Menulislah: Menemukan Keaslian Manusia Indonesia Dalam Dominasi Kepalsuan

10403031_859593834052988_6947735930251495944_n 

“Segala yang kau pikirkan, percuma apabila tak kau tuliskan.” Umbu Landu Paranggi

Menulislah, apapun itu, karena dengan menulis, kau telah mengabadikan kehidupanmu, ya, bekerja untuk keabadian. Kata Pramoedya Ananta Toer: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Sebuah peradaban disebut peradaban apabila memiliki peninggalan; entah itu artefak, lukisan, tulisan, atau apapun yang berupa kerja-tangan. Tanpa semua itu, sejarah akan mudah dimanipulasi –dipalsukan– oleh penguasa di zamannya.

Dalam potret Indonesia hari ini, dunia kepenulisan mengalami ke-mandeg-an produktivitas. Pemuda-pemudi sebagai cerminan bangsa terbuai oleh budaya-pop, konsumerisme, hedonisme-akut, sedang yang lainnya terjun bebas tanpa parasut dalam politik-praktis, dan sisanya bersuka-cita dengan (hanya) bersikap apatis.

Wajar jika sejarah dan pikiran Manusia Indonesia hari ini didominasi oleh kepalsuan, bahwa alam-pikir dan orientasi Manusia Indonesia de facto sebagian besar adalah hasil konstruksi bangsa barat dan kelompok penguasa – yakni representasi dari Kapitalisme yang ingin menguasai Indonesia secara utuh.

Mengutip diktum Milan Kundera, “Cara menghancurkan suatu bangsa adalah dengan menghapus jejak tulisan dan sejarah bangsanya.” Itulah yang dipraktikkan oleh Kapitalisme di Indonesia, dan benar saja, hal itu terbukti hari ini.

Peninggalan sejarah harus dilacak kembali, dalam kondisi Indonesia yang kehilangan arah dan tujuan, tugas setiap Manusia Indonesia adalah mengumpulkan ingatan dan pengetahuan bangsanya sebanyak mungkin untuk dijadikan sebagai … kalau bahasanya WS Rendra adalah sebagai tata buku masa kini, agar masa depan bukan hanya sekadar spekulasi, keinginan, dan angan-angan.Maksudnya agar kita memiliki pengetahuan untuk merumuskan keadaan faktual (masa kini) dalam memproyeksikan seperti apa masa depan Indonesia; menjadi pedoman menuju keaslian-kesejatian Indonesia.

“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Begitulah sabda Sayyidina Ali. Kalau saja beliau hidup saat ini maka (kemungkinan besar) ia akan me-repost perkataannya itu di Twitter atau Facebook setiap hari. Ya, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Menulislah.

“… perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Penggalan sajak WS Rendra tersebut mungkin terlampau jauh dari kebutuhan Manusia Indonesia saat ini. Kita belum bisa melaksanakan apa-apa, sebab kita belum memiliki kata-kata; kita sedang melaksanakan kata-kata yang ditulis oleh bangsa Asing dan Kapitalis-kelas Penguasa.

Tugas Manusia Indonesia saat ini adalah membangunkan akal-sehat untuk belajar mengenal dirinya sendiri agar mampu menarik benang-merah kebenaran sejarah bangsanya, dan juga menarik benang biru dalam membangun masa depan bangsanya, bukan hanya untuk kau sulam menjadi kelambu sebagaimana yang dilagukan oleh Meggy Z.

Jejak sejarah ada dalam tulisan, maka pelajarilah ia, dan tulis kembali sesuai dengan situasi, kondisi, dan toleransi Indonesia terkini, agar kau menemukanmu, menemukan kita, menemukan Indonesia. Yaa, Endonesa Bapa!

“Bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah,” bisik Imam Al-Ghazali sesaat sebelum saya menyudahi tulisan ini.

Wallahu a’lam bisshawaab …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s