Cinta dan Masalahnya

lm

Cinta hanya relevan bagi orang yang kebutuhan primer dan rasa keamanannya terpenuhi. Cinta tidak relevan bagi orang yang kelaparan; yang kondisi ekonomi-hidupnya kacau balau dan (masih) berada di bawah standard kesejahteraan.

Lagu, syair, dan lantunan pemujaan tentang cinta hanya terhasilkan oleh orang yang telah melampaui dua hierarki kebutuhan—yakni hierarki yang pertama adalah kebutuhan fisiologis, makan-minum, dan yang kedua adalah kebutuhan untuk mendapat keamanan.

Apabila seseorang belum memenuhi dua kebutuhan di atas maka mustahil dia akan mencapai inti cinta. Begitulah kurang lebih pandangan tentang cinta jika dilihat dari teori kebutuhan-nya bapak psikologi humanistik, Abraham Maslow.

Pada kenyataannya pun demikian: cinta tak bermakna apa-apa jika manusia sedang kelaparan dan kesusahan.

Dua insan yang berpacaran belumlah mencapai kesejatian cintanya sebelum mereka menikah. Cinta yang sesungguhnya baru diuji ketika manusia mulai membangun dan menjalankan bahtera rumah tangga.

Manusia akan mencapai kesadaran tentang cintanya ketika ia menghadapi kepelikan hidup yang mendalam. Pada umumnya kepelikan-kepelikan serius dalam hidup dihadapi seseorang ketika ia telah berumah-tangga. Di situ, manusia akan menyadari bahwa “cinta saja” tidak mampu memenuhi-menjawab persoalan demi persoalan rumah tangga yang fundamentalistik dan urgentif.

Maka kemudian secara alamiah cinta akan tersubordinasi oleh tujuan membahagiakan dan desakan tanggung jawab; bahwa dengan modal cinta saja tanpa kebahagiaan maka akan sia-sia, malahan cenderung menimbulkan petaka.

Cinta bisa mengubah apapun, dan apapun bisa mengubah cinta. Dalam hidup, manusia membutuhkan cinta, tetapi cinta saja tidak mampu mengubah hidup. Tanggung jawab dan tuntutan hidup—yang dalam hal ini adalah pemenuhan kebutuhan primer akan menjadi lebih utama ketimbang persoalan cinta.

“Jangan bicara cinta jika pulang tak membawa duit!” tegas seorang istri kepada suaminya sesaat hendak berangkat kerja.

Kritik Terhadap Hari Ibu

nnn

Sebenarnya bagi saya hari ibu bukan hanya diperingati di tanggal 22 desember, tetapi hari ibu–seharusnya diperingati setiap saat, setiap hari. Sebab cinta ibu kepada anak tak mengenal hari, seperti penggalan lirik lagu Kasih Ibu-nya Mochtar Embut: Bagai sang surya menyinari dunia.

Cinta lebih tinggi dari waktu, termasuk cinta dalam relasi ibu-anak. Saya tidak tahu sejarah munculnya hari ibu 22 desember. Tetapi yang jelas, mendistorsi keagungan cinta ibu menjadi sekadar hari peringatan, yang kemudian dinamakan sebagai hari ibu tak bisa dibenarkan! Apapun alasannya tak boleh dibenarkan!

Tidak! Cinta kepada ibu dengan hanya diseremonialkan pada tanggal dan hari tertentu sama dengan kejahatan.

Apakah ada spesialitas atau penghususan sikap kita terhadap ibu di tanggal 22 desember dibanding hari-hari lainnya? Apakah kemudian di hari biasa kita hanya memberi bunga kepada ibu dan di tanggal 22 desember kita harus memberi emas kepadanya? Apakah harus ada penghususan? Sungguh dangkal!

Toh, hari apapun tak boleh mengubah cinta kita kepada ibu. Cinta kepada ibu harus konstan, bahkan semakin besar–semakin mengilahi. Bukan seperti mata uang rupiah yang fluktuatif; jangan lantaran tanggal 22 desember tiba lantas cinta kita kepada ibu memuncak, sedang setelah 22 desember berlalu cinta kita ke ibu menjadi surut bahkan mengering.

Baik, mungkin itu sedikit kritik saya terhadap hari ibu. Semoga kita tidak menjadi budak dari budaya momentumisme: budaya yang hanya panas-panas tai ayam di momentum tertentu, dan menjadi kelupaan yang sempurna setelah momentumnya berlalu.

Akhir kata: mari kita nyanyikan lagu Kasih Ibu untuk menutup tulisan ngawur ini ….

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Super sekali, golden ways!