Kritik Terhadap Hari Ibu

nnn

Sebenarnya bagi saya hari ibu bukan hanya diperingati di tanggal 22 desember, tetapi hari ibu–seharusnya diperingati setiap saat, setiap hari. Sebab cinta ibu kepada anak tak mengenal hari, seperti penggalan lirik lagu Kasih Ibu-nya Mochtar Embut: Bagai sang surya menyinari dunia.

Cinta lebih tinggi dari waktu, termasuk cinta dalam relasi ibu-anak. Saya tidak tahu sejarah munculnya hari ibu 22 desember. Tetapi yang jelas, mendistorsi keagungan cinta ibu menjadi sekadar hari peringatan, yang kemudian dinamakan sebagai hari ibu tak bisa dibenarkan! Apapun alasannya tak boleh dibenarkan!

Tidak! Cinta kepada ibu dengan hanya diseremonialkan pada tanggal dan hari tertentu sama dengan kejahatan.

Apakah ada spesialitas atau penghususan sikap kita terhadap ibu di tanggal 22 desember dibanding hari-hari lainnya? Apakah kemudian di hari biasa kita hanya memberi bunga kepada ibu dan di tanggal 22 desember kita harus memberi emas kepadanya? Apakah harus ada penghususan? Sungguh dangkal!

Toh, hari apapun tak boleh mengubah cinta kita kepada ibu. Cinta kepada ibu harus konstan, bahkan semakin besar–semakin mengilahi. Bukan seperti mata uang rupiah yang fluktuatif; jangan lantaran tanggal 22 desember tiba lantas cinta kita kepada ibu memuncak, sedang setelah 22 desember berlalu cinta kita ke ibu menjadi surut bahkan mengering.

Baik, mungkin itu sedikit kritik saya terhadap hari ibu. Semoga kita tidak menjadi budak dari budaya momentumisme: budaya yang hanya panas-panas tai ayam di momentum tertentu, dan menjadi kelupaan yang sempurna setelah momentumnya berlalu.

Akhir kata: mari kita nyanyikan lagu Kasih Ibu untuk menutup tulisan ngawur ini ….

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Super sekali, golden ways!

Advertisements

One thought on “Kritik Terhadap Hari Ibu

  1. Menurut saya tidak ada yang salah dengan pembuatan momentum spesial untuk mengingat sesuatu. Jika kemudian orang-orang hanya ingat untuk mencintai ibunya sampai puncak hanya di hari ibu maka yang ada masalah sebenarnya orang-orang. Saya rasa hari ibu tidak dibuat dengan alasan yang destruktif ataupun keentingan yang politis jadi kalau kesininya jadi begini ya mungkin memang orang-orang kebanyakan sering lupa menyayangi ibunya ssespesialdi hari iibu nah hari iibuitu kayak mmenonjok mereka. Sekali lagi: itu menurut saya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s