Warga Mayoritarianisme

8eb4035acd362f34

Suatu siang di sebuah desa—terjadi perdebatan hebat. Perdebatan itu dipicuh oleh sebuah fenomena rubuhnya rumah milik salah satu warga desa tersbut.

Masalahnya, bukan baru sekali. Dalam setahun terakhir, rumah tersebut sudah mengalami dua kali kerubuhan pada dinding bangunannya.

Kata salah satu insinyur yang juga penduduk di desa itu, hal tersebut disebabkan oleh keroposnya struktur pondasi bangunan—sehingga mengakibatkan dinding bangunan rumah rentan hancur dan rubuh.

“Sekokoh apapun dinding yang didirikan, pasti akan mudah retak—kemudian runtuh,” tegas si insinyur kepada warga.

Tetapi oleh mayoritas warga yang berkumpul di lokasi rumah rubuh itu, argumentasi si insinyur tadi dibantah.

“Ah, tidak, ini karena campuran semen dan pasir yang tidak pas makanya dinding bangunannya mudah rubuh …” cetus salah satu warga.

“Iya nih, saat pembangunan, ada yang nakal dengan bahan bangunannya …” sambung yang lain.

“Iya, lagipula si pemilik rumah ini tidak pernah mengadakan pengajian di rumahnya … makanya ….” sahut salah satu warga di antaranya yang dikenal sebagai Pak Ustadz.

“Iya, iya, iya, benar …” teriak warga-warga lainnya yang turut hadir.

“Maaf, bukan maksud untuk menggurui bapak-bapak semuanya, tapi saya sudah berpengalaman di bidang struktur, konstruksi, dan hal ikhwal mengenai ilmu bangunan. Dan setelah saya cermati … permasalahan rumah ini terletak pada lemah dan keroposnya pondasi bangunan. Maka dari itu sekuat apapun dindingnya dibangun, ia akan tetap kembali rubuh. Cuma tunggu waktu.” Si insinyur mencoba meyakinkan.

“Ah, bapak tidak tahu apa-apa! Bapak orang baru di sini. Kamilah yang sudah puluhan tahun hidup di sini—kamilah yang paling tahu tentang desa ini,” bantah salah satu warga yang kemudian diangguki sebagai bentuk sepakat oleh beberapa warga di antaranya.

“Benar, masalahnya bukan pada pondasi, melainkan perilaku si pemilik rumah ini yang tidak bersahaja,” papar salah satu petuah adat, warga desa tersebut.

“Sepakat, dia memang pantas menerima musibah ini. Inilah hukuman Tuhan padanya,” pekik Pak Ustadz disambut meriah oleh seluruh warga yang berkumpul.

***

Begitulah gambaran singkat perdebatan yang terjadi di siang itu.

Sehebat apapun si insinyur menjelaskan, akan tetap ditolak oleh mayoritas warga. Seilmiah apapun si insinyur menerangkan, ada saja bahan bantahannya.

Hingga turun-temurun, zaman silih berganti, generasi ke generasi, desa itu tak berubah-ubah, mungkin fisiknya berubah tetapi tidak untuk watak dan karakter penduduknya.

Bagi mereka: yang banyak artinya benar, yang sedikit artinya salah. Ya … di desa itu—kebenaran ditentukan oleh suara terbanyak. Dan itu terus dipertahankan, dipelihara, dan dilestarikan sampai cerita ini ditulis—dan mungkin sampai kehidupan berakhir.

Mungkin sampai kiamat pun, akan tetap begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s