KEBAIKAN LEBIH TINGGI DARIPADA SEKADAR NEGARA

blind-justice

“Keadilan tanpa kekuatan itu kosong. kekuatan tanpa keadilan adalah kekerasan.” (Musashi – Vagabond)

Negara yang menembak mati warga negaranya itu bukanlah negara. Kalau hak untuk hidup warga negara malah direnggut oleh negara-nya sendiri maka dengan tegas harus kita katakan: “Negara tidak pantas ada!”

Jika hari ini masih kita biarkan hak untuk hidup, hak atas kemerdekaan dan kesejahteraan warga negara yang dalam hal ini adalah kita sendiri–tidak dipenuhi oleh negara, maka diktum “berbangsa-bernegara” adalah ilusi paling bangsat yang masih diyakini oleh sebagian besar kita.

Berhentilah kawan. Berhentilah meyakini bahwa negara adalah alat penegak kedaulatan rakyat! Lewat Larasati, Pramoedya berkata: “Ibuku tinggal di sarang. Ini bukan rumah. Di negeri matahari ini, bahkan sinar matahari dia tidak kebagian!”

“Keadilan adalah dasar utama dalam segala persoalan. Ia harus ditegakkan terhadap yang dibenci sekalipun.” (Q.S. Al-Maidah[5]: 8)

Keadilan adalah kerjaanya semua manusia, bukan negara. Yang harus berlaku adil itu kita semua. Mari kita bermanusia tanpa dihalangi oleh doktrin konyol tentang negara, pseudonegara, demokrasi, pseudokrasi, dsb, dst ….

Namun, apabila kita masih percaya dengan negara, tanamkan dalam-dalam prinsip bahwa “bukan rakyat yang tunduk pada negara, tetapi negara-lah yang harus tunduk pada rakyat. Sebab rakyat yang membuat negara, bukan sebaliknya”.

Tujuan tertinggi manusia bukanlah bernegara tetapi menebarkan rahmat Tuhan dan mengolahnya sedemikian rupa agar menjadi berkah bagi manusia dan alam semesta.

Kebaikan lebih tinggi daripada hukum negara. Rasionalitas dan akal sehat lebih luas daripada undang-undang negara–apalagi yang berwatak despotik; dan negara bukanlah satu-satunya wadah untuk mendistribusikan kepastian, kemaslahatan, dan keadilan.

Mengutip perkataan seorang filsuf Amerika Serikat, Thomas Paine: “Dunia adalah negaraku, seluruh umat manusia adalah saudaraku, dan mengerjakan kebaikan adalah agamaku.”

Wallahu a’lam bisshawab ….

Survival of The Fittest!

Survival of the Fittest Image 2

Alam adalah kejujuran yang paling mematikan. Ia tak pernah berbohong, sebab ia tunduk pada hukum ketetapan–tetapi bukan berarti ia tidak kejam.

Itulah (mungkin) yang akhirnya membuat Adolf Hitler bergumam: “Alam itu kejam, maka manusia harus lebih kejam!”

Ya, manusia adalah panglima jagad raya, maka dia tak boleh lebih lemah dari semesta. Manusia yang lebih lemah dari alam tidak pantas hidup. Tidak pantas disebut manusia.

Survival of the fittest, survival of the fittest, survival of the fittest! Nyalakan mantra, sebarkan lentera. Bersabdalah: Aku bermantra, maka aku ada!

Pamflet Perlawanan

logo-perlawanan

Tuliskan lagi setiap inchi kenyataan; perlawanan adalah hak setiap umat manusia. “Jangankan manusia, cacing pun akan bergerak berkeluget-keluget jika diinjak,” kata Bung Karno dalam kertas yang telah lapuk hari ini.

Membiarkan kebodohan menguasi iman dan akal sehat sama halnya dengan men-subordinasi-kan harga diri kemanusiaan untuk lebih rendah dari harga BBM.

Tidak, ini tidak ada kaitannya dengan kenaikan harga BBM. Ini adalah persoalan ketidak-naikan derajat manusia yang dengan sempurna hanya didiamkan oleh pelakon peradaban masa kini. Waw.

Baik, silakan naikkan apa saja! Sembako, cabe, kacang, karet, bedak, sabun, minyak, bensin, solar, kondom, obat kuat, dan apa saja–silakan naikkan harganya! Tetapi semuanya harus selaras dengan naiknya harga diri kemanusiaan! Semuanya harus selaras dengan kemakmuran peradaban hidup manusia! Kalau tidak ada keselarasan, aku ingin menebarkan benih-benih perlawanan.

Ingat! “Jangankan manusia, cacing pun akan bergerak berkeluget-keluget jika diinjak.”

Aku telah sering berkata: Kami bukan siapa, tak meminta apa, tetapi jika semakin gencar kalian menindas; jangan heran jika kami membuas.

Oke.