Hari Perenungan

michaelart com

Hari Pahlawan atau Pahlawan Hari? Pertanyaan ini patut dikemukakan terlebih dahulu sebelum kita masuk dan terjebak dalam arus mainstream media massa yang menjerumuskan kita pada momentum seremonial belaka tanpa mana dan makna.

Sering kita dengar ucapan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Lantas kemudian apakah kita adalah bangsa yang besar–yang dimaksud? Apakah kita sudah menghargai jasa pahlawan kita? Dan apakah bentuk “menghargai” itu hanya sebatas pemberian “Hari Peringatan” di kalender yang cuma satu kali dalam satu tahun, yakni pada 10 november. Perlu direnungkan kembali.

Dengan berat hati, “Bangsa Besar” itu tak pantas disematkan pada bangsa Indonesia. Sebab penghargaan kita terhadap jasa pahlawan hampir tidak ada. Kalaupun ada, itu hanya sebatas bentuk hari peringatan dan euforia momentum yang berujung pada perebutan eksistensi dan keuntungan.

Kedangkalan berpikir sebuah bangsa bisa dilihat dari cara mereka mengonsepkan sesuatu. Hari besar dan bersejarah di Indonesia sering (common sense) disebut hari peringatan, –hanya sebatas peringatan–, tak lebih. Hanya mengingat dan “Ooo …” Ironisnya, kita tidak merenungkan hari-hari besar dalam hidup kita. Jika diperingati, kita hanya (sebatas) memeringati, tapi tidak merenungi, padahal perubahan dan kemajuan adalah hasil perenungan. Perenungan yang dalam dan menyeluruh.

Kenapa tidak kita ganti saja “Hari Peringatan” menjadi “Hari Perenungan”? Selama ini kita hampir tidak mendapatkan apa-apa dari peringatan. Hari peringatan hanya akan berakhir pada sebatas mengingat, tetapi setiap perenungan akan berimplikasi pada perubahan pola hidup dan aktivitas ke depan, sebab di dalam perenungan ada evaluasi dan proyeksi, dan itu tidak ada dan tidak kita dapatkan dalam peringatan.

Jika dibiarkan, kedangkalan dari sebuah peringatan akan berlanjut, dan itu akan melahirkan … meminjam istilah Remy Sylado: “suatu pemerataan kebingungan”. Misalnya kita bingung hari ini, bahwa yang dimaksud “Hari Pahlawan” 10 november adalah mengharikan pahlawan atau memahlawankan hari? Cenderung dalam ketaksadaran kita, yang kita pahlawankan adalah harinya ketimbang sejarah dan pejuangnya.

Kesimpulannya adalah bahwa “Hari Perenungan” lebih baik dari “Hari Peringatan”, sebab spektrum perenungan itu lebih luas; Di dalam perenungan ada peringatan, tetapi di dalam peringatan belum tentu ada perenungan.

Hari peringatan itu untuk (hanya) mengingat kembali, sedang hari perenungan untuk merenungkan kembali. Jelas yang kedua lebih bermutu dan berpengaruh. Sebab seperti yang sudah dikatakan di atas, di dalam perenungan ada evaluasi dan proyeksi. Maknanya bahwa ada kehendak untuk berubah dan maju. Sedang peringatan hanya berkutat pada seremoni belaka, yang setelah itu (kembali) lupa.

Merenung sudah pasti harus mengingat, tapi mengingat belum tentu direnungkan. Ayo … kita ganti “Hari Peringatan” menjadi “Hari Perenungan”.

Ah, apalah makna peringatan dan perenungan kalau hanya untuk mencari laki-laki lain … buat apa sih … benang biru kau sulam menjadi kelambu … Meggy Z gagal-paham.

Wallahu a’lam bisshawab ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s