Sukarnois Bukan Sekadar Klaim, Bung Joko!

SEKALI LAGI : BUKAN “JANGAN BANYAK BICARA, BEKERJALAH!”, TETAPI “BANYAK BICARA, BANYAK BEKERJA!”

Itu judul salah satu artikel Bung Karno dalam “Fikiran Rakyat, 1933″ yang terangkum dalam “Di Bawah Bendera Revolusi”.

Berikut, saya kutip dua alinea dari artikel tersebut :

Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa semboyan “jangan banyak bicara, bekerjalah!” harus diartikan di dalam arti yang luas. Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa “bekerja” itu tidak hanya berarti mendirikan barang-barang yang boleh dilihat dan diraba sahaja, yakni barang-barang yang tastbaar dan materiil. Tidak sekejap mata kaum itu mengerti bahwa perkataan “mendirikan” itu juga boleh dipakai untuk barang yang abstrak, yakni juga bisa ber­arti mendirikan semangat, mendirikan keinsyafan, mendirikan harapan, mendirikan ideologi atau gedung kejiwaan atau artileri kejiwaan yang menurut sejarah-dunia akhirnya adalah artileri yang satu-satunya yang bisa menggugurkan sesuatu stelsel.

Tidak sekejap mata kaum itu mengerti bahwa terutama sekali di Indonesia dengan masyarakat yang merk-kecil dan dengan imperialisme yang industriil itu, ada baiknya juga kita “banyak bicara”, di dalam arti membanting kita punya tulang, mengucurkan kita punya keringat, memeras kita punya tenaga untuk membuka-bukakan matanya Rakyat-jelata tentang stelsel-stelsel yang menyengkeram padanya, menggugah-gugahkan keinsyafan-politik daripada Rakyat-jelata itu, menyusun-nyusunkan segala tenaganja di dalam orga­nisasi-organisasi yang sempurna tekhniknya dan sempurna disiplinnya:- pendek kata “banyak bicara” menghidup-hidupkan dan membesar­-besarkan massa-aksi daripada Rakyat-jelata itu adanya. Begitulah tempo hari saya menulis dalam “Suluh Indonesia Muda”. Dengan terang dan yakin saya tuliskan, bahwa titik-beratnya, pusarnya kita punya pergerakan haruslah terletak di dalam pergerakan politik. Dengan terang dan yakin saya tuliskan, bahwa kita harus mengutamakan massa-aksi politik yang nasional-radikal dan marhaenistis.

Kalau Jokowi mengatakan dirinya Sukarnois maka itu bullshit! Sebab Jokowi hanya mengutamakan kerja dan mengabaikan bicara. Dan itu bertolak belakang dengan prinsip Bung Karno yang mengatakan: Bukan “Jangan banyak bicara, bekerjalah!”, tetapi “Banyak bicara, banyak bekerja!”

Silakan baca “Di Bawah Bendera Revolusi”, kumpulan tulisan Bung Karno tentang kebangsaan, persatuan, dan kemerdekaan. Salah satunya membicarakan tentang pentingnya bicara dan bekerja. “Banyak bicara, banyak bekerja!” itu kata Bung Karno, bukan hanya bekerja yang merupakan doktrin perbudakan, kata Bung Karno.

Belum terlambat untuk Jokowi dalam menjadi Sukarnois sejati dengan menyempatkan waktu membaca “Di Bawah Bendera Revolusi”. Jangan hanya bisa mengklaim diri sebagai Sukarnois, tanpa memelajari pikiran-pikiran Bung Karno.

Wallahu a’lam bishawab….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s