo iya, sampai sejauh mana ketidakteraturan tersebut?”

Cak Usro: “Sebetulnya tidak ada yang membahas hal ini. Saya tidak berangkat dari teori mana pun. Saya hanya mencoba menerjemahkan hukum kedua termodinamika, ‘Sistem yang teratur akan menjadi tidak stabil dan berkurang keteraturannya sejalan dengan waktu,’ ke dalam konteks sistem demokrasi. Jumlah entropi (tingkat ketidakteraturan) semakin meningkat sejurus waktu. Jika dibiarkan begitu saja (spontan), alam semesta ini memang bergerak menuju ketidakteraturan, itu hukumnya. Artinya, segala keteraturan yang kita buat tidak akan membuat entropi menjadi 0, akan tetapi hanya memindahkan entropi. Ini hanya perenungan mencoba menerapkan hukum-hukum alam tertentu pada konteks kita sehari-hari, bisa tepat bisa kurang tepat, terbuka saja untuk diskusi kita tho?”

Ki Sanak: “Jika implementasi hukum termodinamis II adalah mesin kalor, maka dalam demokrasi itu sendiri mesin kalornya mungkin DPR yang mengubah energi panas dalam bentuk aspirasi, menjadi energi mekanik dalam bentuk kebijakan. Di sini ada sebuah siklus yang berjalan linier. Jadi tak bisa DPR memberi aspirasi ke rakyat, dan rakyat yang buat kebijakan. Kalau begitu mah jadinya social action… he..he… Lalu soal total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi cenderung untuk meningkat seiring dengan meningkatnya waktu mendekati nilai maksimumnya, maka kekacauan justru malah terjadi jika aspirasi diserap dan langsung dibuat jadi kebijakan. Nah, demokrasi yang bagus kok malah jadi bikin chaos ya? Menurut Cak ulin gimana?”

Cak Ulin: “Demokrasi model sekarang khan sebetulnya penyederhanaan suara rakyat menjadi parlemen, eksekutif dan yudikatif. Yang betul-betul transformasi suara rakyat khan parlemen (DPR) dan eksekutif (presiden, termasuk kepala daerah). Khusus untuk parlemen (DPR/DPRD), aspirasi yang berupa energi potensial rakyat mustinya jatuh menjadi energi mekanik berupa kebijakan secara linier. Jika energi potensialnya tidak pernah berubah menjadi energi mekanik melalui mesin ini, ya bisa jadi energi potensial rakyat itu mencari mesin lain. Kalau Ki Sanak menyebutnya social action, kalangan lain mungkin menyebutnya gerakan ekstra-parlementer, atau parlemen jalanan. Terkait dengan jumlah entropi, kalau hal itu berupa hukum tentu sulit bagi kita untuk menguji lagi pada kondisi-kondisi lain, karena hukum dan teori (teori apa saja, termasuk teori politik) jelas berbeda tingkat keterterimaannya. teori justru mesti diuji tho? Masalah yang masih saya cari adalah apakah hukum alam ini bisa diterapkan pada konteks sistem demokrasi, demokrasi di mana melibatkan hubungan antar-manusia, dan hubungan antar-perangkat keras demokrasi?”

Ki Sanak: “Aku rasa bisa Cak, karena toh demokrasi juga bagian dari fenomena jagat ini… he..he… cuma keberlakuannya berada di level kerangka pikir manusia dan hidup dalam sistem sosial, bukan sistem organik. Ibarat sel-sel dalam tubuh kita juga ada mekanisme termodinamis di dalamnya. Lalu soal gerakan ekstra-parlementer, atau parlemen jalanan itu tadi, menurut Cak usro karena siklusnya berusaha dibalik, atau karena keterandalan si mesin kalor (parlemen dan eksekutif) sudah sampai titik maksimum dalam bekerja?”

Cak Usro: “Hmmmm….”

Ki Sanak: “Menyambung Si Ulin… ‘sejauh mana ketidakteraturan tersebut’, mungkin logikanya bisa dibalik menjadi ‘faktor apa yang bikin ketidakteraturan itu bakal muncul dan terus meningkat’. Nah, ini aku jadi ingat prinsip mesin kalor pada mobil/motor… jika pedal gas terus ditekan logikanya mesin harus makin kencang, namun tetap ada batas ketika mesin kalor akan menghasilkan energi mekanik. Ketika mesin udah gerung-gerung namun kecepatan tidak bertambah, berarti entropi itu sudah dimulai dan meningkat. Jika malah gas terus dibuka, dan bensin terus berkucur deras, maka bukan jadi makin kencang tapi mesin jebol. Nah, kekacauan mutlak khan? Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain: thermal efficiency, momentum putar, torsi, dan lainnya—yang dalam demokrasi mungkin bisa dianalogikan: prasarana aspirasi, konsistensi penegakan hukum, dan keterandalan kebijakan yang dihasilkan dalam sistem sosial masyarakat. Mesin kalor khan juga penyederhanaan dari fenomena termodinamis di jagat raya… soo, sama kayak demokrasi parlemen,”

Si Ulin: “Sah-sah saja kalian menganalogikan teori termodinamika yang cukup rumit dalam konteks demokrasi… tapi pernyataan pertamaku yang ringkas berdasarkan penelitian, kajian beberapa lembaga dan individu (independen) dalam melihat kondisi demokrasi di Indonesia pasca reformasi.”

Cak Usro: “Betul, Ulin, hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa ‘keteraturan hanya bersifat prosedural, tidak diimbangi peningkatan kualitas secara substansial, karena dimensi insititusi demokrasinya juga rendah kualitasnya, khususnya soal rule of law’ memang bentuk paradoks di negara kita, tugas kita membuat keteraturan yang entropinya mendekati 0… hehe….”

Ki Sanak: “Sik, sik aku baca dulu kesimpulannya… keteraturan hanya bersifat prosedural, tidak diimbangi peningkatan kualitas secara substansial, karena dimensi insititusi demokrasinya juga rendah kualitasnya khususnya soal rule of law… Nah, see… hukum fisika pun berlaku di sini… prosedur adalah alur kerja dari si mesin kalor, kualitas substansial adalah thermal efficiency-nya, lalu rule of law adalah konsistensi momentum putar yg dihasilkan, ini hukum kesetimbangan beban.”

Cak Usro: “ Ki Sanak ini tadinya montir ya… hehe….”

Ki Sanak: “Haha…. ketahuan deh… montir khan juga boleh belajar soal demokrasi, Cak… hehehe….”

Cak Usro: “Jadi, kesimpulan awal kita apa nih, Ki Sanak, Ulin? Pertama, hukum alam kemungkinan besar bisa diterapkan dalam sistem demokrasi selama sistem tersebut berada di jagat raya ini?! Setuju? Kedua, Hasil penelitian kawan-kawan NGO atau lembaga penelitian lain tetap bisa dianalogikan dengan hukum-hukum fisika, setuju?”

Ki Sanak: “Setuju sekali akan dua poin itu… terutama untuk aku yang baru bisa memahami fenomena sosial, dari bercermin pada fenomena alam,”

Palu digedok “dok dok”…. 🙂

MAUKAH KAU MENGHAPUS BEKAS BIBIRNYA DI BIBIRKU DENGAN BIBIRMU?

1350258

Berikut saya sajikan salah satu cerpen Hamsad Rangkuti. Silakan dibaca ….

Seorang wanita muda dalam sikap mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang tali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada diantara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia sambil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak denganya, sehingga tegur sapa  diantara kami bisa terdengar:

“Tolong ceritakan sebab apa kau ingin bunuh diri?” kataku memancing perhatiannya.

Dia tak beralih dari menatap ke jauhan laut. Di sana ada sebuah pulau. Mungkin impiannya yang telah retak menjadi pecah dan sudah tidak bisa lagi untuk direkat.

“Tolong ceritankan penyebab segalanya. Biar ada bahan untuk kutulis.”

Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermainkan ujung lengan bajunya. Dan tampak kalau dia  telah berketetapan hati untuk mengambil sebuah keputusan yang nekat. Tiba-tiba dia  melepas sepatunya, menjulurkan ke laut.

“Ini dari dia,” katanya, dan melepas cincin itu.

“Semua yang ada padaku, yang berasal darinya, akan kubuang ke laut. Sengaja hari ini kupakai semua yang pernah dia berikan kepadaku untuk kubuka dan kubuang satu persatu ke laut. Tak satu pun benda-benda itu kuizinkan melekat ditubuhku saat aku telah menjadi mayat di dasar laut. Biarkan aku tanpa bekas sedikitpun darinya. Inilah saat yang tepat membuang segalanya ke laut, dari atas kapal yang pernah membuat sejarah pertemuan kami.”

Wanita muda itu mulai melepas kancing-kancing bajunya, melepas pakaiannya, dan membuang satu persatu ke laut. Upacara pelepasan benda yang melekat ditubuhnya dia akhiri dengan melepas penutup bagian akhir tubuhnya. Membuangnya ke laut.

“Apapun yang berasal darinya, tidak boleh ada yang melekat pada jasadku, saat aku sudah menjadi mayat, di dasar laut. Biarkan laut membungkus jasadku seperti kain pembungkus mayat. Biarkan asin airnya menggarami tubuhku tanpa sehelai benang penyekat.”

Wanita yang telanjang itu mengangkat sebelah kakinya melampaui terali, bersiap-siap membuang dirinya ke laut. Kamera kubidik ke arahnya. Di dalam lensa terhampar pemandangan yang fantastis! Wanita muda, dalam ketelanjangannya, berdiri di tepi geladak dengan latar ombak dan burung camar. Sebuah pulau berbentuk bercak hitam di kejauhan samudera terlukis di sampingnya dalam bingkai lensa. Sebelum melompat dia menoleh ke arahku. Seperti ada yang terbesit di benaknya yang hendak dia sampaikan kepadaku, sebelum dia melompat mengakhiri ombak.

“Ternyata tidak segampang itu membuang segalanya,” katanya. “Ada sesuatu yang tak bisa dibuang begitu saja.” Dia diam sejenak, memandang bercak hitam di kejauhan samudera. Dipandangnya lekung langit agak lama, lalu bergumam: “Bekas bibirnya. Bekas bibirnya tak bisa kubuang begitu saja.” Dia berpaling ke arahku. Tatapannya lembut menyejukkan. Lama, dan agak lama mata itu memandang dalam tatapan yang mengambang.”Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?” katanya dalam nada ragu.

Aku tersentak mendengar permintaan itu. Sangat mengejutkan, dan rasanya tak masuk akal diucapkan olehnya. Permintaan itu terasa datang dari orang yang sedang putus asa. Kucermati wajahnya dalam lensa kamera yang mendekat. Pemulas bibir berwarna merah tembaga dengan sentuhan berwarna emas, memoles bibirnya, menyiratkan gaya aksi untuk kecantikan seulas bibir.

“Tidak akan aku biarkan bekas itu terbawa ke dasar laut. Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu ? Tolonglah. Tolonglah aku melenyapkan segalanya.”

Orang-orang yang terpaku di pintu lantai geladak berteriak kepadaku.

“Lakukanlah! Lakukanlah!”

Seorang muncul di pintu geladak membawa selimut terurai, siap menutup tubuh wanita yang telanjang itu.

“Tolonglah. Tolonglah aku menghapus segalanya. Jangan biarkan bekas itu tetap melekat di bibirku dalam kematian didasar laut. Tolonglah.”

“Lakukanlah! Lakukanlah!”

Teriak orang-orang yang menyaksikan dari pintu lantai geladak.

Aku hampiri wanita itu. Orang yang membawa selimut berlari ke arah kami, menyelimuti kami dengan kain yang terurai itu. Di dalam selimut kucari telinga wanita itu.

“Masih adakah bekas darinya di bagian lain tubuhmu yang harus kuhapus dengan bibirku?” bisikku.

***

“SAYA Chenchen, Pak,” kata wanita itu memperkenalkan dirinya begitu aku selesai menyampaikan cerpen lisan itu dan berada kembali di antara penonton. “Saya menggemari cerpen-cerpen Bapak. Saya mahasiswi fakultas sastra semester tujuh. Saya senang sekali bisa bertemu dengan Bapak, pengarang dari cerpen-cerpen yang telah banyak saya baca.”

“Terima kasih. Namamu Chenchen? Tidak nama seorang Minang.”

“Bagaimana kelanjutan cerpen lisan itu?”

“Kau harus melanjutkannya. Kalian para pendengarnya.”

Sejak itu kami akrab. Aku seperti muda kembali. Berdua ke mana-mana di dalam kampus Kayutanam maupun ke danau Singkarak, Desa Belimbing, Batusangkar, Danau Maninjau, Ngalau Indah, Lubang jepang, Ngarai Sianok, Lembah Anai dan Istana Pagaruyung.

Besok adalah hari terakhir aku di Kayutanan. Aku harus kembali ke kehidupan rutin di Jakarta. Perpisahan itu kami habiskan di kawasan wisata luar kota Padang panjang. Sebuah kawasan semacam taman, berisi rumah gadang dari berbagai daerah di Minangkabau. Kawasan itu bersebelah dengan lokasi Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau. Tempat itu sejuk diliputi kabut, terkenal sebagai kota hujan. Sebentar-sebentar kabut tebal melintas menutup kawasan itu. Kami mencari tempat kosong di salah satu bangunan berbentuk payung dengan meja bulat dan kursi sandar melingkar, yang disediakan untuk para pengunjung duduk-duduk memendang puncak gunung Merapi. Kemi berkeliling mencari tempat kosong, tetapi semua bangunan-bangunan kecil itu telah dihuni pasangan-pasangan remaja. Mereka duduk memandang lembah dan lereng gunung yang terus menerus diselimuti kabut yang datang seperti asap hutan terbakar.

Kami akhirnya duduk di hamparan rumput berbukit, di antara rumah gadang pajangan dalam ukuran yang sebenarnya.

“Selama lima hari, siang dan malam tak pernah berpisah. Malam kita duduk berdekatan di warung-warung membiarkan kopi dingin sambil kita berpandangan. Aku mendengar proses kreatifmu sedang kau mendengarkan riwayat dan asal usul tempat-tempat yang akan kita kunjungi besok pagi. Kita tidak menghiraukan mata-mata yang memandang kita. Kita biarkan percakapan-percakapan tentang kita. Tanganku kau pegang dan aku merebahkan kepala ke bahumu dalam udara dingin Kayutanam. Semua itu akan menjadi kenangan. Besok kau akan pulang dan aku akan kembali ke kampus.

”Kita pergi ke Lubang Jepara. Masuk ke dalam kegelapan gua. Berdua kita di dalam kegelapan tanpa seorang pengunjung pun mengawasi kita. Aku berbisik, seolah kita masuk ke dalam kamar pengantin dan kau meminta lampu dipadamkan. Kita duduk di puncak pendakian di Lembah Harau. Kita duduk berdua memandang kebawah mengikuti arah air terjun. Lembah kita lihat dari ketinggian dan tempat itu sangat sunyi. Kita biarkan kera-kera mendekat dan kita tidak merasa terganggu. Kita biarkan pedagang kelapa muda itu meletakan sebutir kelapa dengan dua penyedot di lubang tempurungnya. Kita tidak hiraukan dia turun meninggalkan kita dan membiarkan kita berdua menikmati kelapa muda yang kau pesan.  Kita benar-benar berdua di tempat sunyi itu. Kita menyedot air kelapa muda itu dengan dua alat sedotan dari lubang tempurung yang sama. Aku satu dan kau satu. Terkadang kening kita bersentuhan pada saat menyedot air kelapa muda itu. Kita pun lupa, mana milikku dan mana milikmu pada saat kita mengulang  menyedot air kelapa muda itu. Kita sudah tidak menghiraukannya. Sesekali kedua penghisap air kelapa itu kita gunakan keduanya sekaligus, bergantian, sambil kau menatap tepat ke mataku dan aku menatap tepat ke matamu. Aku yakin, hal itu kita lakukan semacam isyarat yang tak berani kita ucapkan.

“Kelapa itu kita belah. Kau sebelah dan aku sebelah. Alangkah indahnya semua itu.”

“Kenangan itu akan kubawa pulang.”

“Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?” aku mendekat kepadanya. Kabut tebal datang kepada kami. Begitu tebal kabut itu, seolah kami terbungkus di dalam selimut yang basah. Tak tampak sesuatupun dalam jarak dua meter. Kelambu kabut itu menutup kami dari pandangan dunia. Kami berguling-guling diatas rumput dalam kepompong kabut.

***

“Masih adakah bekas yang lain di bagian tubuhmu yang harus kuhapus dengan bagian tubuhku?” bisikku.

Dia menggeliat di dalam kabut. Dicarinya telingaku.

“Tak ada bekas yang lain, yang perlu dihapus, sayang.” Bisikinya.

Serpihan kabut menyapu wajah kami bagaikan serbuk embun di percikan.

“Apakah kita akan keluar dari kepompong kabut ini sebagai sepasang kupu-kupu?”

“Bekas ini akan kubawa pulang dan akan ada yang menghapusnya. Bagaimana denganmu?”

“Akan kutunggu bekas yang baru di bekas yang lama, darimu.”

“Apakah itu mungkin?”

“Mungkin”

“Aku lima empat dan kau dua dua. Itu tidak mungkin.”

“Mungkin.”

“Aku Datuk Maringgih dan kau Siti Nurbaya, dalam usia. Apa yang memaksamu?”

“Entahlah. Akupun tak tahu.”

Kami turun dari puncak bukit itu berpegangan tangan. Dia memegang erat jari-jariku. Dan aku memegang erat jari-jarinya. Seolah ada lem perekat di antara jari-jari kami.***

Kenapa Pula Kau Kembali Setelah 6 Tahun Kita Berpisah?

for-blog5

Kenapa pula kau kembali setelah 6 tahun kita berpisah?

Kau hadir lagi setelah saya telah menimang bayi dan menggandeng istri. Dan dengan entengnya kau ucapkan: “Aku masih memiliki rasa untukmu …”

Oh, tidak! Jangan! Jangan nyalakan kembali api cinta di antara kita! Sebab sesungguhnya cinta di hati ini hanya bisa dihidupkan olehmu dan memang hanya untukmu. Ya, aku–meski dalam lupa, aku tetap mencintaimu–sepanjang ingatanku tentangmu berbinar dalam benak.

Lupakan aku, cinta. Aku sedang menjalani suratan takdirku sebagai lelaki yang dimiliki wanita lain. Aku telah berisitri dan beranak.

Tapi, oh … cintaku, bolehkah aku untuk tetap mencintaimu meski aku tak lagi bujang seperti dulu? Tidak, jangan katakan aku berselingkuh sebab tak ada selingkuh dalam kamus cinta. Mencintaimu bukanlah menyelingkuhi istriku. Aku hanya memenuhi takdirku untuk mencintaimu.

Apa salahnya mengabdi pada Tuhan dengan menerima cintaNya padaku untukmu?

Bukankah benar apa yang dikatakan Sujiwo Tejo bahwa, “Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tetapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.” Tak ada yang salah kan dengan keputusanku untuk membangun rumah tangga, asalkan bangunan cinta kita tetap utuh–tak pernah hancur dan rubuh.

Ah, sudahlah, aku tahu kita pun tak mungkin bersama. Ada banyak jurang perbedaan di antara kita. Mulai dari tempat tinggal yang terpisah pulau dan lautan, status sosial, tingkat pendidikan dan ekonomi, warna kulit, bahkan agama. Ya, yang disebutkan terakhir itu yang paling menghalangi hubungan kita. Pada umumnya bukan kita berdua saja yang terbentur di persoalan itu, tetapi mayoritas manusia Indonesia seringkali hubungan percintaannya kandas oleh persoalan tersebut: beda agama!

Sering kukatakan, jika agama diciptakan untuk meruntuhkan tembok keagungan sebuah cinta maka lebih baik agama dihapuskan dari kamus peradaban umat manusia!

Bukankah cinta lebih tua daripada agama? Sebab cinta lebih dulu ada sebelum agama ada? Ah!

Tetapi … kenapa pula kau kembali setelah 6 tahun kita berpisah?

Kau datang lagi hidupkan cinta yang telah lama tertidur di hatiku. Padaku kau berkata: “Seandainya dari dulu aku sedewasa sekarang maka mungkin kita telah balikan dan kembali membina hubungan percintaan yang oleh orang-orang disebut pacaran, tetapi apa boleh buat, semua sudah berlalu, kau kini milik orang lain.”

Namun sejurus waktu kau balik menimpali perkataanmu; kau katakan: “… tapi untuk nikah aku rasa tidak, kamu islam dan aku kristen ….”

Lah … kalau kau sudah tahu di depan ada jurang maka hentikan perjalanannya. Kalau pada akhirnya kita tidak bisa menikah maka tidak usah kau katakan balikan! Toh, puncak terakhir dari percintaan kan menikah. Kalau tidak mau menikah lah sampai kapan mau main-main? Karena lantaran beda agama kemudian kita hanya bisa menjalin hubungan sebatas pacaran?

Ah sudahlah, semua telah berlalu. Semua telah berubah. memperdebatkan masa lalu tak ada gunanya lagi. Sekarang kita hanya bisa menjalani semua yang ada sebagaimana mestinya.

Tetapi … kenapa pula kau kembali setelah 6 tahun kita berpisah?

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah.” Muadzin menutup adzannya.

HEI BANGSAT!

fuck

bukan bangsa jika tak berkuasa
bukan bangsa jika saling mangsa
bukan bangsa jika tak ada kehendak berubah
bukan bangsa jika tak kunjung merdeka
bukan bangsa jika rela terus dijajah
bukan bangsa jika hanya penguasa yang berdaulat
bukan bangsa jika kebohongan presiden berpangkat
bukan bangsa jika kemunafikan presiden berkuadrat
bukan bangsa jika rakyat semakin melarat
bukan bangsa hei bangsat!

Sajak yang Berdarah

Death-of-the-Poet-by-Cory-Michael-Skaaren

yang memandangmu dalam cermin bukan kamu
tapi aku yang menjelma dalam rupamu
rupa duka yang berdarah
di trotoar lampu merah jalanan ibukota

melati, mawar, melur, kamboja
aku yang dikubur tanpa menunggu mati
tujuh delapan enam dikerangkeng waktu
oleh bisingnya kota dan pekatnya asap knalpot
yang menyuburkan pemberontakan
dan menjalarkan debu-debu kegelisahan

kita bunga yang darah tergenang di pucuknya
yang cermin apapun tak bisa memantulkan bayangannya
hanya cinta yang membuat kita ada
meski sebenarnya tiada

Sekapur Sirih Anarkisme

anarkisme2

Anarkisme adalah paham yang menolak hierarki–anarki, anti-hierarki; anarkisme adalah gerakan pembebasan manusia dari ketidak-manusiannya. Ringkas Alexander Berkman: “Anarkisme berarti bahwa kau harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudakmu atau merampokmu.”

Anarkisme menolak eksistensi negara sebab pada kenyataannya negara dan perangkat-perangkat aturannya hanyalah alat penindasan. Buktinya? Lihat sendiri negaramu (Indonesia) hari ini–berapa dan betapa banyak aturan (regulasi) dan kebijakan (policy) yang tidak pro terhadap rakyatnya!

Menurut Bakunin: esensi dari sebuah pemerintahan adalah tirani minoritas, maka dari itu pemerintahan–yakni representasi dari negara harus ditiadakan.

Kalau kerusuhan, amuk-amukan, tawuran, kekacauan yang terjadi hari ini disebut sebagai tindakan anarki(s), anarkisme, maka itu keliru besar. Anarkisme bukan tentang itu! Anarkisme menekankan kepada kemerdekaan manusia secara kuantitatif maupun kualitatif. Anarkisme bukanlah vandalisme yang amuk-amukan, kerusuhan, tawuran, dsb, dst …. Sekali lagi, anarkisme bukan tentang itu semua.

Anarkisme adalah gerakan yang menjadikan akal sehat dan nurani sebagai panglima tertinggi dalam daulat manusia; bahwa setiap manusia memunyai hak yang sama untuk merdeka; bahwa setiap manusia berhak untuk hidup dan bahagia, dan itu tidak boleh direnggut–apalagi dipasung oleh negara dan aparatur-aparaturnya.

Mengutuk anarkisme adalah kebodohan, sebab sesunguhnya anarkisme merupakan paham yang sangat mulia; ia ingin membebaskan manusia dari kepungan agenda kebohongan yang dilancarkan negara–bahwa negara tidak lebih dari sekadar praktik buruh dan bos atau majikan dan jongos.

Maka, mari kita susun dunia baru tanpa hierarki di dalamnya; dunia yang di dalamnya tercipta kesetaraan, kebebasan, dan kemerdekaan. Membangun anarkisme yang tanpa “exploitation de l’homme par l’homme”, seperti yang dikatakan Bung Karno, atau yang tiada perbudakan di dalamnya, “Sebab perbudakan adalah pembunuhan,” kata Proudhon.

Ingatlah selalu bahwa nasib hidup manusia terletak di tangan manusia itu sendiri, bukan di negara maupun pemerintahan. Bekerja, berusaha, dan berubah! Merdeka!

Wallahu a’lam bisshawab ….

KEBAIKAN LEBIH TINGGI DARIPADA SEKADAR NEGARA

blind-justice

“Keadilan tanpa kekuatan itu kosong. kekuatan tanpa keadilan adalah kekerasan.” (Musashi – Vagabond)

Negara yang menembak mati warga negaranya itu bukanlah negara. Kalau hak untuk hidup warga negara malah direnggut oleh negara-nya sendiri maka dengan tegas harus kita katakan: “Negara tidak pantas ada!”

Jika hari ini masih kita biarkan hak untuk hidup, hak atas kemerdekaan dan kesejahteraan warga negara yang dalam hal ini adalah kita sendiri–tidak dipenuhi oleh negara, maka diktum “berbangsa-bernegara” adalah ilusi paling bangsat yang masih diyakini oleh sebagian besar kita.

Berhentilah kawan. Berhentilah meyakini bahwa negara adalah alat penegak kedaulatan rakyat! Lewat Larasati, Pramoedya berkata: “Ibuku tinggal di sarang. Ini bukan rumah. Di negeri matahari ini, bahkan sinar matahari dia tidak kebagian!”

“Keadilan adalah dasar utama dalam segala persoalan. Ia harus ditegakkan terhadap yang dibenci sekalipun.” (Q.S. Al-Maidah[5]: 8)

Keadilan adalah kerjaanya semua manusia, bukan negara. Yang harus berlaku adil itu kita semua. Mari kita bermanusia tanpa dihalangi oleh doktrin konyol tentang negara, pseudonegara, demokrasi, pseudokrasi, dsb, dst ….

Namun, apabila kita masih percaya dengan negara, tanamkan dalam-dalam prinsip bahwa “bukan rakyat yang tunduk pada negara, tetapi negara-lah yang harus tunduk pada rakyat. Sebab rakyat yang membuat negara, bukan sebaliknya”.

Tujuan tertinggi manusia bukanlah bernegara tetapi menebarkan rahmat Tuhan dan mengolahnya sedemikian rupa agar menjadi berkah bagi manusia dan alam semesta.

Kebaikan lebih tinggi daripada hukum negara. Rasionalitas dan akal sehat lebih luas daripada undang-undang negara–apalagi yang berwatak despotik; dan negara bukanlah satu-satunya wadah untuk mendistribusikan kepastian, kemaslahatan, dan keadilan.

Mengutip perkataan seorang filsuf Amerika Serikat, Thomas Paine: “Dunia adalah negaraku, seluruh umat manusia adalah saudaraku, dan mengerjakan kebaikan adalah agamaku.”

Wallahu a’lam bisshawab ….

Survival of The Fittest!

Survival of the Fittest Image 2

Alam adalah kejujuran yang paling mematikan. Ia tak pernah berbohong, sebab ia tunduk pada hukum ketetapan–tetapi bukan berarti ia tidak kejam.

Itulah (mungkin) yang akhirnya membuat Adolf Hitler bergumam: “Alam itu kejam, maka manusia harus lebih kejam!”

Ya, manusia adalah panglima jagad raya, maka dia tak boleh lebih lemah dari semesta. Manusia yang lebih lemah dari alam tidak pantas hidup. Tidak pantas disebut manusia.

Survival of the fittest, survival of the fittest, survival of the fittest! Nyalakan mantra, sebarkan lentera. Bersabdalah: Aku bermantra, maka aku ada!