Sajak Berhimpun (Untuk Himpunan Mahasiswa Islam)

39542_457895679013_655144013_5365091_7063728_a

(Untuk Himpunan Mahasiswa Islam)

Mendengar tapi tak bicara,

bicara tapi tak membaca,

membaca tapi tak berfikir,

berfikir tapi tak merasa ….

 

Inilah sajakku,

kutulis dengan mantra,

tintanya adalah darah,

dan kanvasnya adalah sejarah, kehidupan …

 

Mantra, darah, dan sejarah kini terpampang dalam etalase konstitusi,

tapi kita tak mendengar, kita tak melihat,

kita tak membaca, kita tak berfikir, kita tak merasa,

250 juta rakyat tenggelam dalam lautan darah kotor balutan hegemoni uang dan arus simbol,

250 juta rakyat mati secara perlahan oleh asap industri bermerk importirisme total …

kita pada akhirnya menjadi bangsa minder,

kita menjadi bangsa yang tak percaya diri lagi hingga konstitusi kita amandemen sebanyak lima kali ….

 

Ada yang berkata: bangkit melawan atau mati tertindas,

ada juga yang berkata: bangkit menindas atau mati terlawan,

kita tak mampu lagi membedakan diri kita dengan realitas eksternal,

subyek2 kreatifitas daya mencipta telah mati dengan ketidak tahuannya,

kualitas insan cita terdistorsi oleh kekuatan yang berada diluar kemampuan manusia,

sehingga penjajahan moral yang berujung pada stabilitas kosmos lebih baik ketimbang ceramah agamawan yang penuh dengan tendensi kekuasaan.
Sebab menampilkan kemaluan lebih baik ketimbang menyetubuhi ketakutan,

karena ketakutan hanya akan menambah panjang barisan perbudakan …

 

Kita bicara dengan bait, menulis tanpa kait,

kita menyumpahi mata-mata,

menumpahi kata-kata,

merumuskan makna-makna,

merasuki sukma-sukma,

menguasai jagad raya,

melenturi jagad maya,

membenturi miskin dan kaya,

timur dan barat, emas dan karat, besi dan kawat, mati dan mayat ….

 

Dunia tak melupa, sejarah kan menjumpa,

hidup tanpa perjuangan adalah hidup yang tak pantas dijalani,

“karena sejarah umat manusia adalah sejarah melawan lupa,”

begitulah Milan Kudera berkata ….

 

Dengarkan sabdaku, bukan sabda Zarathustra tentang kematian tuhan,  tuhan telah mati, tuhan tetap mati, kita telah membunuhnya,

bukan tentang Sabdo Palon tentang nusantara yang tersembunyi,

bukan pula sabda Kusuma yang telah melampaui tak terlampaui,

Bukan pula sabda alam yang memuntahkan lava pijar dari mulut sinabung,

atau abu vulkanik gunung kelud yang menari-nari di sepanjang langit jawa, karena keduanya itu bukan bencana, melainkan proses mencari keseimbangan baru demi kelangsungan hidup manusia ….

 

Ini sabdaku, sabda rekonstruksi 8 bab nilai dasar perjuangan, bukan nilai dasar peruangan,

dengarkan sabdaku, sabda Tuhan yang mewujud dalam jihad demonstran di persimpangan jalan,

dengarkan sabdaku, sabda transendensi khalifatullah dalam gubuk-gubuk malam,

dengarkan sabdaku, sabda yang terhimpun dalam gejolak kelamnya peradaban….

 

mari bersama untuk satu cita,

berhimpun dengan kekuatan cinta,

mengubah demi satu tihta,

sebab istana hanya menampung nista,

maka revolusi adalah kehendak semesta,

 

mari bergenggam tangan,

dalam persamaan akan perbedaan,

dalam persatuan keyakinan,

berhimpun untuk satu harapan,

satu fikiran, satu tujuan,

satu tak terbagi….

 

[30 Maret 2014, Dibacakan di pelantikan pengurus HMI Cabang Jakarta Timur]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s