Beda Ibrahim Datuk, Beda Tan Malaka

tann

Ibrahim Datuk

Ibrahim Datuk adalah orang Sumatera Barat yang tumbuh dan besar di lingkungan Islam. Ibrahim pintar ngaji. Tak heran, ia pun menjadi guru pengajian di kampung tempat ia tinggal.

Filsafat Ibrahim Datuk adalah filsafat Ilahiyah-transendental, Ibrahim Datuk percaya pada Tuhan Yang Tunggal. Baginya, tak ada yang patut disembah kecuali Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Ibrahim Datuk, Islam adalah gerakan pembebasan manusia dari penindasan. Sehingga kelak pilihannya menjadi guru adalah bertujuan untuk mencerdasakan pribumi asli yang  dijajah di buminya sendiri.

Tuhan memerintahakan manusia untuk berbuat kebaikan di bumi ini, manusia berkewajiban untuk melakukan pekerjaan kemanusiaan, yakni menyebarkan Rahmat Tuhan kepada seluruh umat manusia dan alam semesta agar menjadi barokah. Begitulah keyakinan Ibrahim Datuk.

Tan Malaka

Tan Malaka adalah seorang tokoh komunis besar. Tapi kekomunisannya bukanlah hasil-definisi rezim Orde-Baru, yakni –komunis adalah tidak bertuhan. Tidak. Kata Tan Malaka komunisnya adalah komunis yang bertuhan. Agama menurut Tan Malaka adalah einne privatche. keyakinan pribadi. “Di depan manusia saya atheis, tapi di depan Tuhan saya muslim.” Begitulah prinsipnya.

Tan Malaka adalah murid di sekolah keguruan: Rijkskweekschool, di Harlem, Belanda. Sekolah ini-lah yang kelak mengukuhkan kediriannya untuk mengajar di Indonesia, maupun di Filipina, Tiongkok, dan hampir di seluruh tempat yang sempat didatangi Tan Malaka dari kejaran Internasional. Menjadi guru, itulah pekerjaannya.

Saat belajar di Belanda, Tan Malaka mendapat banyak pengetahuan tentang dunia, terkhusus tentang sejarah gerakan dan pemikiran yang ada di dunia, semisal revolusi Perancis, revolusi Bolshevik. Ketertarikannya terhadap gerakan revolusi menghantarkannya untuk mengenal tokoh-tokoh besar dunia seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Vladimir Lennin, Hegel Emanuel, Kant, hingga Friedrich Nietzsche.

Meski banyak belajar dari pemikiran barat tapi Tan Malaka malah menjadi anti terhadap barat, sebab menurutnya, Barat itu hanya bicara tentang keuntungan, serang-serangan, dan kekuasaan. Demikian dalam suatu kesempatan, Tan Malaka mengatakan “Belajarlah dari barat, tapi jangan menjadi barat. Jadilah murid timur yang cerdas.”

Filsafat Tan Malaka adalah matrealisme. Namun diakui Tan, matrealisme tak sesuai dengan sejarah dan kebudayaan rakyat Indonesia, maka kemudian Tan Malaka memformulasikan matrealisme-dialektika-historsinya Karl Marx dengan kondisi Indonesia. Lahirlah Madilog, matrealisme-dialektika-logika, di dalamnya Tan Malaka men-sinthesa-kan matrealisme Marx dengan Idealisme Hegel. Madilog cocok dengan cara berpikir ketimuran. Tujuan dari madilog sendiri adalah agar membebaskan rakyat Indonesia dari alam-pikir takhayul dan mistik. Madilog menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan cara yang sesuai dengan akar kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta, dan fakta adalah lantainya ilmu bukti.

Persamaan

Persamaan Ibrahim Datuk dan Tan Malaka adalah sama-sama ber-indonesia. Sama-sama pejuang kemanusiaan. Keduanya sama-sama ingin memerdekakan bangsanya dari belenggu kolonialisme. Kebetulan, keduanya ada dan hidup di zaman yang sama.

Ibrahim Datuk dan Tan Malaka sama-sama menjadi pahlawan nasional Indonesia. Keduanya sama hebat dalam bermain sepakbola dan suka pencak-silat. Dan satu lagi, keduanya mencintai wanita yang sama: Syafirah Nawawi. Syafirah sekampung dengan Ibrahim Datuk dan seangkatan sekolah dengan Tan Malaka di Rijkskweekschool. Lucunya, tak satu pun dari keduanya yang cintanya terbalas oleh Syafirah. Syafirah lebih memilih menikah dengan seorang menak Sunda. Meski pada akhirnya bercerai, Syafirah tetap enggan untuk menerima cinta Ibrahim Datuk dan Tan Malaka. Ya, “Cintaku bertepuk sebelah tangan. O, cintaku tak terbalas,” lirih Ibrahim dan Tan.

Ibrahim Datuk lahir 21 juni 1897 di Suliki, Pandan Gadang, Sumatera Barat. Sedang Tan Malaka meninggal di Kediri, Jawa Timur 21 februari 1949. Ibrahim Datuk lahir untuk menjadi Tan Malaka, dan Tan Malaka lahir sebagai Ibrahim Datuk. Mereka beda tapi ada dalam satu jiwa; bersenyawa menjadi Ibrahim Datuk Tan Malaka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s