Gila Perubahan

1681982-inline-screen-shot-2013-05-13-at-92240-pm

“Cita-cita hidup manusia beragam, tapi satu hal yang harus kita sepakati adalah bahwa tugas hidup manusia adalah mengurangi ketidak-tahuannya setiap hari.” -Budiman Sudjatmiko

Mengatakan hidup sebagai hidup tanpa memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kehidupan, itu sama dengan menistakan kehidupan ke dalam jurang kebodohan. Setiap manusia wajib mengetahui, apapun harus diketahui. Dengan mengetahui, seseorang bisa dikatakan mempunyai pikiran. Sebab, pengetahuan adalah produk dari aktifitas pikiran.

Homo Kepoctus, Manusia adalah makhluk yang ingin mengetahui. Mungkin Charles Darwin kalau masih hidup sampai saat ini maka dia akan menyebutnya demikian.

Dunia berkembang dan maju adalah hasil dari ketat dan dalamnya pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Maka, wajah dunia hari ini adalah cerminan dari betapa canggih dan jenius manusia-manusia di dalamnya.

Kampus adalah tempat paling utama dalam menjalarkan ilmu pengetahuan ke otak mahasiswa, seharusnya, sebab di kampus, segala obyektifitas dan nilai intelektual bercokol. Mahasiswa tinggal memetik dan memakan buahnya.

Namun hari ini, faktanya, kampus malah menjadi tempat hedonisme berwabah. Jaring konsumerisme bersarang di berbagai tempat dan ruang mahasiswa. Kampus mengalami disfungsi, Intelektual tak lagi bereaksi.

Kaum intelektual adalah orang yang mempunyai fungsi sosial, itulah gambaran sederhana oleh Antonio Gramsci terhadap makna kaum intelektual yang ideal. Jika tak ada fungsi sosial maka tak ada pula intelektual.

Kampus adalah mesin pencetak intelek-intelek baru setiap tahun. Masyarakat sebagai obyek perjuangan kaum intelek harusnya mampu mengatualisasikan nilai-nilai intelektual itu untuk mengabdi kepada masyarakat, sebagaimana juga yang terpatri dalam tri darma perguruan tinggi.

Semangat mahasiswa sebagai entitas perubahan dan tonggak pengabdian itulah yang harus dihidupkan kembali, kampus sebagai tempat mahasiswa ber-kuliah harusnya dijadikan sebagai laboraturium kemajuan peradaban dunia. Mahasiswa yang dipredikati agen of change penting untuk dihidupkan dalam wilayah praksis-implementatif.

Pengetahuan dikembangkan, peran difungsikan, dan tujuan diutamakan. Itulah syarat agar mahasiswa Indonesia bisa maju.

Tugas mahasiswa saat ini adalah menghidupkan kembali ruh kemahasiswaannya; dengan cara membaca buku, melakukan kajian-kajian kebangsaan-kenegaraan, dan turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan untuk memekakan jiwa gotong-royong yang notabene adalah karakteristik bangsa Indonesia.

Jika saran di atas terlalu normatif, maka berpikirlah tentang hal gila yang lebih menggugah dan mampu mengubah. Asalkan kita telah mengetahui banyak tentang siapa diri kita dan siapa musuh kita. Ya, menambah dan terus menambah pengetahuan sebelum membuat perubahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s