Kenapa Pula Kau Kembali Setelah 6 Tahun Kita Berpisah?

for-blog5

Kenapa pula kau kembali setelah 6 tahun kita berpisah?

Kau hadir lagi setelah saya telah menimang bayi dan menggandeng istri. Dan dengan entengnya kau ucapkan: “Aku masih memiliki rasa untukmu …”

Oh, tidak! Jangan! Jangan nyalakan kembali api cinta di antara kita! Sebab sesungguhnya cinta di hati ini hanya bisa dihidupkan olehmu dan memang hanya untukmu. Ya, aku–meski dalam lupa, aku tetap mencintaimu–sepanjang ingatanku tentangmu berbinar dalam benak.

Lupakan aku, cinta. Aku sedang menjalani suratan takdirku sebagai lelaki yang dimiliki wanita lain. Aku telah berisitri dan beranak.

Tapi, oh … cintaku, bolehkah aku untuk tetap mencintaimu meski aku tak lagi bujang seperti dulu? Tidak, jangan katakan aku berselingkuh sebab tak ada selingkuh dalam kamus cinta. Mencintaimu bukanlah menyelingkuhi istriku. Aku hanya memenuhi takdirku untuk mencintaimu.

Apa salahnya mengabdi pada Tuhan dengan menerima cintaNya padaku untukmu?

Bukankah benar apa yang dikatakan Sujiwo Tejo bahwa, “Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa, tetapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.” Tak ada yang salah kan dengan keputusanku untuk membangun rumah tangga, asalkan bangunan cinta kita tetap utuh–tak pernah hancur dan rubuh.

Ah, sudahlah, aku tahu kita pun tak mungkin bersama. Ada banyak jurang perbedaan di antara kita. Mulai dari tempat tinggal yang terpisah pulau dan lautan, status sosial, tingkat pendidikan dan ekonomi, warna kulit, bahkan agama. Ya, yang disebutkan terakhir itu yang paling menghalangi hubungan kita. Pada umumnya bukan kita berdua saja yang terbentur di persoalan itu, tetapi mayoritas manusia Indonesia seringkali hubungan percintaannya kandas oleh persoalan tersebut: beda agama!

Sering kukatakan, jika agama diciptakan untuk meruntuhkan tembok keagungan sebuah cinta maka lebih baik agama dihapuskan dari kamus peradaban umat manusia!

Bukankah cinta lebih tua daripada agama? Sebab cinta lebih dulu ada sebelum agama ada? Ah!

Tetapi … kenapa pula kau kembali setelah 6 tahun kita berpisah?

Kau datang lagi hidupkan cinta yang telah lama tertidur di hatiku. Padaku kau berkata: “Seandainya dari dulu aku sedewasa sekarang maka mungkin kita telah balikan dan kembali membina hubungan percintaan yang oleh orang-orang disebut pacaran, tetapi apa boleh buat, semua sudah berlalu, kau kini milik orang lain.”

Namun sejurus waktu kau balik menimpali perkataanmu; kau katakan: “… tapi untuk nikah aku rasa tidak, kamu islam dan aku kristen ….”

Lah … kalau kau sudah tahu di depan ada jurang maka hentikan perjalanannya. Kalau pada akhirnya kita tidak bisa menikah maka tidak usah kau katakan balikan! Toh, puncak terakhir dari percintaan kan menikah. Kalau tidak mau menikah lah sampai kapan mau main-main? Karena lantaran beda agama kemudian kita hanya bisa menjalin hubungan sebatas pacaran?

Ah sudahlah, semua telah berlalu. Semua telah berubah. memperdebatkan masa lalu tak ada gunanya lagi. Sekarang kita hanya bisa menjalani semua yang ada sebagaimana mestinya.

Tetapi … kenapa pula kau kembali setelah 6 tahun kita berpisah?

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah.” Muadzin menutup adzannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s