Entropi Demokrasi

entropy

Berikut adalah cerpen tentang demokrasi karya Fandy Hermanto yang saya sadur kembali tanpa mengubah substansi ceritanya. Singkat kata: silakan menikmati….

Si Ulin, Ki Sanak, dan Cak Usro kembali bertemu di sebuah warung kopi…

Cak Usro: “Seperti kata hukum termodinamika II, bisakah kita katakan bahwa keteraturan demokrasi, sejurus anak panah waktu, semakin kemari semakin tinggi tingkat kekacauannya, non-linier, dan bergerak acak? Menambal ketidakteraturan di satu tempat akan mengambil energi di tempat lain. Wajah demokrasi mulai teratur, namun tidak dengan kejujuran? Kebebasan pers makin teratur, tidak dengan independensi dan kualitas? Semacam entropi demokrasi.”

Si Ulin: “Keteraturan hanya bersifat prosedural, tidak diimbangi peningkatan kualitas secara substansial, karena dimensi insititusi demokrasinya juga rendah kualitasnya, khususnya soal rule of law.”

Cak Usro: “Demokratisasi berarti suatu proses, gerak dinamik. Gerak kita menuju keteraturan di satu sisi, hanya akan membuat ketidakteraturan di sisi lain, misalnya cost yang tinggi, atau contoh lain, perampingan kabinet akan menggusur sebagian pegawai negeri sipil, dll. Keteraturan instalasi organ/perangkat demokrasi –saya sebut hardwarenya demokrasi saja– diperlukan sumber daya/software yang bisa mengoperasikan perangkat tersebut. Software seperti leadershipgood governance, semangat kebangsaan, dll, sesuatu yang mahal saat ini. Dan saya setuju kalau demokrasi yang kokoh perangkatnya tapi tak dioperasikan sesuai ‘manual book’-nya, rule of law, itu demokrasi yang rendah kualitasnya.”

Si Ulin: “Demokrasi memang mahal harganya, misalnya untuk elektoral (prosedural). Tetapi, tesis Cak Ulin bahwa gerak kita menuju keteraturan di satu sisi, hanya akan membuat ketidakteraturan di sisi lain, dengan contoh untuk cost yang tinggi itu teori siapa, Cak? Kalau bisa mempengaruhi memang iya, tapi pernyataan soal akan membuat ketidakteraturan apakah sudah valid? Kalo iya, sampai sejauh mana ketidakteraturan tersebut?”

Cak Usro: “Sebetulnya tidak ada yang membahas hal ini. Saya tidak berangkat dari teori mana pun. Saya hanya mencoba menerjemahkan hukum kedua termodinamika, ‘Sistem yang teratur akan menjadi tidak stabil dan berkurang keteraturannya sejalan dengan waktu,’ ke dalam konteks sistem demokrasi. Jumlah entropi (tingkat ketidakteraturan) semakin meningkat sejurus waktu. Jika dibiarkan begitu saja (spontan), alam semesta ini memang bergerak menuju ketidakteraturan, itu hukumnya. Artinya, segala keteraturan yang kita buat tidak akan membuat entropi menjadi 0, akan tetapi hanya memindahkan entropi. Ini hanya perenungan mencoba menerapkan hukum-hukum alam tertentu pada konteks kita sehari-hari, bisa tepat bisa kurang tepat, terbuka saja untuk diskusi kita tho?”

Ki Sanak: “Jika implementasi hukum termodinamis II adalah mesin kalor, maka dalam demokrasi itu sendiri mesin kalornya mungkin DPR yang mengubah energi panas dalam bentuk aspirasi, menjadi energi mekanik dalam bentuk kebijakan. Di sini ada sebuah siklus yang berjalan linier. Jadi tak bisa DPR memberi aspirasi ke rakyat, dan rakyat yang buat kebijakan. Kalau begitu mah jadinya social action… he..he… Lalu soal total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi cenderung untuk meningkat seiring dengan meningkatnya waktu mendekati nilai maksimumnya, maka kekacauan justru malah terjadi jika aspirasi diserap dan langsung dibuat jadi kebijakan. Nah, demokrasi yang bagus kok malah jadi bikin chaos ya? Menurut Cak ulin gimana?”

Cak Ulin: “Demokrasi model sekarang khan sebetulnya penyederhanaan suara rakyat menjadi parlemen, eksekutif dan yudikatif. Yang betul-betul transformasi suara rakyat khan parlemen (DPR) dan eksekutif (presiden, termasuk kepala daerah). Khusus untuk parlemen (DPR/DPRD), aspirasi yang berupa energi potensial rakyat mustinya jatuh menjadi energi mekanik berupa kebijakan secara linier. Jika energi potensialnya tidak pernah berubah menjadi energi mekanik melalui mesin ini, ya bisa jadi energi potensial rakyat itu mencari mesin lain. Kalau Ki Sanak menyebutnya social action, kalangan lain mungkin menyebutnya gerakan ekstra-parlementer, atau parlemen jalanan. Terkait dengan jumlah entropi, kalau hal itu berupa hukum tentu sulit bagi kita untuk menguji lagi pada kondisi-kondisi lain, karena hukum dan teori (teori apa saja, termasuk teori politik) jelas berbeda tingkat keterterimaannya. teori justru mesti diuji tho? Masalah yang masih saya cari adalah apakah hukum alam ini bisa diterapkan pada konteks sistem demokrasi, demokrasi di mana melibatkan hubungan antar-manusia, dan hubungan antar-perangkat keras demokrasi?”

Ki Sanak: “Aku rasa bisa Cak, karena toh demokrasi juga bagian dari fenomena jagat ini… he..he… cuma keberlakuannya berada di level kerangka pikir manusia dan hidup dalam sistem sosial, bukan sistem organik. Ibarat sel-sel dalam tubuh kita juga ada mekanisme termodinamis di dalamnya. Lalu soal gerakan ekstra-parlementer, atau parlemen jalanan itu tadi, menurut Cak usro karena siklusnya berusaha dibalik, atau karena keterandalan si mesin kalor (parlemen dan eksekutif) sudah sampai titik maksimum dalam bekerja?”

Cak Usro: “Hmmmm….”

Ki Sanak: “Menyambung Si Ulin… ‘sejauh mana ketidakteraturan tersebut’, mungkin logikanya bisa dibalik menjadi ‘faktor apa yang bikin ketidakteraturan itu bakal muncul dan terus meningkat’. Nah, ini aku jadi ingat prinsip mesin kalor pada mobil/motor… jika pedal gas terus ditekan logikanya mesin harus makin kencang, namun tetap ada batas ketika mesin kalor akan menghasilkan energi mekanik. Ketika mesin udah gerung-gerung namun kecepatan tidak bertambah, berarti entropi itu sudah dimulai dan meningkat. Jika malah gas terus dibuka, dan bensin terus berkucur deras, maka bukan jadi makin kencang tapi mesin jebol. Nah, kekacauan mutlak khan? Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain: thermal efficiency, momentum putar, torsi, dan lainnya—yang dalam demokrasi mungkin bisa dianalogikan: prasarana aspirasi, konsistensi penegakan hukum, dan keterandalan kebijakan yang dihasilkan dalam sistem sosial masyarakat. Mesin kalor khan juga penyederhanaan dari fenomena termodinamis di jagat raya… soo, sama kayak demokrasi parlemen,”

Si Ulin: “Sah-sah saja kalian menganalogikan teori termodinamika yang cukup rumit dalam konteks demokrasi… tapi pernyataan pertamaku yang ringkas berdasarkan penelitian, kajian beberapa lembaga dan individu (independen) dalam melihat kondisi demokrasi di Indonesia pasca reformasi.”

Cak Usro: “Betul, Ulin, hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa ‘keteraturan hanya bersifat prosedural, tidak diimbangi peningkatan kualitas secara substansial, karena dimensi insititusi demokrasinya juga rendah kualitasnya, khususnya soal rule of law’ memang bentuk paradoks di negara kita, tugas kita membuat keteraturan yang entropinya mendekati 0… hehe….”

Ki Sanak: “Sik, sik aku baca dulu kesimpulannya… keteraturan hanya bersifat prosedural, tidak diimbangi peningkatan kualitas secara substansial, karena dimensi insititusi demokrasinya juga rendah kualitasnya khususnya soal rule of law… Nah, see… hukum fisika pun berlaku di sini… prosedur adalah alur kerja dari si mesin kalor, kualitas substansial adalah thermal efficiency-nya, lalu rule of law adalah konsistensi momentum putar yg dihasilkan, ini hukum kesetimbangan beban.”

Cak Usro: “ Ki Sanak ini tadinya montir ya… hehe….”

Ki Sanak: “Haha…. ketahuan deh… montir khan juga boleh belajar soal demokrasi, Cak… hehehe….”

Cak Usro: “Jadi, kesimpulan awal kita apa nih, Ki Sanak, Ulin? Pertama, hukum alam kemungkinan besar bisa diterapkan dalam sistem demokrasi selama sistem tersebut berada di jagat raya ini?! Setuju? Kedua, Hasil penelitian kawan-kawan NGO atau lembaga penelitian lain tetap bisa dianalogikan dengan hukum-hukum fisika, setuju?”

Ki Sanak: “Setuju sekali akan dua poin itu… terutama untuk aku yang baru bisa memahami fenomena sosial, dari bercermin pada fenomena alam,”

Palu digedok “dok dok”…. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s