Tawa Politik dan Politik Tawa

masthead

Jika kau masih memaknai fenomena politik hari ini sebagai ajang perlombaan menyejahterakan rakyat maka kau adalah bagian dari domba-domba yang tunduk dan patuh terhadap media mainstream penghancur kemanusiaan yang digembalai oleh partai politik dan pemilik modal.

Menyeriusi parodi politik adalah ironi kemanusiaan. Bahwa politik sebagai “alas kaki” rakyat untuk mendaulatkan diri hari ini oleh politisi dijadikan sebagai komoditas kekuasaan.

Rakyat dibius oleh jurnalis media mainstream untuk meyakini bahwa apa yang para badut-badut atraksikan di dalam rumah rakyat itu adalah bertujuan untuk memakmurkan rakyat dan bangsa Indonesia. Padahal tidak. Sekali lagi tidak! Yang mereka (badut-badut politik) lakukan adalah mencari keuntungan materi untuk menimbun racun di tubuh mereka, di tubuh anak-istri dan keluarga mereka. Hanya itu.

Tak ada kaitan antara partai politik dan perubahan nasib 250 juta penduduk Indonesia. Oke, jika kau membuka lembar teori tata-negara maka para teoritikus negara itu akan mengatakan bahwa partai politik dibutuhkan untuk menjadi instrumen penegak aspirasi rakyat dan menjadi penguat tegaknya ideologi bangsa. Ya, sejatinya seperti itu, tapi permasalahannya adalah teori kebenaran negara saat ini sudah kusam untuk dibaca kembali oleh para bedebah negara itu. Bahwa teori negara yang seharusnya menjadi pedoman dalam membangun negara malah dijadikan tissu toilet para bigot dan despot untuk mencuci kebiadaban mereka dalam menuju-melanggengkan kekuasaan.

Maka, hei rakyat Indonesia, jangan minder, jangan inferior. Nasib hidupmu berada-tergantung di tanganmu sendiri. Bukankah Tuhanmu sudah berkata bahwa, “Ia (Tuhan) takkan mengubah nasibmu kecuali kau sendiri yang mengubahnya?” Ingat, kau sendiri yang mengubahnya, bukan pemerintah, DPR, apalagi partai politik.

Ayolah, bangkit dari tidur-dengan-mata-terbukamu, tertawakanlah apa yang para politisi lakukan. Katakan dalam hatimu bahwa, “Mereka sedang mengumumkan kebohongan untuk dipercaya semua orang.”

Jika kau bisa menertawai kenyataan maka Tuhan akan “gemas” terhadapmu. Mungkin Tuhan pun akan tertawa dan berkata: “Ya, tugas dari setiap politisi adalah menjadikan diri mereka sepertiKu untuk diimani oleh seluruh umat manusia.”

Hehe …

Wallahu a’lam bisshawab ….

Menulislah: Menemukan Keaslian Manusia Indonesia Dalam Dominasi Kepalsuan

10403031_859593834052988_6947735930251495944_n 

“Segala yang kau pikirkan, percuma apabila tak kau tuliskan.” Umbu Landu Paranggi

Menulislah, apapun itu, karena dengan menulis, kau telah mengabadikan kehidupanmu, ya, bekerja untuk keabadian. Kata Pramoedya Ananta Toer: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Sebuah peradaban disebut peradaban apabila memiliki peninggalan; entah itu artefak, lukisan, tulisan, atau apapun yang berupa kerja-tangan. Tanpa semua itu, sejarah akan mudah dimanipulasi –dipalsukan– oleh penguasa di zamannya.

Dalam potret Indonesia hari ini, dunia kepenulisan mengalami ke-mandeg-an produktivitas. Pemuda-pemudi sebagai cerminan bangsa terbuai oleh budaya-pop, konsumerisme, hedonisme-akut, sedang yang lainnya terjun bebas tanpa parasut dalam politik-praktis, dan sisanya bersuka-cita dengan (hanya) bersikap apatis.

Wajar jika sejarah dan pikiran Manusia Indonesia hari ini didominasi oleh kepalsuan, bahwa alam-pikir dan orientasi Manusia Indonesia de facto sebagian besar adalah hasil konstruksi bangsa barat dan kelompok penguasa – yakni representasi dari Kapitalisme yang ingin menguasai Indonesia secara utuh.

Mengutip diktum Milan Kundera, “Cara menghancurkan suatu bangsa adalah dengan menghapus jejak tulisan dan sejarah bangsanya.” Itulah yang dipraktikkan oleh Kapitalisme di Indonesia, dan benar saja, hal itu terbukti hari ini.

Peninggalan sejarah harus dilacak kembali, dalam kondisi Indonesia yang kehilangan arah dan tujuan, tugas setiap Manusia Indonesia adalah mengumpulkan ingatan dan pengetahuan bangsanya sebanyak mungkin untuk dijadikan sebagai … kalau bahasanya WS Rendra adalah sebagai tata buku masa kini, agar masa depan bukan hanya sekadar spekulasi, keinginan, dan angan-angan.Maksudnya agar kita memiliki pengetahuan untuk merumuskan keadaan faktual (masa kini) dalam memproyeksikan seperti apa masa depan Indonesia; menjadi pedoman menuju keaslian-kesejatian Indonesia.

“Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Begitulah sabda Sayyidina Ali. Kalau saja beliau hidup saat ini maka (kemungkinan besar) ia akan me-repost perkataannya itu di Twitter atau Facebook setiap hari. Ya, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Menulislah.

“… perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.” Penggalan sajak WS Rendra tersebut mungkin terlampau jauh dari kebutuhan Manusia Indonesia saat ini. Kita belum bisa melaksanakan apa-apa, sebab kita belum memiliki kata-kata; kita sedang melaksanakan kata-kata yang ditulis oleh bangsa Asing dan Kapitalis-kelas Penguasa.

Tugas Manusia Indonesia saat ini adalah membangunkan akal-sehat untuk belajar mengenal dirinya sendiri agar mampu menarik benang-merah kebenaran sejarah bangsanya, dan juga menarik benang biru dalam membangun masa depan bangsanya, bukan hanya untuk kau sulam menjadi kelambu sebagaimana yang dilagukan oleh Meggy Z.

Jejak sejarah ada dalam tulisan, maka pelajarilah ia, dan tulis kembali sesuai dengan situasi, kondisi, dan toleransi Indonesia terkini, agar kau menemukanmu, menemukan kita, menemukan Indonesia. Yaa, Endonesa Bapa!

“Bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah,” bisik Imam Al-Ghazali sesaat sebelum saya menyudahi tulisan ini.

Wallahu a’lam bisshawaab …