SAJAK KEMISKINAN

149900391_3759189e40_o

kemiskinan adalah neraka yang paling ilmiah
sebab manusia mengalaminya secara empirik dan obyektif sebelum kiamat tiba
kemiskinan adalah neraka jahanam paling tujuh di bawah kolong langit
kemiskinan adalah ibu dari segala kekejaman
ia dikejami dan akhirnya menjadi kejam
dan terciptalah suatu rantai karma kekejaman
yang mengalungi lekuk kemiskinan dan segala persoalannya

kemiskinan ditolak rumah
dijijiki manusia
dikutuk kendaraan-kendaraan mewah
dan dipecundangi peradaban

kemiskinan di Indonesia dipelihara
maksudnya dikembang-biakkan
sebab dengan miskin manusia akan bodoh
dan dengan bodoh, negara akan mudah mengaturnya
bagai boneka copot
kebodohan adalah modal negara yang paling alot

kemiskinan adalah rumput yang ditolak akar
daun yang digugurkan batang
buah yang dipasung pohon
dan airmata yang raganya tak mengizinkan mengering

kemiskinan adalah airmata yang tak usai
anak kandung bumi yang ditindas waktu
yang tak bisa lagi mati
meski segala kata-kata tak lagi memberi

oh, kemiskinan
di gubuk hatimu Tuhan bersemayam
mencambuk berkecamuk mengamuk-amuk
terhadap kenyataan
terhadap para perenggut kemanusiaan

oh, kemiskinan
oh, ciptaan Tuhan

Ibu, Pahlawan yang Tak Dipahlawankan

Ibu bapak tani—ibu bapak tanah air—akan meratapi putera-puterinya yang terkubur dalam udara terbuka di atas rumput hijau, di bawah naungan langit biru di mana awan putih berarak dan angin bersuling di rumpun bambu. Kemudian tinggallah tulang belulang putih yang bercerita pada musafir lalu, “ Di sini pernah terjadi pertempuran. Dan aku mati di sini.” 
(h. 22)”― Pramoedya Ananta Toer, Percikan Revolusi Subuh

Kalau orang-orang ramai mempeributkan kurikulum sekolah, maka kita jangan memihak di kubu manapun–tetapi kita katakan kepada mereka semua, “Apapun kurikulum-nya, tolong ajarkan kepada putra-putri bangsa Indonesia bahwa pahlawan yang paling nomor satu bagi bangsa, negara, dan umat manusia adalah ibu!”

Ibu adalah pahlawan yang paling primer bagi kehidupan manusia. Dia memunyai kontribusi besar bagi karakter anak-anaknya, namun menjadi ketiadaan dalam sejarah perkembangan sebuah peradaban.

Inilah problem mendasar yang perlu kita renungkan dalam-dalam; kita boleh berbicara apa saja, tentang apa saja, negara, teknologi, ekonomi, politik, kemajuan, perubahan budaya, dll. Tetapi satu yang tak boleh kita abaikan adalah ibu. Sebab kehidupan berawal dari rahimnya, dan kehidupan berkembang maju pun bersumber dari ke-rahiman-nya terhadap kehidupan anak-anaknya–yaitu kita.

Tak ada manusia yang tak ber-ibu. Tak ada. Sebab setiap manusia pasti memunyai ibu, maka kenangkanlah selalu wahai setiap kita:  tanpa ibu kita tiada. Tanpa ibu, kehidupan adalah hampa.

Katakan lagi: “Ibu adalah pahlawan umat manusia, Ingatlah wahai pelaku peradaban!” dalam novel Ibunda karya Maxim Gorky diceritakan ketika ibunda ditahan polisi militer dengan kekerasan, dia berteriak, “Bahkan samudra pun takkan mampu menenggelamkan kebenaran.”

Wallahu a’lam bisshawab ….

Bunda dan Mata Air Airmata

masiulanto_1332631056_bunda-maria

Di airmata
kau berpuisi tanpa kata
tak terbaca
namun cintamu lebih menyemesta

Bunda adalah mata air yang tak habis
di bahu, di kening, di leher, dan di keabadian
istana kemuliaan
tanpa ungkapan
tapi ada dan bersemayam
di airmata yang mengering oleh luka dan duka angkara

Air adalah kehidupan
dan air bermuara di matamu, bunda
kaulah mata air hidup
kaulah sang maha hidup
bunda …