Kelaparan dan Puisi

kelaparan-bengali-1770-dan-1943

Kelaparan itu sangat menakutkan,
Ia menawarkan kediktatoran,
Bapak, ibu, dan anak kelaparan,
Neraka bukan lagi sebuah penantian,
Ia telah menjelma dalam kenyataan hidup manusia yang sia-sia.

Matahari barangkali ada dua, atau ada tiga,
Panasnya jiwa memerah di kelopak bunga yang disetubuhi serangga,
Kita bukan kata,
Kita melampaui tinta pena,
Tapi, sayang, puisi tak memberi kenyang.
Puisi tak kunjung memberi perbaikan….

Cimanggis, 18 Oktober 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s