Kritik Indonesia Hasil Konstruksi Media Massa

media-monopoly1

Manusia produk media mainstream hari ini alergi terhadap fasisme, komunisme, khilafah, dan segala macam bentuk pemerintahan yang non-demokrasi.

Kenapa demikian? Karena hanya lewat demokrasi-lah agenda zionisme (the protocol of zion) bisa berjalan.

“Kuasai media maka kau akan menggenggam dunia.” -Noam Chomsky

Siapa yang menguasai dunia hari ini? Percayalah kawan, jika para pejabat, politisi, pengusaha, penguasa dan siapa saja mereka, benar-benar ingin mengubah Indonesia menjadi sebenar-benarnya Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur, maka media massa sebagai instrument hegemoni telah bersatu padu dalam visi-misi untuk mencerahkan paradigma massa.

Sebab media massa adalah variabel terbesar dalam membentuk dan mengarahkan manusia menjadi ini dan itu sesuai kehendak pemesan/pemilik medianya. Namun apabila hari ini tak kau temui persatuan dari para petinggi-petinggi negara, baik profesor, doktor, negarawan, politisi, aparatur pemerintahan hingga preman, artis, pemilik media, pengusaha, seniman dsb dll, maka bisa dipastikan Indonesia sedang meruncing kehancurannya sendiri.

“Tak ada bangsa yang sekarang sangat sibuk merusak dirinya sendiri selain bangsa Indonesia,” –Prof. Dr. M.T. Zen, Guru Besar Emeritus Teknik Geofisika ITB

Jangan merasa penting di negara ini, rakyat bukan subyek dan atau obyek kedaulatan, melainkan hanya perolehan suara yang menghantarkan kebodohan menjadi presiden.

Demokrasi adalah sistem terburuk yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia. Silakan cek di buku-buku sejarah dan pemerintahan, bahwa tak ada kehancuran dunia (negara-negara) sehancur sekarang ini (abad 21).

Kita boleh mengutuk fasisme (Hitler) atau komunisme (Stalin) dengan dehumanisasinya yang mengakibatkan angka kematian jiwa berkisar jutaan. Kita boleh mengutuk zaman kegelapan (Gereja) yang mencengkeram akal sehat dan nalar akal budi manusia. Kita boleh kecewa dengan despotisme yang ditunjukkan kekhilafaan hingga membawa kesesatan rakyat Turki. Tetapi akan sangat tak adil jika kita tidak melawan tirani demokrasi hari ini—sebab demokrasi adalah akumulasi dari segala keburukan yang kita kutuk tadi.

Demokrasi adalah puncak dari nihilisme—yakni hilangnya nilai kemanusiaan. Demokrasi adalah kediktatoran massif yang meresmikan kematian manusia lewat angka statistik di televisi dan pergumuluan demoralisasi lewat tontonan massal agar diamini dalam ketak-sadaran kita.

“Lebih baik ke neraka tanpa Amerika, dari pada ke surga bersama Amerika.” [Manuel Quezon, dikutip Bung Karno dalam “Di Bawah Bendera Revolusi”]

Kalimat di atas memaknakan bahwa seburuk-buruknya neraka, seseram-seramnya neraka, seganas-ganasnya neraka, itu lebih baik ketimbang Amerika.
Hari ini, di mana kiblat Indonesia?

Wallahu a’lam bisshawab ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s